New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 13 - Aria【1】



Terlihat seorang gadis di dalam sebuah kamar yang gelap, bayangannya terpantulkan oleh terangnya sinar sang rembulan yang menyusup di antara jendela-jendela kamar yang terbuka lebar.


Duduk terkapar sambil menyilangkan kaki, dan menyandarkan punggung ke tembok bangunan. Kilau kesedihan terpancar dari kedua matanya. Tak dapat diungkapkan, namun dapat dirasakan, betapa teriris dan terguncangnya perasaan dari sang gadis.


...***...


【PoV : Aria】


Entah sejak kapan aku tak ingin melepaskan cahaya yang berkelap-kelip di hatiku. Bahkan jika aku menempuh jalan panjang dan terjatuh, itu selalu bersinar.


Suara denting lonceng yang terdengar dari kejauhan kala itu, terasa sedih. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih belum bisa mendapatkan jawabannya.


Kenyataan yang baru saja diulang, aku terus berlari menjauhinya. Banyaknya harapan seperti bintang-bintang di langit luas, masih tak mampu kalahkan kuatnya perasaan ini. Hanya untuk menemukan hari esok bahagia yang ingin kutuju.


Seolah tak peduli akan dunia yang tak berujung berada di depan mataku. Aku semakin tersesat jauh di dalamnya. Walau mungkin ini hanyalah mimpi, namun tetap selalu bergema. Hanya teringat pada satu petunjuk, hati seseorang bisa menciptakan suatu hal yang baru.


___


Semua berawal dari dua tahun yang lalu. Ketika candaan dari sebuah ikatan pertemanan, perlahan berubah menjadi keseriusan, atau mungkin menjadi kekecewaan? Dua opsi itulah yang selalu kupikirkan.


Pria itu bernama Haru, adalah jawaban akan sosok yang hadir dan mengisi kehampaan yang menaungi kehidupan suramku ini.


Apa yang sebenarnya sudah terjadi di antara kami? Aku bahkan saling melemparkan tanya dengan batinku.


Dia pernah berkata, 'Seorang gadis itu bagaikan hujan. Ada kalanya rintik-rintik lembut, terkadang bisa tidak terduga, dan sesekali menjadi deras mengerikan. Memang itu hanyalah air, tapi potensi kekuatannya sangat besar.'


Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataannya itu. Setelah kutanyakan, Haru melanjutkan, 'Hujan yang turun sore ini akan lebih dingin dari biasanya ....' dan mengajakku pulang.


Aku tak mampu membalas kata, hanya bisa memandanginya dalam diam. Bukankah itu sama saja dengan diriku yang hanya bodoh?


Menghentikan langkahnya, lalu berucap padaku, "Hey, Aria. Beberapa hari lagi bulan berganti, musim dingin akan segera menyambut. Bagaimana menurutmu?"


"Eh? Bukankah itu siklus yang biasa terjadi? Tapi kalau kamu ingin meminta pendapatku, aku hanya bisa menjawab, itu bukanlah hal istimewa sama sekali." Aku hanya asal bicara saja, lagi pula yang kukatakan itu benar.


"Bukan itu maksudku."


"Lalu?"


"Apa kamu akan selalu berakting seperti itu? Seolah ingin meyakinkan siapa pun yang melihatnya bahwa kamu baik-baik saja." Setelah berkata demikian, Haru berbalik meninggalkanku seolah dia tidak peduli.


Meski aku mengetahui itu bukanlah sindiran, tetapi tatapan dinginnya seolah tegas mengatakan, 'Senyumanmu yang manis, tapi tidak dengan hatimu yang menangis. Kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku saat kedua mata kita saling bertatap.'


Ini benar-benar rumit, seharusnya dia bisa mengerti. Itu akan percuma jika berbicara panjang lebar dengan orang yang sudah menutup hatinya kepada siapa saja. Itu hanya akan terasa pahit.


Dua minggu setelahnya berlalu, hubunganku dengan Haru masih baik-baik saja. Dia menganggap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi tidak denganku ... aku benar-benar tidak bisa menatapnya.


Mungkin saja karena aku merasa tidak sanggup, atau bahkan mungkin enggan melakukannya. Padahal hari ini Haru mengajakku untuk menemaninya pergi ke luar, tapi aku malah bersikap seolah tidak senang.


Tiba-tiba saja dia bertanya, "Kamu kenapa, Aria? Aku perhatikan dari tadi, kamu sepertinya gelisah tentang sesuatu?"


"Eh? Ah, aku tidak apa-apa."


"Hmm ... begitukah?"


"Iya."


Tentu saja aku terkejut, aku hanya bisa menyembunyikan hal itu. Aku tidak ingin dianggap aneh olehnya. Ya, itu karena aku tidak ingin kalau Haru malah membenciku.


Lalu dia mengajakku pergi ke sebuah taman. Tempat ini mengingatkanku akan kenangan saat itu. Bagaimana aku mengatakannya ya, hmm ... mungkin cukup manis dan mengesankan.


"Sudah lama sekali ya, Aria."


"Ya, kamu benar."


Haru pasti memiliki alasan mengajakku pergi ke taman ini. Aku yakin, dia pun masih mengingat kenangan di hari itu.


"Hey, bagaimana kalau kita duduk di bangku yang ada di sana?"


"Baiklah."


Sambil mengikutinya berjalan dari belakang, membuatku menyadarinya. Apa yang kurasakan ini sangat menenangkan hatiku, aku tidak ingin melepaskan hangatnya perasaan ini.


Karena Haru adalah sosok yang bisa membuka pintu hatiku yang sudah tertutup rapat dan berkarat. Ya, aku ingin selalu bersamanya. Meski dunia menolak kedekatan kami sekali pun, aku tidak ingin jika dia pergi jauh meninggalkanku.


Mungkin terkesan egois, tapi senyumannya yang secerah mentari, memeluk dengan lembut diriku yang gemetar. Dan mengisi hati ini dengan gemilang musim semi. Pemandangan mononton di musim dingin bersalju, dirimu menjadi sang kemilau musim semiku. Tidak akan mungkin kulupakan itu.


^^^To be continued ...^^^