
"Lifier, kah? Ternyata kau sudah kembali," ucap sang Raja yang tidak lain adalah ayahnya.
"Ya, ayahanda. Aku baru saja kembali," balas Lifier, sambil berjongkok di hadapannya.
"Berdirilah."
"Baik."
Lifier pun bangkit, lalu bertanya dengan dipenuhi rasa penasaran. "Ayahanda, sebenarnya ada apa ini? Tidak biasanya ayahanda mengadakan pertemuan besar seperti ini?"
"Ternyata kau tidak mengetahuinya, ya."
Kemudian Raja memerintahkan Valtoz Estacho untuk menjelaskan detail terkait peristiwa yang sudah terjadi, dan Valtoz pun segera menjelaskannya.
Sang pangeran yang tidak lain adalah Lifier Urya, memang tidak mengetahui tentang tragedi rumit tersebut. Karena dia sedang menjalani tugas sebagai perwakilan dari ayahnya atau mewakili Kerajaan Radix itu sendiri, untuk menangani terkait urusan politik dengan beberapa negara tetangga.
Kelak Lifier-lah yang akan menggantikan posisi Liedrix. Karenanya sebelum tiba hari di mana dia akan menerima tahta dan menjadi pemimpin Kerajaan Radix di masa mendatang, sang pangeran sudah memiliki bekal pengetahuan yang berguna untuk masa kepemimpinannya nanti.
Sebagai satu-satunya Putra Mahkota, Liedrix sangat mengandalkannya. Itu karena dia mengetahui potensi besar yang dimiliki oleh anaknya sendiri. Karena Lifier diyakini akan bisa menjadi sosok seorang pemimpin yang sesuai seperti yang dia harapkan.
"Lantas bagaimana keadaan di sisi Barat?" tanya Lifier dengan nada gelisah.
"Anda tidak perlu khawatir, Pangeran. Evakuasi sudah dilakukan, para penduduk kini sudah aman dan mengungsi dari wilayah yang terkena dampak terparah.
"Selain itu, para petualang pun turut terjun membantu membersihkan puing-puing bangunan yang runtuh berserakan. Mungkin 'bisa kami katakan,' semua sudah terkendali," jawab Valtoz menjelaskan.
Lifier menghembuskan napas dengan lega setelah mendengar hal tersebut. "Syukurlah kalau begitu."
Laporan demi laporan dari setiap orang disampaikan kembali. Pangeran mendengarkan dengan seksama, sampai pada topik yang menurutnya menarik, pembahasan pun lebih terfokuskan.
"Jadi, Shadow Stinger tidak menemukan bukti apa pun di sana?" tanya Lifier.
"Itu benar, Pangeran," jawab Leon menanggapi. "Bahkan, Tuan Clay pun sudah memakai sihir jangkauan luas untuk mendeteksi partikel energi sihir yang tersisa. Hasilnya tetap nihil," lanjutnya.
"Begitu ya. Bahkan pada saat yang bersamaan, dua orang petualang baru tidak menghadiri perkumpulan. Hmm ... hal ini seperti berkaitan dengan mereka," gumam Lifier sambil memegangi dagunya.
"Eh?" Semua orang agak terkejut dengan pernyataan Lifier. Yang mereka pikirkan adalah, 'bagaimana mungkin jika hal itu memang berkaitan dengan kedua sosok tersebut.
Tidak lama, arah pandangannya berubah. Menatap tajam Clay Senka, mata merah dari Lifier memancarkan kilau misterius, seolah tegas memberitahukan, jikalau kasus telah menemukan beberapa petunjuk. Walaupun masih samar.
"Kakek Clay, jawab pertanyaanku. Semua yang dikatakan oleh kakek, apakah benar? Aku hanya ingin memastikan, terutama pemuda yang bernama Haru itu," tanya Lifier sangat tegas.
"Ya, saya bisa memastikannya, Pangeran. Dia adalah pemuda misterius yang cukup berbahaya," jawab Clay.
"Lantas, jikalau memang benar demikian. Kenapa guild menerima pendaftaran dari kedua orang itu?" Lifier pun langsung menatap Valtoz. Tatapannya sangat menusuk, sehingga membuat pria berambut ikal itu tidak dapat menanggapi perkataannya.
Selang beberapa saat, Valtoz kembali angkat bicara. "Pangeran Lifier, tunggu sebentar." Lalu dia mengambil beberapa berkas dari dalam tas bawaannya, dan kemudian memberikannya pada sang pangeran. "Bacalah ini, Pangeran."
Catatan dalam berkas yang Valtoz berikan, membeberkan semua proses yang telah terjadi. Tentu saja ada tertuliskan nama Esra juga di sana, dikarenakan dialah orang yang menangani prosesnya. Meskipun hanya sebagai perantara untuk menyampaikan atau melaporkan pekerjaannya.
Yang jadi permasalahan adalah tentang penentuan level, karena seharusnya hal tersebut merupakan rahasia di antara kedua belah pihak. Proses negosiasi permintaan penurunan level untuk Erythia dan Haru, tidak boleh dipublikasikan. Namun dalam situasi saat ini, Valtoz tidak dapat menyangkal apa pun, dan mau tidak mau dia pun memberitahukan seutuhnya.
