
Desa DeAn, berada di barat benua De Runa. Geografis di sana meliputi wilayah hutan dan lautan lepas. Desa tersebut hanya dihuni oleh ras Demi-Human, kemudian menjadi desa yang berkembang cukup besar secara perlahan.
Beragam macam sub ras dari mereka bersatu membentuk aliansi agar mendapatkan pengakuan yang layak, jikalau ras Demi-Human sekalipun tidak boleh dianggap remeh dan mampu untuk berdiri sendiri.
Sebelum Desa DeAn didirikan, para tetua memiliki cerita yang cukup menarik di baliknya. Itu berawal dari mereka yang tengah berkelana mencari lokasi baru untuk kelangsungan hidup sub ras-nya yang mengembara. Para tetua asli meliputi ras anjing, kadal, kucing, kelinci, dan rubah.
Ketika sedang mencari tempat tinggal, para tetua tidak sengaja dipertemukan dalam satu lingkaran. Mereka semua sempat terkejut satu sama lain, namun itu bukanlah sebuah masalah yang serius. Mengingat mereka masih termasuk satu family dalam ras Demi-Human secara keseluruhan.
Mereka semua kemudian memutuskan berbincang bersama, menghabiskan hari hingga pagi kembali menjelang. Hal itu terus mereka lakukan selama beberapa hari seraya menemukan lokasi yang cocok untuk mereka tinggali masing-masing. Lalu pada suatu malam ...
"Hey, kurasa ini tidak mudah dilakukan, bukan? Setidaknya inilah yang kupikirkan selama beberapa hari ini." Argha membuka obrolan. Dia adalah pria Demi-Human dari ras anjing.
Argha memiliki iris berwarna merah. Dengan perawakan tinggi besar, dan otot-otot tubuh yang kencang. Namun dari segi fisik secara keseluruhan, dia seperti anjing seutuhnya. Akan tetapi, bulu-bulu berwarna perpaduan hitam putih yang membalut tubuhnya itu, tampak terawat.
Dia mengenakan pakaian seperti seragam militer, namun terlihat sederhana. Mungkin saja dia adalah seorang pemimpin pasukan di kelompok ras-nya.
"Aku setuju denganmu." Anggukan sebagai tanggapan ditunjukkan oleh Zordan. Pria itu berasal dari suku Lizardman.
Zordan memiliki iris hitam pekat dan perawakan yang percis seperti Argha. Sisik tubuhnya yang berwarna hijau tua dan cokelat terlihat kuat. Dia mengenakan set pakaian seorang petualang newbie level Bronze.
"Kalian tahu, aku bahkan tidak pergi ke mana pun hari ini. Kakiku terlalu malas untuk melangkah." Sophia berkata dengan ekspresi wajah cemberut, dan kedua tangan yang menopang dagunya. Dia adalah ras rubah.
Sophia memiliki rambut berwarna pirang keemasan yang diikat kuncir kuda dan iris serasi. Perawakannya sendiri seperti seorang gadis muda, tampak manis dan cukup berisi. Serta memiliki sembilan ekor yang cantik saat berkibas. Pakaian utama yang dia kenakan bergaya tradisional miko dan geta tinggi dengan tabi putih.
"Um, aku bisa memahami apa yang Sophia katakan. Aku pun hanya membantu Zordan memancing ikan untuk makan malam kita hari ini." Nhera melanjutkan. Ras kelinci dengan telinga panjangnya yang tampak imut.
Nhera memiliki penampilan cantik dan pesona seorang wanita dewasa. Dengan rambut panjang berwarna cream dan iris yang senada.
Pakaian yang dia kenakan seperti sebuah rompi dengan kerah berwarna putih, namun cukup pendek dan memperlihatkan otot perutnya. Bagian atasnya pun cukup terbuka, sehingga dapat terlihat jelas belahan dadanya yang montok itu. Serta hot pants hitam sebagai bawahan dan sepatu bot tali berwarna serupa.
"Bagaimana denganmu, Verzha?" tanya Argha.
Verzha yang tengah menyalakan api unggun pun menjawab, "Eh? Ah ... aku bahkan tidak yakin dengan apa yang kulakukan selama beberapa hari ini."
Pria itu adalah ras kucing. Verzha memiliki postur tinggi dan perawakan yang cukup gagah. Penampilan fisik yang tampak seperti manusia, dengan ekor dan telinga kucingnya. Verzha memiliki rambut pendek dengan poni berwarna hitam legam yang diikat ekor kuda rendah, serta sedikit garis kerutan di bawah matanya. Dia mengenakan pakaian sederhana seperti orang-orang desa pada umumnya.
"Kita semua ternyata memiliki masalah yang sama ya."
Mereka semua menghembuskan napas lelah secara bersamaan. Situasi mulai terasa suram, bahkan perasaan depresi pun seolah mentertawakan.
Wilayah yang berhasil ditemukan memang sangat cocok untuk dijadikan tempat tinggal, namun terlalu luas. Mereka justru kebingungan menentukan tempat yang pas untuk ditempati kelak.
