New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 38 - RECOVERY



"Bagaimana keadaan paman itu, Ery?" tanya Haru.


"Tidak perlu khawatir, dia hanya kelelahan. Lagi pula orang itu tidak akan mati begitu saja," jawab Erythia.


"Hah? Mati?" Haru memperlihatkan ekspresi wajah yang datar.


"Ya.


"Hey, Ery. Ucapanmu tadi tajam sekali."


"Tidak ada yang salah dengan ucapanku kok!"


"Huh ... begitulah."


Terkadang ucapan Ery itu sungguh menyakitkan, tapi dia tidak mungkin berbohong sih.


Claude masih tidak sadarkan diri, kondisinya saat ini tampak memprihatinkan. Ketika Erythia berhasil mengalahkan 2 ekor Chaos Dragon yang dihadapi olehnya, dan setelah keadaan cukup tenang, tubuh sang kapten segera dipindahkan ke dalam gerbong kereta yang tidak rusak oleh beberapa prajurit bawahannya.


3 orang prajurit pun berjalan menghampiri Haru dan Erythia. Mereka sangat berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Mereka mengungkapkan, tidak tahu akan bagaimana nasibnya, jika saja tidak segera mendapatkan bantuan dari kedua muda-mudi tersebut.


Erythia bertanya, "Ada berapa orang dalam rombongan?"


"Kurasa, totalan semuanya 252 orang. Berikut dengan Tuan Claude dan Nona Andora," jawab salah satu prajurit.


"Nona Andora?" Erythia sedikit memiringkan kepalanya.


"Ya, benar. Dia menumpang dalam rombongan kami untuk turut pergi ke Ibu Kota."


"Tetapi aku tidak melihat gadis itu. Di mana dia?"


"Sejujurnya ketika kami menerima serangan dari Chaos Dragon, prioritas kami adalah segera menyelamatkannya. Kurasa Nona Andora telah berada di tempat yang aman saat ini," salah satu prajurit lain menjelaskan kronologinya.


"Ternyata begitu ya. Syukurlah."


"Kalau begitu kami permisi, Tuan, Nona. Kami harus kembali mengurus dan membereskan semua kekacauan ini." Lantas ketiga prajurit pun pergi.


Haru tampak sangat cemas memperhatikan keadaan sekitar. Erythia yang melirik ke arahnya pun segera bertanya, "Ada apa, Haru?"


"Ah, tidak apa-apa, Ery." Haru membalas lirikan Erythia. "Kuharap mereka semua baik-baik saja," lanjutnya.


"Menurutmu begitu? Kurasa tidak. Coba kamu lihat ke sebelah sana dan di sana," balas Erythia seraya menunjuk ke dua arah yang berbeda secara bergantian.


"Di sebelah kiri adalah para prajurit yang terluka. Sedangkan sisi yang berlawananー" Haru memotong ucapan Erythia, dan berkata, "Ya, mereka adalah para prajurit yang telah tiada."


"Um, kamu benar."


Ini menjadi kali pertama Haru menyaksikan sebuah kematian tampak di depan matanya di dunia tersebut, dan itu tidak hanya satu orang saja, melainkan banyak orang sekaligus.


Haru mengepalkan kedua tangan, dia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan nyawa yang hanya satu-satunya dimiliki. Itu sangatlah menyedihkan, teruntuk orang yang ditinggalkan.


Aku mengerti, aku pernah mengalami hal ini. Kau akan pergi jauh dari dunia yang kita tinggali. Meninggalkan semua yang kita miliki, dan akhirnya akan terlupakan seiring semesta berotasi.


Seharusnya aku pun tidak berada di sini, bukan? Aku hanya beruntung mendapatkan kesempatan dihidupkan lagi. Meski harus mengulang kembali menjalani kehidupan baru di dunia yang kutempati saat ini.


Berdiri dengan wajah yang tampak pucat, Haru gemetar. Erythia dapat mengerti kegelisahan yang kini tengah dirasakan sang pemuda, dia pun mencoba untuk menguatkannya.


Menggenggam tangan Haru dengan lembut, jari-jemari mereka saling bertautan. Erythia pun berkata, "Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja."


Mendengar perkataan penuh kelembutan dan perhatian dari seorang gadis yang berdiri di sampingnya, Haru pun tersadar akan nyamannya perasaan yang mulai menyelimuti.


Terdapat hasrat, kepercayaan, rasa hormat, juga melambangkan sebuah ikatan yang kuat di antara mereka, untuk siap dan saling mendukung satu sama lain dalam kondisi sesulit apa pun. Secara tidak langsung Erythia ingin menyampaikan perasaan tersebut pada Haru.


"Ya, kamu benar, Ery." Haru membalas. "Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih," lanjutnya tersenyum pada Erythia.


Menanggapi senyuman tersebut, Erythia semakin menggenggam erat tangan sang pemuda.


Jangan khawatir. Aku akan selalu bersamamu, Haru.


...***...


"Hmm ... aku memilikinya. Tapi jujur saja, sebenarnya aku tidak ingin terlihat mencolok jika harus menggunakan skill tersebut," jawab Erythia.


