New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 39 - Misi Selesai



Semua prajurit yang terluka benar-benar telah pulih, Claude juga sudah siuman. Mereka berterima kasih khususnya pada Erythia yang memberikan penyembuhan secara total.


"Sekali lagi kuucapkan terima kasih pada kalian berdua. Berkat hal itu, nyawa kami pun terselamatkan," ucap Claude seraya membungkuk sopan.


"Tidak apa-apa, Paman. Kami turut senang masih sempat memberikan bantuan," balas Haru.


"Jadi, setelah ini kalian akan melanjutkan perjalanan kalian?"


"Eh? Perjalanan?" Haru sedikit memiringkan kepalanya. "Ah, sebenarnya kamiー" Erythia pun memotong pembicaraan.


"Terkait itu ... jadi begini, Kapten. Sebenarnya kami sedang mencari sesuatu hingga sampailah di lembah ini. Namun karena beberapa hal yang terjadi, pertempuran pun tidak dapat dihindari. Bukankah begitu?"


"Ya, kamu benar, Nona. Aku sendiri bahkan tidak menyangka, jika harus mendapati kondisi buruk ini."


Claude pun berbalik badan menatap para parajurit bawahannya. Setidaknya saat ini, keadaan sudah baik-baik saja. Begitulah pikirnya.


"Kami memang tidak dapat berbuat banyak, mengingat jauhnya perbedaan kekuatan tempur di antara kami dan koloni Chaos Dragon itu. Bahkan aku sendiri pun tumbang di tengah-tengah pertempuran.


"Akan tetapi, aku tetap bangga pada pasukanku. Karena mereka tetap berdiri gagah dan tidak lari dari pertempuran. Meski keadaan terburuk tetap terjadi menimpa rombongan sekalipun."


Mengepalkan tangannya, Claude benar-benar kuat menghadapi kenyataan pahit tersebut. Haru yang memperhatikan gerak-gerik sang kapten, dapat mengerti terkait perasaan tidak menyenangkan itu.


"Paman, bagaimana dengan mereka?" Haru bertanya dengan ekspresi wajah serius.


Claude pun berbalik. Melihat ekspresi sang pemuda, dia tersenyum dan menjawab, "Aku akan menguburkan jasad mereka secara layak. Mereka adalah prajurit-prajurit kebanggaanku, sudah sepatutnya mereka menerima penghormatan."


"Begitu, kah? Baiklah, aku mengerti."


"Aku akan kembali memberikan komando pada rombonganku, karena kami harus segera melanjutkan perjalanan. Sebelum keberangkatan nanti, bisakah kalian menunggu sedikit lebih lama lagi?"


"Ya, tentu."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, anak muda."


___


Claude dengan tegas mengkomandokan pasukannya. Berdiri dengan gagah di depan barisan yang tertata rapi, dia mengutarakan rencana perjalanannya dengan lantang. Itu menjadi sebuah pemandangan yang keren bagi Haru yang menyaksikan. Hingga apel pun selesai, para prajurit segera melakukan yang diperintahkan.


Dari 10 gerbong kereta kuda, kini hanya tersisa 4 gerbong saja. 6 di antaranya telah hancur dan terbakar oleh serangan koloni Chaos Dragon. Pasukan yang bertahan pun, hanya tinggal menyisakan 182 orang berikut Claude.


Jasad para prajurit yang gugur sebanyak 67 orang, dan dibagi ke dalam 2 gerbong kereta. Sedangkan 2 gerbong lainnya digunakan untuk membawa barang-barang dan perlengkapan yang masih layak digunakan.


Walau perjalanan akan terasa sangat berat kali ini, sudah pasti membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk sampai di Ibu Kota. Tetapi hanya itu cara terbaik yang dapat dilakukan oleh rombongan, mengingat situasi yang sudah tidak mendukung.


Pasukan pun telah siap untuk berangkat, hanya tinggal menunggu komando dari sang kapten. Claude menghampiri Haru dan Erythia yang kini tengah duduk di bawah pohon besar. Lalu dia pun berkata, "Maaf membuat kalian menunggu. Persiapanku sudah selesai."


Kedua muda-mudi itu pun berdiri, dan Haru membalas, "Begitu, kah? Syukurlah."


"Ya. Aku juga harus berpamitan pada kalian berdua. Walau pertemuan ini tidak menyenangkan, tapi aku bersyukur bisa bertemu dengan kalian."


Claude menjulurkan tangannya, Haru pun menjabat tangan sang kapten.


"Tidak, Paman. Mungkin saja pertemuan ini telah ditakdirkan," ucap Haru, diakhiri dengan sedikit tertawa.


"Takdir ya. Hmm ... kurasa memang benar." Claude tersenyum menanggapinya. "Kalau begitu, kami harus segera berangkat. Sampai ketemu lagi di lain kesempatan," lanjutnya berbalik badan, lalu berjalan pergi meninggalkan Haru dan Erythia.


