New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 51 - Intaian Takdir



“Mama, seberapa jauh lagi kita akan sampai di desa?” tanya seorang bocah ras kucing.


“Mungkin kita akan segera sampai. Bersabarlah sedikit lagi,” jawab sang ibu. Tak lama kemudian, pemandangan Desa DeAn pun mulai jelas terlihat. “Xera, lihat di depan sana. Kita hampir sampai.”


“Woah ... itukah desa yang papa bangun bersama teman-temannya?”


Bocah itu tampak kegirangan. Pemandangan tempat tinggal baru yang dia lihat dari kejauhan, membuat matanya berbinar-binar. Sedangkan sang ibu, tersenyum dengan perasaan lega.


Itu merupakan hal wajar, apa lagi bagi seorang bocah seusianya. Sebelumnya, kelompok ras kucing harus menempati sebuah goa yang mereka temukan sebagai tempat berlindung dari hujan dan panas. Sementara menunggu Verzha yang sedang pergi mencari wilayah layak huni untuk dijadikan tempat tinggal kelak.


“Ayo bergegas, Xera.”


“Um!”


Ibu dan bocah itu kemudian mempercepat langkah kakinya. Hingga tibalah mereka berdua di depan gerbang kayu yang terlihat kokoh dan cukup tinggi. Mereka pun disambut oleh beberapa pria dari ras anjing, kelinci, dan suku lizardman yang tengah bekerja di luar gerbang desa.


“Selamat datang, Nyonya.”


“Ya. Terima kasih untuk sambutan hangatnya.” Sang ibu membalas seraya membungkuk sopan.


“Tidak.” Pria ras anjing itu menggeleng ringan. “Sudah sewajarnya kami menyambut teman-teman sewarga desa ini.”


“Kalian sangat ramah ya.” Sang ibu memberikan senyuman lembut. Pesonanya itu bahkan membuat para pria yang berada di sana sampai tersipu.


“Ahahaha ... terima kasih, Nyonya. Silakan, masuklah ke dalam. Keluarga Anda mungkin sedang menunggu kedatangan kalian berdua.”


“Ya. Terima kasih, Tuan-Tuan sekalian.”


Ketika hendak memasuki desa, bocah itu melihat sang ayah, yakni Verzha, yang sedang berjalan bersama Argha dari kejauhan. Dia seketika menjadi lebih semangat, dan langsung berlari menghampiri ayahnya.


“Hey, Xera. TungーHuh ... dasar, anak itu benar-benar bersemangat sekali melihat papanya.” Sang ibu pun turut berjalan menghampiri mereka di sana.


Seraya berlari tergesa-gesa, bocah itu berteriak, “Papa ...!!”


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Verzha menoleh ke arah sumber suara. “Oh, Xera ....” lalu menangkap sang bocah yang melompat memeluknya.


“Oh, coba lihat. Siapa gadis imut yang sangat bersemangat ini,” ucap Argha sedikit tertawa.


“Dia memang selalu seperti ini. Ayo, Xera ... sapalah paman Argha.”


Bocah itu kemudian melihat ke arah Argha, dan menyapa dengan malu-malu, “Halo, Paman ....”


“Hei, anak baik. Siapa namamu, Nak?”


“Xera.”


“Oh, bukankah itu nama yang sangat indah?”


“Um!” Xera tampak senang. “Aku sangat menyukai nama pemberian papa dan mama untukku.”


“Syukurlah kalau begitu.” Argha tersenyum.


“Um!”


“Kau memiliki anak yang semangat ya, Verzha.”


“Kau mungkin benar. Dia adalah kebanggaanku.” Verzha mengelus lembut kepala Xera.


Sang ibu pun mulai menampakkan sosoknya dan berkata, “Xera, kamu ini ... sudah berapa kali mama bilang, jangan berlari terburu-buru seperti itu.”


Xera tak mengindahkan perkataan ibunya. Dia seperti sudah terbiasa mendapatkan omelan, lalu membalas, “Aku melihat papa dari jauh. Mama jalannya lambat, jadi aku tinggal saja.”


“Huh ... kamu ini ....”


Sang ibu menghela napas menanggapi anaknya itu, dan Argha kemudian tertawa mendengar perkataan polos seorang bocah. Itu mengingatkan pada anaknya yang sedang dalam perjalanan menuju desa tersebut, bersama rombongan ras anjing yang menyusul.


“Ngomong-ngomong tentang anakmu. Kapan keluargamu akan sampai di sini?” tanya Verzha.


“Kurasa besok atau lusa mereka akan sampai. Itu hanya perkiraanku.”


“Begitu rupanya.”


“Ya, begitulah. Saat mereka datang nanti, sebaiknya kita mengadakan makan malam bersama. Bagaimana?” ajak Argha.


