
Keesokan harinya, saat matahari mulai menggantung di atas cakrawala. Haru terbangun dari tidurnya.
Menatap jauh ke langit yang membentang luas, kemudian melirik ke arah samping. Namun, betapa terkejutnya dia melihat Erythia yang masih terlelap sambil memeluk tubuhnya.
Eh? Ery ...? Posisi ini, berbahaya sekali. Ah, sial! Aroma tubuhnya juga benar-benar wangi.
Bukan berarti Haru tidak senang, sebelumnya juga dia sering sekali mendapatkan pelukan manis dari kekasihnya dulu. Karena Aria tipe gadis yang manja, jadi gadis itu sangat sering memeluknya.
Tetapi jika dibandingkan dengan situasi saat ini, Haru merasa seperti, 'Apakah ini yang dinamakan berselingkuh ya?' Begitulah kurang lebih apa yang dipikirkan olehnya.
Ah, mungkin berpura-pura tidak terjadi apa-apa ada bagusnya. Lebih baik aku menikmati moment ini sejenak.
Tidak lama setelah itu, Erythia pun terbangun dari tidurnya. Dia segera menggeliat sambil menguap, kemudian mengucak kedua matanya.
Haru memperhatikannya, dan saat kesadaran sang gadis mulai pulih, dia langsung menyapa, "Selamat pagi, Dewiku."
"Pagi, Haru. Kamu sudah bangun duluan ternyata," balas Erythia.
"Ya, begitulah. Bagaimana camping malam ini, apakah tidurmu nyenyak?"
"Sangat nyenyak. Badanku sampai sakit semua. Huff ...!"
"Hahaha ... setidaknya semalam kita bisa beristirahat tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun."
"Ya, memang sih. Tapi tetap saja!"
"Sudahlah, jadikan ini sebagai pengalamanmu," ucap Haru beranjak berdiri sambil meregangkan otot-ototnya ...
"Huh ... ya-ya, seterahlah."
"Sip, saatnya sarapan. Setelah ini, kita mungkin akan mendapatkan kesibukan, Ery," ... lalu kembali duduk di samping Erythia.
Menikmati waktu sarapan, mereka menghabiskan beberapa roti yang kemarin sempat dibeli oleh Haru. Meski tidak mengenyangkan, setidaknya itu cukup untuk mengganjal perut. Dari pada tidak menerima asupan energi sama sekali.
Menghentikan menyantap, Erythia membuka obrolan, "Haru, terkait energi sihir di dalam tubuhmu ituー"
... dan Haru segera memotong perkataan dari sang gadis, "Ery, sudahlah. Lupakan sejenak kejadian kemarin. Saat ini prioritas kita adalah pergi ke guild, bukan?"
"Um ... kamu benar."
"Nah. Karena itu, kita lanjutkan di lain waktu saja terkait hal tersebut, oke?"
"Baiklah." Erythia mengangguk.
Tidak apa-apa, tidak perlu terburu-buru. Lagi pula baru saja dua hari sejak aku menjalani kehidupan baruku di dunia ini. Jadi masih banyak waktu yang bisa kupergunakan untuk mempelajari sihir.
Setelah selesai bersiap-siap, mereka berdua pun segera pergi dari sana.
Seperti biasa, Kota Caulis selalu sibuk setiap harinya. Itu menjadikannya sebagai pemandangan yang wajar.
Tujuan Haru dan Erythia adalah pergi ke guild, untuk mendaftarkan diri mereka sebagai seorang petualang di sana. Berhubung keduanya tidak mengetahui lokasi pastinya, mereka segera melihat denah kota tersebut yang berada tidak jauh dari pintu gerbang masuk.
"Ah, ketemu! Ternyata cukup jauh juga ya, jika pergi ke sana dari arah sini."
"Memang posisi pastinya di sebelah mana?" Erythia bertanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Kamu kemarilah, Ery. Perhatikanlah," jawab Haru sambil menatapnya.
Erythia pun mendekat. Sambil menunjuk denah kota, Haru menjelaskan, "Sekarang kita berada di gerbang selatan, dan lokasi guild ada di barat. Menurut keterangan, jika kita berjalan kaki ke sana, itu akan menghabiskan waktu setengah jam perjalanan.
