
Sambil berjalan, Haru memutar otaknya. Dia mencari bagaimana cara yang ampuh agar cepat mendapatkan uang untuk membeli makanan. Dan ya ... itu bukan hanya untuk Erythia saja, saat ini dirinya sendiri pun dapat mendengar pasukan cacing di dalam perutnya mulai berdemonstrasi.
Memegangi dagunya seraya menatap ke bawah, bahkan sampai menabrak orang lain yang berpapasan pun, Haru hanya dengan santai mengucapkan maaf pada mereka tanpa menatap yang bersangkutan sama sekali. Yang mana pada akhirnya, dia malah dianggap sebagai orang aneh yang berkeliaran di kota.
Wajar saja sih, jika penduduk setempat menganggapnya seperti itu. Pakaian yang dikenakan oleh Haru juga sangat mencolok. Sedari awal dia memasuki Kota Caulis pun, banyak pasang mata yang langsung tertuju akan sosoknya. Bahkan sang penjaga gerbang saja sampai dibuat fokus memperhatikan fashion dari sang pemuda.
Dan ya ... tidak lama kemudian, Haru mendapatkan sebuah ide cemerlang yang terlintas begitu saja di pikirannya. Dia langsung merogoh saku jaketnya untuk memeriksa barang terkait. Itu adalah smartphone.
"Wah, kukira hilang. Ternyata masih ada dong! Nice timing~"
Haru segera menyalakan ponsel tersebut. Sudah pasti tidak ada sinyal di sana, tapi bukan itu yang menjadi tujuan utamanya. Dia hanya ingin memastikan berapa persen lagi sisa baterai, dan memperkirakan durasi pemakaian sampai ponselnya mati total karena kehabisan daya.
"Ah, masih lumayan. Lucky~" gumam Haru dengan ekspresi wajah yang senang.
Sebenarnya aku tidak yakin apakah cara ini akan berhasil atau tidak, tapi aku percaya pada keberuntunganku.
Oh, iya. Aku juga membutuhkan pulpen untuk menulis pemberitahuan ...
Haru merogoh saku kemejanya. Karena dia adalah seorang pegawai sebelumnya, tentu dia selalu membawa satu buah pulpen di sana.
... dan yang terakhir aku butuhkan adalah selembar kertas. Hmm ... kalau tidak ada, kardus bekas pun tidak masalah sih. Oke, saatnya mencari ke sekitar.
Yang jelas Haru tidak menemukan sampah berserakan di sana. Karena Kota Caulis benar-benar disiplin akan kebersihan, mau tidak mau akhirnya dia pun mendatangi sebuah kedai makanan yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini.
"Oh, selamat datang. Silakan dipilih makanan apa yang ingin dibeli," ucap pemilik kedai.
Haru melirik ke semua makanan yang dijual di kedai tersebut, dan sudah memutuskan mana yang harus dia beli nanti.
"Anu ... Paman. Boleh aku meminta pertolonganmu?" Haru bertanya tanpa ragu seraya menatap serius sang penjual.
"Apa yang sekiranya bisa saya bantu, anak muda?" jawabnya menanggapi.
"Sebelumnya kuucapkan terima kasih terlebih dahulu, dan maaf jika merepotkan. Apa Paman memiliki selembar kertas atau kardus yang tidak terpakai?"
"Tentu saja ada. Kertas atau kardus? Atau mungkin kamu membutuhkan keduanya?"
"Kalau Paman tidak keberatan, mungkin aku membutuhkan keduanya."
"Baiklah, tunggu sebentar ya. Akan saya ambilkan."
Woah ... Paman ini ternyata baik juga ya. Baiklah. Jika berhasil, aku akan berbelanja di kedai ini setelahnya.
Tidak lama kemudian, sang penjual membawa kedua barang yang Haru butuhkan dan memberikannya. Tentu dia sangat terbantu dan berterima kasih setelahnya.
"Paman, aku akan membeli makanan di sini nanti. Jika berhasil, aku pastikan segera kembali. Terima kasih atas bantuannya," ucap Haru membungkuk sopan, lalu pergi meninggalkan kedai tersebut.
Wanita yang tidak lain adalah istri dari sang penjual bertanya, "Sayang, kamu mengenal anak itu?"
"Tidak. Kukira dia ingin membeli makanan di kedai kita, ternyata ingin meminta pertolongan," jawab sang suami.