Ketika semua orang sedang terpaku dalam keheningan, Verzha mengusulkan sesuatu. "Aku memiliki saran. Entah ini akan baik atau tidak, tetapi aku yakin terkait apa yang kupikirkan."
"Katakanlah. Kami akan mendengarkanmu." Argha memberikan respon baik, dan semuanya mengangguk setuju.
"Dengarkan aku baik-baik. Bagaimana kalau kita semua membuat sebuah desa milik kita sendiri di wilayah ini?"
"HAH?!"
Mendengar Verzha menanyakan hal konyol dengan mantap dan percaya diri, ekspresi terkejut terlukis di wajah semua orang. Mereka menatapnya seolah tidak percaya dengan pemikirannya itu.
"Oy, kalian. Berhentilah menatapku seperti itu." Verzha sedikit menggerutu dengan nada bicara yang dingin.
"Ah, maaf. Aku hanya terkejut. Teman-teman di sini pun pasti merasa demikian." Nhera menanggapi, dan yang lain mengangguk sependapat dengan perkataannya.
"Jelaskan dengan detail, Verzha." Argha meminta dengan kepastian.
"Baiklah. Dengar ...."
Kemudian Verzha mengatakan terkait pemikirannya itu pada semua orang di sana. Mereka mendengarkan dengan serius dan mencerna beberapa poin penting. Malam yang mereka habiskan, hanya membahas tentang sebuah ide brilian hingga mendapati kesepakatan dan sebuah kesimpulan berarti.
___
Semua orang menyetujui terkait pemikiran Verzha untuk mendirikan sebuah desa milik mereka sendiri. Esok harinya setelah selesai berunding, mereka semua kembali menghampiri kelompoknya masing-masing untuk memberitahukan informasi penting ini.
Dua hari kemudian, wilayah yang menjadi tempat mereka bermalam selama beberapa hari itu, mulai dipadati oleh kelompok sub ras Demi-Human. Dengan instruksi yang diarahkan oleh Argha, Verzha dan Zordan, para pria mulai membangun camp-nya masing-masing di lokasi yang sudah ditentukan. Sedangkan untuk para wanita dan anak-anak, Nhera dan Sophia yang memimpin untuk mengumpulkan makanan juga memasak.
Mengingat geografis wilayah yang cukup bagus, dan pembagian lokasi yang tepat. Semua orang tampak puas. Mereka sangat antusias dan semangat untuk memuluskan gagasan yang Verzha berikan. Sumber daya pun tidak sulit untuk didapatkan, berkah dari hutan serta lautan luas yang tak terbatas, dimanfaatkan.
Hari demi hari berlalu, progress semakin mantap dan terlihat memuaskan. Sub ras Demi-Human baru mulai berdatangan dan bertambah setiap harinya. Tentu mereka turut membantu perkembangan desa tersebut. Pertumbuhan desa pun tidak disangka-sangka akan sepesat ini.
"Bukankah pemandangan ini terlihat bagus?"
Argha menghampiri Verzha yang berdiri menatap semua orang yang tampak bersemangat melakukan tugasnya masing-masing.
"Ya, kau benar."
"Aku bahkan tidak pernah memikirkan sampai seperti ini."
"Mengesampingkan perbedaan ras kita masing-masing. Melihat ekspresi wajah semua orang yang antusias dan ceria. Bagaimana mungkin kita tidak merasa puas dan senang, bukan?"
"Ya. Aku pun merinding melihat pemandangan ini."
Verzha tersenyum puas. Bukan hanya Argha, dia sendiri pun merinding menyaksikan moment indah tersebut. Bahkan membuatnya sampai ingin menangis.
"Lihat di sana. Zordan tampak semangat sekali mengkoordinir kelompoknya," ucap Verzha seraya menunjuk.
"Dia memang kadal yang senang bekerja, bukan? Setidaknya kita tenang, bagian pesisir diambil alih oleh kelompoknya."
"Ya."
"Aku harus berterima kasih padamu, Verzha. Gagasanmu untuk mendirikan sebuah desa, benar-benar terbaik!"
Argha mengangguk seraya memegangi salah satu pundak pria ras kucing itu. Perkataan tadi membuat Verzha terharu. Dia sendiri tidak menyangka, jikalau teman-temannya mau menerima dengan baik terkait pemikirannya, dan justru malah merealisasikannya.
"Tidak." Verzha menggeleng ringan. "Hal ini bisa terjadi berkat kalian semua. Aku juga harus berterima kasih pada kalian."
Argha mengangguk puas. Kemudian dia berkata, "Ya sudah, aku harus menghampiri Nhera dan Sophia. Mereka sempat meminta bantuanku karena di sana kekurangan orang."
"Bantulah mereka, Argha."
"Tentu saja. Kau juga sebaiknya menghampiri kelompokmu di sana. Lihat, anak itu memanggilmu."
"Ya, kau benar."
Setelah Verzha memberikan isyarat pada bocah ras kucing yang memanggilnya, kemudian mereka berdua melanjutkan kembali tugasnya masing-masing.
^^^To be continued ...^^^