
Para bandit yang mengejar Andora dan bocah Demi-Human tersebut berjumlah 10 orang. Pria botak juga berkumis yang memiliki perawakan sedikit gemuk itu adalah pemimpin mereka.
"Hey, Nona. Ternyata kau sangat menggairahkan sekali ya. Pantas saja bos memerintahkan kami untuk menangkapmu."
Pria itu menatap tajam Andora seraya menelan air liurnya. Dia memperhatikan dengan seksama keindahan lekuk tubuh yang dimiliki oleh seorang gadis di hadapannya. Kemudian dia berjalan mendekati sang Putri.
"Menjauh dariku!" teriak Andora.
"Hey, kalian semua dengar teriakannya tadi? Menggemaskan sekali, bukan? Hahaha ...!!
"Sepertinya malam nanti kita akan terpuaskan mendengar jeritannya yang lebih indah."
Para bandit pun turut tertawa puas. Mereka semua sudah sangat tidak sabar menantikan moment tersebut.
"Aku pastikan membuat kalian menyesali semua perbuatan yang sudah kalian lakukan!"
"Hah? Membuat kami menyesali perbuatan kami? Lucu sekali, Nona. Justru kami-lah yang akan membuat kau menyesal karena sudah berani berkata demikian."
Pria itu mencengkram rambut Andora, lalu dia pun berjongkok di hadapannya. Tindakannya itu membuat Andora merintih.
"Ah ... kau benar-benar tangkapan yang berharga sekali, Nona," ucapnya mendekatkan wajah pada Andora, dan mengendus-endus wangi tubuhnya.
"Ugh ...."
Andora benar-benar tidak berdaya. Dilecehkan oleh orang-orang tidak bermoral seperti mereka, adalah kesialan terburuk di dalam hidupnya.
"Kakak ...."
Melihat Andora yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, bocah ras kucing itu memaksakan diri untuk bangkit dari jatuhnya. Mengesampingkan rasa sakit yang dirasakan, dia pun berlari tanpa ragu ke arah pria tersebut, dan memukulinya.
"Lepaskan tangan kotormu dari Kakak itu!"
"Beraninya kau menyentuhku, bocah kucing sialan!"
BUAK
Akibat perlawanan sia-sia tersebut, justru membuat pria itu semakin murka. Dia pun meninju wajah sang bocah dengan sangat keras, hingga membuatnya terpental dan kembali tersungkur.
"Kalian semua, pukuli bocah brengsek itu! Aku tidak peduli jika dia mati. Aku hanya tinggal melaporkannya saja pada bos!"
Mendengar perintah tersebut, para bandit di sekitar pun melancarkan aksinya. Bocah ras kucing itu diseret sedikit menjauh untuk kembali dianiaya. Mereka menyiksanya tanpa kenal ampun, dan tentu saja hal tersebut membuat pria itu mengangguk puas.
"Hentikan! Kalian hanya akan membunuhnya! Kalian benar-benar tidak berperasaan!" teriak Andora tak kuasa menyaksikan penganiayaan tersebut.
Pria itu kembali memberikan perintah, untuk segera membawa bocah ras kucing tersebut ke dalam bangunan yang adalah tempat persembunyian mereka. Para bandit pun mengangguk patuh, lalu meninggalkan lokasi seraya menyeret sang bocah yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kamu, benar-benar brengsek!" ucap Andora semakin murka.
Melihat ekspresi Andora yang dipenuhi oleh amarah, pria itu menampar keras wajahnya. Kemudian dia pun berdiri, serta menarik paksa sang Putri untuk memojokkannya ke dinding bangunan.
"Ah ... melihatmu dari jarak sedekat ini. Aku bahkan tidak rela, kalau bos harus menjadi orang pertama yang mencicipi tubuhmu.
"Kurasa tidak masalah, karena dia tidak ada di sini. Biarkan aku bermain-main denganmu sebentar saja," ucapnya dipenuhi hawa nafsu, dan menjilati pipi Andora berulang kali.
Perbuatan tidak senonoh yang dilakukan olehnya, berhasil membuat Andora mengeluarkan suara lembut yang membangkitkan gairah. Dia benar-benar dibuat tidak berdaya.
"Bagus sekali, Nona. Keluarkan suara lembutmu itu lebih keras lagi. Aku ingin mendengarnya sampai puas!"
"Ti-Tidak! Kumohon, hentikan!"
Andora mencoba berontak dan melawan, namun usahanya itu sia-sia. Dia tidak sanggup melakukannya karena perbedaan kekuatan yang tidak sebanding. Tentu saja tenaga dari pria itu lebih besar dari pada dirinya.
