New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 28 - Tuan Putri dari Kerajaan Clivora



"Hmm ... bagaimana aku menjelaskannya ya? Ini seperti kamu sedang melakukan pelengkungan ruang di sekitar massa yang mampu mengubah kelajuan waktu. Mungkin?" Erythia menjelaskan dengan nada tidak meyakinkan.


"Oy, Ery. Penjelasanmu itu malah membuatku semakin bingung, tahu! Ruang? Waktu? Aku sama sekali tidak mengerti!" balas Haru mengeluh hebat.


"Argh ...!" Erythia mengacak-acak rambutnya karena kesal. "Aku sendiri juga bingung menjelaskannya! Kamu cukup bayangkan saja bentuk dimensi ruang yang kamu inginkan. Lalu biarkan energi sihirmu perlahan membentuknya.


"Ah, benar! Itu sama seperti ketika kamu sedang mengisi cetakan kue dengan adonan!" lanjutnya.


Oy-oy-oy, yang benar saja, Ery? Kali ini cetakan kue dan adonan? Kenapa pembahasan ini semakin lama malah semakin ngawur sih! Astaga ....


Haru jelas kebingungan, dari awal penjelasan yang Erythia berikan terlalu berbelit-belit. Itu justru membuatnya menjadi menyimpulkan, jika sang Dewi memang tidaklah pandai dalam menguraikan kalimat untuk disampaikan. Dalam hal ini berkaitan sebagai seorang pengajar, dia sangat tidak cocok jika harus menjalani profesi tersebut.


"Huh ... aku menyerah, Ery." Haru angkat tangan. "Aku sama sekali tidak mengerti," lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Padahal aku sudah susah payah menjelaskannya padamu. Hmm ...!!" Erythia menggembungkan pipi di ikuti dengan menyipitkan kedua matanya, dan menatap kesal sang pemuda.


Haru hanya menghela napas panjang ketika menanggapi Erythia yang sedang jengkel. Mungkin ini hanyalah ketidakpahaman pada persepsi saja, sebenarnya dia juga memaksa otaknya untuk menangkap maksud yang disampaikan oleh sang gadis.


Ruang-waktu ya ... hmm ....


Lagi pula, mana mungkin Ery menyuruhku untuk memahami penjelasannya itu berdasarkan perspektif ruang Euklides, bukan? Tidak-tidak, jelas-jelas itu terlalu berlebihan.


Jika dalam mekanika klasik non-relativistik, penggunaan ruang Euclidean akan lebih tepat dibandingkan penggunaan ruang-waktu. Karena waktu diperlakukan sebagai satu faktor yang universal dan konstan, independen terhadap pergerakan juga pengamat.


Dalam konteks teori relativitas sendiri, waktu tidak bisa dipisahkan dari ruang tiga dimensi. Karena kelajuan suatu objek dan pengamat yang relatif, juga dapat dipengaruhi oleh medan gravitasi yang mampu memperlambat waktu.


Sambil duduk bersandar menatap ke langit-langit bangunan, Haru bergumam letih, "Lah, kenapa aku malah memikirkan hal rumit seperti ini ya? Huh ... bodohnya aku."


Tidak lama kemudian setelah itu, Haru teringat kembali dengan penjelasan Erythia. "Melakukan pelengkungan ruang, kah?"


Tunggu! Jika dalam kosmologi, konsep ruang-waktu mengkombinasikan ruang dan waktu menjadi satu alam semesta yang abstrak, bukan? Hmm ...


Bahkan secara matematis, ruang waktu merupakan manifol yang terdiri dari kejadian yang bisa dijelaskan dengan sistem koordinat.


Sudah pasti berkaitan, dimensi sendiri merupakan komponen yang independen dari jaring-jaring koordinat untuk menentukan titik pada suatu ruang yang terdefinisi.


Sepertinya aku sedikit paham, apa mungkin? Kurasa aku harus bertanya lagi pada Ery untuk memastikan.


Haru pun menegakkan duduknya, lalu sedikit membungkukkan posisi beberapa derajat ke depan. Kemudian kembali bertanya pada Erythia. "Ery, aku hanya harus membayangkannya saja, kan?"


"Eh? Maksudmu untuk menggunakan sihir?"


"Memang itu maksudku."


"Um ... benar. Jenis sihir apa pun itu, kamu hanya perlu membayangkannya saja. Dan biarkan energi sihir yang kamu miliki secara perlahan memvisualisasikannya menjadi nyata. Itu juga berlaku pada sihir yang sedang kita bahas."


"Begitu ya. Baiklah."


"Apakah ada masalah, Haru?"


"Tidak, Ery. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja."


"Hmm ... begitu, kah? Ya, terserahlah."


Haru hanya menanggapi Erythia dengan tersenyum. Sedikit keraguan pun mulai memenuhi pikirannya.


Aku hanya perlu memvisualisasikan semesta (ruang dimensi) tersebut, kah? Tapi bagaimana caranya? Ini masih cukup membingungkan bagiku ....


