New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 49 - Ingatan Kelam Seorang Bocah



"Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Andora Staria Fansha. Seperti yang kalian lihat, aku hanyalah seorang gadis biasa."


Perkenalan yang sangat standar dan jelas sederhana. Karena Andora sementara menahan diri untuk membeberkan informasi tentang dia yang sebenarnya. Untuk saat ini, dia hanya ingin agar Haru dan Erythia tidak perlu merasa canggung untuk memanggilnya kelak.


Benar juga. Sedari awal aku bertemu dengan dia, aku bahkan baru saja mengetahui namanya.


Andora, ya … hmm ....


Haru tertegun melihat sosok Andora. Dia tampak memikirkan sesuatu dari pandangan mata cantik Erythia yang kini tengah melirik padanya. Kemudian Erythia beralih memperhatikan Andora secara menyeluruh dari atas hingga ke bawah.


"Hou … kamu bilang hanya gadis biasa? Bagaimana mungkin aku akan percaya begitu saja?


"Melihat penampilanmu itu, jelas sekali memperlihatkan kalau kamu adalah seorang gadis yang memiliki pesona bangsawan."


Andora tersentak dengan perkataan Erythia.


Gadis ini … meski dia lebih anggun dan bahkan lebih cantik daripada aku, ternyata pemahamannya itu cukup merepotkan lebih dari yang kukira.


Itu memang tidak dapat disangkal. Fakta bahwa Andora yang merupakan keturunan keluarga kerajaan adalah benar. Intuisi seorang wanita terlalu tajam dan mengerikan. Dengan melihat penampilan saja, Erythia langsung memberikan tanggapan tepat pada sasaran.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Andora menyanggah, dan tetap tenang.


Heh … gadis ini mencoba berakting di depanku ya. Kuberi tepuk tangan untuk rasa percaya dirimu itu.


"Aku hanya menebak, tidak lebih. Atau mungkin saja benar seperti itu faktanya?


"Sungguh luar biasa sekali kalau memang iya. Tidak kusangka, ternyata laki-laki seperti Haru bisa menarik perhatian seorang gadis dengan derajat tinggi ya."


Tak ingin kalah dalam pertarungan, Erythia memberikan balasan agresif. Kemudian mengalihkan lagi pandangannya dan memelototi Haru. Dia memberikan tatapan tidak percaya yang berlebihan.


Sedangkan Haru yang tertegun dan menyadari tatapan tidak mengenakkan itu, langsung memutar wajahnya untuk mengalihkan pandangan ke arah lain.


Oy-Oy, Ery. Kenapa aku lagi yang kena, sih ?!


Tolong hentikan tatapan menyebalkanmu itu padaku. Itu malah memberikan kesan seperti aku ini adalah laki-laki yang suka sekali tebar pesona, tahu !


Haru hanya menggerutu dalam batinnya. Lagi pula, dia tidak bisa begitu saja untuk menyusup dalam perbincangan serius antara dua gadis. Karena dia mempercayakan penuh pada Andora yang mengambil alih peranannya saat ini. Dia berharap, dengan begitu akan membantu proses introgasi Erythia agar dapat segera selesai.


"Harus kujelaskan lebih rinci kalau tebakanmu itu salah?"


"Dengan senang hati aku akan mendengarkan penjelasanmu itu."


Andora dan Erythia saling tersenyum. Namun, dalam perspektif Haru yang diam-diam melirik ke arah mereka berdua, itu bukanlah senyuman tulus. Melainkan senyuman kecut dari dua individu yang menjadi rival ketika memperdebatkan suatu faktor.


Ah … drama yang sedang kusaksikan ini bahkan tidak layak ditonton seperti halnya pertandingan liga sepak bola yang kugemari.


Rasanya ingin ke luar dari ruangan ini dan menjauh secepat mungkin. Aku tidak mau kalau harus jadi wasit untuk mereka berdua.


...***...


Bocah Demi-Human yang tengah berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamar. Dia mengangkat kedua lengannya dan menggerakkannya dengan santai. Tampak puas, dia kembali menjatuhkannya.


Tak lama setelah itu, sang bocah bergumam, "Aku tidak ingat apa yang sudah terjadi padaku sebelumnya, tapi … kakak yang tadi berbicara denganku benar-benar cantik." Kemudian dia memejamkan matanya lagi.


Sosok Erythia yang dia lihat, membuatnya terpesona. Bocah Demi-Human itu menduga-duga jikalau Erythia bukanlah berasal dari dunia tersebut. Melainkan sebagai sosok asing dari tempat yang tidak mudah untuk dijangkau oleh siapa pun.


Terkaannya itu memang tidaklah salah, karena Erythia merupakan seorang Dewi. Eksistensi sepertinya tentu tidak dapat disandingkan dengan manusia biasa, bahkan dengan sosok sang bocah sekalipun. Namun, di dunia tersebut, sosok Erythia saat ini hanyalah seorang gadis biasa, tidak lebih.


Entah apa yang merasuki pikiran bocah Demi-Human itu, sehingga membuat dia memikirkan hal yang terlampau jauh dari daya pikirnya. Akan tetapi, sebuah moment yang cukup mengejutkan pun terjadi. Itu karena kemunculan sosok Erythia di hadapannya, berhasil membuat sang bocah tersenyum.


Kemudian bocah Demi-Human itu pun bangkit untuk duduk di atas kasur. Dengan memiliki perasaan setengah gembira saat ini, dia berusaha mencoba mengingat hal-hal penting. Terutama terkait dirinya. Namun, sangat disayangkan …


… ingatan pahit dan menyakitkan, justru muncul begitu saja dalam benaknya. Itu membuat sang bocah seketika menjadi sangat tidak berdaya. Ekspresi wajahnya tampak memucat dengan mata yang terbelalak, dan kedua tangan memegangi kepalanya.


