New Life in Another World

New Life in Another World
(Vol. 2) Bab 2 - Selamat Datang di Party



Kenapa malah begini ...?!


Padahal aku berharap naga yang melakukan kontrak denganku, seperti seorang bodyguard yang terlihat kuat. Ini jelas berbeda dari yang kubayangkan ...!


Aku langsung muram mengetahui kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasiku.


Bagaimana tidak? Sedari awal Arichi berbicara dengan wujud naganya, terdengar gentle sekali. Seperti suara laki-laki perkasa, kau tahu. Karena itu aku mengira jikalau wujud manusianya adalah seorang pria tangguh. Namun, yang kudapatkan di sini justru onee-chan!


Arichi benar-benar memiliki spesifikasi seorang onee-chan!


“Ah … aku harus mencari tempat tinggal baru. Aku tidak ingin pulang ke rumah itu.” Aku mengeluh hebat sambil berjongkok memegangi kepalaku.


Arichi yang terus memperhatikanku sedari tadi bertanya, “Apakah ada masalah? Tuan mengatakan kalau tidak ingin pulang, tapi kenapa?”


“Tidak apa-apa. Tolong jangan bahas itu.”


Aku melambaikan tanganku dengan malas padanya.


“Hmm ...?”


Arichi sedikit memiringkan kepalanya karena tidak mengerti.


Dua orang gadis sebelumnya; satu loli, dan satu lagi seusia denganku. Sekarang aku malah melakukan kontrak pengikat jiwa dengan seorang onee-chan.


Kali ini … Ery sudah pasti marah besar padaku. Aku bahkan bisa membayangkan dia berubah menjadi sosok Iblis yang sangat menyeramkan. Ah … matilah aku.


Aku hanya bisa merenungi situasi ini.


Bukan berarti aku tidak menginginkannya. Dikelilingi oleh gadis-gadis yang imut dan menawan, bisa membuat otakku tidak berfungsi dengan normal.


Usiaku di kehidupan sebelumnya dan sekarang, memang memiliki selisih yang tidak terlalu jauh. Namun, jikalau membandingkan kehidupanku yang dulu dan sekarang, sudah jelas sangat berbeda jauh!


Meskipun di kehidupanku sekarang aku memiliki tubuh seorang remaja, pikiranku ini tetaplah seorang pria dewasa. Menjalani hidup seperti ini terlalu sempurna untukku. Maksudku, ini surga!


Pemandangan yang bisa kau saksikan setiap hari di sekitarmu, hanyalah gadis-gadis imut dan mempesona seperti mereka berempat. Bagaimana mungkin aku tidak merasa senang dengan kehidupanku yang seperti itu, bukan?


Akan tetapi, yang jadi permasalahan adalah terkait respon Ery. Dia benar-benar menyeramkan ketika sedang marah. Aku tidak yakin jikalau dia akan dengan mudah menerima sosok Arichi seperti halnya Andora dan Xera.


“Tuan, Anda baik-baik saja?”


Arichi bertanya lagi. Jelas sekali jikalau dia mencemaskan keadaanku.


“Kamu tidak usah khawatir. Aku tidak apa-apa, setidaknya untuk saat ini.”


“Sungguh?”


Sambil berkata, Arichi mendekatkan wajahnya padaku. Ini bahkan sangat dekat!


“Aku serius!”


Aku kemudian memegangi kedua pundaknya untuk menjauhkan sedikit jarak kami. Lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain.


“Baiklah kalau begitu.”


Setelah itu Arichi terlihat berdiri, tetapi dia justru malah berbisik di telingaku.


“Jangan sungkan untuk menceritakan yang sedang Anda keluhkan padaku, Tuan. Aku juga bisa merasakan keluh kesah yang sedang Anda rasakan. Itu karena jiwa kita sekarang sudah terikat.”


Aku seketika merasakan merinding seluruh tubuh. Hanya dengan berbisik? Aku sampai tidak sanggup menggerakkan tubuhku untuk berpaling.


Keagresifan Arichi justru lebih mengerikan daripada amarah Ery. Aku serius !


“Arichi, bisakah kamu memperhatikan jarak ini? Aku takut kesadaranku akan lepas kendali.”


Benar, jarak sedekat ini terlalu berbahaya. Meski Arichi tidak berniat untuk menggodaku sekalipun, tetapi tetap saja … di tempat ini hanya ada kami berdua!