Jika aku mengambil contoh pada sebuah globe, terdapat garis lintang dan garis bujur yang merupakan dua koordinat independen. Keduanya dapat membentuk satu titik yang unik.


Dalam ruang dan waktu, jaring-jaring koordinat yang melebar hingga 3 + 1 dimensi menentukan kejadian, dan waktu ditambahkan di dimensi lainnya pada jaring-jaring dalam koordinat.


Dengan ini koordinat dapat menspesifikasikan 'di mana' dan 'kapan' kejadian terjadi. Tidak seperti koordinat spasial yang biasa, terdapat batasan bagaimana pengukuran dapat dilakukan secara spasial dan temporal.


Jikalau begitu, bukankah itu berarti aku juga dapat menciptakan sihir perpindahan ruang dengan berpatokan pada teori tersebut, bukan? Ini ... menarik.


Benar, itu semacam sistem teleportasi! Dengan memasuki ruang dimensi lainnya untuk berpindah langsung ke tempat yang lain, bahkan tidak peduli sejauh apa pun lokasinya berada.


Erythia merasa heran melihat Haru yang terkekeh dan senyum-senyum sendiri. Pemuda itu seperti kerasukan roh halus saat ini.


"Hey, Haru. Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Erythia agak risih.


"Eh? Ah, aku tidak apa-apa kok," jawab Haru.


"Kamu yakin?"


"Tenang saja, Ery. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Hmm ... baiklah kalau begitu."


"Mwehehehe ...."


Entah apa yang sudah dipikirkan oleh Haru, spontan tingkahnya malah menjadi aneh seperti itu. Huh ... terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.


...***...


"Sudah berapa jauh aku berjalan ya? Bahkan aku pun tidak memiliki tujuan yang jelas," gumam seorang gadis penuh kecemasan.



Dia adalah Andora Staria Fansha, seorang Tuan Putri yang berasal dari Kerajaan Clivora. Kerajaan Clivora sendiri berlokasikan di daerah perbukitan, karena hampir seluruh wilayahnya memang didominasi oleh bukit-bukit tinggi yang mengelilingi. Sekaligus menjadi tetangga terdekat Kerajaan Radix yang berada di arah timur mata angin.


Setelah bertengkar hebat dengan ayahnya, yang mana adalah seorang Raja di Kerajaan Clivora, Andora pun melarikan diri dari Kastil. Dia sangat marah dengan keputusan sang ayah yang memintanya untuk melangsungkan pernikahan, semata demi menyelamatkan kerajaan tersebut dari krisis ekonomi yang dialami selama beberapa tahun ini.


Walaupun memiliki sifat yang sangat lembut, kali ini Andora harus memberontak dan menolak keras permintaan sepihak yang telah lama direncanakan. Itulah alasannya kenapa dia sampai pergi mengasingkan diri meninggalkan tempat tinggalnya.


Andora berpikir, keputusan tersebut tidaklah bijak. Sebagai seorang manusia, dia pun memiliki kehendak mutlak untuk dirinya sendiri. Karena melangsungkan pernikahan bukanlah hal yang sederhana, apa lagi jika dilakukan tanpa memiliki rasa cinta dari kedua belah pihak terkait.


Andora tidak ingin hal itu terjadi menimpa dirinya, karena dia benar-benar tidak peduli dengan urusan politik. Bahkan dia sendiri pun sangat menginginkan, jika dirinya tidaklah dilahirkan oleh orang tua yang berasal dari keluarga kerajaan. Melainkan hanya sebatas warga biasa. Namun apalah daya, takdir berkata lain.


"Huh ... aku bahkan belum makan apa pun hari ini." Sambil menahan rasa lapar, Andora meneruskan perjalanannya. Dia berharap bisa menemukan sebuah permukiman di sekitar, meski itu agak sulit.


Setelah lama berjalan tanpa memikirkan apa pun, Andora telah sampai di wilayah perbatasan Kerajaan Radix. Memang masihlah sangat jauh jika hanya dengan berjalan, tetapi meski begitu, dia dijamin akan aman ketika sudah berhasil memasuki wilayah yang diduduki oleh Marquis Vicky Targuinoele.


Beruntungnya, setelah beberapa waktu terus menyusuri jalanan. Andora berpapasan dengan beberapa orang, mereka adalah penjaga yang memang ditugasi untuk berpatroli di daerah tersebut oleh sang Marquis.


Setelah berbincang cukup lama dan menjelaskan terkait keadaannya, Andora pun diantarkan oleh para penjaga ke tempat yang lebih aman. Tentu saja dia tidak berkata yang sebenarnya. Karena jika mereka mengetahui bahwa dia adalah seorang Tuan Putri dari Kerajaan Clivora, Andora akan langsung diantarkan pulang.


"Terima kasih banyak," ucap Andora, di akhiri dengan membungkuk sopan.


Setelah berpamitan dan para penjaga kembali melanjutkan tugas mereka, dengan tegas dia melanjutkan, "Yosh! Dengan begini, petualanganku akan segera dimulai."


^^^To be continued ...^^^