New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 41 - Like a Diamond



【Special Chapter】


#perbucinan


#teamharuthia


...***...


Suasana di dalam kamar terasa sangat berat. Keheningan yang kini menjadi teman, membalut dua sosok yang terpaku dalam diam.


Haru memandangi gadis di hadapannya yang kini duduk menyamping, dan tengah menundukkan kepalanya. Walaupun merasa dilema, dia mencoba mengambil inisiatif untuk mengganti suasana tidak menyenangkan ini.


"Ery ...." Haru memanggilnya dengan penuh kelembutan. "Maaf soal tadi."


Erythia tidak menanggapi sama sekali. Dia tetap bertahan dengan posisinya itu.


Ya, sudah pasti akan begini. Melihat raut wajah Ery tadi, aku benar-benar merasa tidak enak hati padanya. Padahal dia sangat mengkhawatirkanku, tapi aku ....


Dengan ekspresi wajah yang penuh pilu, Haru hanya bisa merenunginya. Dia pun menyadari kesalahan dalam perkataan sebelumnya.


Sampai akhirnya Erythia kembali berbicara. "Hey, Haru .... Aku ... percaya padamu," ungkapnya.


Setelah berkata demikian, Erythia mengangkat wajahnya dan menatap Haru. Dengan kedua mata cantiknya yang berkaca-kaca, serta memperlihatkan ekspresi wajah yang sedikit memucat, tak dapat menyembunyikan rasa sendu yang dia rasakan. Erythia memaksakan senyumnya itu.


Dunia meluruh, warna-warna indah seketika meluntur memperlihatkan sisi lemah akan sosoknya. Seolah diperlihatkan hal tersebut, ekspresi muram terlukis di wajah Haru.


Ah ... benar. Selama ini aku hanya selalu memandang Ery dari sisi kerennya saja, dan mengesampingkan hal lain yang tidak ingin kulihat dan kuingat dari sosoknya.


Aku ... benar-benar payah ....


Haru mengepalkan tangan membenci kelemahannya itu, dan menundukkan kepala menatap ke arah lain. Untuk menghindari kontak mata secara langsung dengan sang Dewi.


Tak berselang lama, Erythia pun bangkit dari duduknya membelakangi Haru. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berjalan pergi meninggalkan sang pemuda di sana.


Haru yang kesal dengan keadaan, turut berdiri. Dia tidak ingin berakhir seperti ini. Dia memperkirakan hal yang tidak diinginkan kelak pasti akan terjadi, jikalau tidak melakukan sesuatu di timing ini.


Mengesampingkan banyak kemungkinan dalam pikirannya, Haru berlari memeluk Erythia dari belakang untuk menahannya.


"Ery ... maafkan aku," ucap Haru.


Erythia tidak memberikan respon apa pun. Jelang beberapa saat, dia membalas perkataan sang pemuda. "Lepaskan aku."


"Tidak akan kulepaskan." Haru justru semakin memeluk Erythia dengan erat.


"Kenapa kamu keras kepala sekali? Tolong lepaskan pelukanmu dariku."


"Aku memang orang yang keras kepala, seharusnya kamu sudah tahu terkait hal itu, bukan?"


Seraya mengepalkan tangan, Erythia sedikit meninggikan nada suaranya. "Lepaskan, atau aku akan marah padamu!"


"Tidak mau! Dan tidak akan kulepaskan, sekalipun kamu marah padaku!" balas Haru tidak goyah dengan pendiriannya.


Menyadari usahanya akan sia-sia, Erythia melemaskan tubuhnya. Kemudian bertanya. "Apa yang kamu inginkan?"


"Berbaikan denganmu," jawab Haru.


"Aku sudah memaafkanmu."


"Walau lisanmu berkata demikian, tapi aku tidak yakin dengan isi hatimu."


Mendengar hal menyebalkan yang Haru katakan, Erythia menggertakkan giginya. Lantas dia pun mengatakan dengan tegas. "Jawab aku, Haru!"


"Ya, tentu. Jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar dariku?"


"Apa arti diriku di matamu?"


"Eh?"


...***...