...***...


"Xera, bangunlah!"


Rambut panjangnya yang lurus di kuncir kuda, berwarna putih mengkilat. Serta iris merah rose yang mencolok, tetapi indah. Siapa pun yang melihat sosoknya, pasti tidak akan menyangka jikalau dia ternyata seorang mama muda yang menggoda.


Wanita itu adalah Demi-Human yang berasal dari ras kucing, terlepas dari penampilan fisiknya yang memiliki ekor dan telinga yang menjulang ke atas.


"Mama ...?"


Bocah itu membuka kedua matanya. Dia menatap dengan polos wanita tersebut.


Seperti pepatah 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'. Anak itu benar-benar terlihat mirip dengan sosok ibunya, tetapi dalam versi chibi. Dengan perawakannya yang mungil, dia tampak imut. Hanya iris matanya yang memiliki warna tidak serupa, yakni biru cyan.


"Syukurlah kamu cepat terbangun. Xera, dengarkan ibu … kita harus segera meninggalkan rumah ini."


"Tapi, kenapa?"


"Desa ini sekarang sedang tidak baik-baik saja. Kalau kita tidak segera pergi dari sini, cepat atau lambat kita pasti akan tertangkap oleh mereka."


"Mereka? Mama, sebenarnya ada apa?"


"Mama tidak bisa menceritakannya saat ini, akan terlalu memakan banyak waktu. Tunggulah sampai kita berhasil menemukan tempat bersembunyi, akan mama jelaskan padamu nanti."


"Um, baik."


"Kamu bisa berjalan, kan? Tidak masalah untuk berlari?"


"Um, aku baik-baik saja."


"Bagus. Kalau begitu, ayo bergegas!"


Mereka berdua pun segera meninggalkan kediaman mereka melalui pintu belakang. Dengan mengendap-ngendap dan mengintip dari balik tembok bangunan untuk melihat situasi di sekitar, hal tersebut terus dilakukan secara berulang ketika mereka berpindah antara bangunan satu ke bangunan lainnya.


Hingga sampailah mereka berdua di pintu gerbang kayu seukuran orang dewasa, yang dibuat cukup tinggi dan berada di sisi kanan desa. Di baliknya merupakan sebuah jalan rahasia yang sengaja dibuat, dan dapat menghubungkan langsung ke arah hutan.


Setelah memastikan berhasil ke luar dari desa dengan aman, kemudian mereka berdua pun melanjutkan pelarian memasuki hutan.


Seraya berlari, Xera bertanya dengan penasaran, "Mama, di mana papa? Kenapa papa tidak ikut pergi bersama kita?"


"Papa bersama pasukan keamanan desa, sedang bersiaga untuk melindungi semua orang di desa. Papa akan segera menyusul kita nanti, Xera."


Wanita itu menjawab dengan berat hati. Dia terpaksa harus berbohong pada anaknya sendiri. Hal itu dia lakukan, agar Xera tidak merasakan kekhawatiran yang berlebihan.


Semua pria yang memiliki peranan penting sebagai pelindung desa tersebut, sedang bertarung mati-matian untuk melindungi semua orang di desa, khususnya perempuan, lansia, dan anak-anak. Begitu pula dengan ayah dari sang bocah, yang turut berperan memimpin pasukan keamanan dan pasukan pertahanan desa.


"Papa akan baik-baik saja, kan?"


"Ya, kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Karena papa seorang pria yang cukup kuat di desa."


Wanita itu memberikan senyuman yang tampak meyakinkan, bertujuan agar anaknya merasa tenang. Meski pahit dan dia sendiri pun tidak yakin, jikalau suaminya akan kembali dengan selamat dan dalam kondisi yang baik-baik saja.


"Baiklah, kalau mama berkata demikian."


"Anak baik. Kita lanjutkan untuk mencari tempat bersembunyi."


"Um!"


Dengan napas terengah-engah, mereka berdua berlari semakin jauh meninggalkan desa dan semakin masuk ke dalam hutan. Hanya terus berharap jikalau pelarian mereka akan lancar tanpa mendapati kendala tidak menyenangkan.


Akan tetapi, kesialan justru hadir menyapa. Karena setelah mereka berdua berhasil melewati pohon-pohon besar di depan, siluet hitam yang menyatu dengan bayang-bayang pepohonan yang terlihat dari kejauhan pun, mulai menampakkan wujudnya.


Adalah sosok pemimpin pasukan keamanan sekaligus pasukan pertahanan desa, dengan kondisinya yang sudah tidak bernyawa. Dia tengah dicengkram di udara oleh seorang pria bertubuh besar yang mengenakan pelindung tubuh lengkap, dengan sebuah pedang panjang yang telah menembus perutnya hingga ke sisi lain.


Bersamaan dengan jasad-jasad pasukan keamanan desa yang terbunuh dengan sadis, tergeletak di mana-mana. Darah dari mereka semua memenuhi tanah hingga membentuk sebuah kubangan, bahkan ada beberapa bagian tubuh yang telah terpisah entah hilang di mana.


Mereka berdua yang menyaksikan pembantaian di depan kedua mata mereka, langsung jatuh berlutut dengan mata terbelalak. Wanita itu seketika merasakan lemas sekujur tubuh, tak kuasa berdiri untuk melanjutkan pelarian setelah melihat suaminya yang terbunuh. Sedangkan Xera berteriak ketika dia menyadari, bahwa sosok pria yang ditusuk oleh sebuah pedang tak lain adalah sang ayah tercinta.


^^^To be continued …^^^