New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 6 - Sebentar Lagi Sampai [Revisi √]



Jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke kota terbilang cukup jauh, dan memakan waktu hingga 2 jam perjalanan dari jalan bercabang sebelumnya.


Jikalau saja Haru dan Erythia harus pergi dengan berjalanan kaki, entah kapan mereka berdua akan berhasil tiba di kota. Kemungkinan yang pasti memakan waktu lebih dari satu hari, itu pun jikalau mereka tidak tersesat selama di perjalanan.


"Paman, apa di sekitar sini memang tidak ada permukiman ya?" tanya Haru merasa penasaran sedari tadi.


"Tidak ada. Karena Desa Gurest adalah salah satu permukiman terdekat dari kota."


"Desa Gurest?"


"Ya, itu adalah desa tempat saya tinggal."


"Ternyata begitu ya. Pantas saja."


Tempat tinggal pria paruh baya berusia sekitar 40 tahunan itu adalah desa pertama yang memiliki jarak paling dekat untuk pergi menuju ke kota. Bukan berarti tidak ada desa lain, tetapi jaraknya terbilang cukup jauh.


Jikalau ditotal secara keseluruhan dari Desa Gurest, waktu yang dibutuhkan sekitar 4 jam perjalanan dengan menggunakan kereta kuda hingga sampai di kota.


Daerah yang mereka lalui saat ini disebut-sebut sebagai wilayah bernama “Heavenly Forest”. Dari namanya jelas menunjukkan jikalau itu adalah hutan, tetapi pada kenyataannya sangat berbeda. Melainkan terlihat seperti perkebunan dengan lahan yang amat luas. Namun, hampir didominasi oleh pepohonan yang menjulang tinggi ke atas.


Haru kembali memandangi sekitar. Meski terlihat monoton, tetapi dia sangat menikmati perjalanannya itu.


"Kurasa aku mengetahui jenis pohon yang tumbuh mendominasi di daerah ini," ucap Haru.


"Oh, ternyata kamu mengetahuinya ya. Jarang sekali ada anak muda yang memiliki wawasan tentang ini."


"Aku hanya sering melihatnya, Paman. Karena di duniaku duluーmaksudku, tempat tinggalku, jenis pohon ini cukup bermanfaat untuk dijadikan ramuan obat."


"Ya, tepat sekali."


Ailanthus Altissima, atau yang dikenal dengan “pohon surga” di dunia Haru sebelumnya. Disebut demikian, karena pohon tersebut dapat tumbuh di mana saja, termasuk di lahan yang rusak sekalipun.


Walau tidak diberikan air dalam jangka waktu yang lama, Ailanthus Altissima dapat tumbuh setinggi 17-27 meter, dan memiliki jangka kehidupan hingga mencapai kurang lebih 25 tahun.


Karena dikenal bermanfaat untuk dibuat ramuan obat mulai dari akar, kulit, dan daunnya. Ditambah juga manfaat utama obat tersebut, yang mana salah satunya dipercayai dapat menyembuhkan penyakit mental, menjadikan wilayah perkebunan itu sebagai tempat yang dilindungi oleh kerajaan.


"Kakak Haru memang berasal dari mana?"


Seorang gadis kecil bernama Ardalia yang berusia sekitar 10 tahunan bertanya. Dia tidak lain merupakan putri dari Arde.


"Sebenarnya kakak berasal dari utara, karena itu kakak tidak mengetahui daerah ini."


"Ayah, apakah itu jauh?"


Dengan ekspresi wajah yang polos, gadis mungil itu kemudian bertanya pada ayahnya.


"Itu cukup jauh, Nak. Tapi itu adalah hal yang wajar bagi seorang petualang yang sering berpindah-pindah dan mengunjungi banyak tempat baru."


"Ternyata begitu ya."


Arde tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Ardalia.


"Apa mungkin Lia ingin menjadi seorang petualang juga?" tanya Haru.


"Um! Saat sudah besar nanti, aku ingin menjadi petualang seperti kakak. Supaya bisa melindungi ayah dan semua orang di desa!"


Ardalia menjawab dengan penuh semangat. Gadis mungil itu sepertinya terobsesi dengan sosok petualang, juga karena dia memiliki niatan yang benar-benar tulus.


Haru tersenyum lebar setelah itu, sedangkan mata Ardalia berbinar-binar seraya menatap Haru penuh rasa kagum. Dia merasa sangat senang mendengar penyataan barusan …


"Janji ya, Kak Haru."


Ardalia menyodorkan jari kelingkingnya, kemudian Haru menautkan jari kelilingnya untuk membalas kepercayaan yang telah Ardalia tanamkan.


"Tentu saja! Pada saat itu juga, ayo kita berpetualang bersama-sama."


"Um!"


… lalu gadis mungil itu pun memeluk erat Haru.


Ardalia, selain memiliki sifat yang polos, kamu juga anak yang baik. Semangatlah untuk mewujudkan impian muliamu itu. Aku dan Ery akan selalu mendukungmu.


Tidak berselang lama, pemandangan kota yang mereka tuju pun mulai terlihat.


"Nah, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Arde.


"Woah ...."


Haru terkagum melihat keindahan kota tersebut, meski memandang dari kejauhan. Dia bahkan sampai berdiri hanya demi menyaksikannya.


"Bersiap-siaplah, kalian berdua. Karena kita akan segera tiba di kota terbesar yang menjadi pusat dari kerajaan ini."


Kemudian Haru masuk ke dalam gerbong untuk membangunkan Erythia yang tertidur selama di perjalanan.


Erythia tampak sangat kelelahan. Wajar saja sih, itu karena dia sudah terlalu banyak menggerakkan tubuhnya hari ini. Itung-itung sekalian beradaptasi dengan kehidupan keseharian yang baru.


Erythia perlahan membuka kedua matanya dan menatap Haru. Lalu bertanya dengan nada lemas, "Ada apa?"


"Maafkan aku karena mengganggu waktu istirahatmu, tapi sebentar lagi kita akan sampai di kota."


"Sudah berapa lama aku tertidur?"


"Sebenarnya, mungkin dari awal kita berangkat. Tidak berselang lama, kamu benar-benar terlelap."


"Eh?"


Rona merah di wajah Erythia mulai terlihat.


"Ma-Maafkan aku. Aku merasa sangat lelah," lanjutnya bergumam pelan.


"Sudahlah, tidak apa-apa, Ery. Aku bisa mengerti itu. Bersiap-siaplah."


Haru tersenyum setelah menanggapi.


"Um ...."


Akhirnya. Setelah beberapa jam perjalanan yang kami lalui, kami akan segera sampai di kota.


Haru berucap di dalam hatinya. Dia menjadi bersemangat dan tidak sabar menantikan moment tersebut.


^^^To be continued ...^^^