Seraya menatap sang kapten dari belakang, pemuda tersebut bertanya, "Ery, bagaimana menurutmu?"


"Apanya? Jangan bilang kamu tidak tega dengan mereka yang akan melanjutkan perjalanan?"


"Mungkin ada benarnya. Aku hanya tidak yakin mereka akan baik-baik saja, ditambah malam pun sebentar lagi tiba."


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"


"Kurasa aku bisa membantu mempersingkat perjalanan mereka."


"Huh ...." Erythia menghembuskan napas panjang. "Lakukan saja, aku tidak akan melarangmu, Haru."


"Hehehe ... seperti yang diharapkan. Kamu memang terbaik, Ery. Aku padamu~ ♡"


"Bodoh!" gumam Erythia.


Setelah itu Haru memanggil Claude, dan menghampirinya.


"Paman, aku akan membantumu." Haru tampak bersemangat.


"Eh? Tidak perlu, anak muda. Kau dan partner-mu itu sudah banyak membantu kami. Aku tidak ingin merepotkan kalian lebih banyak lagi."


"Tidak perlu khawatir, Paman. Ini hanya bantuan kecil dariku. Aku yakin akan sangat bermanfaat untuk kalian. Hehehe ...." Haru tersenyum lebar.


Melihat ekspresi Haru yang tulus, Claude tidak sanggup menolaknya. Lantas dia pun menerima bantuan tersebut.


"Tujuan kalian ke Ibu Kota, bukan? Aku akan mempersingkat waktu kalian untuk tiba di sana."


Setelah berkata demikian, Haru menjentikkan jarinya ...


CTAK


... dan mengaktifkan skill andalannya itu, yakni << DIMENSIONAL CAVITY >>


"Huh ... dia benar-benar menirukanku ya. Haru bodoh," gumam Erythia yang menatap dari kejauhan.


Portal dimensi berukuran cukup besar muncul di hadapan pasukan prajurit, sontak hal tersebut membuat mereka semua terkejut. Terutama Claude.


"Oy-oy, apa yang barusan kau lakukan?" Claude bertanya dengan nada resah. "Lubang apa itu?"


"Tidak perlu khawatir, Paman. Ini adalah skill ciptaanku, aku bisa menjamin tingkat keamanannya kok," jawab Haru penuh kebanggaan.


"Tunggu-tunggu, menjamin keamanan katamu?" Claude semakin ragu mendengar perkataan seorang pemuda yang mengatakan hal demikian dengan santainya.


Kemudian Haru menjelaskan bagaimana cara skill-nya itu bekerja. Claude mendengarkan dengan seksama, hingga dia memahami konsep dari skill tersebut.


"Begitu rupanya. Kau tahu, kau mengingatkanku akan sosok penyihir terhebat di dunia. Beliau adalah Tuan Clay, dia pun memiliki sihir teleportasi seperti milikmu ini," ucap Claude.


"Hou ... begitu rupanya."


Haru pun tersenyum puas mendengar kalimat tersebut.


Setelah Claude dan rombongan berdiri tepat di depan portal dimensi, dia berbalik badan menatap kedua muda-mudi itu dan berseru, "Anak muda, beritahukan aku siapa nama kalian?"


"Namaku Haru, dan partner-ku Erythia. Tolong ingat kami baik-baik, Paman." Haru membalas seruan sang kapten.


Claude tersenyum. Dia kembali berkata, "Aku Claude Ocaris, kapten pasukan prajurit Kerajaan Radix. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian berdua. Terima kasih."


Seraya melambaikan tangannya pada Haru dan Erythia, Claude bersama rombongan pun berjalan pergi dan masuk ke dalam portal dimensi tersebut.


"Dengan begini misi selesai. Ayo kita pulang, Ery."


"Um!"


...***...


Andora yang sudah semakin menjauh dari rombongan akhirnya beristirahat. Beruntung bagi mereka bertiga karena menemukan sebuah tempat yang dirasa cukup aman untuk mereka berlindung sejenak.


"Nona Andora, bagaimana keadaan Anda?" tanya salah satu prajurit.


"Aku tidak apa-apa. Berkat kalian berdua, aku selamat dan terhindar dari peristiwa mengerikan itu," jawab Andora.


"Sudah tugas kami untuk melindungi Anda, karena Tuan Claude mempercayakan pada kami untuk mengemban misi ini."


"Sungguh, aku sangat berterima kasih pada kalian." Lalu Andora membungkuk sopan.


"Ti-Tidak masalah, Nona. Anda tidak perlu melakukan hal seperti itu. Ini sudah kewajiban bagi kami," balas sang prajurit sedikit canggung dengan sikap yang Andora tunjukkan.


"Sekali lagi, kuucapkan terima kasih banyak."


"Ba-Baik."


Bersikap ramah, peduli, menghormati orang-orang yang ditemui, bahkan dengan orang-orang dari kalangan biasa sekalipun. Tidak lupa juga untuk selalu berterima kasih atas bantuan yang orang lain berikan, tidak peduli sekecil apa pun itu. Adalah etika penting yang Andora pelajari dan tanamkan pada diri sendiri sebagai seorang Putri.