Aku bisa merasakan hembusan napasnya itu menggelitik telingaku. Aroma tubuhnya juga bahkan wangi sekali menusuk hidungku. Level ini terlalu cepat untuk ditaklukkan sekarang!


“Ara … Anda perhatian sekali.”


Arichi menarik posisinya sedikit mundur ke belakang. Kali ini dia malah memberikanku tatapan yang tajam.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?”


Aku yang membalas tatapannya mencoba bersikap tenang.


“Tidak boleh?”


Bahkan dia sampai menunjukkan ekspresi wajah yang menggoda!


“Bukan itu maksudku!” Aku menggerutu padanya dengan sedikit meninggikan nada bicaraku.


“Ternyata Anda menggemaskan, ya. Tuan mudah sekali untuk digoda. Aku cukup puas.”


“....”


Arichi kemudian tertawa kecil, lalu berdiri dan berbalik membelakangiku. Dia menoleh padaku dan kembali berkata, “Kalau Anda ingin melanjutkannya, aku siap kapan pun.”


“Jangan malah berkata yang tidak-tidak!”


Arichi tertawa lepas setelah melihat reaksiku. Dia bahkan menganggapku seperti boneka hidup. Ini menyebalkan!


...***...


“Hey, Arichi. Ada yang ingin kutanyakan padamu.”


“Apa itu?” Arichi kemudian duduk di sampingku. “Tanyakan saja. Kalau aku bisa menjawabnya, pasti akan kujawab.”


“Kenapa kamu menawarkan diri untuk melakukan kontrak pengikat jiwa denganku?”


Arichi pasti memiliki alasannya sendiri. Kontrak pengikat jiwa yang kami lakukan pun, merupakan suatu tindakan yang spontan dan terjadi begitu saja. Aku bahkan masih tidak ingin mempercayai hal seperti ini terjadi.


Setelah memperhatikan dirinya cukup lama, kurasa aku sedikit memahami sifat Arichi. Bukan bermaksud untuk sombong, tetapi aku cukup mahir membaca karakter orang lain.


Terkait hal yang kutanyakan padanya, sosok Arichi sendiri bertolak belakang dengan perkataannya. Karena itu aku menduga, dia pasti memiliki alasan pribadi sampai rela melakukan kontrak pengikat jiwa.


Apa pun itu jawaban yang Arichi berikan, sejujurnya aku tidak terlalu peduli. Dengan kata lain, jikalau dia tidak ingin menjawab pun, aku tidak akan memaksanya.


“Apakah aku harus menjawab pertanyaan itu?”


Nah, tentu responnya akan sama seperti yang aku kira.


“Tidak juga.” Aku menggeleng ringan. “Sekalipun kamu tidak ingin menjawabnya, aku tidak akan memaksa.”


“Eh?”


Arichi tampak bertanya-tanya.


Pada dasarnya, setiap orang memiliki privasi mereka masing-masing, bukan? Entah itu aku, Arichi, bahkan siapa pun.


Di sini posisiku hanyalah sebatas orang asing yang tidak sengaja terlibat dengannya. Ranah itu tidak bisa kumasuki begitu saja. Itu sangat tidak sopan!


Berlaku pula denganku. Saat ada orang asing yang mencoba mengorek semua hal tentangku, mereka tentu sudah memasuki ranah privasiku. Hal seperti itu jelas-jelas sangat mengganggu, tentunya.


“Lupakan yang kutanyakan barusan, oke.”


Arichi menatapku penuh gelisah. Kemudian dia memalingkan pandangannya ke arah lain. Tak berselang lama, dia kembali berkata, “Kami … merupakan kelompok yang dibuang.”


Kelompok yang dibuang ?


Apa mungkin maksudnya adalah kawanan ras naga yang aku dan Ery kalahkan waktu itu ?


Aku bertanya-tanya dalam batinku sambil melirik ke arahnya. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang dipenuhi oleh tekanan.


“Aku dan kakakku adalah keturunan ras naga terakhir, tapi kami berdua mendapatkan perlakuan yang berbeda dari seluruh koloni. Aku sendiri tidak mengetahui alasan pastinya kenapa, sampai kami diperlakukan sangat buruk oleh ras kami sendiri.


“Sejak kecil, orang tuaku sudah tidak ada. Mereka berdua mati bukan karena dibunuh oleh manusia atau ras lain, melainkan dibunuh oleh koloni kami sendiri. Sangat kejam, bukan?”


