
Beberapa jam berlalu, dan sudah menjelang sore hari. Haru semakin mahir menggunakan sihir. Setelah berhasil menciptakan sihir ruang penyimpanan dimensi miliknya sendiri, dia terus melatih skill tersebut sampai hatam. Bahkan juga menamai dengan sebutan << Mystic Cavity >>
Erythia bahkan sampai bertanya, 'untuk apa kamu harus repot-repot menamainya segala?' Tentu Haru menjawab, 'agar terkesan keren!' dengan santainya. Lalu tertawa.
Memang seperti itulah Haru. Pencapaian pertamanya justru membuat jiwa Chūnibyō-nya meronta-ronta. Lagi pula itu merupakan hal yang wajar, jika malah teringat kembali masa-masa kelam terjebak dalam kondisi yang memiliki delusi keagungan. Yang mana itu adalah meyakini diri sendiri karena memiliki pengetahuan tersembunyi atau kekuatan rahasia.
Mungkin 'bisa dikatakan akan sangat' memalukan, jikalau membahas perihal itu ketika sudah menginjak usia dewasa. Mengingat hal tersebut hanyalah fiksi semata. Akan tetapi, tidak untuk kali ini. Karena di dunia yang sekarang ditinggali oleh Haru, kekuatan yang dulu dianggap fiksi pun justru merupakan hal nyata. Bahkan setiap orang juga memiliki kekuatan rahasia yang berbeda-beda.
Sambil duduk di kursi menunjukkan sikap agresif atau mendominasi, Haru mencoba menggoda Erythia. "Hey, Ery. Kamu tahu, aku bahkan bisa menirukanmu."
Erythia yang sedang menatap ke luar jendela seraya menopang dagu, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Haru. "Eh? Memangnya apa yang ingin kamu coba tirukan?" balasnya.
Senyuman tengil pun terlukis di bibir Haru. Itu benar-benar mengesalkan. Kemudian dia menggumamkan beberapa kata, "Muncullah, << Mystic Cavity >>" ... lalu menjentikkan jarinya percis seperti yang biasa Erythia lakukan.
Portal ruang penyimpanan dimensi milik Haru langsung muncul tepat di sebelahnya. Tidak lama setelah itu, terdengar kembali suara jentikan jari yang kedua. Lalu portal dimensi tersebut segera menghilang.
"Mwehehehe ... bagaimana? Sudah mirip dengan yang biasa kamu lakukan, bukan?" Haru pun tertawa.
Erythia hanya menunjukkan ekspresi dingin setelah menyaksikan teater konyol yang Haru perlihatkan padanya. Kemudian dia mengeluarkan beberapa bantal dan bergumam, "Bodoh!" ... lalu melemparkan bantal tersebut satu persatu tepat pada wajah sang pemuda.
ONE SHOT! ; BUUKKK
DOUBLE SHOT! ; DEZIG
TRIPLE SHOT! ; WADIDAU
Menerima serangan balik telak dari sang Dewi, Haru berteriak, "Kenapa kamu malah melempariku, Ery!"
"Hmp ...!!" Sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya karena merasa kesal, Erythia pun langsung mengalihkan kembali pandangannya.
...***...
Setelah menempuh perjalanan puluhan kilometer, rombongan Claude Ocaris telah sampai di lembah de Valle.
Lokasi tersebut adalah wilayah bentang alam yang dikelilingi oleh pegunungan dan aliran sungai. Luasnya sendiri diperkirakan mencapai ratusan kilometer persegi. Mengingat perjalanan dari Kota Folium menuju Ibu Kota - Caulis terbilang sangat jauh.
Rombongan pun memutuskan untuk beristirahat, sekalian mengisi ulang beberapa tong persediaan air minum yang sudah kosong dan menipis di pinggir aliran sungai. Mereka juga tidak lupa menyiapkan alat serta bahan-bahan makanan yang dibawa untuk segera dimasak.
Para prajurit membagi tugas ke dalam beberapa kelompok. Ada yang bertugas memancing ikan di sungai, memberikan kuda-kuda air minum dan tidak lupa juga memijatnya karena efek kelelahan, ada pula yang mencari buah-buahan di sekitar, serta melakukan tugas-tugas lainnya.
Andora yang terlelap di perjalanan perlahan membuka mata. Kemudian menguap dan meregangkan tubuhnya. Dia kebingungan karena gerbong yang ditumpangi hanya tinggal menyisakan dirinya seorang saja.
"Lho ... di mana orang-orang?" Setelah itu Andora bangkit dari duduknya, lalu memutuskan untuk turun dari gerbong tersebut.
Claude yang melihat Andora mulai menampakkan sosoknya, lantas memanggilnya, "Yo, Nona muda." Sang Putri pun menghampiri karena merasa terpanggil.
"Tuan Claude, apa kita sudah sampai?" tanya Andora.
"Belum, Nona. Kita hanya istirahat," jawab Claude.
"Begitu rupanya."
Andora pun memperhatikan para prajurit yang sedang sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Dia berkata, "Mereka benar-benar semangat ya."
"Ya, tentu saja. Karena mereka adalah prajurit yang kubanggakan!" balas Claude.
"Tuan Claude sangat beruntung."
Claude hanya tersenyum menanggapi perkataan Andora. Tidak lama kemudian, terdengar suara yang mengikis indra pendengaran. Itu berasal dari perut sang Putri. Karena para cacing di dalam perutnya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa lapar.
"Eh?" Claude agak terkejut. Sambil menatap Andora, dia pun terkekeh di tempatnya berdiri.
"Ma-Maaf, Tuan Claude." Andora sangat merasa malu. Rona merah di wajahnya tampak matang. Itu terasa seperti harga dirinya sebagai seorang Putri telah ternodai.
