
Seung Min memutuskan untuk menemani ibunya malam itu. Dia kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan semua pekerjaan. Seung Min membuka pintu kamar sang ibu. Terlihat tubuh Nyonya Park dalam posisi setengah duduk dengan kepala menghadap ke jendela.
"Ibu belum tidur?" tanya Seung Min ketika sampai di samping ranjang sang ibu.
Kini wajah nyonya Park memandang wajah Seung Min dengan tatapan sendu. Terlihat bulir air mata menetes. Jemari Seung Min mengusapnya.
"Apa ayah tidak menjenguk ibu?" Hati Seung Min terasa nyeri melihat ibunya yang masih berkubang dalam kesedihan.
Nyonya Park hanya menggeleng. Kondisinya begitu memprihatinkan, mulutnya kini terlihat tidak simetris akibat stroke ringan.
"A-a-ku ...." Ucapan Nyonya Park terbata-bata.
"Ibu butuh sesuatu?" Seung Min mengambil sebuah buku catatan dan pena dari dalam tasnya, kemudian ia sodorkan kepada sang ibu.
Jemari Nyonya Park mulai menari di atas kertas. Tangannya sedikit gemetar dan kesulitan memegang pena. Begitu gerakan menulisnya berhenti, Seung Min membaca tulisan sang ibu.
Aku minta maaf.
"Maaf untuk apa? Ibu tidak melakukan kesalahan apa pun." Seung Min tersenyum lembut kepada Nyonya Park.
Aku belum bisa membuat dirimu bahagia sebagai putraku.
Hati Seung Min begitu sakit setiap membaca tulisan ibunya. Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya. Dia menahan air mata agar tidak jatuh.
"Aku sudah bilang, Ibu adalah Ibu terbaik di dunia. Sekarang, Ibu harus segera sembuh. Setelahnya Aku akan menikah sesuai keinginanmu." Seung Min memaksakan senyumannya, perlahan tangan nyonya Park menyentuh wajah Seung Min.
"Aku akan memenuhi semua keinginan Ibu. Jadi cepatlah pulih." Kini Seung Min meraih jemari kurus sang ibu, dan Nyonya Park kembali menulis di atas kertas.
Janji?
"Ya, Aku akan berjanji," ucap Seung Min sambil mengangguk mantab.
Baiklah, coba ceritakan *gadis seperti apa yang bisa membua*tmu jatuh cinta.
"Namanya Lee Eun Mi. Dia gadis yang sangat sederhana. Kami tak sengaja bertemu, saat Aku hendak menghadiri rapat pemegang saham." Sebuah senyum terbit di bibir Seung Min ketika mengingat kembali awal pertemuannya dengan Eun Mi.
Apakah dia gadis yang cantik?
"Dia gadis yang sangat manis. Eun Mi berambut pendek, memiliki mata lebar yang indah di balik kacamata, hidung dan bibirnya mungil." Mata Seung Min berkilat ketika menceritakan semua hal yang berkaitan dengan kekasihnya itu.
Seperti ibu?
"Aigoo ... Ibu menghadapkanku pada pilihan yang sulit."
Nyonya Park tersenyum, dia yakin betul bahwa anak semata wayangnya sangat mencintai gadis bernama Eun Bi itu.
Dia di mana sekarang?
"Ibu ingat pernah mengajakku berlibur ke Asia Tenggara? Dia ada di salah satu negara yang pernah Kita kunjungi. Negara dengan banyak pulau."
Indonesia?
Seung Min mengangguk, kemudian menggenggam tangan ibunya. Dia memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya.
"Ibu, apa ... Kau merestuiku? Jika Aku menikah dengan Eun Mi.
Aku selalu merestui apa yang membuatmu bahagia. Tapi bagaimana dengan ayahmu?
"Aku akan berusaha keras meyakinkan ayah." Seung Min mengepalkan tangan penuh keyakinan.
Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis itu.
"Pasti. Ibu istirahatlah, ini sudah larut malam." Seung Min menyelimuti tubuh ibunya, dan tetap terjaga sampai dengkuran halus ibunya terdengar.
Setelah memastikan Nyonya Park tidur, Seung Min merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas sofa.
.
.
.
Keesokan harinya, Seung Min menemui Tuan Park. Saat hendak memasuki ruang keluarga, hatinya terasa begitu nyeri. Ayahnya terlihat begitu bahagia bersama ibu tirinya dan juga Chang Min. Kehangatan keluarga yang sama sekali tidak pernah ia dapatkan.
"Ehm ...." Deheman Seung Min, sontak membuat ketiga orang itu menatap ke arahnya. Ibu tirinya menghampiri dan mengajak untuk sarapan bersama.
"Seung Min, ayo sarapan! Ibu membuat nasi goreng kimchi." Ibu tiri Seung Min menarik lengannya, dan menyiapkan piring.
