New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 61 - Keberhasilan Awal Dari Invasi



Sesampainya di pusat desa, tidak ada seorang pun yang Zordan dan kelompoknya temui di sana. Karena seluruh warga desa sudah mengevakuasi diri, Desa DeAn bahkan terlihat seperti desa yang sangat berbeda dari sudut pandang mereka saat ini.


“Tuan Zordan, kita tidak sedang bermimpi, kan? Aku merasa seperti berada di tempat yang asing.”


Zordan setuju dengan yang dikatakan bawahannya itu, bernama Khyrio. Dia pun merasakan hal yang sama.


“Yang jelas, ini bukan mimpi. Tapi terkait kalimat terakhirmu itu, aku tidak menyangkalnya.”


“Haruskah kita berpencar?”


“Tidak perlu. Terlalu berbahaya kalau kita melakukan hal itu. Untuk saat ini, tetap bersama. Kita juga harus memprioritaskan keselamatan Nyonya Zheea.”


“Tapi kita harus mencarinya ke mana? Larinya itu cepat sekali, kita berlima bahkan tidak mampu mengimbanginya.”


“Dasar bodoh! Sudah jelas Nyonya Zheea menuju tempat tinggalnya. Memangnya menurutmu mau pergi ke mana lagi?”


“Ah … benar juga.”


“Kau ingat dengan seorang bocah bernama Xera, kan?”


“Tentu saja.”


“Nyonya Zheea mengkhawatirkan Xera, dan ingin memastikan bagaimana keadaan anaknya. Semoga saja Xera turut bersama warga desa yang lain.”


“Ya, kuharap juga begitu.”


“Ayo bergegas, sebelum kita kehilangan jejaknya lagi!”


“Baik!”


Zordan dan kelompoknya kemudian melanjutkan tujuan mereka menuju kediaman Zheea. Mengesampingkan keadaan Desa DeAn saat ini, tidak mungkin bagi Zordan untuk mengabaikan tugas pentingnya yang lain begitu saja. Karena dia diberikan tanggung jawab oleh Verzha untuk melindungi Zheea.


Seraya memperhatikan dengan seksama situasi di sekitar, tidak disangka-sangka sebuah serangan datang. Beruntungnya itu tidak mengenai mereka secara langsung. Mungkin lebih tepatnya dijadikan sebagai tanda, bahwasanya ada kelompok lain yang juga berada di lokasi tersebut.


“Tuan Zordan, itu ....”


“Ya. Bersiagalah, kalian semua! Tidak hanya kita yang berada di tempat ini.”


Melihat ke arah banyaknya pisau tajam yang menancap di tanah, Zordan mendecakkan lidahnya. Mereka pun kemudian mengangkat senjata masing-masing, dan membentuk formasi mengitari satu sama lain, agar dapat mengamati seluruh area.


“Jangan panik! Tetap fokus pada sekitar!”


“Baik!”


Tidak satu pun musuh terlihat sejauh jangkauan mata memandang. Suasana terlalu hening, dan hanya hembusan angin saja yang berdesis di telinga mereka.


“Menegangkan sekali. Ini mengingatkan terakhir kali kita membentuk formasi seperti ini.”


“Bukan waktunya untuk bercanda, bodoh!”


“Aku tidak bercanda, tapi memang begitu faktanya, bukan?”


“Memang benar, kecuali situasi kali ini yang tidak sama seperti saat itu.”


Zordan tertawa kecil mendengarkan percakapan kedua bawahannya itu. Lalu dia menyusup ke dalam perbincangan, “Oy, kalian tentu sanggup menghadapi situasi menegangkan ini, bukan?”


“Tentu saja! Jangan remehkan kami, Tuan Zordan!”


Mereka berdua menjawab dengan kompak dan tegas. Tiga Lizardman yang lain pun turut mengangguk.


“Bagus! Kalau begitu … kuserahkan padamu, Nhoeru. Deteksi keberadaan mereka!”


“Oke!”


Nhoeru kemudian melakukan apa yang Zordan perintahkan. Kemampuannya melacak persepsi kehadiran, menemukan musuh pada radius jarak 500 meter tengah memantau dari segala arah. Sekitar 15 orang berhasil dia temukan.


Para musuh merupakan pasukan assasin milik Filgard. Seluruh assasin yang dikerahkan pada invasi kali ini berjumlah 62 orang, termasuk Filgard dan Rydman. 10 orang di antaranya adalah pasukan pengintai yang dipimpin langsung oleh Rydman, dan untuk 50 orang lainnya berpencar serta terbagi ke dalam tiga kelompok.


Assasin yang menjadi lawan Zordan saat ini adalah kelompok kedua. Kelompok pertama mengikuti Filgard, sedangkan untuk yang terakhir, mereka menembus langsung ke depan dan menunggu di luar gerbang desa di sisi lain.


“Jumlah mereka tiga kali lipat dari kita. Posisinya mengepung di segala penjuru.” Nhoeru melaporkan.


“Kau dapat mengenali rupa mereka?”


“Sayang sekali, kemampuanku tidak bisa melakukan hal tersebut, Tuan Zordan.”


“Tidak apa-apa, begini saja sudah cukup. Teruslah pantau keberadaan mereka!”


“Baik!”


Beberapa waktu berlalu, para assasin pun akhirnya memulai pergerakkan.


“Mereka bergerak. Bersiap memasuki pertempuran!”


“Jangan ragu, dan bunuh mereka semua!”


