New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 9 - Haru, Aku Lapar [Revisi √]



"Haru, aku lapar."


Erythia mengeluh seraya menarik-narik pakaian Haru. Itu karena suara konser yang berasal dari perutnya terdengar sangat mencolok sekali.


"Bersabarlah sebentar lagi, Ery."


"Um … baiklah."


Erythia melepaskan cengkramannya itu. Seraya berjalan, dia hanya menatap ke bawah.


Aku mungkin bisa menahan rasa lapar ini untuk sementara waktu, tapi aku kasihan pada Ery. Aku jadi merasa tidak tega melihat raut wajah murungnya itu.


Sedari awal Haru dan Erythia datang ke dunia tersebut, kedua muda-mudi itu memang belum makan apa pun.


Terkait Haru, dia mungkin dapat menahan rasa laparnya untuk beberapa jam ke depan. Itu karena dia sudah terbiasa mengalami situasi seperti ini. Saat bekerja dulu, Haru benar-benar sibuk dan kerepotan menghadapi pekerjaannya, sehingga membuatnya selalu saja telat untuk makan.


Berbeda halnya dengan Erythia. Meski dia seorang Dewi sekalipun, tetapi jikalau dalam situasi seperti ini, dia tetap harus segera mendapatkan asupan makanan untuk memulihkan energinya.


Erythia juga harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan kesehariannya yang baru, dan saat ini terasa seperti dia sedang menjalani ujian untuk bertahan hidup.


"Di depan sana ada taman. Mau istirahat sejenak di sana?" ajak Haru seraya menunjuk ke arah bangku yang berada di bawah pohon-pohon besar.


Erythia tidak menjawab, dia hanya mengangguk menyetujui ajakan Haru. Kemudian mereka berdua pun lanjut berjalan menuju ke sana.


Sesampainya, Haru dan Erythia duduk di bangku tersebut. Untuk sejenak mereka menikmati hembusan angin yang menyegarkan dan cukup menenangkan suasana.


Memperhatikan Erythia yang tampak lesu, justru membuat Haru jadi ingin segera membelikannya sesuatu untuk di makan. Namun, yang jadi permasalahan adalah, mereka tentunya tidak memiliki uang!


Haru sebenarnya memiliki dompet di saku belakang celananya, dan masih tersimpan beberapa lembar uang di sana.


Namun, tentu saja dia tahu jikalau uang tersebut tidak dapat digunakan untuk berbelanja di toko apa pun yang ada di Kota Caulis. Dunianya tinggal saat ini jelas sudah berbeda. Bahkan berada di Galaxi mana, dia sendiri pun tidak tahu.


Apa boleh buat, aku memang harus melakukan sesuatu untuk Ery.


Kemudian Haru beranjak dari duduknya, dan berjongkok di hadapan Erythia. Dia berkata, "Ery, beri aku waktu. Mungkin agak lama, tapi aku akan segera kembali dengan membawa makanan. Kamu bisa menungguku di sini, kan?"


"Um ...."


Erythia mengangguk patuh. Dia sangat senang mendengar Haru mengatakan hal seperti itu. ‘Haru memang benar-benar bisa diandalkan’, begitulah pikirnya.


*Oh, my Lord ...!! Sial! Ini sih curang namanya.


Kalau sudah begini, aku tidak mungkin kembali dengan tidak membawakan makanan untuk makhluk yang indah satu ini*.


Sementara Haru yang masih memegangi keningnya, mulai menghela napas panjang. Kemudian dia beranjak berdiri dan langsung berbalik badan.


Seraya menoleh ke belakang, dia pun berpamitan. "Aku pergi dulu, Ery."


"Hati-hati, Haru. Aku akan menunggu di sini sampai kamu kembali."


Haru mengangguk, lalu dia pun meninggalkan Erythia di sana.


...***...


Di sisi lain, ada seorang gadis dengan gaya rambut twintail berwarna pirang. Dia sedang menikmati waktu santainya duduk di singgasana megah. Dia adalah Hyranhia, Dewi Kelahiran yang baru. Yang merupakan adik dari sang Dewi Kelahiran sebelumnya, yaitu Erythia.


Sambil menikmati tea time dan menyesapnya dengan rileks. Dari cermin yang melayang di hadapannya, Hyranhia disajikan oleh adegan seperti pada film drama romantis Jepang. Itu karena dia sedang asyik memantau kedua muda-mudi di dunia baru, yang mana mereka adalah Haru dan kakaknya sendiri, Erythia.


Tidak sekali Hyranhia berteriak karena kegirangan. Dia benar-benar menikmati perjalanan dua orang tersebut di sana.


Ketika alur memasuki scene yang memperlihatkan Erythia yang sedang berendam, dan tiba-tiba saja Haru datang untuk mencari kakaknya itu. Sampai pada saat di mana mereka berdua saling memandang dalam diam, justru itu malah membuat Hyranhia menjadi histeris.


【 Author; Entah apa yang salah dengan otaknya, aku hanya kasihan pada Erythia yang memiliki adik seperti itu! o(TヘTo) 】


"Heh … sepertinya kakak mulai kelaparan di sana ya. Melihat ekspresi wajahnya itu, sungguh menggemaskan sekali.


“Argh … sial! Aku malah jadi ingin memeluk kakak!


Hyranhia benar-benar bersemangat dengan pantauannya itu. Akan sangat cocok jikalau dia mengambil pekerjaan sebagai pemandu sorak.


"Eh? Hmm … mari kita lihat, sepertinya kelanjutannya akan menjadi menarik. Kita nantikan, apa yang akan dilakukan laki-laki itu untuk kakak." Hyranhia bergumam, kemudian dia menyesap tehnya lagi. Lalu kembali fokus memantau.


Sampai tiba di bagian scene yang memperlihatkan Erythia tersenyum dengan sangat manis, Hyranhia sampai terjungkal ke belakang dari singgasananya. Lebih parahnya, dia bahkan mimisan.


Dengan kondisi tubuhnya yang saat ini tergeletak di pijakan kaki dan memandang jauh ke atas, dia berkata dengan lantang, "Wahai Engkau sang eksistensi tertinggi di Alam Semesta, kenapa Engkau menciptakan makhluk yang indah seperti ituuu ...?!!"


^^^To be continued ...^^^