"Kita bisa memilih rute ini, kupikir ini rute tercepat untuk sampai di sana. Bagaimana menurutmu, Ery?"
"Aku mengikutimu, Haru. Tidak masalah mengambil rute mana pun, kurasa cukup bagus untuk sekalian melihat-lihat kota ini, bukan?"
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita bergegas, Ery."
"Um ...."
Selesai berdiskusi ringan, mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.
...***...
Sesampainya di sana, Haru bergumam tanpa meninggalkan kesan, "Hou ... jadi ini tempatnya ya."
"Dari apa yang kudengar menurut perkataan orang-orang di sekitar, jika kita ingin mendaftarkan diri menjadi seorang petualang, hal pertama yang akan langsung dinilai adalah energi sihir personal.
"Bisa dibilang, itu menjadi faktor penentu bagi orang-orang untuk berhasil lolos atau tidaknya."
"Eh? Kamu yakin, Ery?" Haru menjadi sedikit panik. Itu karena dia sendiri tidak yakin akan berhasil, jika salah satu test-nya adalah seperti itu.
"Kamu meragukan pendengaranku, hah?" Erythia langsung menatap sinis Haru.
"Ti-Tidak seperti itu. Maksudku, kalau kamu sih sudah pasti akan berhasil. Aku hanya khawatir dengan diriku saja."
"Sebelum dicoba kita tidak akan tahu hasilnya, bukan? Lagi pula aku cukup yakin dengan metodeku kemarin. Jadi kamu tenang saja, itu pasti berhasil."
"Ya, baiklah. Ayo kita masuk untuk memastikannya sendiri."
Tanpa ragu Haru dan Erythia pun membuka pintu guild tersebut untuk segera masuk ke dalam. Banyaknya pasang mata dari para petualang yang sedang berkumpul, langsung tertuju pada mereka berdua.
Yang mengambil alih pertunjukkan adalah Erythia. Bermacam-macam jenis tatapan terfokuskan pada sosoknya. Di dalam tekanan yang membuat gerogi untuk melangkahkan kaki, dia tidak peduli dengan sekitarnya. Hanya terus fokus berjalan menuju meja resepsionis.
Haru yang berjalan di sampingnya terkesan seperti tidak berguna sama sekali jika dibandingkan dengan sang gadis. Namun dia pun sama halnya tidak peduli akan sekitar, dan tetap melangkahkan kakinya dengan menunjukkan sikap gagah.
Cibiran demi cibiran terhadap Haru mulai terdengar dari semua arah mata angin. Tetapi dia hanya menghiraukannya saja.
[Ckckck, sayang sekali. Jika memang membutuhkan bodyguard, seharusnya aku saja yang disewa oleh gadis itu!]
[Hey-hey, gadis itu siapa sih? Benar-benar cantik. Tapi pria di sampingnya itu sangat merusak pemandangan!]
[Kurasa, pria yang bersamanya itu hanyalah seorang pelayan!]
[Penampilannya saja yang keren, tapi aku tidak yakin dengan kekuatannya!]
[Tidak mungkin pria itu memiliki kekuatan, paling juga hanya kroco. Jika aku berduel dengannya, sudah pasti akulah yang akan menang!]
Woah ... mereka benar-benar menghinaku. Ya, biarkan sajalah, selagi mereka tidak mengusikku, itu bukanlah masalah.
Erythia yang menyadari langkah kaki Haru mulai melambat, berbalik menatap tajam pria tersebut. Lalu mendekat padanya. Tanpa merasa ragu dia pun langsung menggandeng tangan Haru. Sontak membuat semua petualang yang berada di dalam bangunan guild terkejut menyaksikan hal itu.
Sebenarnya Erythia juga merasa kesal dengan cibiran mereka, emosinya itu benar-benar meluap. Tentu saja dia tidak bisa mengamuk seenaknya di tempat itu, karena hanya akan menimbulkan masalah nantinya.
Tatapan penuh amarah langsung tertuju pada semua orang yang mencibir. Aura membunuh dan ekspresi bengis terlukis di wajah cantik Erythia. Seketika membuat semuanya terdiam dan membisu.
"Hey, Ery. Kenapa tiba-tiba kamu menggandengku?" Haru bertanya dengan heran.
"Tidak apa-apa. Ayo cepatlah jalan!" jawab Erythia menjadi sedikit emosional.
