New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 29 - Rencana Pergi ke Ibu Kota



"Jadi ini kah, kota benteng yang terkenal itu? Ternyata sangat berbeda sekali dengan ekspektasiku. Sungguh luar biasa," gumam Andora terkesima.


Kota Folium atau dikenal dengan sebutan “Castle Town.” Adalah kota yang terletak di perbatasan timur Kerajaan Radix, sekaligus menjadi wilayah di bawah kepemimpinan Marquis Vicky Targuinoele.


Dinamakan demikian, karena kota tersebut dilapisi oleh benteng-benteng tinggi nan kokoh sebagai bentuk pertahanan mutlak, guna menghalau ancaman dan serangan dari kerajaan juga negara tetangga. Para pasukan penjaga pun ditempatkan di beberapa titik untuk selalu memantau keadaan dari luar. Mereka memiliki pos masing-masing.


Kota Folium menjadi tempat yang memegang peranan penting dalam mempertahankan dan melindungi teritorial Kerajaan Radix di sisi timur. Dikarenakan lokasinya yang sangat berdekatan dengan Kerajaan Clivora, serta beberapa negara tetangga lainnya. Menjadikan kota tersebut sebagai pusat kekuatan militer kerajaan.


Setelah diantar dan berhasil masuk ke dalam kota, Andora memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat sekitar. Pemandangan di sana tentu menjadi suatu hal yang baru. Memang tidak ada yang berbeda, para penduduk tetap terlihat berlalu lalang sebagaimana mestinya. Namun tidak seramai biasanya. Itu karena himbauan membatasi aktifitas semua warga untuk sementara waktu.


Andora merasa heran dan menyadari suasana tidak mengenakan itu, dia pun bertanya-tanya sebenarnya ada apa? Lantas dia mencoba mengorek beberapa informasi terkait dari orang-orang yang sempat ditemui di jalanan. Namun informasi yang didengar selalu saja sama, hal itu justru membuatnya semakin tertarik dan penasaran.


"Jadi seperti itu ya," ucap Andora.


"Benar sekali, Nona muda. Itulah yang sudah terjadi," balas pria paruh baya. "Kamu benar-benar tidak tahu?" Dia lanjut bertanya.


"Ya, Paman. Aku baru saja kembali, karena itu aku tidak tahu apa pun yang sudah terjadi di sini," jawab Andora.


"Begitu rupanya. Pantas saja."


"Um ...."


"Bukankah lebih baik kamu datangi keluargamu? Kurasa mereka pasti mengkhawatirkanmu."


"Eh? Ah, um ... kurasa paman benar. Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak untuk informasinya, Paman." Andora membungkuk sopan, lalu segera pergi menjauh dari sana.


Sambil berjalan, Andora bergumam, "Ternyata kerajaan tetangga pun memiliki masalahnya sendiri ya. Sepertinya aku sedikit mengerti.


"Hmm ... yang jelas untuk saat ini, aku harus melanjutkan pergi ke Ibu Kota. Tapi bagaimana caranya ya? Huh ...." Ekspresi mengeluh terlukis di wajah Andora.


Setelah beberapa waktu melanjutkan berjalan, Andora melihat pasukan militer yang sedang berkumpul di sebrang jalanan. Mereka juga tengah merapikan barang bawaan masing-masing. Tanpa ragu dia pun segera menghampiri.


"Anu, permisi, Tuan Prajurit semuanya," ucap Andora.


Mendengar perkataan Andora, beberapa orang menoleh padanya. "Ya? Ada apa, Nona muda?" balas salah satu prajurit.


"Maaf jika aku tidak sopan. Apa mungkin tuan-tuan sekalian akan pergi?" tanya Andora.


"Ah, itu benar, Nona. Kami sedang bersiap-siap untuk pergi menuju ke Ibu Kota. Demi memenuhi perintah dari Yang Mulia Raja," jawabnya.


Nice timing! Kurasa aku bisa memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan tumpangan pergi ke sana.


Dengan penuh kelembutan, Andora mencoba mengambil kesempatan. "Anu, apakah aku boleh menumpang?"


"Eh?"