Karena itu Andora sangat berterima kasih pada dua prajurit yang menyelamatkannya dari maut. Dalam perihal ini, nyawa-lah sebagai taruhannya. Tentu bukanlah sebagai suatu hal yang dapat disepelekan begitu saja. Itu merupakan suatu tindakan gagah berani, dan kelak Andora akan membalas kebaikan kedua prajurit tersebut.


"Ngomong-ngomong, sekarang kita berada di mana?" tanya Andora yang penasaran.


"Kita masih berada di kawasan lembah de Valle, Nona. Dan tempat ini adalah desa yang ditinggalkan," jawab sang prajurit.


"Eh? Ditinggalkan?"


"Ya, benar. Karena mendapati beberapa hal yang dirasa merugikan, akhirnya semua penduduk desa memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat ini."


"Apa tuan prajurit tahu terkait kronologinya?"


"Maaf, Nona. Perihal itu, aku tidak mengetahuinya." Prajurit itu menggelengkan kepalanya.


"Begitu ya."


"Ya, begitulah. Dan lagi, namaku adalah Garu. Mendengar Nona Andora memanggilku dengan sebutan tuan prajurit, itu agak kurang nyaman di telingaku," ucap Garu sedikit canggung.


"Eh? Maafkan aku, Tuan Garu. Aku tidak mengetahui nama Anda, jadi aku hanya asal berbicara saja." Andora sedikit panik, dia pun berulang kali menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Nona. Aku bisa memaklumi, karena kita belum mengenal satu sama lain. Selain itu, nama dari rekanku ini adalah Naba," balas Garu seraya memperkenalkan satu prajurit lainnya.


"Ya, aku Naba Giorda. Mohon kerjasamanya, Nona Andora," ucap Naba memperkenalkan diri.


"Terima kasih telah memperkenalkan diri kalian, Tuan Garu, Tuan Naba. Aku harap, kita bisa berteman baik untuk ke depannya. Juga mohon kerjasamanya."


"Kami juga, Nona Andora."


Mereka bertiga pun saling menundukkan kepala masing-masing. Dengan sedikit perkenalan singkat, kini mereka sudah saling mengenal.


Tuan Garu dan Tuan Naba, kah? Aku akan mengingat kalian baik-baik. Terima kasih banyak.


___


"Nona Andora, sebentar lagi malam akan tiba. Aku sarankan, lebih baik kita beristirahat di sini saja malam ini," ucap Garu.


"Aku tidak masalah dengan hal itu. Lagi pula, jika kita melanjutkan perjalanan pun, aku tidak yakin kita akan baik-baik saja nanti," balas Andora.


"Jika hanya aku dan Naba, kami tidak masalah meskipun harus melakukan perjalanan saat malam hari. Hanya saja itu bukanlah ide bagus, jika kami memaksakan terkait hal tersebut bersama Nona Andora.


"Karena itu, lebih baik kita lanjutkan perjalanan esok hari. Kami akan berjaga secara bergantian nanti malam, dan Nona Andora pun bisa beristirahat."


Pemikiran seperti itu cukup masuk akal. Andora tidak mungkin sanggup bertahan dalam gelapnya kawasan lembah, dan dingin angin malam yang menusuk. Mengingat perbandingan kekuatan fisik yang 'bisa dikatakan' jelas berbeda antara dia dengan prajurit yang terlatih. Lantas sang Putri pun mengangguk menyetujuinya.


"Sebelum langit benar-benar gelap, aku akan mencari sumber makanan di sekitar sini."


"Aku akan membantumu juga, Garu. Jika mencari dengan dua orang, kurasa akan mudah."


Naba pun bergegas, dan Garu mengangguk setuju. Mereka kemudian mengambil peralatan tempurnya untuk jaga-jaga.


"Kalau begitu, kami pergi dulu, Nona. Kami tidak akan lama."


"Berhati-hatilah."


Mereka berdua mengangguk, dan segera berangkat untuk berburu sumber makanan.


"Wuah ... kuharap dapat menemukan daging segar. Aku jadi bersemangat!" ucap Naba.


"Dasar bodoh, kita pasti mendapatkannya, bukan?" balas Garu sedikit tertawa.


Mendengar pembicaraan mereka yang berjalan semakin menjauh, Andora terkekeh.


Bagaimanapun juga, itu adalah sifat alami manusia yang tidak dapat berjalan sendirian. Mengesampingkan perihal pekerjaan, mereka tetaplah dua entitas sosial yang memiliki ikatan pertemanan.


Mereka berdua ternyata cukup dekat satu sama lain. Entah kenapa, melihat kedekatan itu membuatku sedikit iri.


"Huh ...." Andora menghela napas panjang. "Teman, kah?" lanjutnya bergumam seraya memandang jauh ke arah langit.


^^^To be continued ...^^^