"Pemandangan yang bagus. Akan kubuat pemandangan ini semakin indah!"
Mencengkram kedua tangan Andora dengan satu tangan dan mengangkatnya ke atas, pria itu mengambil sebuah belati dari tas kecil yang diikatkan di pinggangnya. Kemudian ...
SRAT
.. dia pun memotong gaun yang dikenakan oleh sang Putri pada bagian dada, guna semakin memperlihatkan dengan jelas belahan dadanya itu.
"Bukankah ini sangat indah? Aku jadi bisa melihatnya dengan jelas, bukan?
"Hey, Nona. Kau benar-benar gadis tipe-ku. Hahaha ...!!" ucapnya, lalu tertawa seperti orang kerasukan.
"Tidak! Tolong hentikan!" teriak Andora.
Saat ini, sang Putri semakin terjerat dalam keputusasaan. Hingga membuatnya berlinang air mata, karena mendapati situasi mengerikan seperti ini.
___
"Dengan begini, mari kita mulai permainannya, Nona."
Pria itu tampak menikmati moment ini. Dia benar-benar sudah tidak terkendali lagi untuk segera melanjutkan aksi bejatnya tersebut. Namun ...
"Oy, apa yang sedang kau lakukan? Begitukah caramu memperlakukan seorang gadis? Sungguh memalukan."
.. terdengar suara seseorang entah dari mana asalnya. Itu terdengar dekat, hanya saja tidak menampakkan dirinya.
"Siapa kau? Beraninya mencampuri urusan orang lain! Keluar kau, jangan bersembunyi dariku!"
Pria itu sedikit kebingungan. Dia melihat ke sekitar berulang kali, untuk mencari dan memastikan dari mana asal sumber suara tersebut. Tetapi tidak berhasil menemukannya.
Pemuda yang memperhatikan tingkah pria itu dari lantai atas luar bangunan, bahkan tidak dapat memberikan tanggapan fix. 'Apakah harus senang karena mendapat sedikit hiburan? Atau harus kecewa karena melihat kebodohan yang diperlihatkan oleh seorang pria?' pikirnya.
"Kau ini bodoh? Tolol? Atau mungkin sejenisnya?"
"Apaan-apaanーDiam kau! Berani-beraninya mengataiku! Perlihatkan sosokmu!"
Huh ... si botak ini memang bodoh ya.
"Oy, lihatlah ke atas."
Ketika pria itu mendongak, sebuah batu yang cukup besar melesat cepat dan tepat mengenai wajahnya. Tembakan tersebut cukup ampuh untuk membuat dia melepaskan cengkramannya pada Andora.
Merasakan damage yang instan, pria itu merintih seraya memegangi bagian wajah yang terluka.
"Apa-apaan tadi itu? Seranglah secara jantan, brengsek!" teriaknya. "Bisa-bisanya kau menyerangku tiba-tiba dari atas sana!"
"Hou ... secara jantan katamu? Bukankah kau sendiri tidak mencerminkan seperti perkataanmu barusan?" balas pemuda itu, yang kini sudah berdiri tepat di belakang pria tersebut.
"Kau bahkan menyerang seorang gadis yang sudah jelas lebih lemah darimu. Selain itu, kau juga melecehkannya. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal tentang kejantanan?
"Sungguh ... kau ini lucu sekali ya, bo-tak."
Apa yang dikatakan oleh sang pemuda barusan, berhasil memprovokasi pria itu. Tentu cukup ampuh untuk membuatnya semakin murka. Seketika pria tersebut pun berbalik badan, dan mencoba untuk menusuk pemuda itu dengan pisau yang masih dia genggam di tangan kanannya.
"MATILAH KAU!" teriaknya.
"Naif sekali."
Sang pemuda memutar tubuhnya ke arah kiri, dan menghindari serangan. Refleknya jelas lebih unggul dibanding pria itu. Dengan posisinya yang sekarang berada di belakang pria tersebut, dia pun segera memberikan tendangan keras hingga membuat lawannya tersungkur.
BUAK
Ketika tudung jubah sang pemuda terbuka. Andora pun terpana melihat sosoknya. Karena harapannya itu terkabulkan, seseorang benar-benar datang untuk menyelamatkannya.
"Hey, Nona. Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya pemuda itu.
"U-Um ..." jawab Andora sedikit tersipu.
Pemuda itu melepaskan jubahnya, dan memberikannya pada Andora.
"Pakailah. Setidaknya itu bisa menutupi bagian tubuhmu yang terlihat jelas."
"Te-Terima kasih."
Andora mengambil jubah tersebut, dan segera memakainya.
