
"Semoga saja kawanan naga itu tidak melihat rombongan kita," ucap Claude berharap.
"Itu benar. Karena mereka memiliki mata yang sangat tajam. Bahkan dari jarak yang sangat jauh pun, mereka bisa melihatnya." Andora mengangguk setuju.
"Ini benar-benar mengesalkan! Kenapa harus di timing seperti ini?" Claude tidak bisa menahan amarahnya. Hal itu di luar dugaan.
Ras naga dikenal sebagai ras pembawa bencana di dunia tersebut, dan ditakuti. Jika dalam rantai makanan, tentu mereka berada di posisi puncak. 'Bisa dikatakan' ras tersebut akan melahap apa pun, dan siapa pun itu tanpa pandang bulu.
Terlebih Chaos Dragon sangat membenci manusia. Mereka tidak akan segan membabat habis ras satu ini. Bahkan hanya satu ekor Chaos Dragon saja, digadang-gadang mampu menghancurkan sebuah kerajaan atau negara besar. Dalam hal ini, Kerajaan Radix-lah sebagai contohnya.
"Tapi ini benar-benar aneh. Dari yang kuketahui, Chaos Dragon sudah lama sekali tidak menampakkan sosoknya. Diperkirakan mungkin sudah sekitar 100 tahun yang lalu.
"Bahkan kita pun menganggap jikalau ras mereka sendiri sudahlah punah. Tapi kali iniーsebenarnya, apa yang sudah terjadi?" ucap Andora sambil menunjukkan ekspresi wajah yang tampak rumit.
"Itu tidak semuanya benar, Nona. Mereka tidaklah punah, tetapi bersembunyi," balas Claude.
"Eh? Apa benar begitu?"
"Benar. Selama hidupku sampai saat ini. Aku pernah melihat sosok mereka mengudara sebanyak dua kali. Yang pertama saat aku masih bocah, dan kedua kalinya adalah saat aku tersesat jauh di dalam hutan.
"Hanya saja aku tidak pernah memberitahukan terkait hal tersebut pada siapa pun, kecuali keluargaku."
"Cerita itu menjadi suatu pengetahuan baru untukku. Terima kasih karena telah menceritakannya, Tuan Claude."
"Ya, Nona. Tetapi saat ini mungkin akan menjadi masalah besar. Meski aku belum pernah berhadapan secara langsung, mendengar cerita dari leluhurku yang tegas mengatakan jikalau mereka sangatlah berbahaya dan mengerikan, aku bahkan sampai merinding membayangkannya."
"Kuharap kita semua baik-baik saja," gumam Andora menjadi resah, setelah mendengar apa yang Claude katakan.
Claude juga merasakan keresahan yang sama, namun dia tidak dapat melakukan apa pun, jika memang takdir menjatuhkan kesialan pada rombongan. Karena jika benar demikian, hal tersebut merupakan kematian instan yang tidak dapat untuk dihindari oleh mereka semua.
Rombongan berhasil menjauhi lokasi peristirahatan sebelumnya. Kepanikan yang sempat dirasakan sedikit mereda, tapi Claude masih saja tidak tenang. Lalu dia memutuskan untuk bertukar posisi dengan salah satu prajurit yang menunggangi kuda.
Claude berencana untuk memimpin perjalanan. Karena setelah turun dari gerbong kereta dan bertukar posisi, dengan tergesa-gesa dia memacu kuda yang dinaikinya meninggalkan rombongan sementara waktu, guna mencari rute aman. Namun tindakannya itu sia-sia, karena dia tidak dapat menemukannya, bahkan tidak ada tempat bagi mereka untuk bersembunyi.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, akhirnya Claude memutuskan untuk segera kembali menghampiri rombongan yang mengikuti dengan kecepatan lambat di belakangnya. Akan tetapi, kesialan tetap melekat, hal yang tidak dinginkan pun benar-benar terjadi.
Claude sangat terkejut melihat beberapa gerbong kereta kuda sudah dengan posisi terjungkir. Selain itu, gerbong lain pun telah terbakar oleh serangan api dari napas Chaos Dragon. Banyak pasukan prajurit terkapar tidak berdaya, mereka mengalami luka parah dan serius. Kemungkinan terburuk, beberapa dari bawahannya itu telah meninggal.
Kawanan Chaos Dragon yang mengudara tersebut, melihat rombongan dari kejauhan di atas langit. Satu ekor dari mereka langsung menukik tajam dan tidak segan menyerang, diikuti pula oleh kawanan lainnya. Itu adalah serangan telak dari ras yang menyandang gelar ancaman level bencana. Tidak ada ampun untuk mangsanya.
"Yang benar saja. Semuanya ...." Wajah Claude menjadi sangat pucat menyaksikan maut yang sudah menunggu untuk menjemput tampak di depan mata. Seluruh tubuhnya menjadi mati rasa, bahkan kuda yang ditunggangi pun menjatuhkan sang kapten agar dapat kabur sekencang dan sejauh mungkin meninggalkan lokasi kejadian.