"Ah, begitu rupanya."
"Begitulah. Lagi pula hanya hal kecil. Kita harus berbuat baik pada orang lain, selagi masih bisa memberikannya bantuan."
Sang istri hanya tersenyum, dan mereka berdua kembali menyiapkan makanan lainnya untuk dijual.
Haru mencari-cari lokasi yang cukup ramai, tempat di mana orang-orang berlalu lalang dan duduk bersantai sambil bersenda gurau. Dia pun teringat satu lokasi yang cocok, itu adalah Alun-Alun Kota. Lantas dia segera pergi menuju ke sana.
Menemukan spot yang dianggap cocok, Haru pun mengeksekusi kedua barang yang didapat dari si paman penjual makanan sebelumnya. Dengan dua kertas yang masing-masing ditumpuk di atas dua potongan kardus berbentuk persegi panjang, dia segera menuliskan beberapa kalimat di sana.
Kardus pertama bertuliskan; "Silakan datang melihat dan mendengarkan!"
Sedangkan kardus kedua bertuliskan; "Jika Anda menyukainya, apa bila berkenan, mohon untuk sumbangannya. Terima kasih." Di akhiri dengan gambar orang yang sedang membungkuk sopan.
Tentu tulisan itu menggunakan bahasa yang otomatis diterjemahkan. Seperti yang sudah dijelaskan Erythia sebelumnya, jadi Haru tidak khawatir tentang itu. Tidak lupa juga dengan sisa potongan kardus yang dia rangkai membentuk seperti kotak penyimpanan tanpa penutup berukuran sedang.
Setelah semuanya selesai, pria itu melihat hasil karyanya tersebut, dan bergumam dengan penuh percaya diri. "Mantap! Kalau sudah begini ... WAKTUNYA PERTUNJUKAN!"
...***...
Persiapan penataan selesai. Kemudian Haru berdiri di tempat yang sedikit tinggi, agar dia bisa melihat ke semua sisi lokasi tersebut. Segera dia akan melakukan konser kecilnya di sana. Itulah ide yang sebelumnya sempat terpikirkan.
Mengambil kembali ponselnya, lalu dia membuat playlist lagu yang hendak dinyanyikan.
3 lagu, kurasa itu cukup.
Dan untuk kalian semua yang ada di sini. Selamat menikmati konser dadakanku ini, guys! Bwahahaha ....
Haru menghela napas panjang. Kemudian memutar instrumental lagu pertama, dan langsung membesarkan volume suara ponsel tersebut hingga full, menggelegar cetar membahenol!
Sebagai pembukaan, dia membawakan lagu berjudul “Three Little Birds” dari dunia sebelumnya. Yang dipopulerkan oleh “Bob Marley & The Wailers”. Tentu saja dengan bahasa yang otomatis diterjemahkan.
Orang-orang yang mendengar seorang pemuda bernyanyi penuh rasa percaya diri, mulai berdatangan.
[Ada apa di sana ya? Sepertinya ramai sekali.]
[Hey-hey, lihat. Ada seseorang yang sedang bernyanyi di sana. Ayo kita melihatnya.]
[Kalian, cepatlah! Aku penasaran dengan siapa orang yang sedang bernyanyi itu.]
[Lihatlah. Alat sihir yang sedang dia pegangi. Itu bisa mengeluarkan suara musik!]
[Woah ... lagunya sangat bagus. Aku baru pertama kali mendengarnya!]
Perlahan orang-orang mulai berkerumun di sekitar Haru. Ada juga yang memang penasaran dengan ponselnya itu. Meski begitu, jelas sekali terlihat, jikalau mereka sangat menikmati performance dari sang pemuda.
Beberapa orang juga terlihat menyumbang koin perunggu ke dalam kotak kardus penyimpanan yang diletakkan di hadapannya. Haru yang melihat hal tersebut, tersenyum tipis seraya terus bernyanyi menghibur mereka. Saat ini dia benar-benar menjadi seorang vokalis solo dadakan!
Sampai lagu pembukaan selesai dinyanyikan, semua orang bertepuk tangan. Bahkan sampai menyoraki dan bersiul karena merasa terhibur.
Aku percaya cara ini pasti berhasil. Mengamen di isekai? Itu adalah jalan reinkarnasiku.