【PoV : Haru】


Satu bulan berlalu sejak aku dan Ery mengalahkan Chaos Dragon di lembah de Valle. Dan sejak saat itu juga, kami berdua menjalani hari-hari dengan berlatih bersama, serta menjelajahi banyak tempat baru dengan skill “Dimensional Cavity” milikku.


Kami cukup beruntung bisa mendapatkan tempat tinggal. Walaupun sebenarnya rumah yang kami tempati itu, adalah bekas peninggalan dari pemilik sebelumnya. Meski terlihat sederhana, tetapi masih cukup layak huni, dan lokasinya pun sangat terpencil.


Kami juga sedang mengasingkan diri, dan menghindari kontak dengan Kerajaan Radix. Entah bagaimana, rahasia negosiasi penurunan level petualang kami dengan Esra kala itu bocor dan diketahui oleh sang Raja. Yang mana membuat pihak kerajaan mencari keberadaan kami seperti buronan, untuk segera dipertemukan dengan sang pemimpin Kerajaan Radix itu sendiri.


Jika menelisik lebih jauh bagaimana mungkin hal itu bisa ketahuan? Jawabannya sangat sederhana. Sudah pasti ada pihak dari guild yang sengaja membocorkan informasi tersebut, bukan? Entah karena sengaja, atau memang terpaksa. Mengingat banyak hal yang sudah terjadi, lantas membuat kami tegas memutuskan untuk mengambil langkah ini.


Pada akhirnya, kenyataan memilih enggan untuk tetap bungkam. Ya, memang tidak bisa kusangkal juga, cepat atau lambat pasti banyak pihak yang akan segera mengetahuinya. Aku sudah memperkirakan hal tersebut akan terjadi.


Namun beberapa hari semenjak pertarungan kala itu. Ketika aku sedang mencari sumber makanan bersama Erythia di perbatasan, aku tidak sengaja berpapasan dengan kelompok petualang. Mereka berjumlah 8 orang.


Beruntung sepertinya mereka tidak mengenali kami berdua, dan menganggap kami sebagai pasangan biasa yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaan sehari-hari.


"Hey, kalian berdua. Tunggu sebentar, ada yang ingin kutanyakan pada kalian."


Salah satu petualang menegur kami lalu menghampiri. Berpostur tubuh tinggi, dan memiliki rambut panjang yang diikat. Jika dilihat dari wajahnya yang tampak muda, seperti berusia 25 tahunan ke atas.


Aku pun berbalik badan dan membalas. "Ya, tentu saja. Apa yang sekiranya bisa kami bantu berikan jawaban?"


"Apa kalian berpapasan dengan monster di daerah sini? Aku dengar mereka mulai aktif, dan berkeliaran secara bergerombol akhir-akhir ini," ucapnya.


"Eh? Tidak sama sekali. Kami bahkan tidak menemukan mereka satu pun."


"Ah, begitu rupanya."


Pertanyaan yang dia ajukan itu, benar-benar melenceng dari perkiraanku.


Monster ya ... apa informasi itu valid? Kurasa aku harus mencari tahu lebih detail.


"Apakah ada masalah dengan para monster itu?" tanyaku.


"Ya. Aku mendengar kabar, bahwa beberapa penduduk Kota Caulis telah diserang gerombolan monster di wilayah ini. Karena itu kami mendapatkan misi dari guild untuk menyelidiki lokasi ini," jawabnya memberitahukan kronologinya.


Hmm ... misi ya ....


Sampai detik ini, aku dan Ery bahkan belum mengerjakan misi perdanaku sama sekali. Aku jadi sedikit khawatir terkait kelanjutan status petualang kami.


"Ternyata begitu. Bukankah itu bahaya?"


"Ya, sangat benar. Tentu akan berbahaya jika mereka sampai melakukan serangan ke kota."


"Tapi kurasa, justru para monster itu yang sebenarnya dalam bahaya lho .... Bukankah begitu?"


"Eh? Apa maksudmu?"


Orang ini agak tidak mengerti akan maksudku ya? Dia benar-benar tidak bisa diajak bercanda.


"Maksudku, ada banyak petualang hebat di Kota Caulis. Dan Anda pun termasuk salah seorang petualang juga, bukan?


