
Beberapa jam terlewati dengan mulus. Andora beserta dua prajurit yang menemaninya pun, akhirnya sampai. Pemandangan Ibu Kota menyambut hangat mereka semua.
"Kita sampai, Nona," ucap Garu.
Woah ... jadi inikah Ibu Kota dari Kerajaan Radix ?
Andora tertegun, sejenak turun dari kuda yang dia tunggangi. Pemandangan mengesankan Kota Caulis yang saat ini dilihatnya dari atas bukit, berhasil menghipnotis kedua matanya. Itu membuatnya takjub.
Jika dibandingkan dengan tempat tinggalku, mungkin tidak ada apa-apanya ketimbang di sini. Ini sungguh luar biasa.
"Nona Andora, ada apa?" Garu bertanya setelah memperhatikan gerak-gerik sang Putri.
"Eh? Aku tidak apa-apa, Tuan Garu," jawab Andora tampak senang.
"Syukurlah kalau begitu."
Nona Andora sepertinya merasa lega, karena kami bertiga berhasil sampai di tempat tujuan kami tanpa mendapati masalah berlanjut. Aku bisa mengerti perasaannya itu.
Garu tersenyum lega setelahnya.
"Ayo bergegas."
"Ya!"
Lantas Andora dan party pun kembali melanjutkan sisa perjalanan mereka, hingga sampailah di depan pintu gerbang masuk raksasa nan kokoh itu.
Garu dan Naba pun melapor ke pos penjaga. Laporan mereka diteruskan untuk segera disampaikan pada pihak kerajaan.
"Syukurlah. Untung saja perjalanan kita lancar dan mulus."
"Nona Andora, dengan ini tugas kami selesai. Setelahnya kami berdua harus menemui Tuan Claude. Jadi Anda sudah bisa pergi menemui orang tua Anda di rumah."
Kedua prajurit menyempatkan diri mereka untuk berbincang sejenak dengan Andora, karena akan terkesan tidak sopan jika tidak berpamitan walau hanya sekedar basa-basi.
"Tunggu, Tuan Claude sudah sampai lebih dulu?" tanya Andora yang terkejut. Dia benar-benar heran dan kebingungan.
"Aku pun tidak terlalu mengerti dengan situasinya. Hanya saja, itulah yang mereka katakan." Garu menjawab seraya menunjuk para pasukan penjaga yang berada di pos.
"Begitu ya. Ternyata mereka baik-baik saja."
Andora menghembuskan napas lega. 'Dapat bertahan dari situasi tanpa harapan, itu sangat luar biasa. Tak kusangka, kalau Tuan Claude benar-benar hebat!' pikirnya.
"Ya, Anda benar. Kami pun merasa demikian."
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena telah melindungiku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian berdua," ucap Andora dengan lembut seraya membungkuk sopan.
"Terima kasih juga sudah mempercayai kami untuk melindungi Nona. Kalau begitu, kami berdua permisi. Kita bertemu lagi di lain kesempatan, jaga diri Anda."
Setelah berbalas kata, mereka bertiga pun berpisah. Garu dan Naba nenuju pangkalan prajurit, sedangkan Andora melanjutkan petualangannya di kota orang.
...***...
Andora menyusuri jalanan Ibu Kota. Pemandangan di sana tentu menjadi suatu hal yang baru. Para penduduk juga tetap terlihat berlalu lalang sebagaimana mestinya.
Hanya terus berjalan tanpa arah tujuan yang jelas, tak sadar satu persatu blok jalanan terlewati. Entah sudah berapa lama waktu jalan-jalan santai yang dia habiskan ini, Andora bahkan tidak memperdulikan tentang hal tersebut.
"Lho ... ini di mana? Sepertinya aku salah mengambil jalan. Huh ...."
Tembok tinggi yang menghadang di hadapannya saat ini, menghentikan langkah kakinya. Karena terlalu fokus berjalan, tanpa sadar malah membuatnya tersasar masuk ke dalam gang.