"Sebenarnya aku baru saja kembali, dan keluargaku berada di Ibu Kota. Setelah aku mendengar kabar terkait tragedi yang terjadi dari orang-orang, aku sangat mengkhawatirkan kondisi mereka di sana.


"Terkait itu, maaf. Aku tidak bisa memutuskannya, Nona."


"Jadi, tidak bisa ya." Andora langsung mengubah ekspresi wajahnya. Memperlihatkan kesedihan yang mendalam, itu benar-benar akting yang sangat di dramatisir.


Para prajurit lain yang melihat ekspresi sedih yang menyayat hati, berhasil masuk ke dalam perangkap Andora. Alhasil mereka pun jadi merasa iba dan tidak tega. Akan tetapi, perkataan yang dilontarkan oleh salah satu prajurit memang benar adanya, jikalau tidak bisa memutuskan terkait permintaan sang Putri.


Meski ingin mengiyakan pun, tetap saja harus melapor, dan jelas membutuhkan persetujuan dari atasan. Jika ditolak, tentunya itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia.


Sampai orang yang dimaksudkan mulai menunjukkan sosoknya, lalu menghampiri semua prajurit di titik berkumpul. Dan spontan dia langsung dikejutkan oleh pernyataan permohonan dari beberapa orang bawahannya agar bersedia menolong sang Putri.


Adalah Claude Ocaris, pria berotot berusia sekitar tiga puluh tahunan. Dia tampak memiliki wajah gelap yang terkena sinar matahari dengan kerutan yang terlihat jelas. Berambut pendek yang dipotong rapi berwarna cokelat, serta mata cokelat setajam bilah pedang.


Claude adalah salah satu Kapten Prajurit yang saat ini bertugas di bawah komando Marquis Vicky Targuinoele. Meski begitu, itu adalah perintah langsung dari Raja yang memutasinya ke wilayah sang Marquis.


Claude sangat setia pada Raja dan Kerajaan Radix. Perintah apa pun yang diberikan, dia akan melakukannya. Karena dia adalah pria yang berkemauan keras, bahkan rela mengorbankan hidupnya demi melindungi orang-orang kerajaan. Serta menjunjung tinggi rasa hormat dan kekaguman pada mereka yang berada di bawah komandonya.


Setelah mendengar lebih jelas terkait hal tersebut, Claude pun menghampiri Andora, dan menanyakan apakah itu benar?


Andora tanpa memiliki keraguan menyatakan ya. Dengan tegas dia menyampaikan terkait permintaannya, bahkan tidak terasa ada kebohongan dalam perkataannya. Walaupun itu tidak real, dan hanyalah akting semata.


Tetapi mau bagaimana lagi, Andora memang merasa bersalah dan tidak enak karena telah berbohong. Dia sadar akan hal itu, namun tidak ada cara lain, karena hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


"Baiklah, Nona. Jika memang benar seperti itu, kamu boleh ikut bersama kami menuju ke Ibu Kota," ucap Claude menerima permintaan tersebut.


"Terima kasih banyak," balas Andora, di akhiri dengan membungkuk sopan. "Satu lagi, namaku Andora. Mohon bantuannya," lanjutnya tersenyum manis.


Para prajurit menjadi bersemangat, mereka sangat berterima kasih pada pemimpin pasukan mereka, Claude.


[Ah, bagaimana mungkin kita mengabaikan seorang gadis yang sedang kesulitan, bukan?]


[Gadis itu seperti seorang Dewi. Senyuman yang dia tunjukkan barusan sungguh menyilaukan.]


[Ini berkat Tuan Claude yang dengan murah hati bersedia membantunya!]


[Tuan Claude, BANZAI!!]


Antara bahagia dan merasa bersalah, Andora tertawa pahit melihat reaksi para prajurit yang berlebihan.


Huh ... setidaknya aku terbantu. Kelak aku akan meminta maaf tentang hal ini pada mereka semua. Terima kasih.


Tidak lama kemudian, Claude berdiri gagah di hadapan semua prajurit kebanggaannya. Dengan suara lantang dia berkata, "Kalian semua, bersiaplah. Kita akan segera berangkat!"


"Yes, Sir!"


^^^To be continued ...^^^