"Ah, ya ... tentang itu ..." balas sang petualang seraya menggaruk kepalanya.


"Kulihat dari penampilan, sepertinya kalian adalah kelompok petualang berlevel tinggi. Bukankah itu sungguh luar biasa?" ucapku seraya memuji.


"Eh? Ah, um ... ya, begitulah."


Entah kenapa dia jadi gelagapan, seolah mendengar pujian hebat dan pengakuan setelah aku berkata demikian. Dari yang kulihat, mereka berdelapan adalah petualang berlevel Gold dan Platinum. Hanya 2 orang dari mereka-lah yang memiliki level tinggi.


Yang cukup menarik adalah, 2 orang tersebut berasal dari ras Elf. Sayangnya mereka bukan perempuan. Aku jadi sedikit kecewa.


Bisa mengetahui ras Elf berada pada tingkatan level Platinum, pandanganku sedikit berubah. Ternyata mereka ras yang cukup mengesankan.


"Tuh, kan? Penilaianku tidak akan meleset. Karena Anda dan kelompok pun sampai menerima misi sepenting ini, itu berarti ada suatu hal yang genting sudah terjadi." Kali ini aku mengatakannya dengan membuat ekspresi wajah yang serius.


"Kau tidak mengetahuinya?" Petualang itu bertanya agak heran.


"Eh? Mengetahui tentang apa?" Aku berlagak polos.


"Tentang kerajaan menyatakan perihal tragedi menggemparkan yang sempat terjadi beberapa minggu silam. Pihak kerajaan bersama Tuan Clay berspekulasi, tragedi tersebut mungkin saja berkaitan dengan kebangkitan Raja Iblis," jelasnya.


BINGO! Kuucapkan terima kasih atas informasinya. Tapi kalau dikaitkan dengan Raja Iblis sih, woah ... kurasa terlalu berlebihan.


Biar sajalah. Sekarang, bagaimana aku membalas perkataannya ya? Hmm ....


"Ah, maaf. Aku bahkan baru mendengar terkait itu dari Anda," ungkapku.


"Eh?" Petualang itu benar-benar terkejut. "Kau ... warga Kota Caulis, kan?" lanjutnya bertanya dengan heran.


"Ya. Tapi karena beberapa hal terjadi menimpa keluargaku di sana, aku pun pindah," jawabku.


"Begitu rupanya."


"Begitulah."


"Huh ...." Petualang itu menghembuskan napas panjang, dan bertanya lagi. "Kalau kau sampai tidak mengetahui informasi sepenting ini. Apa saja yang sebenarnya kau lakukan, oy?"


"Oh, terkait itu. Kurasa aku hanya terlalu fokus membahagiakan istriku." Aku menjawab dengan lantang.


Setelah mendengar perkataanku, petualang itu memasang ekspresi wajah datar namun mengesalkan. Itu terkesan seperti mengejekku! Membuatku ingin sekali meninjunya!


Petualang itu tidak berhenti molantarkan tanya padaku, kali ini dengan ekspresi wajah seolah tidak percaya. "Hey, jadi gadis ini istrimu?"


"Ya!" jawabku tegas.


"Kau tidak bercanda, kan?"


"Apa aku terlihat bercanda?"


Petualang itu melirik secara bergantian padaku dan Ery.


Seolah merespon perkataanku, Ery malah memulai aksinya. Tak ragu dia menggenggam tanganku untuk menautkan jari-jemari kami berdua, dan sedikit mundur ke belakang bersembunyi di punggungku. Wajahnya saat ini benar-benar matang dan tampak imut, itu akting yang sangat bagus!


"Kurasa tidak. Hanya melihatnya saja, sepertinya perkataanmu itu memang benar. Kau benar-benar beruntung ya." Seolah pasrah menerima takdir yang tidak adil, dia menjatuhkan kedua bahunya dengan lemas.


"Kuanggap keberuntunganku itu memang mujarab," jawabku sedikit tertawa.


Ya, lelaki mana pun pasti akan berkata begitu. Apa lagi setelah melihat Ery dari dekat. Aku bisa mengerti perasaan iri tersebut.


