New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 64 - Kenapa Jadi Begini?!



“Saat aku benar-benar dalam keputusasaan dan ketakutan hebat, Haru tiba-tiba saja menyelamatkanku dari bandit tersebut. Dia bahkan membuat babak belur pria botak itu.


“Juga setelah aku memberitahukannya kalau ada satu orang lagi yang mereka sekap, lalu dia masuk ke dalam markas mereka untuk menyelamatkan anak itu juga.”


Setelah mendengar penjelasan Andora, Erythia menghembuskan napas lelah seraya memegangi dahinya. Dia merasa jikalau Haru selalu saja didekati oleh situasi yang tidak menyenangkan.


“Ya, baiklah. Aku paham garis besarnya.”


Erythia kemudian menatap Haru yang kini tengah menopang dagu seraya menyilangkan kakinya.


“Apa? Semua yang Andora katakan itu benar, kok.”


Haru turut menegaskan ketika dia membalas tatapan Erythia.


“Ya-Ya, aku mengerti. Intinya aku turut merasa lega karena kalian berdua tidak apa-apa, terutama kamu, Haru!”


“Kenapa aku lagi?”


“Karena kamu selalu saja bertindak gegabah tanpa pikir panjang. Itu kebiasan burukmu!”


“Tapi aku menyelamatkan dua orang, lho ....”


“Memang. Untungnya yang kamu hadapi hanyalah para bandit. Jelas mereka tidak sebanding denganmu, bukan?”


“Soal itu … ya … lain kali aku akan berhati-hati.”


Perkataan Erythia bermaksud baik. Dia ingin Haru mengerti maksud tersebut, agar memperbaiki kebiasaan buruknya itu. Namun, sepertinya Haru pun tidak dapat menyanggahnya.


“Baguslah kalau kamu mengerti, Haru.”


Andora hanya menyimak mereka berdua. Tak berselang lama dia berkata, “Kalian berdua serasi sekali, ya ....”


“Hah?!”


Haru dan Erythia spontan menjawab secara bersamaan, seraya menatap Andora yang sedari tadi hanya menunjukkan sikap anggunnya itu.


“Eh?”


Menyadari tatapan tidak enak dari mereka berdua, Andora justru dibuat kebingungan.


Sepertinya aku salah bicara, ya ...?


Kenapa mereka berdua malah menatapku heran begitu ?


Keheningan seketika menjamah seluruh ruangan, menemani seorang pemuda dan dua gadis yang kini terdiam membisu.


“Ehem … kesampingkan terkait itu.” Wajah Erythia sedikit memerah. “Kebetulan aku sudah memasak sebelumnya. Kalian berdua pasti lapar, bukan?


“Haru, kamu bisa membantu menyiapkan makan malamnya, kan?”


“Hah?” Haru agak terkejut tiba-tiba dimintai tolong. “Heh … aku yang menyiapkannya?”


“Ya. Tidak masalah, kan?”


“Kamu yakin sesi memasakmu sudah selesai, Ery?”


“Tentu.”


“Ya, baiklah.”


Setidaknya menyiapkan makan malam lebih baik daripada harus terus di sini bersama mereka berdua.


Haru kemudian beranjak dari kursinya dan menuju ke dapur. Kebetulan di timing yang bagus, dengan begitu dia dapat meloloskan dirinya dari situasi menyebalkan tersebut.


...***...


“Ehem … sampai mana kita tadi. Oh, kembali ke pertanyaanku sebelumnya. Kenapa kamu malah memutuskan ikut dengan Haru ke sini?”


“Aku tidak punya tempat tinggal.”


“Hah? Yang benar saja.”


“Aku serius.”


“Jadi kamu berpikir kalau Haru akan membiarkanmu tinggal bersamanya, begitu?”


“Ya, benar. Setidaknya itu yang aku pikirkan. Lagi pula, aku juga berpendapat kalau Haru akan menerimaku.”


“Kamu yakin sekali dengan perkataanmu itu.”


“Kenapa tidak? Aku cukup percaya diri dengan diriku, kok. Meski kuakui kamu lebih cantik dan memiliki proporsi tubuh yang ideal daripada aku, tapi aku juga tidak kalah menariknya darimu.


“Ayo, lihatlah sendiri.”


Kedua tangan Andora mengangkat asetnya itu berulang kali di hadapan Erythia. Dia benar-benar melakukannya dengan santai.


Apakah itu termasuk serangan berpotensi untuk mengalahkan lawan seperti Erythia? Cukup menarik. Good job, author !


◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷


【 Author ; “Yoi, tentu saja!” (≖ ͜ʖ≖)☞ 】


◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷


“Hentikan itu!”


Erythia tidak habis pikir dengan Andora yang tiba-tiba saja melakukan hal memalukan seperti itu. Sesama wanita, tingkahnya barusan justru membuat Erythia merasa malu.


“Kenapa wajahmu malah memerah begitu? Aku berani memperlihatkannya padamu, justru karena Haru tidak di sini.”