"Ahahaha ... kurasa ini adalah waktu yang tepat. Bersabarlah sedikit lagi, Nona. Karena kita akan segera mengisi amunisi di tubuh kita," ucap Claude tersenyum lebar.
Setelahnya Andora pun memutuskan untuk turut membantu proses memasak. Mulai dari mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan, proses memilih bahan makanan yang tersedia, mengatur kuantitas, dan mencampurkan bahan makanan yang sudah disortir dengan racikan bumbu sesuai urutan.
[Woah ... seperti yang diharapkan dari seorang gadis. Skill memasak kita bahkan tidak ada apa-apanya.]
Para prajurit merasa sangat terbantu. Dengan ikut campur tangan Andora dalam proses memasak, memberikan sentuhan sempurna untuk masakan yang akan disajikan.
Inilah salah satu fungsi dari mempelajari lebih banyak hal. Sebagai seorang putriーum ... bukan, tapi sebagai seorang wanita. Sudah sewajarnya mahir dengan urusan dapur, bukan? Karena itulah Andora benar-benar membagi waktunya pada hal-hal yang sudah sepatutnya dia pelajari.
Beberapa waktu berlalu, masakan sudah selesai dimasak dalam porsi banyak. Hidangan utama yang disajikan cukup sederhana, itu adalah Kare. Mengingat bahan makanan yang dibawa cenderung mengarah pada sayuran. Selain itu, ikan bakar pun turut menjadi pelengkap.
Rombongan sangat menikmati waktu istirahat mereka. Bahkan sampai merasa kesulitan untuk bernapas karena saking kekenyangan. Suasana ini, begitu menenangkan, itulah yang Andora pikirkan dan rasakan.
Namun sangat disayangkan, perasaan nyaman seperti itu tidaklah bertahan lama. Karena sebuah ancaman besar sedang mengintai mereka dari kejauhan.
...***...
Sementara itu, Haru mulai mencoba merealisasikan gagasan konsep sihir teleportasi. Tentu dengan berpatokan pada teori yang sempat dia pikirkan sebelumnya.
Berkat bekal pengetahuan yang sudah dia dapatkan dari hasil penciptaan sihir ruang penyimpanan dimensi, tindakannya kali ini cenderung agresif dengan perhitungan yang presisi.
Baiklah, kali ini aku akan membayangkan perhitungan koordinat dari posisiku sekarang, dan menyambungkan dengan koordinat tempat lain secara acak. Agar keduanya dapat membentuk satu titik yang saling terhubung dan berkesinambungan.
Haru memejamkan matanya. Dia membayangkan sebuah kawasan area dengan cakupan jangkauan yang sangat luas. Itu tampak seperti dalam sudut pandang pada sistem GPS saat dioperasikan.
Pikirannya benar-benar bermain. Dalam gambaran Haru, itu terlihat seperti sedang menggambar sebuah garis yang tegas ketika menciptakan sebuah karya seni lukisan abstrak geometris. Dia benar-benar tenang.
Setelah mendapatkan gambaran perhitungan koordinat yang diinginkan, kemudian Haru segera memusatkan energi sihir pada pikirannya. Tidak hanya sampai di situ saja, setelahnya dia mensinkronisasikan dengan skill << Mystic Cavity. >> Bertujuan untuk memvisualisasikan bentuk semesta dari koordinat yang sudah terhubung itu sendiri, dengan menggunakan kerangka skill ruang penyimpanan dimensi miliknya.
Itu bekerja. Lingkaran sihir dengan pola yang sangat rumit pun muncul, dan perlahan membuka celah ruang dimensi. Haru pun kembali membuka mata. Melihat sihirnya yang telah tervisualisasikan, namun masih ada keraguan dalam benaknya.
Haru langsung menatap Erythia, dan berkata, "Ery, berikan aku benda apa pun dalam ukuran besar."
"Hah? Aku tidak memiliki benda yang seperti itu!" balas Erythia.
"Kalau begitu lakukan sesuatu untukku."
"Apa?" tanya Erythia merasa kebingungan.
"Gunakan skill serangan skala besar apa pun, dan seranglah tepat ke arah portal itu," jawab Haru sambil menunjuk portal ruang dimensi di hadapannya.
"Kamu yakin?"
"Ya, tentu! Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah ini berhasil atau tidak?"
"Baiklah." Erythia dengan senang hati melakukan sesuai yang diperintahkan oleh Haru. Kemudian mereka berdua pun bertukar posisi.
Pada jarak beberapa meter dari portal dimensi tersebut, Erythia memunculkan lingkaran sihir yang berukuran cukup besar di hadapannya. Lalu dia bergumam ...
<< Lightning Sphere >>
... dan menjentikkan jarinya.
Petir yang berbentuk seperti bola kasti ke luar dari dalam lingkaran sihir milik Erythia. Itu melesat dengan sangat cepat menyerang ke arah target. Secara bertubi-tubi seperti sedang menembakkan peluru dengan menggunakan Machine Gun.
Selang beberapa saat, Haru berteriak, "Stop, Ery!"
Mendengar itu, Erythia pun segera menghentikan serangannya, dan memutus aliran energi sihirnya.
"Ini sudah cukup?" tanya Erythia.
"Ya, kita tunggu hasilnya," jawab Haru.
Tidak lama setelah itu, pada jarak beberapa kilometer dari posisi mereka berdua, terdengar jelas suara ledakan secara beruntun.
"Haru, kamu mendengarnya, kan?"
"Ya, tentu saja, Ery." Senyuman tengil pun terlukis di bibir Haru. Dia sangat percaya diri. "Baiklah, Ery. Saatnya kita memeriksa ke lokasi kejadian," lanjutnya.
"Eehhh ...?"
^^^To be continued ...^^^