“Ayo kita lakukan.”


“Bagus. Sudah diputuskan.”


Setelah itu, mereka pun kembali dengan urusan masing-masing. Argha mengecek pembangunan di area pesisir, sedangkan Verzha dan keluarganya pulang ke rumah.


___


Obrolan ringan menyertai di awal. Kemudian yang sedang dibahas kini, tak lain terkait Verzha yang berhasil melakukan hal tidak terduga. Misinya adalah mencari wilayah untuk tempat tinggal kelompoknya, tetapi apa yang dia lakukan justru lebih dari itu.


Tentu saja sang istri terkejut setelah mendengar detail kronologinya. Dia merasa bangga dengan pemikiran Verzha yang justru dapat terealisasikan berkat dukungan teman-teman yang dia temui.


Menyatukan beberapa sub ras Demi-Human dalam satu wilayah, apa lagi hidup berdampingan, merupakan hal yang tidak mungkin dilakukan tanpa menjalani proses negosiasi panjang.


Alasan logis dan keuntungan yang dapat diperoleh pun, harus dijabarkan secara mendetail ketika duduk bersama. Namun, Verzha seolah dapat mengesampingkan hal tersebut, dan meyakinkan semua orang hingga mendapati kesimpulan berarti.


“Kamu benar-benar luar biasa, sayang ....” puji sang istri.


“Terlalu berlebihan memujiku seperti itu, Zheea. Mungkin lebih tepatnya, aku hanya memaksakan pemikiranku pada mereka.”


“Tidak.” Zheea menggeleng ringan. “Justru karena itulah dirimu. Kamu selalu berani dan tegas mengutarakan apa yang kamu pikirkan, sekalipun itu hal yang mustahil dilakukan.”


“Entahlah ... kali ini, mungkin pemikiranku hanya sedang mendapatkan keberuntungan.


“Aku hanya ingin membuat tempat, di mana semua orang bisa merasakan indahnya hidup berdampingan. Tanpa memperdulikan ras mereka, suku, atau apa pun itu.


“Lalu, sebuah tempat bagi setiap anak-anak bisa tersenyum dan tumbuh, tanpa harus merasakan pahitnya kehidupan yang pernah dialami oleh generasi seperti kita sebelumnya.”


Zheea memahami perkataan tersebut. Hal yang teramat kelam, pernah mereka alami. Khususnya teruntuk ras Demi-Human. Itu benar-benar menyakitkan dan sering terjadi, bahkan mungkin hampir setiap hari.


Alasan pemikiran Verzha dapat terealisasikan adalah, semua orang yang terlibat dalam pembahasan saat malam itu, ternyata mengalami hal serupa. Yang mana pada akhirnya membuat kelompok mereka mengasingkan diri, demi menyelamatkan generasi baru agar tidak mengalami kepahitan yang sama seperti mereka kelak.


Walau pembahasan saat malam itu menghabiskan banyak waktu hingga mendapatkan keputusan final, beberapa poin penting sudah dikantongi. Dirasa akan mendapatkan dampak dan perubahan besar, mereka semua pun menyetujui gagasan yang Verzha berikan. Lalu berdirilah Desa DeAn seperti sekarang ini.


“Aku selalu mendukung apa pun keputusanmu. Kuharap, hal ini akan menjadi sebuah awal perubahan untuk Demi-Human seperti kita.”


“Ya. Kita harus berusaha semampu kita.”


Verzha dan Zheea pun menatap Xera yang kini tertidur pulas di bangku yang terbuat dari kayu.


...***...


Hari berganti, bulan pun berlalu. Desa DeAn semakin dipadati oleh penduduk. Suasana di sana benar-benar terasa damai dan tentram.


Ekspresi wajah warga desa tampak ceria. Mereka juga selalu bersemangat dengan aktifitas kesehariannya masing-masing. Meski menjalani kehidupan tanpa uang, itu bukanlah sebuah hambatan.


Berkah dari hutan dan lautan, seolah tak ada habisnya. Karena sumber daya tidak sulit didapatkan. Warga desa pun memanfaatkan lahan kosong untuk berladang, sedangkan di pesisir dimanfaatkan untuk perikanan.


Kehidupan yang mereka jalani saat ini, sudah seperti sebuah anugerah yang teramat indah. Nikmat yang kian dirasakan, rasanya tak rela jikalau harus menghilang begitu saja.


Akan tetapi, di balik semua itu, harapan hanyalah sebuah harapan. Karena takdir tidak sedang bercanda dan mengintai dari kejauhan, serta memutuskan menghadirkan sebuah tragedi menyakitkan untuk kembali dirasakan oleh semua warga desa.


^^^To be continued ...^^^