Andora memutuskan untuk kembali, berharap menemukan jalan utama. Namun naas, dia justru semakin kebingungan dengan jalan yang diambil olehnya.
[Bocah, jangan main-main denganku! Kau bahkan tidak becus menghasilkan uang untukku!
[Kau pikir bisa menjalani hidupmu dengan tenang, hah! Seharusnya kau bersyukur, karena aku tidak menjualmu ke Moderate Slavery!]
Dari kejauhan Andora mendengar teriakan seseorang yang mengamuk. Dia segera berlari menghampiri sumber suara, untuk memastikan apa yang sedang terjadi di sana.
[Ma-Maafkan aku.]
[Maaf kau bilang? Kau bahkan tidak pernah memikirkan kerugian yang aku dapatkan untuk memberikanmu makan!]
Suara keributan pun semakin terdengar jelas. Setelah melewati belokan di depan, Andora benar-benar dikejutkan dengan pemandangan mengerikan yang menyambut kedua matanya.
BUAK
Seorang pria sedang memukuli seorang bocah hingga babak belur. Dia tidak memberikan perlawanan sama sekali, hanya pasrah dengan keadaan pahit yang tengah dialami olehnya.
Bocah tersebut bukanlah dari ras manusia, melainkan seorang Demi-Human yang berasal dari ras kucing. Dengan perawakannya yang kecil dan mungil, serta memiliki rambut panjang berwarna putih.
Pria itu benar-benar keterlaluan! Ini tidak bisa dibiarkan.
"Hentikan!" teriak Andora merasa geram.
Mendengar seorang gadis berteriak, pria bertubuh tinggi berambut poni dengan mengenakan pakaian sederhana itu, menghentikan tinjunya pada sang bocah. Kemudian menatap murka ke arah sumber teriakan.
"Kenapa kamu memukuli anak itu? Kamu sangat keterlaluan!"
"Hah? Kau siapa? Berani-beraninya mencampuri urusanku!"
Pria itu pun tanpa ragu melemparkan bocah tersebut hingga jatuh tersungkur, lalu berjalan menghampiri Andora.
"Perbuatanmu tidak bisa dimaafkan! Aku pastikan melaporkan tindakan kejimu tadi!"
"Jangan mendekat lebih dari ini! Aku akan berteriak!"
"Hou ... berteriak ya ...."
Andora benar-benar geram, namun sebenarnya dia juga merasa sangat ketakutan hingga membuat tubuhnya gemetaran. Selain itu, dia pun memikirkan terkait bagaimana caranya agar dapat kabur sejauh mungkin dari situasi tersebut, seraya menyelamatkan sang bocah.
"Melihat penampilanmu, sepertinya kau bukanlah gadis biasa, Nona. Dan lagi, kau memiliki tubuh yang bagus."
Pria itu menatap tajam Andora seraya menjilat bibirnya. Tatapan mesumnya itu terfokuskan pada salah satu spot dari tubuh sang Putri, yang mana dapat membangkitkan gairah para pria.
"CihーTernyata kamu hanyalah pria yang tidak memiliki moral. Aku sangat membenci orang sepertimu!" ucap Andora. Emosinya itu benar-benar memuncak.
"Hahaha ...!! Mendengarmu mengatakan hal konyol seperti itu, hanya membuatku semakin bergairah terhadapmu, Nona.
"Aku pastikan tidak melepaskanmu malam ini. Kau akan kubuat jatuh ke dalam kenikmatan!"
Setelah berkata demikian dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh nafsu, pria tersebut berlari ke arah Andora. Tujuannya tentu saja untuk menangkap sang Putri, agar dapat menjalankan rencana bejatnya itu.
Andora tak sempat menghindar, refleknya terlalu lambat untuk menghindari aksi sang pria. Dia justru terpojokkan di dinding bangunan, dan terkurung di antara dua tangan yang menghapitnya.