"Oy-oy, yang benar saja!" Ekspresi yang terlukis di wajah Lifier sungguh pias. Dia sama sekali tidak menyangka.
Melihat Lifier yang gelagapan karena terkejut, Raja pun bersuara. "Aku tidak berbicara sepatah kata pun dari tadi, hanya memperhatikan kalian saja. Lalu, Lifier. Apa yang tertulis dalam berkas itu? Jelaskan!"
Dengan berat hati Lifier memberitahukan. Bagaimanapun, itu merupakan sebuah kecurangan. Walau tersimpan maksud positif bagi mereka (Haru dan Erythia) ... tapi tetap saja.
[Eh?]
[Jadi ternyata, level mereka ...?]
[Pantas saja jika Tuan Clay berkata demikian. Itu berarti, mereka jelas setara dengan Shadow Stinger?]
[Tidak hanya itu saja. Kemungkinan justru sebaliknya.]
Sudah kuduga.
"Ternyata begitu," gumam sang Raja.
"Saya mohon maaf, yang mulia." Dengan perasaan bersalah, Valtoz membungkuk di hadapan Lord Liedrix. Untungnya, itu tidak dipermasalahkan oleh sang Raja.
"Berdiri!"
"Baik." Valtoz kembali bangkit, dan itu melegakan. Terasa seperti beban seberat ratusan ton yang menimpa dirinya telah menghilang.
Raja pun bangkit dari singgasananya. Ketegasan yang menggetarkan, ekspresi wajah yang terlukis melambangkan keseriusan, kembali memerintahkan dengan suara lantang, "Cari dan bawa kedua sosok tersebut ke hadapanku cepat atau lambat. Aku ingin melihat dan berbicara dengan mereka secara langsung!"
"Yes, my Lord!"
...***...
"Haru, sudah selesai!" Erythia berkata dengan puas sambil menyiapkan masakannya. Dia benar-benar memasak untuk Haru.
Tidak ada yang meresahkan dari segi tampilannya, cukup meyakinkan. Akan tetapi ... 'bagaimana dengan rasanya?' Ya, Haru masih bertanya-tanya penuh kecemasan.
Memang tidak seharusnya berprasangka buruk terlebih dahulu, apa lagi belum mencicipi secara langsung. Namun tetap saja, khawatir.
Apa yang Erythia masak adalah Yasai Itame atau tumisan sayur. Olahan sajian sederhana dari Jepang yang kaya akan gizi ini merupakan olahan rumahan. Dengan bumbunya yang minimalis, but so tasty! Yummy~
"Hey, Ery. Aku harus mencicipi ini?" tanya Haru tampak tidak yakin.
"Makanlah, hehehe ...." Senyuman penuh percaya diri tampak menghiasi bibir Erythia.
Yasai Itame, kah? Kuharap ini tidak mengecewakan lidahku.
"Huh ... baiklah."
Setelah memperhatikan cukup lama, mau tidak mau Haru pun mulai menyantapnya. Mengunyah dengan perlahan, menikmati rasa yang meleleh di lidah, ternyata berlawanan dengan ekspektasinya.
Ini ... enak ....
Tentu lezat! Karena itu, tanpa merasa ragu lagi, Haru pun menghabiskannya. Dan Erythia yang melihat seorang pemuda bersemangat menyantap masakannya itu, tersenyum dengan sangat puas.
"Hey, Ery. Masakanmu ternyata enak. Aku menyukainya," ucap Haru memuji.
"Benar, kan? Hehehe ...."
"Bagaimana kamu mendapatkan semua bumbunya? Maksudku, kamu tidak akan mungkin memasak seenak ini jika tidak menggunakan bumbu. Ya, kan?" tanya Haru.
"Tentu saja aku memilikinya. Tunggu sebentar, akan kuperlihatkan padamu."
Erythia kembali ke dapur, mengambil kotak bumbu masakan miliknya itu. Lalu menunjukkannya pada Haru, "Tadaaa~ Ini dia!"
Oy-oy, kamu ini Dewi atau Koki sih? Bahkan sampai memiliki yang seperti ini.
Haru sudah tidak terkejut lagi, karena memang seperti itulah Erythia. Benar-benar gadis yang sulit ditebak.
Kemudian Erythia memunculkan portal berbentuk oval, tentu itu adalah ruang penyimpanan dimensi miliknya. Lantas dia pun menyimpan kembali barang miliknya itu.
"Praktis sekali ya. Bahkan kamu bisa menyimpan apa pun di dalam sana, tidak peduli seberapa besar ukurannya," ucap Haru.
"Apa yang kamu katakan, Haru? Tentu kamu juga bisa membuat penyimpanan dimensi seperti ini," balas Erythia.
"Eh?"
"Eh ...?"
Mereka berdua malah saling bertatap dengan heran. Tidak lama kemudian, Haru mendekati Erythia lalu memegangi kedua pundak sang Dewi. Dengan tatapan penuh ambisi, dia berkata, "Karena kita sedang menganggur saat ini. Ery, ajarkan aku bagaimana cara membuatnya. Oke!"
"Eeehhhh ....?!!"
^^^To be continued ...^^^