New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 52 - Mondlicht Dunkelheit



Di dalam sebuah ruangan, terdapat beberapa tempat duduk yang mengelilingi meja berukuran besar berbentuk lingkaran. 5 kursi luxury diduduki oleh para petinggi dari organisasi kriminal internasional, dengan ditemani oleh seorang asisten yang turut berdiri di belakang kursi mereka masing-masing.


Mereka semua adalah buronan kelas kakap yang memang sedang dicari oleh beberapa kerajaan dan negara di benua De Runa sejak lama, tak terkecuali Kerajaan Radix yang turut aktif membantu perburuan di bawah komando Pangeran Lifier Urya.


Antara petinggi satu dan yang lainnya, memiliki peranan eksekusi di bidang mereka masing-masing, yakni meliputi;


• Divisi Pembunuhan


• Divisi Pencurian


• Divisi Perdagangan Manusia / Perbudakan


• Divisi Perdagangan Narkotika


• dan Divisi Perjudian


Yang paling terkenal dan mencolok di antara mereka semua adalah, bagian divisi perbudakan. Dikarenakan petinggi divisi tersebut, menjalin koneksi dengan ‘Moderate Slavery’. Seperti yang kita ketahui, itu adalah nama dari organisasi perdagangan budak ilegal yang cukup dikenal di pasar hitam.


Pertemuan yang mereka lakukan kali ini, untuk membahas terkait sebuah desa yang sedang berkembang dan berlokasikan di ujung barat benua. Entah bagaimana, beberapa orang anggota dari mereka berhasil menemukan desa tersebut. Kemudian melaporkannya pada atasan di organisasi yang bersangkutan, atau bisa disebut, ‘Mondlicht Dunkelheit’.


"Terkait apa yang anak buahmu laporkan padamu, apa itu benar, Filgard?"


Pria bertubuh besar dengan kepala botak, dan memiliki tato ular berkepala dua di sisi kiri kepalanya, bertanya seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.


Pria yang mengenakan rompi kulit yang memperlihatkan otot-otot kekar tubuhnya itu bernama Gorgond. Dia adalah petinggi divisi perdagangan narkotika.


"Ya. Sudah kupastikan, bahwa laporan dari anak buahku memang valid."


Pria yang dikenal Filgard itu memberikan laporannya, dan dia adalah petinggi divisi pembunuhan. Sosoknya mengenakan jubah tudung berwarna hitam khas seorang assasin, dengan penutup wajah.


Filgard tidak pernah memperlihatkan wajahnya, dan kedua mata merahnya saja yang selalu terlihat jelas. Saat di pertemuan penting seperti ini sekalipun, penampilan yang dia tunjukkan selalu saja sama.


Seluruh petinggi Mondlicht Dunkelheit bahkan mengakui, jikalau mereka semua belum pernah melihat tampang asli dari seorang pembunuh berbakat di organisasi mereka tersebut.


"Hou … mengesankan sekali. Kinerja anak buahmu ternyata cukup berguna juga ya. Kukira divisi pembunuhan hanya tahu bagaimana caranya membunuh dengan cepat tanpa jejak."


"Jaga ucapanmu itu, Gorgond! Jangan kau remehkan kinerja anak buahku!"


Filgard melirik ke arah Gorgond. Lirikan tajamnya itu dapat diartikan sebagai bentuk kemurkaan.


"Cih!"


Mereka berdua memang tidak pernah akur, sepertinya memiliki dendam pribadi. Jikalau saja Filgard dan Gorgond tidak terlibat dalam organisasi yang sama, entah siapa yang akan menjadi pemburu atau diburu dari atau di antara keduanya.


"Sudah, sudah. Sebaiknya kalian tidak bertengkar di sini, oke."


Pria lain yang memiliki rambut panjang berwarna pirang turut berbicara. Dia dikenal dengan julukan ‘Gambling Wheel’. Seperti julukannya, dia adalah petinggi divisi perjudian.


Pria dengan tampang cantik dan iris mata yang senada dengan rambutnya itu bernama Lionel. Dia mengenakan setelan seperti seorang bangsawan terhormat, dan itu benar-benar sesuai dengan sosoknya.


Lionel memiliki perawakan tinggi, tetapi usianya sendiri masih cukup muda di antara para petinggi lainnya. Meski begitu, dia memiliki sifat yang cukup buruk. Dia sangat senang sekali terkait memprovokasi orang lain.


"Ucapanmu itu tidak sesuai sekali dengan sifatmu, Lionel. Dasar munafik!"