"Iya-iya, baiklah."
Mereka pun tiba di depan meja resepsionis, dan seorang wanita yang terlihat berusia sekitar 25 tahunan sudah menyambut hangat mereka di sana.
"Selamat datang di guild para petualang Kota Caulis. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.
"Ah, kami berdua ingin mendaftarkan diri sebagai petualang di sini," jawab Haru.
"Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Esra Hirka, salah satu resepsionis yang bertanggung jawab hari ini.
"Terkait permintaan tersebut, kalian berdua bisa membaca ketentuannya terlebih dahulu. Saya akan segera menyiapkan untuk proses pendaftarannya," ucap Esra menyodorkan satu lembar kertas pada Haru.
"Oh iya, ada hal lain yang ingin kutanyakan."
"Silakan."
"Kamar mandinya berada di mana ya?"
"Eh?" Tidak hanya Esra yang terkejut dengan pertanyaan Haru, bahkan Erythia yang berada di sampingnya turut melongo.
"Kamu ini, tidak bisakah sopan sedikit? Dalam situasi genting seperti ini, sempat-sempatnya malah ingin buang air!" ucap Erythia menceramahi Haru.
"Ya, maaf saja. Lagi pula aku sudah tidak tahan lagi, tahu!"
"Hahaha ...." sambil tertawa kecil, Esra memberitahukan dan menunjukkan arahnya pada Haru. "Kamar mandinya berada tepat di ujung lorong sana."
"Baiklah, terima kasih, Esra.
"Ery, aku serahkan padamu. Aku pergi dulu."
Kemudian Haru pun meninggalkan Erythia bersama Esra di sana.
"Pria itu lucu sekali ya," ucap Esra.
"Huh ... dia memang orang yang seperti itu. Benar-benar bodoh," balas Erythia.
"Baiklah, Nonaー" Erythia langsung memberitahukan namanya, "Erythia, namaku Erythia."
"Ah, Nona Erythia. Silakan dibaca terlebih dahulu."
"Ya, terima kasih. Akan kulakukan."
...***...
Haru yang sedang berjalan menuju ke kamar mandi, masih mendapatkan perlakuan yang sama. Tatapan penuh amarah, kebencian, dan mengerikan dari para petualang yang ada di sana tertuju padanya.
Namun saat dia hendak melewati meja di ujung ruangan, kaki dari salah satu petualang yang sedang duduk bersama rombongan mencoba untuk menjegal pria tersebut. Kedua kaki mereka saling beradu, Haru pun langsung melirik ke arahnya.
"Ah, maafkan aku. Sepertinya aku tidak sengaja menabrak kaki Anda," ucap Haru dengan sopan.
Petualang itu segera beranjak dari kursinya, lalu berdiri tengil di hadapan Haru. Menunjukkan ekspresi mengintimidasi, dia pun berkata, "Oy-oy, anak muda. Apakah hanya sebatas itu rasa sopan santunmu, hah?"
Haru hanya tersenyum tipis menanggapinya, dia benar-benar tenang. Lalu membalasnya, "Karena itu aku meminta maaf. Bukankah itu yang dinamakan sopan santun terhadap orang lain?"
"Hou ... sepertinya kau punya nyali juga!"
"Huh ...." Haru menghela napas panjang.
Semua yang menyaksikan tertawa puas, bahkan ada yang bersiul. Mereka benar-benar menginginkan pertarungan di antara keduanya terjadi di sana.
Ekspresi wajah Haru seketika berubah, tatapan serius mulai tampak mendominasi keadaan. Menatap ke sekitar, dan mulai menatap tajam sang petualang yang mencari masalah dengannya.
Postur tinggi, rambut mohawk, pengguna dua senjata belati. Mungkin aku bisa mengatasinya, tetapi aku tidak mau kena pinalti di tempat ini.
"Apa-apaan tatapanmu itu, bocah? Kau ini cari mati ya?"
"Hah? Cari mati? Tebakan Anda tidak akurat. Biar kuberitahu, aku hanya ingin mencari ketenangan, itu saja."
Hari keduaku hidup di dunia ini benar-benar merepotkan. Sialan! Kapan aku bisa menikmati ketenanganku? Cih ....
^^^To be continued ...^^^