New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 56 - Serangan di Pesisir



Argha ditemani beberapa orang dari pasukan pertahanan desa, tampak berlari terburu-buru menuju lapanganーatau lebih tepatnya adalah alun-alun desa.


Di sana tentu sebagai tempat bagi para warga desa berkumpul dengan membawa perasaan ceria, dan tenang seperti hari-hari biasanya. Tanpa ada sedikit pun keresahan, ketegangan, atau apa pun itu yang dapat kita sebut dengan ketakutan terlukis di wajah setiap orang. Hanya terfokuskan pada hal yang tengah mereka lakukan.


Terkait apa yang Verzha katakan sebelumnya, jelas-jelas menaungi pikiran Argha. Sudah pasti dia memikul rasa kekhawatiran yang tak dapat dijelaskan, dan itu cukup mengganggunya. Dia hanya ingin segera memberitahukan pada semua orang, jikalau Desa DeAn saat ini tengah mendapati situasi buruk.


“Aku harus bergegas!”


Argha semakin memacu laju kakinya. Dia juga memberikan perintah pada orang-orang yang turut mengikutinya sedari awal, agar menyebar ke seluruh penjuru desa untuk menyampaikan kabar buruk dan melakukan proses evakuasi secepat mungkin.


Ini adalah pertarungan dengan waktu di awal. Karena semakin cepat bertindak, peluang untuk melarikan diri cukup besar, dan tentunya akan memungkinkan untuk meminimalisir jumlah korban yang mungkin saja berjatuhan. Situasi sekarang ini, Argha bahkan tidak dapat memastikan jikalau musuh tidak menembus pertahanan garda depan.


Meski pasukan keamanan hampir didominasi oleh orang-orang terlatih dan berpengalaman dari kelompok militer ras anjing sekalipun, tetap tidak ada jaminan mutlak bahwa mereka dapat dengan mudah memukul mundur musuh. Justru Argha khawatir jikalau anak buahnya akan banyak berguguran, dikarenakan pasukan musuh jauh lebih kuat dari apa yang mereka bayangkan.


Verzha juga turut memberitahukan kabar buruk dan membantu proses evakuasi di sekitar tempat latihan pasukan pertahanan desa. Meski tidak begitu banyak orang yang memilih untuk tinggal di lokasi tersebut, tetapi mereka yang memiliki keterampilan bertani yang justru memanfaatkan lahan-lahan kosong di sana, dan tentu sekaligus mendirikan tempat tinggal.


“Ketua, semuanya sudah berkumpul di satu tempat. Kami akan melanjutkan sesuai perintah.”


Salah satu ras kucing yang menghampiri Verzha melapor. Dia adalah anggota dari pasukan pertahanan desa yang turut membantu.


“Bagus! Lakukan secepat mungkin. Pastikan tidak ada lagi yang tertinggal.”


“Baik!”


Verzha kembali menegaskan. Semua orang pun kemudian meninggalkan lokasi tersebut, dan kini hanya menyisakan Verzha seorang diri di sana. Dia merasa sedikit lega setelahnya.


“Kuharap Argha sudah melakukan proses evakuasi seluruh warga di pusat desa. Sekarang, waktunya aku membantu pasukan keamanan!”


Tanpa ragu Verzha pun berlari menuju lokasi pertempuran, untuk membantu pasukan keamanan yang tengah mati-matian bertempur di garda depan.


‘Semoga saja mereka semua dapat bertahan tanpa adanya satu pun korban’, pikirnya.


___


Filgard telah bergabung dengan pasukannya yang menyusup ke arah hutan di sisi kanan. Dia memimpin penyerangan bersama dengan sekitar 15 orang anak buah yang mengikutinya dari belakang. Tujuannya adalah mengepung dari semua titik sayap yang longgar, dengan dia mengambil alih sisi sebelah kanan, dan Rydman di sisi kiri.


“Rydman, kau dengar ?”


“Jelas sekali.”


“Lakukan sesuai rencana.”


“Dimengerti.


“Bagus!”


“Tapi sebelum itu, kurasa aku mengambil jalan yang salah.”


“Eh ?ーBegitu ya. Tetap lanjutkan.”


“Baik, setelah kami menghabisi kadal-kadal di sana.”


Kadal ya .... Tidak terlalu buruk untuk pemanasan. Setidaknya begitu.


Filgard tetap melakukan komunikasi secara instan dengan Rydman melalui telepati, agar dia pun dapat memantau apa yang tengah terjadi di sisi berlawanan.


Namun, Rydman dan pasukan pengintai malah terpojokkan oleh keadaan geografis. Sejauh mata mereka memandang saat ini, hanyalah lautan biru yang teramat luas. Karena jalan yang diambil ternyata memiliki ujung, dan itu adalah sebuah tebing curam yang langsung terhubung dengan lautan lepas di bawahnya.