Seorang pria paruh baya mencela Lionel dengan tegas. Dia memiliki perawakan cukup kekar dan tampak sangat serius. Dengan gaya rambut gondrong berwarna hitam, serta sorot mata hitam pekatnya yang tajam. Tidak lupa juga jenggot tipisnya yang cukup mengesankan.


"Oy, Pak Tua. Apa yang Anda katakan tidaklah benar. Aku munafik? Jangan membuatku tertawa!" sanggah Lionel.


"Sifatmu itu memang sangat buruk, Bocah!"


"Buruk ya .... HAHAHA ...!!" Lionel tertawa sangat keras. Dia sepertinya merasa puas.


"Dengar, padahal aku tidak peduli kalau mereka berdua ingin saling membunuh di luar sana. Setidaknya aku mendukung penuh kekerasan di antara dua orang tidak berguna di sana!" lanjutnya seraya menunjuk ke arah Filgard dan Gorgond.


"Bocah brengsek!" Gorgond tampak geram dengan perkataan Lionel.


Sedangkan Filgard yang kemudian menatap tajam pemuda pirang itu berkata, "Oy, Lionel … camkan perkataanku baik-baik. Aku tidak peduli dengan nyawamu, dan saat ini pun aku bisa membunuhmu tanpa mengotori tanganku sama sekali." Lalu dia menjentikkan jarinya.


Asisten yang berdiri di belakang Filgard kemudian menghilang dari tempatnya tanpa terlihat sama sekali. Sosoknya kini sudah berada tepat di sebelah Lionel dan menodongkan sebuah belati ke leher pemuda pirang itu.


"Hou … sebuah trik murahan! Kau pikir menyuruh asistenmu menodongkan senjata padaku seperti ini bisa dengan mudah membunuhku, hah?!"


Lionel tidak merasa gentar dengan gertakan. Dia benar-benar tenang, dan justru tampak menikmati moment.


"Siapa yang tahu. Saat aku memulainya, saat itu juga akan berakhir, Bocah!"


"Akan berakhir ya, lucu sekali! Seharusnya kau lebih memperhatikan keselamatan asistenmu, Filgard!"


Seolah seperti sudah memperkirakan peristiwa seperti ini akan terjadi, Lionel pun tidak tinggal diam. Entah bagaimana, salah satu tangannya sudah mengaktifkan lingkaran sihir tepat ke arah tubuh asisten Filgard.


"Seharusnya kau tidak melupakan satu hal, kalau aku bisa menggunakan sihir tingkat menengah. Dan saat aku mengaktifkan sihirku, kematian instan asistenmu ini berada di tanganku!"


Filgard mendecakkan lidah. "Rydman, kembali!"


Mendengar yang diperintahkan, Rydman pun segera menghilang dan kembali berdiri tepat di belakang kursi Filgard.


"Ternyata seorang Assasin sekalipun, benar-benar naif!" Lionel berkata dengan penuh penghinaan, kemudian tertawa karena merasa puas.


Keributan seperti ini kerap kali terjadi ketika mereka semua mengadakan pertemuan. Para petinggi dipastikan saling membenci satu sama lainnya, terutama Filgard, Gorgond, dan Lionel.


Tak berselang lama, pria yang sedari tadi hanya memperhatikan kelakuan mereka dalam diam, mulai angkat bicara.


"Kalian sudah selesai membahas omong kosong?"


Pria itu mengatakannya dengan sangat tenang. Cardigra, begitulah mereka mengenalnya. Dia adalah petinggi divisi perdagangan manusia / perbudakan.


Cardigra memang tampak muda, tetapi usianya sendiri masih lebih tua dari pada Lionel. Dia memiliki rambut pendek dengan poni berwarna biru metalik, serta sorot mata emasnya yang dingin dan menusuk. Pembawaannya itu benar-benar tenang.


Cardigra tampak mengenakan setelan layaknya seorang Pangeran. Namun, itu sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan menghilangkan kesan yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Pangeran yang dibuang.


Semua orang di dalam ruangan hanya terdiam mendengar Cardigra yang berbicara. Entah bagaimana, mereka semua seperti melihat aura yang teramat menyeramkan memancar ke luar dari dalam tubuh sosok tersebut.


"Kalau tidak ada lagi yang berbicara, kita mulai rapatnya!"


Keadaan yang kini mulai tenang, pembahasan serius terkait desa yang ditemukan pun akhirnya akan segera dimulai.


^^^To be continued …^^^