
Argha melakukan tugasnya dengan baik. Kabar yang dia bawa, telah disampaikan pada semua warga desa. Tentu saja kabar tidak mengenakkan tersebut membuat kecemasan, kepanikan, dan bahkan ketakutan setelah mereka semua mendengarkan dengan seksama.
Akan tetapi, Argha juga berusaha meyakinkan warga desa untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir. Semuanya pasti akan baik-baik saja jikalau segera melakukan evakuasi diri masing-masing, untuk pergi menjauh dari desa dan mencari tempat yang aman.
Tidak lupa Argha menjelaskan pertempuran yang mungkin saja sedang terjadi di gerbang utama desa. Karena itu, selagi pasukan keamanan menahan serangan musuh, kesempatan untuk melakukan evakuasi harus dimanfaatkan sebaik dan secepat mungkin.
Setelah beberapa waktu berlalu, Argha tampak lega. Warga desa dengan teratur mulai mengevakuasi diri di bawah komando beberapa sub ras yang berinisiatif mengambil peranan untuk memimpin rombongan evakuasi, dan mereka semua terlihat sudah bergerak menuju ke arah gerbang di sisi lain desa.
“Bagus! Kuharap ini berjalan dengan mulus.”
Tidaklah benar jikalau Argha tidak merasa khawatir, terutama terhadap keluarganya sendiri, yakni istri dan anaknya. Namun, bersama rombongan saat ini justru keduanya akan lebih aman. Begitulah yang dia simpulkan.
“Wakil Ketua! Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Salah seorang dari pasukan pertahanan desa bertanya dengan serius tepat setelah dia berada di belakang Argha. Tak hanya seorang diri, melainkan semua yang mengikuti Argha sebelumnya turut mendatangi.
“Bodoh! Kenapa kalian masih di sini?!”
Argha menanggapi pertanyaan tersebut dengan meninggikan nada bicaranya. Kemudian dia berbalik menghadap mereka semua.
“Bagaimana mungkin kami meninggalkan Anda dan Ketua begitu saja?!
“Ya, benar. Kami tidak mungkin melakukan hal egois seperti itu!”
“Kalian bisa saja mati. Desa ini sekarang sudah menjadi medan perang!”
“Apa pun yang terjadi, kami sudah siap dengan konsekuensinya!”
Dia berkata tanpa memiliki penyesalan sama sekali, dan para anggota pasukan pertahanan desa yang lain pun turut mengangguk menyetujui dengan memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat serius.
Argha yang melihat pemandangan emosional seperti itu, bahkan sampai membuat dirinya tidak dapat membalas tekad mereka semua dengan kalimat sederhana. Itu terlalu sulit untuk dia patahkan dengan argumennya.
Argha tampak memegangi keningnya, lalu menggeleng beberapa kali. Dia mencoba menenangkan diri dan menarik napas dalam-dalam, kemudian bergumam, “Sungguh ... meski cukup muda, kalian memiliki tekad sekuat baja.”
“Anda mengatakan sesuatu, Wakil Ketua?”
“Tidak, tidak ada.”
Argha tersenyum penuh semangat, meski itu terasa pahit baginya.
“Baiklah, dengarkan aku baik-baik, Prajurit!”
Saat Argha melanjutkan perkataannya, para pasukan pertahanan desa sigap mengambil posisi siap menerima perintah.
“Hari ini, mungkin saja akan menjadi hari terakhir untuk kita semua masih bisa berdiri gagah di dunia ini, tapi itu bukan berarti kesempatan bagi kita untuk menikmati hangatnya dunia di esok hari menjelang benar-benar sudah lenyap!
“Saat ini, semuanya dipertaruhkan. Dengan kalian yang sudah bertekad tidak akan mundur dari medan perang, tidak perlu untuk merasa ragu. Maju, lawan, dan hadapi para musuh yang sudah datang menyerang tempat tinggal kita ini!
“Satu hal penting yang ingin kutekankan lagi pada kalian. Bunuh atau terbunuh! Karena itu kita tunjukkan pada semua musuh kita, bahwa ras Demi-Human sekalipun, tidaklah selemah yang mereka pikirkan!”
Argha mengatakannya dengan sangat tegas. Itu mungkin terkesan naif, tetapi didikan dan pelatihan yang memang sudah dia berikan sebagai seorang militer veteran dari ras anjing, tentu bukanlah sekedar omong kosong.