Akan tetapi, bagi Rydman justru termasuk keberuntungan. Tidak disangka-sangka pada jarak sekitar 500 meter dari lokasinya itu, tampak didominasi oleh suku Lizardman yang memang menempati wilayah pesisir desa tersebut.


“Bermain-mainlah dengan mereka di sana. Kuingatkan padamu, jangan terlalu kejam ya.”


“Hahaha ... lakukan sesukamu.”


“Dimengerti.”


Setelah tertawa puas, Filgard memutus komunikasi, dan Rydman langsung memberikan aba-aba pada pasukan pengintai untuk melakukan penyerangan. 10 Assasin yang bersiaga pun, kemudian menghilang dari tempat mereka masing-masing menuju lokasi target serangan.


Untuk saat ini, Rydman hanya memutuskan menonton penyerangan yang dilakukan dari tempatnya itu. Dia memiliki keyakinan dan rasa percaya diri yang tinggi, jikalau membantai suku Lizardman dengan 10 orang saja sudah lebih dari cukup, dan tanpa perlu baginya untuk turun tangan secara langsung.


“Mari kita lihat, sudah sejauh mana mereka berkembang,” gumam Rydman.


...***...


10 Assasin yang bergerak telah berhasil menyusup. Mereka berpencar di sekitar wilayah suku Lizardman seraya menyembunyikan hawa kehadiran dari balik bayang-bayang.


Tentu para ras kadal tidak menyadari keberadaan lawanーlebih tepatnya, mereka tidak mungkin dapat merasakan adanya ancaman dari sesuatu yang bahkan tidak terlihat oleh kedua mata mereka.


Hingga aksi membantai pun akhirnya dimulai. Beberapa Lizardman yang tengah bekerja mengangkut kayu-kayu dari gudang penyimpanan untuk segera dipasang, dilumpuhkan hanya dengan satu tusukan yang mengincar tepat ke jantung mereka.


Teriakan merintih kesakitan terdengar jelas memekakkan telinga. Hal itu lantas membuat para Lizardman menyadari adanya kejanggalan di wilayah mereka saat ini. Kemudian para ras kadal pun menghentikan pekerjaannya untuk segera bersiaga, dan mengambil peralatan tempur mereka masing-masing.


Satu kelompok berisikan 10 ekor Lizardman berlari menghampiri ke arah sumber suara. Kelompok tersebut benar-benar terkejut ketika menyaksikan rekan mereka yang terkapar tidak bernyawa. Lantai tanah bahkan telah bercampur dengan cairan berwarna merah segar dan terlihat kental.


Dugaan sementara yang ternyata tepat, membuat para ras kadal semakin waspada. Akan tetapi, kewaspadaan yang mereka tunjukkan tidak berarti apa-apa. Dikarenakan 10 Assasin yang sudah memulai aksi mereka, mulai menampakkan diri dari balik bayang-bayang pada posisi mereka masing-masing, dan pembantaian pun terjadi begitu saja. Itu bahkan tidak dapat dijelaskan.


“Sesuai dugaanku. Ternyata memang mudah.”


Rydman bergumam, tetapi dia tampak tidak cukup puas dengan tontonan yang disajikan. Dia bahkan merasa, jikalau tontonan yang seperti itu sangatlah membosankan.


“Wilayah pesisir sudah bersih. Kami akan segera menerobos ke dalam.”


“Kerja bagus. Lanjutkan!”


“Dimengerti.”


Filgard menerima laporan yang cukup memuaskan. Dia kemudian tertawa dengan kencang, bahkan membuat anak buah yang mengikutinya dari belakang merasa sedikit keheranan. Hingga salah satu dari mereka pun memutuskan untuk bertanya.


“Ketua, apakah ada masalah?”


“Hmm ...?” Filgard melirik.


“Ah ... maaf atas kelancanganku barusan.”


“Tidak apa-apa. Kau tidak harus meminta maaf segala.”


“Baik. Terima kasih, Ketua.”


“Dengar, kalian semua. Sepertinya invasi kali ini tidak membutuhkan tenaga ekstra. Jadi, prioritaskan tujuan utama kita, yaitu mencari target yang layak untuk dijadikan oleh-oleh. Kalian mengerti?!” Filgard menegaskan.


“Dimengerti!”


Jawaban serempak terdengar penuh semangat, Filgard mengangguk dan tampak merasa puas. Dia bahkan menganggap, jikalau apa yang menanti mereka di depan sana, dipastikan sama seperti yang Rydman alami di sisi lain. Dengan begitu tentunya akan dapat lebih menghemat pengeluaran tenaga mereka semua.


Ini bahkan lebih lucu daripada yang kukira. Benar-benar konyol. Selain itu ....


“Kuharap para Demi-Human di sana memiliki apa yang sedang kucari di antara mereka semua,” gumam Filgard.


^^^To be continued …^^^