"Uh ...."
"Oy-oy, suaramu barusan menggemaskan sekali, Nona. Apa mungkin kau sudah tidak dapat menahannya?"
Seraya menatap hina pria itu, Andora menggertakkan giginya ...
Orang bejat ini, mulutnya bahkan bau sekali. Tapi setidaknya posisi ini menguntungkanku untuk kabur darinya.
.. kemudian dia menjatuhkan bahunya, dan melemaskan tubuhnya.
"Benar-benar pria tidak bermoral. Kamu bahkan bergairah dengan gadis sepertiku," ucap Andora seraya menyipitkan kedua matanya.
"Apa yang salah dengan itu? Melihat wajahmu dari dekat, ternyata kau sangat cantik. Aroma tubuhmu pun wangi sekali. Tentu saja aku bergairah!"
Dia sudah tidak waras. Kalau begini terus ....
"Hey, kurasa aku bisa memuaskanmu untuk saat ini."
"Hou ... tidak kusangka, ternyata kau perhatian sekali, Nona."
Andora tersenyum pahit, kemudian dia mencengkram salah satu tangan dari pria itu dan menggigitnya hingga meninggalkan jejak. Itu berhasil dilakukan!
Pria itu pun kesakitan menerima serangan balasan yang diberikan oleh sang Putri, dan melepaskan hapitannya. Tentu saja memberikan celah bagi Andora untuk kabur. Setelah itu ...
BUAK
.. tanpa ragu Andora juga memberikan tendangan telak pada pusaka masa depan sang pria. Dan berhasil membuatnya merintih hingga terjatuh, tak kuasa menahan damage yang diterima.
"Nikmat, bukan? Ukirlah kenikmatan tersebut dalam hidupmu, brengsek!" ucap Andora memberikan tatapan murka.
Kemudian Andora segera berlari menghampiri bocah Demi-Human tersebut.
"Kau, gadis sialan! Jangan harap kau bisa kabur dariku!" teriak pria itu. "Kalian semua, keluarlah. Cepat kejar gadis kurangajar itu!"
___
"Hey, kamu tidak apa-apa?"
"Kakak ...."
"Kamu bisa berdiri? Kita harus segera lari dari sini."
Bocah itu hanya mengangguk. Lantas Andora segera membantunya berdiri dan menopang tubuhnya. Mereka berdua pun bergegas meninggalkan tempat tersebut sejauh mungkin.
Namun sangat disayangkan, komplotan dari pria itu sudah berhamburan ke luar dari persembunyian mereka. Juga tengah mengejar keduanya dari belakang.
[Oy, kalian berdua. Tunggu!]
[Jangan pikir kalian bisa kabur dari kami!]
"Kakak, di depan sana masihlah kawasan sepi. Tapi setelah kita berhasil sampai di ujung, itu terhubung dengan jalan utama," ucap bocah itu.
"Kamu masih sanggup berlari?"
"Um ... aku akan berusaha."
"Baiklah kalau begitu."
Akan tetapi, takdir masih enggan untuk melepaskan Andora bersama sang bocah agar terbebas dari pengejaran para bandit. Karena ketika mereka berdua akan melewati sebuah gapura di depan, salah satu dari komplotan bandit yang sedari awal sudah berada di antara celah bangunan, menjegal kaki sang Putri. Hingga membuatnya terjatuh dan tersungkur.
Para bandit pun semakin mendekat, dan berhasil berdiri di hadapan Andora. Mereka memberikan tatapan puas.
[Kau, kerja bagus!]
[Tentu saja!]
"Malam ini kita akan berpesta setelah bos mencicipi gadis itu. Dan kau, Nona. Nikmatilah moment indahmu untuk melayani kami semua nanti," ucap pria botak juga berkumis.
Terjebak dalam situasi yang tidak diharapkan, Andora hanya berharap akan ada seseorang yang dapat menyelamatkan mereka berdua.
^^^To be continued ...^^^