"Begitu, kah?"


"Ya. Jika aku harus menyembuhkan hanya seorang saja, itu tidaklah masalah. Tetapi untuk keseluruhan secara bersamaan, hanya skill itu yang dapat melakukannya."


"Dan lagi, jika harus memaksakan tanpa memikirkan hal tersebut, apa kamu akan tetap melakukannya?"


"Ya, mungkin."


"Hmm ... begitu rupanya."


Sedari tadi Haru memperhatikan para prajurit dengan kondisi yang masih prima bekerja. Mereka membereskan puing-puing gerbong kereta yang hancur, juga memperbaiki kerusakan kecil pada gerbong lainnya. Ditambah memindahkan rekan prajurit yang terluka, juga jenazah prajurit yang gugur dalam pertempuran.


Keadaan tersebut benar-benar memprihatinkan. Selain itu, Claude yang tidak lain adalah kapten pasukan pun masih belum sadarkan diri. Karena itulah Haru menanyakan hal tersebut pada Erythia. Dengan tujuan, jika kondisi mereka telah pulih seutuhnya, sudah pasti mereka bisa melanjutkan perjalanan.


Haru ingin membantu, hanya saja dia belum mempelajari tentang sihir penyembuhan. Bukan berarti dia tidak dapat menciptakan skill terkait dengan kekuatan gift tersebut. Namun itu tetap membutuhkan waktu dalam proses pengerjaannya.


"Ery, bantulah mereka. Aku tidak tega melihat pemandangan seperti ini," ucap Haru dengan tegas.


"Baiklah, dengan senang hati aku akan membantu," balas Erythia.


Setelah itu, mereka menghampiri para prajurit yang terluka. Haru pun bertanya, "Sudah semuanya?"


"Maksud Anda, Tuan?" jawab salah satu prajurit merasa kebingungan.


"Maksudku, apa orang-orang yang terluka sudah berada di satu tempat?"


"Ah, itu yang terakhir." Prajurit tersebut menunjuk pada rombongan yang sedang membantu proses evakuasi.


"Baiklah."


Para prajurit yang mendengar turut merasa kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang sedang Haru rencanakan, mereka juga tidak berniat untuk menanyakan lebih jauh perihal itu.


Selang beberapa saat, Erythia pun sudah siap melakukan hal yang Haru pinta. Dengan komando sang pemuda, dia pun memulai proses penyembuhan massal.


Erythia mengukir pola pada jari-jemarinya, lalu berucap ...


<< HEAVENLY GATE - RECOVERY >>


Beberapa meter di atas langit, muncul sebuah gerbang raksasa yang sangat kokoh. Penampakan skill yang dilancarkan tersebut, benar-benar mengesankan.


[Hey, lihat. Ada gerbang raksasa muncul di langit.]


[Kalian semua, perhatikan juga di sebelah sana. Lagi-lagi Nona itu sedang melakukan sesuatu yang hebat.]


Para prajurit tercengang menyaksikannya. Tak hanya mereka saja, bahkan Haru pun hanya dapat menelan air liurnya sendiri.


Ery, kuakui kamu benar-benar luar biasa. Kali ini trik apa lagi yang ingin kamu perlihatkan pada kami semua di sini.


Tak berselang lama, pintu gerbang pun mulai terbuka lebar. Seorang wanita bersayap indah ke luar dari dalamnya. Dengan pakaian elegan berwarna putih bersih yang dia kenakan, menunjukkan jelas sebagai sosok yang memiliki martabat tinggi.


Tidak memperlihatkan wajah, itu tertutupi sepenuhnya oleh penutup kepala hingga area hidung. Meski hanya sebuah senyuman yang terlihat dari bibir tipisnya itu, tetapi begitu menenangkan ketika berkesempatan untuk memandangnya.


Kemudian, sosok Angel tersebut mengayunkan tongkat yang dia pegang. Seluruh area dalam jangkauan sihirnya, seketika mendapati kehangatan, dan diselimuti oleh cahaya terang membentuk aurora di sekitar.


Efek healing yang diberikan, tidak hanya menyembuhkan luka-luka para prajurit saja. Semua makhluk yang ada dalam cakupan area terkait, turut menerimanya. Tumbuhan-tumbuhan yang hancur akibat pertarungan sebelumnya, kembali tumbuh. Bunga-bunga yang sempat layu pun kembali bermekaran.


Benar-benar sebuah anugerah. Hanya itu yang dapat para prajurit ungkapkan. Hingga beberapa waktu berlalu, skill yang Erythia lancarkan itu pun akhirnya selesai. Bersamaan dengan sosok Angel yang sempat muncul itu, kembali masuk ke dalam gerbang raksasa tersebut. Kemudian menghilang.


"Fiuh ... selesai sudah," gumam Erythia seraya menghembuskan napas dengan lega.


Haru yang berjalan menghampirinya berkata, "Ery, tadi itu sangat luar biasa. Terima kasih." Lalu tersenyum.


Menanggapi perkataan sang pemuda, Erythia pun membalasnya dengan senyuman.


^^^To be continued ...^^^