Claude yang terkapar di tanah benar-benar terdiam dan terpaku. Gemetar, merinding, menyelimuti seluruh tubuh. Jangankan mengangkat pedang untuk memberikan perlawanan, bahkan berdiri saja dia tidak sanggup. Hanya bisa berharap, jikalau Dewa akan memberikan pertolongan untuk menyelamatkan mereka semua dari situasi tanpa harapan tersebut.
...***...
"Kali ini ke mana ya?" tanya Erythia.
"Mana kutahu, hahaha ...." jawab Haru tertawa terbahak-bahak. "Aku hanya menentukan titik koordinat secara acak saja," lanjutnya.
"Aku harap tempat yang cukup bagus. Hehehe ...." Erythia tampak bersemangat.
Sepertinya Ery sudah tidak was-was lagi. Baguslah, lagi pula, mana mungkin aku menciptakan sihir yang bisa mencelakakan diriku terutama, dan dia, bukan? Jelas tidak mungkin.
"Ya, kita akan tahu sesampainya di sana."
Haru mengubah titik koordinat. Kali ini entah seberapa jauh perpindahan tempat yang memang ingin dia coba eksperimenkan. Setelah selesai pada perhitungan, dia pun kembali mengaktifkan portal perpindahan ruang ciptaannya itu ...
"Jadi, Ery. Kamu sudah siap?" tanya Haru.
Woah ... dia semangat sekali. Seperti yang diharapkan dari Ery, itu tidak buruk.
"Yosh! Ayo kita berjalan-jalan sejauh mungkin."
... kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam portal tersebut.
Sesampainya di sisi lain. Haru cukup puas, karena lokasi kali ini menampilkan view yang benar-benar indah. Tentu sangat cocok jika ingin menikmati suasana matahari terbenam. Itulah yang dipikirkan oleh sang pemuda (awalnya.) Namun, kenyataannya justru tidak seperti yang diharapkan.
Lokasi tersebut adalah lembah de Valle. Entah bagaimana, tetapi titik koordinat yang Haru tentukan, justru membawa mereka berdua berteleportasi sampai sejauh itu.
"Ery, ini tempat yang cukup bagus, bukan? Udaranya juga sangat nyaman sekali. Bagaimana menurutmu?" tanya Haru.
"...." Erythia tidak memberikan tanggapanーum ... bukan, dia memang tidak mendengarkan perkataan Haru. Karena ada hal lain yang mengalihkan perhatiannya, dia seperti mendengar teriakan pada jarak beberapa meter dari tempat mereka berada saat ini.
Tidak mendapatkan respon, Haru pun berbalik badan dan menegur Erythia, "Ery, ada apa? Apa ada masalah?"
"Sssttt ... diam sebentar!" balasnya.
"Eh? Oke." Lalu Haru berjalan mendekati sang Dewi yang sangat fokus mendengarkan sesuatu.
Tidak lama setelah itu, Erythia pun bertanya, "Kamu juga mendengarnya, kan? Teriakan banyak orang."
"Hah? Aku tidak mendengar apa pun. Sungguh," jawab Haru sedikit kebingungan.
"Kurasa, ada sesuatu yang sudah terjadi di bawah sana." Erythia menunjuk ke arah sumber suara. "Haru, ayo kita periksa!" lanjutnya mengajak sang pemuda.
"Eehhh ...? Kamu yakin tidak salah dengar? Aku bahkan tidak mendengar suara apa pun lho ...."
"Percayalah pada pendengaranku! Aku tidak bercanda." Tegas Erythia meyakinkan Haru.
"Kalau kamu sampai berkata seserius itu, baiklah. Ayo kita periksa."
Kemudian Haru dan Erythia bergegas menuju ke sana. Erythia-lah yang memimpin jalan, sedangkan Haru mengikuti sang Dewi dari belakang. Setelah berhasil turun dan mendekat ke arah sumber suara, mereka berdua dikejutkan oleh banyaknya sosok Chaos Dragon yang terbang dengan ketinggian rendah, sedang memporak-porandakan lokasi terkait.
"Hey, Ery. Itu naga, kan? Kenapa mereka bisa ada di tempat seperti ini?"
"Bodoh, mana kutahu!"
Menelisik lebih dalam, Erythia berhasil melihat rombongan Claude Ocaris yang terjebak di situasi mengerikan tersebut. Lantas dia pun langsung memberitahukannya pada Haru.
"Haru, lihatlah ke sana." Sambil menunjuk Erythia melanjutkan, "Aku yakin sekali, rombongan mereka pasti telah diserang oleh naga-naga itu."
Melihat tepat ke arah yang ditujukan, Haru membalas, "Dilihat dari sini pun, itu sangat jelas sekali, Ery."
"Kenapa mereka bisa diserang ya? Hmm ...." gumam Erythia.
"Itu tidaklah penting."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Hey, ayolah. Bukankah ini adalah waktu yang sangat tepat?"
"Hah? Tepat?"
Dengan penuh semangat Haru berkata, "Ery, kita tolong mereka semua. Kali ini, aku akan mencoba menggunakan kekuatan gift tersebut!" di akhiri dengan tersenyum tengil.
^^^To be continued ...^^^