"Jadi, apa kau tidak akan mengeluh jika aku menghabisi si botak brengsek itu?"
"Eh?"
"Kuanggap kamu menyetujui hal tersebut."
Lantas pemuda itu berlari dengan cepat menghampiri pria tersebut. Dia mengangkat tubuhnya yang tersungkur untuk berdiri, lalu memberikan pukulan secara bertubi-tubi. Dan tendangan keras di akhir hingga membuat sang lawan terpental mengenai dinding bangunan.
"Gwah ...!" Pria itu muntah darah.
Aku sudah pernah melihat kematian banyak orang di depan mataku. Di siniーdi dunia ini, kau hanya memiliki dua pilihan saja. Antara diburu atau memburu.
Pilihan yang sangat sulit untuk dihindari. Tapi jika kau mendapati situasi seperti ini, jawabannya sudah pasti adalah memburu! Aku tidak akan menyesalinya.
<< SKILL - AURA CUTTER >>
Setelah berucap, tangan pemuda itu dilapisi oleh energi sihir yang kemudian perlahan berubah bentuk menjadi segitiga. Dengan ujung permukaan yang sangat lancip, percis menyerupai bilah pedang.
Pemuda itu pun berjalan menghampiri pria tersebut. Setelah tepat berdiri di hadapannya, dia memberikan tatapan dingin dan menusuk.
"Hey, botak. Ada kalimat terakhir yang ingin disampaikan?" tanya pemuda itu, lalu berjongkok di hadapannya.
"Brengsek! Jangan kau pikir ini akan berakhir begitu saja. Kau akan menyesali tindakanmu, karena telah berani mencampuri urusan bos kami!" jawab pria tersebut, dengan kondisi yang sudah babak belur.
"Bos? Kupikir kau adalah pemimpinnya. Hmm ... ya sudahlah, lagi pula aku tidak peduli dengan itu."
"Kau ...!"
JLEB
Tidak membutuhkan basa-basi berlebihan. Tekadnya sudah bulat dan tidak ada penyesalan. Pemuda itu menusuk perut pria tersebut, hingga menembus sisi lain tubuhnya.
"Sampaikan salamku pada bosmu dari neraka sana. Jika ingin mencariku, carilah. Aku tidak akan pergi ke mana pun.
"Dan untukmu ... kuharap kau menyesali semua perbuatanmu, terutama apa yang sudah kau lakukan terhadap gadis itu," bisik sang pemuda.
Kemudian pemuda itu mencabut tangannya dari tubuh pria tersebut. Setelah memastikan keadaan, sang pemuda kembali berdiri dan membersihkan tangannya. Lalu berjalan menghampiri Andora yang duduk lemas bersandar di dinding bangunan.
"Anu ... bagaimana dengan pria itu?" tanya Andora dengan nada resah.
"Hmm ...? Dia mungkin saja pingsan," jawab pemuda itu.
"Begitu ya. Kuharap dia menyesali perbuatannya."
"Tidak perlu khawatir. Dia sudah sangat menyesalinya."
Andora tampak lega setelah mendengar perkataan tersebut. Hanya saja, ada satu hal lain yang masih membuatnya tidak tenang.
"Anu ... sebenarnya ada satu orang lagi yang membutuhkan pertolongan."
Eh? Kupikir hanya dia seorang saja.
"Di mana dia?"
"Para bandit membawanya ke dalam bangunan yang berada di sana," ucap Andora seraya menunjukkan tempatnya. "Kamu bisa menolongnya, kan?"
"Baiklah, aku akan segera menyelamatkannya. Kamu tunggulah di sini."
"Um ...." Andora mengangguk patuh.
Pemuda itu pun bergegas memberikan pertolongan. Namun ketika dia akan pergi, Andora kembali berbicara. "Hey, terima kasih telah menolongku."
"Bukankah itu hal yang wajar, untuk menolong seseorang yang sedang dalam kesulitan?"
"Um ... kamu mungkin benar. Dan lagi, bisa beritahu aku siapa namamu?"
"Namaku?"
"Ya!"
Meski enggan untuk memberitahukan, namun ketika melihat ekspresi Andora yang tampak penasaran. Mau tidak mau pemuda itu pun mengiyakannya.
"Aku Haru. Senang bertemu denganmu, Nona," ucapnya lalu tersenyum.
Andora menatap lembut Haru yang berdiri di hadapannya itu. Tanpa mengalihkan pandangan sama sekali, dia benar-benar terpaku akan sosoknya.
Haru, kah? Ternyata penyelamatku, tak lain hanyalah seorang pemuda yang sebaya denganku ya ....
^^^To be continued ...^^^