“Eh? Dibunuh oleh koloni sendiri?”


Aku benar-benar terkejut. Hal seperti itu bisa terjadi karena memiliki banyak faktor sebagai penyulut peristiwa. Tidak kusangka, ternyata ras naga sekalipun memiliki perkara internal mereka.


“Ya, Tuan. Anda mungkin tidak mempercayainya, tapi seperti itulah kenyataannya. Dan semenjak saat itu, kehidupanku yang kujalani bersama kakakku semakin sulit di setiap harinya.”


Kemudian Arichi melanjutkan kembali ceritanya.


“Kasta di dalam ras naga sendiri seperti halnya para bangsawan manusia, dan kasta keluargaku itu termasuk kasta yang paling rendah di antara ras naga lainnya. Anda bisa menyebutnya sebagai ‘kroco’ dalam bahasa Anda.


“Keluargaku sebagai keluarga terakhir dan satu-satunya yang menduduki kasta terendah, tentunya kami tidak memiliki kekuatan besar seperti halnya mereka yang menduduki kasta tertinggi. Karena itu, ketika mencoba untuk melawan pun, tidak akan berpengaruh dan memberikan dampak apa pun.


“Orang tuaku sempat menceritakan terkait perbandingan yang sangat tidak adil itu, dilanjutkan menceritakan ketika mereka mencoba mematahkan paradigma yang berlaku di dalam koloni kami. Aku bahkan mendengarkan dengan serius saat itu, tapi aku tidak mendapatkan kelanjutan cerita yang memuaskan. Mereka berdua hanya meninggalkan pesan untuk berhati-hati di akhir perkataan.


“Entah berapa lama waktu berlalu semenjak menceritakan hal tersebut padaku dan kakakku. Orang tua kami pun kemudian mengalami hal tidak terduga. Mereka berdua kehilangan nyawa mereka. Hal tersebut membuatku dan kakakku sangat terpukul setelah kami berdua menjadi sebatang kara.”


Arichi pun menjeda ceritanya untuk sejenak. Aku bisa melihat dia mulai meneteskan air mata dari kedua mata indahnya.


Ini berat. Sangat berat!


Aku bisa mengerti apa yang Arichi rasakan. Ada kesamaan dalam kehidupan kami, yaitu tidak memiliki orang tua, dan tidak merasakan kasih sayang mereka hingga kami tumbuh menjadi dewasa.


Mungkin agak sedikit berbeda dengannya. Karena pada kasusku, kedua orang tuaku meninggal beberapa minggu kemudian setelah aku dilahirkan ke dunia.


Ayahku mengalami kecelakaan ketika perjalanan pulang dari pekerjaannya, dan nyawanya pun tidak terselamatkan. Sedangkan ibuku mendapati sakit keras setelah beberapa hari ayahku meninggal dunia, sampai beliau pun menemui ajalnya.


Aku mengetahui penyebab kematian kedua orang tuaku, setelah aku tumbuh cukup dewasa dari seseorang yang sempat merawatku. Aku sangat berterima kasih padanya tentang itu.


Sistem hukum rimba di dunia ini tidak peduli siapa dirimu, dan ras apa yang menjadi identitasmu. Selagi kau memiliki kekuatan besar dan dirimu ternyata kuat, sudah dipastikan kau adalah pemenangnya.


“Maaf, Arichi. Aku turut berduka tentang kedua orang tuamu,” ucapku dengan nada rendah.


Arichi menggeleng ringan. “Terima kasih banyak, Tuan. Perhatian yang Anda katakan barusan, itu sudah membuatku cukup senang.” Dia memaksakan senyumnya itu sambil menatapku.


Meski bukanlah ras manusia, Arichi merupakan sosok yang kuat menghadapi cobaan dalam hidupnya. Dia bahkan mengalami hal yang serupa seperti Xera terkait kematian orang tuanya, dan aku menghormati dia akan ketabahannya itu.


Namun, dengan penampilan wujud manusia seperti ini, meski Arichi adalah ras naga sekalipun, dia tetap terlihat seperti gadis biasa pada umumnya dari sudut pandangku. Jikalau dalam kehidupan lamaku, usianya mungkin saja sama denganku.


“Hey, Arichi … ceritamu itu tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku tidak ingin melihatmu menangis lebih daripada ini. Aku juga sedikit mengerti garis besarnya.