Pada dasarnya, pasukan keamanan dan pasukan pertahanan desa merupakan dua kelompok yang berbeda. Meski tujuannya sama-sama untuk melindungi Desa DeAn dari ancaman dan serangan musuh, tetapi peranan masing-masing kelompok tidaklah sama.
Pasukan keamanan sendiri dibentuk berdasarkan mereka yang sedari awal memiliki pengalaman bertempur sebelumnya, dan kelompok militer yang berasal dari ras anjing cukup mendominasi dalam pasukan tersebut.
Sedangkan untuk pasukan pertahanan desa, dibentuk berdasarkan mereka yang memang memiliki bakat khusus pada diri masing-masing anggotanya. Dalam hal ini sebagai contohnya, mereka yang pandai menggunakan berbagai jenis sihir mematikan, kemampuan bertarung tangan kosong di luar nalar, dan masih banyak lagi.
Karena hal itulah, dua orang kuat di Desa DeAn, yakni Argha dan Verzha, membentuk pasukan pertahanan desa dan melatih mereka secara langsung. Kelompok elit tersebut diharapkan dapat memberikan support yang cukup telak dan berdampak, sehingga memungkinkan untuk memukul mundur para musuh yang datang menyerang.
“Baik!”
Teriakan penuh semangat dari pasukan pertahanan desa terdengar di depan Argha secara serempak. Dia tidak lagi merasakan keraguan, hanya tinggal memastikan, apakah semuanya akan berada dalam kendali atau mungkin justru sebaliknya?
Baiklah … dengan begini persiapan kami di sini selesai. Kami harus bergegas membantu Verzha dan pasukan keamanan di sana.
Kalian semua, bertahanlah sebentar lagi. Kumohon, jangan sampai ada seorang pun yang gugur dalam pertempuran.
Argha menatap jauh ke arah lokasi pertempuran sedang berlangsung. Tepat di mana kepulan asap tebal yang kian terlihat semakin jelas, memenuhi udara di gerbang utama Desa DeAn.
...***...
Sementara itu, kelompok Zordan kini tengah melakukan pekerjaan mereka. Sekitar 25 orang dari berbagai sub ras, turut membantunya untuk mendapatkan makanan dengan memancing dan menjala ikan di lautan lepas. Bahkan Zheea yang tak lain adalah istri dari Verzha pun, ada di kelompok tersebut.
Dikarenakan posisi mereka saat ini cukup jauh dari desa, tentu saja mereka tidak mengetahui jikalau sedang terjadi chaos di desa.
“Tangkapan kita cukup banyak hari ini. Kurasa sudah waktunya untuk kembali. Ini bahkan sudah lebih dari pada cukup.”
Zordan berkata seraya melihat ke sebuah wadah persegi seperti kolam yang berada di tengah kapal. Itu cukup besar, dan dia mengangguk puas.
“Ya, aku setuju. Kita bahkan sudah cukup lama berada di laut. Kepalaku sudah mulai terasa pening dan berputar.”
Zheea yang tengah duduk merileksasikan tubuhnya di kursi santai, menanggapi dengan ekspresi wajah yang tampak pucat seraya memegangi keningnya.
“Sepertinya Anda mabuk laut, Nyonya Zheaa.”
“Kurasa begitu. Aku memang tidak cocok dengan pekerjaan seperti ini.”
“Anggap saja sebagai pengalaman.”
“Pengalaman pertama dan terakhir lebih tepatnya.”
Zordan tertawa, tetapi itu tidak seperti dia sedang mengejek Zheea. Justru dia memang mengkhawatirkan situasi seperti ini pasti terjadi. Sedangkan tak hanya Zheea seorang yang mabuk laut, mereka yang tidak terbiasa terombang-ambing di lautan lepas pun turut merasakannya, dan terkapar lemas tidak berdaya di lantai kapal.
Ini benar-benar gawat. Kalau mereka tidak bisa menahannya lagi, isi dalam perut mereka bisa ke luar semua.
Pemandangan yang Zordan saksikan di kapal saat ini, benar-benar memprihatinkan. Kemudian dia berjalan pergi menuju ruang kemudi untuk memerintahkan bawahannya, jikalau sudah saatnya kembali ke desa.
Dengan begitu, kelompok Zordan pun memutar balik kapal. Pekerjaan yang mereka lakukan untuk mencari sumber makanan di lautan lepas telah selesai. Akan tetapi, ketika kelompok Zordan tiba di desa kelak, tentunya ada kejutan yang sedang menunggu untuk memberikan sebuah sambutan hangat pada mereka semua di sana.
^^^To be continued …^^^