Setelah kurasa cukup dengan basi-basinya, aku meminta petualang itu untuk menjelaskan informasi terkait dengan detail. Hingga dia pun menjelaskan semua yang dia ketahui.


Setelahnya, kelompok petualang tersebut melanjutkan kembali misinya, dan kami pun berpisah. Kemudian aku dan Ery memutuskan untuk pulang.


___


Berjalan seraya bergandengan, aku meminta maaf pada Ery karena sudah berkata seenaknya. Mengingat situasinya seperti itu, hal tersebut kulakukan agar terlihat lebih meyakinkan. Meski Ery tidak memberikan respon apa pun, tapi kurasa, dia juga tidak mempermasalahkannya.


Selang beberapa saat, Ery memanggil namaku. "Hey, Haru ...."


"Hmm ... ada apa, Ery?"


"Apa itu tidak masalah?"


"Tentang apa?"


"Tentang semua yang kamu katakan sebelumnya. Tanpa ragu kamu mengatakannya pada orang itu, kalau aku adalah istrimu." Ery menatapku tajam.


"Ah, itu ya. Lagi pula, apa yang salah dengan itu? Aku mengatakannya secara sadar kok." Aku pun membalas tatapannya.


"Begitu ya. Kamu tidak masalah denganku?"


"Tidak." Aku menggeleng ringan. "Kupikir akan bagus untukku, kalau seandainya aku bisa menikahi seorang Dewi." Aku pun terkekeh setelah berkata demikian.


"Bo-Bodoh ...!" Ery pun mengalihkan pandangannya dariku dan menatap ke bawah. "Kalau begitu, kurasa tidak masalah juga untukku," lanjutnya bergumam.


"Hmm ...? Kamu mengatakan sesuatu barusan?"


"Tidak." Ery tersenyum. Ekspresi di wajahnya menunjukkan kalau dia tampak senang.


Melihatnya yang seperti ini, aku turut bahagia. Mungkin kehidupan nyaman seperti inilah yang benar-benar kuinginkan di dunia ini.


...***...


Mengingat kejadian kala itu, Haru pun tersenyum. Lalu dia berkata, "Apa harus kutegaskan lagi? Kurasa tidak perlu, tapi sepertinya memang tetap harus kukatakan ya ....


"Baiklah, Ery ... dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan mengulanginya lagi.


"Kalau saja aku bisa meminjamkan kedua mataku ini padamu, kamu akan tahu seperti apa dirimu di sana. Itu merupakan cara yang paling efisien menurutku, namun hal tersebut mustahil untuk kulakukan, bukan?


"Tetapi jika harus kujabarkan, kamu adalah hal yang istimewa dan sangat berharga. 2 hal tersebut yang membuatku ingin menjaga dan mempertahankanmu untuk selalu berada di sisiku, juga menemaniku di dunia ini."


Haru mengungkapkannya dengan tegas, dan itu membuat Erythia tersentak. Dan dalam dekapan, pemuda itu bahkan dapat merasakan detak jantung sang Dewi yang semakin cepat. Itu tidak dapat dijelaskan.


"Sungguh?" Erythia membalas dengan sedikit malu-malu, nada bicaranya pun terdengar menggemaskan.


"Aku tidak mungkin berbohong padamu, Ery."


Mendengar pernyataan tegas dari Haru, Erythia memberikan respon gerakan dari tubuhnya. Sang pemuda pun bergegas melepaskan pelukannya itu. Kemudian Erythia berbalik badan, seraya melihat ke bawah. Saat ini dia benar-benar tersipu, lalu bersandar di dada Haru.


"Kuharap kamu akan bertanggung jawab sampai akhir, Haru ..." ucapnya.


"Akan kulakukan sampai akhir hidupku." Haru pun kembali memeluk Erythia.


Mimpi hanyalah mimpi, meski yang kualami adalah mimpi buruk sekalipun. Ingatan tentang Aria, tetap kuanggap sebagai kenangan indah masa lalu di kehidupanku sebelumnya.


Tetapi di siniーdi dunia ini, ada satu sosok yang berarti bagiku. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu. Akan kupastikan untuk menjaga dan melindunginya.


Kali ini, akan kulakukan semuanya dengan benar.


^^^To be continued ...^^^