“Juga maaf tentang peristiwa saat itu. Aku dan partner-ku sudah membunuh beberapa naga di kelompokmu.”


“Anda tidak perlu meminta maaf, Tuan. Salah kami juga yang sudah bertindak seenaknya menyerang manusia karena terdesak oleh kondisi kami.”


Terdesak oleh kondisi, ya ....


Masalah yang sedang mereka hadapi, bisa dipastikan sangat merepotkan.


Arichi kemudian menatap ke bawah. Dia kembali berbicara, “Anda orang yang benar-benar baik, Tuan. Aku tidak menyesal sedikit pun melakukan kontrak pengikat jiwa dengan Anda.”


“Terima kasih, tapi aku tidak sebaik yang kamu pikirkan. Selain itu, kamu yakin tidak menyesalinya?”


“Hanya orang yang benar-benar baik yang tidak ingin mengakui kalau dirinya itu baik. Aku sedikit mengerti dengan sifat Anda.” Arichi tersenyum padaku. “Dan tentang keyakinan atau menyesal, aku sangat yakin dengan keputusanku.”


“Begitu, ya. Baiklah, aku mengerti.”


Kemudian aku beranjak berdiri, lalu berjalan beberapa langkah untuk menghirup udara segar di wilayah ini. Bermaksud sebagai pengalihan agar kami tidak melanjutkan topik sebelumnya.


Arichi di belakangku bertanya, “Selanjutnya ke mana Anda akan pergi, Tuan?”


“Hmm … karena ada hal lain yang harus aku lakukan, kurasa aku akan mampir ke Ibu Kota.”


“Kalau boleh tahu, hal apa itu?”


Aku menoleh padanya sambil meletakkan jari telunjuk di bibirku. “Itu rahasia,” jawabku.


Arichi hanya tertawa kecil menanggapinya.


“Sebelum kita berangkat. Aku memiliki satu permintaan. Bisakah kamu melakukannya untukku?”


“Permintaan? Katakan saja, Tuan. Apa pun itu, aku akan melakukannya dengan serius!”


Arichi bersemangat sekali. Kurasa dia sedikit salah paham. Lagi pula, permintaan ini tidak seperti aku memintanya untuk membunuh monster. Ini hanya hal sepele.


“Santailah … hanya permintaan sederhana dariku, kok.” Aku mencoba meyakinkannya.


“Sederhana? Ba-Baiklah, Tuan.”


“Mulai sekarang, aku memintamu untuk memanggilku dengan namaku. Saat mendengarmu memanggilku dengan sebutan Tuan, sejujurnya aku merasa sedikit tidak nyaman.”


Benar. Aku hanya tidak terbiasa dengan panggilan seperti Tuan. Itu tidak cocok sekali dengan karakterku.


Aku juga mengerti, Arichi hanya menghormatiku sebagai majikan karena telah melakukan kontrak pengikat jiwa denganku. Akan tetapi, tetap saja … aku tidak ingin dipanggil dengan sebutan Tuan. Itu terlalu berlebihan, kau tahu.


“Lalu, bersikaplah seperti kita ini adalah teman. Aku tidak ingin kamu terus-terusan bersikap formal begitu. Kamu juga pasti tidak nyaman, bukan?”


Selain itu, aku juga ingin dia merasa santai dan tidak canggung saat berbicara denganku, tidak lebih.


“Apa itu tidak masalah?”


Entah kenapa Arichi tampak terkejut.


“Apa yang kamu katakan? Tentu saja, oke!”


Aku memberikan isyarat oke dengan jariku.


“Kalau itu yang Anda inginkan.”


Arichi mengangguk patuh.


“Bagus! Sudah diputuskan.”


Aku tersenyum padanya, dan kembali menegaskan, “Arichi, dengar … namaku Haru. Mulai sekarang, kita harus membantu satu sama lain sebagai rekan. Kamu bisa bergantung padaku, aku juga akan mengandalkanmu.


“Selamat datang di party. Aku berharap dan menantikan kerja sama kita ke depannya!”


“Ya! Aku tidak akan mengecewakanmu.”


Arichi meresponku dengan baik, dan aku mengangguk puas. Setelah itu, kami berdua pun pergi meninggalkan lembah de Valle untuk menuju ke Kota Caulis dengan menggunakan sihir teleportasi milikku.


^^^To be continued …^^^