Haru tersenyum puas dengan permulaan yang cukup meyakinkan. Lalu dia berkata, "Terima kasih kuucapkan pada kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk melihat dan mendengarkan pertunjukan sederhana ini. Tanpa berbasa-basi lagi, kita lanjutkan di lagu selanjutnya."
Mereka menjadi bersemangat dan kembali menyorakinya. Haru melanjutkan memutar instrumental lagu kedua. Lagu itu berjudul “One Love” dan dipopulerkan oleh penyanyi yang sama yaitu, “Bob Marley & The Wailers”.
Suasana benar-benar tenang seperti air mengalir, semuanya sangat menikmati pertunjukan tersebut. Sumbangan demi sumbangan pun mulai berdatangan, entah sudah berapa banyak orang yang memberikannya. Tentu saja Haru senang, dan menjadi semakin bersemangat hingga lagu kedua selesai dinyanyikan.
Setelahnya dia mengambil napas secara kasar, dan menghembuskannya dengan perasaan lega. Lalu bertekad akan memberikan penampilan terbaik untuk mempersembahkan lagu terakhir sebagai penutupan.
Tidak lama kemudian, Haru kembali berbicara. "Terima kasih untuk kalian semua yang masih setia melihat pertunjukan ini, dan kita akan segera memasuki akhir pertunjukan. Jadi tolong tunggu sebentar lagi."
Mendengar perkataan tersebut, orang-orang terlihat kecewa. Bisa dikatakan konser dadakan yang dia tampilkan, seperti pertunjukan mewah bagi mereka. Itu karena hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, yang mana membuat mereka benar-benar sangat tersentuh.
Hampir tibalah di lagu terakhir. Sebelum memulainya Haru kembali berkata sebagai basa-basi, layaknya mc yang mengisi kekosongan sebelum jamuan utama disajikan. "Aku ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu. Apakah kalian pernah bertanya-tanya, 'seperti apa dunia ini jika dilihat melalui mata sang kekasih?'"
Mereka hanya tertegun dan tidak ada yang menjawabnya. Haru tersenyum tipis dan melanjutkan, "Lagu ini berkisah tentang seseorang yang hatinya selalu tertuju pada kekasihnya. Dia ingin menyelami rasa di mata sang kekasih, dan berharap agar mereka melewati hidup selamanya bersama.
"Lagu ini benar-benar indah, dan banyak orang yang sangat menyukainya. Kupikir kalian juga akan merasakan hal yang sama. Jadi, selamat mendengarkan."
Kemudian Haru memutar instrumental lagu terakhir yang berjudul “瞳の住人 / Hitomi no Jūnin” yang dipopulerkan oleh band “L'Arc~en~Ciel”.
Seketika suasana menjadi khidmat, atmosfer di sekitar terasa berat dan berbeda dari dua lagu sebelumnya. Bernyanyi sambil memandangi mereka semua, dalam jangkauan pandangnya itu, mulai menemukan beberapa orang meneteskan air mata.
Sampai tibalah pada bagian reffrein terakhir. Emosi di dalam diri menggebu-gebu, dan ya ... sampai selesai, lagu itu berhasil dibawakan dengan sangat baik.
Semuanya bertepuk tangan, menyoraki, bahkan bersiul. Karena konser dadakan itu benar-benar bisa menggemparkan lokasi tersebut.
Haru yang sekarang dibasahi oleh keringat, bahkan tenggorokannya pun mulai terasa kering. Kembali mengucapkan rasa terima kasihnya pada mereka yang berantusias menyaksikan, dan tentu tidak lupa salam perpisahan untuk pertunjukannya itu.
Setelahnya, Haru malah dikerumuni oleh gadis-gadis dari berbagai ras. Dia tiba-tiba saja malah mendapatkan fans!
【 Author; Dasar tidak sopan, betapa beruntungnya bocah sialan satu itu! Hmp .... 】
Kemudian Haru mengecek hasil ngamen tadi. Dia bersyukur, karena dengan begitu, dia pun dapat membeli makanan untuk dirinya sendiri dan Erythia yang sedang menunggunya kembali.
Ini menjadi pengalaman mengesankan untukku. Kurasa, profesi ini harus kupertahankan? Tunggu aku, Ery. Aku akan membawakanmu banyak makanan.
Haru tersenyum puas, lalu segera merapikan semua barang miliknya. Kemudian kembali mendatangi kedai makanan sebelumnya.
^^^To be continued ...^^^