Ketika para assasin menyerbu, pertempuran pun langsung terjadi begitu saja.


“Tetap kuatkan pertahanan! Para assasin ini kuat dan tidak sedang bermain-main!”


...***...


Pertarungan 4 lawan 4 berlangsung cukup sengit di antara kedua kubu. Meski begitu, pasukan assasin pengintai tetap berhasil membabat habis pasukan pertahanan desa yang menjadi lawan mereka, dan hal tersebut bahkan membuat rombongan evakuasi terpecah belah.


Rydman pun turun tangan dan melibatkan diri ke dalam pertempuran. Dia merasa tidak puas hanya dengan menyaksikan dari kejauhan. Darah iblis di dalam tubuhnya itu meronta-ronta untuk memicunya melakukan aksi brutal.


Meski Rydman sendiri mengetahui jikalau lawan yang dihadapi lebih lemah dari dirinya, dia tetap melampiaskan rasa yang bergejolak tersebut. Dengan cara menerjang langsung pada rombongan evakuasi, dia lantas membantai habis seluruh pasukan pertahanan desa yang ditemui di depan.


Diikuti dengan para assasin pengintai yang juga melanjutkan tugas mereka menghabisi para pria Demi-Human, hingga menyisakan para wanita yang kemudian mereka tangkap dan disekap untuk dikumpulkan di satu tempat.


“Menyenangkan! Ini sangat menyenangkan!”


Rydman tertawa seperti orang kerasukan. Sosoknya saat ini benar-benar berbeda daripada Rydman yang diketahui oleh pasukan pengintai. Mereka justru baru saja mengetahui sisi gelap dari pemimpin pasukannya itu.


“Hey, itukah sosok asli dari iblis yang pernah Tuan Filgard bicarakan?”


“Ya, tidak salah lagi.”


“Iblis Elf. Tuan Filgard menyebutnya demikian.”


“Sungguh mengerikan. Tuan Rydman bahkan tidak memperdulikan targetnya hancur berkeping-keping.”


“Sebaiknya kita berfokus pada tugas kita. Lagi pula, wilayah ini sudah berhasil dibersihkan.”


“Ya, kau benar.”


Setelah berbincang dengan suasana yang cukup berat dan menegangkan, para assasin pengintai kembali menyelesaikan tugas mereka.


“Ah … di kesempatan selanjutnya, aku ingin melawan sosok atau pasukan yang lebih kuat lagi dari ini.” Rydman bergumam memberikan kesan tidak puas seraya menatap jauh ke arah langit.


...***...


“Kau masih ingin melanjutkannya?” Filgard bertanya pada Argha yang terkapar tidak berdaya di tanah.


“AkuーAku masih sanggup untuk bertarung!”


Meski dengan kondisi sudah tidak baik-baik saja, Argha masih berusaha menguatkan dirinya. Lalu Filgard berjalan mendekati Argha …


“Berhentilah berlagak kuat, anjing brengsek! Kau terlalu lemah. Seharusnya kau menuruti perkataanku dari awal!”


… kemudian dia menendang keras tubuh Argha hingga terpental cukup jauh.


Argha muntah darah. Seluruh tubuhnya mendapati banyak luka serius. Bahkan kemampuan regenerasi miliknya, tidak sanggup untuk mengimbangi kerusakan yang Filgard berikan.


“Menuruti perkataanmu, hahー” Semakin banyak darah yang Argha muntahkan. “Ja … jangan bercanda denganku, bajingan!”


“Kalau saja bukan karena aku ingin membawamu, kau pasti sudah mati dari tadi. Kau tahu, aku bahkan melawanmu dengan menekan sedikit kekuatanku. Merepotkan sekali!”


“Mengocehlah sepuasmu, bedebah! Kau pikir aku peduli?!”


“....”


Menyadari perbincangan ini hanya akan sia-sia, membuat Filgard memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan. Dia kemudian mendatangi Argha yang tampak semakin kacau.


“Aku akan bertanya lagi padamu, anjing kampung! Adakah salam terakhir sebelum kau tertidur untuk sementara waktu?”


Berdiri di hadapan Argha, Filgard menatapnya penuh hina. Sedangkan Argha tetap teguh dengan pendiriannya. Ancaman seperti apa pun, tetap tidak membuat dia goyah.


“Salamku adalah … kau akan mendengarnya sendiri di neraka!”


Argha mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk bangkit dan kembali menyerang Filgard. Dia sudah tidak peduli lagi dengan hal buruk yang mungkin terjadi pada dirinya, dan hanya ingin memastikan jikalau serangannya itu berhasil dilakukan.


“Naif sekali!”


Tentu tidak berpengaruh apa pun, serangan terakhir yang Argha lancarkan bahkan terlalu lambat. Filgard-lah yang justru balik menyerang, dan akhirnya melumpuhkan Argha seketika hingga tak sadarkan diri terkapar di tanah.


“Tidurlah dengan puas. Saat kau bangun nanti, kau sudah menjadi bagian dari pasukanku.”


Setelah bergumam, Filgard memastikan keadaan pasukannya yang lain di sekitar. Tentunya para assasin lebih mendominasi pertempuran, dan mereka semua jelas berhasil melumpuhkan seluruh pasukan pertahanan desa yang menjadi lawan mereka.


Kemenangan penuh diperoleh Mondlicht Dunkelheit. Yang tersisa kini hanyalah Zordan dan kelompoknya, beserta Verzha bersama pasukan keamanan desa yang tengah bersembunyi.


^^^To be continued ...^^^