“Bo-Bodoh! Tapi tetap saja!”


“Ternyata kamu memiliki sifat yang cukup menggemaskan ya. Aku tidak membencinya.”


Menggemaskan masih lebih baik daripada frontal sepertimu, tahu !


Gadis ini menyebalkan sekali, sungguh.


“Aku harus memperbaiki gaunmu terlebih dahulu. Itu menjadi sangat terbuka di bagian tertentu.”


“Aku tidak menyangkal itu, tapi ini bukan kemauanku juga. Bandit itulah yang justru merusak gaunku sampai seperti ini.”


Itu benar. Karena dipenuhi oleh hawa nafsu akan lekuk tubuh Andora, bandit yang menyerang dia sebelumnya tanpa ragu memotong gaun yang dikenakannya tepat pada area dada.


“Ya-Ya, lupakan kejadian sebelumnya. Untuk sekarang ....”


Erythia kemudian menjentikkan jarinya, lalu lingkaran sihir pun menyelimuti seluruh tubuh Andora. Dia melakukan sihirnya pada sang Putri untuk memperbaiki gaun yang rusak itu kembali seutuhnya.


“Eh? Kamu benar-benar memperbaikinya seketika saja. Hebat!”


Andora tampak terkejut. Dia tidak menyangka jikalau sihir bahkan dapat digunakan untuk hal sederhana seperti memperbaiki pakaian. Tentu hal itu menjadi pengetahuan baru baginya.


“Hanya sihir sederhana. Siapa pun pasti dapat melakukannya.”


“Begitu, ya ....”


“Begitulah.”


“Terima kasih sudah memperbaiki gaunku.”


“Tidak usah dipikirkan.”


Sampai di sini, Erythia masih belum percaya begitu saja terkait motif Andora. Dia menduga, pasti masih ada hal lain yang disembunyikan olehnya, dan memang sengaja enggan untuk mengatakannya.


“Haru … bagaimana menurutmu?” Erythia kembali bertanya.


“Hmm … menurutku dia laki-laki yang baik dan bisa diandalkan. Haru tiba-tiba saja ada di atap bangunan, lalu dia membantuku dengan menyerang bandit yang mencoba menyakitiku.


“Aksinya itu bahkan terlihat keren sekali, kau tahu! Aku sampai terpesona kala itu, dan sepertinya … aku menyukainya pada pandangan pertama.”


Andora mengatakannya dengan jujur, meski agak malu-malu sampai wajahnya memerah. Dia bahkan tidak sadar malah menyatakan perasaannya itu secara blak-blakan di depan Erythia.


Sudah kuduga.


“Hmm … begitu, ya.”


“Ya, hanya itu. Tapi kurasa, Haru bahkan sama sekali tidak tertarik padaku. Mungkin saja karena dia sudah memilikimu yang justru lebih daripada diriku ini?”


“Siapa yang tahu ....”


“Ini benar-benar aneh, kau tahu. Padahal sebelumnya, aku belum pernah menyukai seseorang sampai seperti ini.”


Andora menghembuskan napas lelah. Kemudian dia mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruangan.


“....”


Sulit untuk menanggapi perihal ini, Erythia bahkan enggan mengatakan apa pun. Mungkin saja Erythia sendiri mengerti perasaan yang tengah Andora rasakan? Atau mungkin juga, dirinya itu tengah merasakan hal yang sama?


“Jadi begitulah.” Andora menepuk kedua tangannya. “Maaf karena aku sudah mengatakan sesuatu yang agak memalukan dan sensitif.


“Meski begitu, aku tidak akan menyerah begitu saja. Jadi mulai hari ini dan ke depannya, mohon bantuannya, Nona Erythia.” Andora sedikit menyeringai.


“Hey, jangan malah seenaknya memutuskan! Aku bahkan belum memberikan persetujuanku!”


Wajah Erythia berkedut beberapa kali dengan pernyataan sepihak Andora. Jelas sekali kalau dia merasa kesal.


“Ara … aku pikir ini akan baik-baik saja, kok. Percayalah padaku.”


Andora menaruh salah satu tangan di pipinya itu, dan sedikit memiringkan kepalanya.


“Mana bisa begitu!”


“Ah!ーKarena Haru sedang menyiapkan makan malam, aku juga akan membantunya.”


Andora justru menghiraukan Erythia. Kemudian dia beranjak berdiri dari kursinya, dan langsung berjalan menuju ke dapur. Sedangkan kedua mata Erythia mengikuti ke mana Andora melangkah.


“Oy, jangan malah mengabaikanku!”


Sebelum Andora memasuki dapur, dari balik tembok lorong, dia kembali menatap Erythia dan berkata padanya, “Aku lupa mengatakan satu hal lagi padamu. Jangan sungkan untuk mengakrabkan diri denganku, oke.” Lalu Andora tersenyum dan menghampiri Haru di dapur.


“Haru, kenapa gadis yang kamu bawa ke sini itu menyebalkan sekali!” teriak Erythia.


^^^To be continued …^^^