Walau berat, ia mencoba menghargai kebaikan ibu tirinya itu. Ya... Seung Min mengakui bahwa dia adalah perempuan yang baik. Nyonya Kim selalu memperlakukan Seung Min layaknya putra kandung. Sikap ibu tirinya itu benar-benar bertolak belakang dengan sang ayah. Tuan Park bahkan menganggap Seung Min bukanlah sosok yang penting dalam kehidupannya.
Setelah sarapan, Seung Min mencoba berbicara dengan ayahnya. Kali ini dia merendah, dan menurunkan egonya.
"Katakan," ucap Tuan Park dingin.
"Aku ingin menikah!" ucap Seung Min.
"Baguslah, Aku akan segera menghubungi keluarga besar Tuan Lee." Tuan Park tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Apa? Aku tidak akan menikahi Lee Eun Bi!" Sontak Seung Min beranjak dari kursi.
"Lalu?" Tuan Park memicingkan mata melihat tingkah putra pertamanya.
"Aku akan menikahi perempuan yang Aku cintai!" seru Seung Min.
"Kamu akan menikahi perempuan yang bahkan terus menghindarimu?" Tuan Park tersenyum miring.
"Ayah? Mengetahui hubunganku dengannya?" Mata Seung Min terbelalak ketika mendengar ucapan sang ayah.
"Seung Min, jangan bertindak sesuka hatimu! Atau Kamu akan menanggung akibatnya!" Tuan Park meninggalkan Seung Min yang masih mematung.
Seung Min mengumpulkan segenap kekuatannya untuk melawan ayahnya, kemudian berkata, "Bahkan Ayah tetap menikahi Nyonya Kim, karena dia orang yang Kau cintai, bukan?"
Mendengar ucapan Seung Min, Tuan Park berhenti. Seung Min melangkah maju mendekati ayahnya.
"Aku tahu, bagimu Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya biduk yang terus berjalan maju untukmu!" ucap Seung Min sambil mengeratkan rahangnya.
Sebuah tinju mendarat mulus di rahang tegas Seung Min. Lelaki tampan itu merasakan darah mengalir dari dalam mulutnya. Benar saja, satu giginya sampai patah karena tinju dari Tuan Park.
"Baiklah, Aku akan bertindak sesukaku, dan siap menanggung akibatnya!" Seung Min menyeringai, lalu melangkahkan kaki keluar rumah. Dia berjanji untuk segera membawa Eun Bi kembali ke Seoul dan menikahi kekasihnya itu.
Seung Min langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Hari itu perasaan lelaki itu sangat kacau, dan berimbas terhadap karyawannya.
Ketika jam makan siang, sebuah telepon membuat dunia Seung Min seakan runtuh. Dia mendapat kabar bahwa kondisi Nyonya Park menurun. Lelaki itu segera meminta Young Tae mengantar ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Seung Min bergegas menuju bangsal tempat ibunya dirawat. Begitu memasuki ruangan, kaki Seung Min lemas. Tubuh ibunya sudah terbujur kaku dan tertutup kain putih.
"Kami menemukan ini, saat memeriksa kondisi beliau terakhir kali." Seorang perawat menghampiri Seung Min dan menyerahkan sepucuk surat.
Young Tae memapah Seung Min, lalu mendudukkannya di sofa. Dia menyodorkan air putih, tapi Seung Min menolak untuk minum. Tangan Seung Min gemetar ketika membaca surat terakhir dari ibunya itu.
Seung min, Ibu tidak sanggup lagi. Hidup ibu terasa begitu berat. Ibu minta maaf. Tolong kabulkan permintaan terakhir ibu. Menikahlah dengan Eun Bi. Dia gadis yang baik. Aku menyayangimu.
Setelah membaca surat itu, hati Seung Min begitu hancur. Baru semalam ia berbagi cerita tentang Eun Mi, bahkan ibunya sudah merestui hubungan mereka. Namun, kenapa hari ini pesan terakhirnya berbeda? Bagaimana bisa Nyonya Park melakukan hal ini padanya?
Menurut keterangan dokter, ibunya mengonsumsi obat tidur dalam dosis besar. Nyonya Park diduga bunuh diri. Hati Seung Min begitu hancur, tapi air matanya sama sekali tidak keluar setetes pun. Tiba-tiba dunia Seung Min seperti berputar, ia kehilangan keseimbangan, dan jatuh pingsan.
***
Sejak kematian sang ibu, Seung Min bagaikan mayat hidup. Dia makin tak banyak bicara, dan terus mengikuti alur yang diciptakan ayahnya. Seminggu lagi, Seung Min akan menikah dengan Eun Bi. Dia ingin menolak, tapi tak bisa karena harus memenuhi keinginan terakhir sang ibu.
"Presdir, informan mengirimkan sebuah foto penting." Young Tae menyodorkan sebuah amplop coklat.
Seung Min menemukan kembali semangatnya, karena akan kembali melihat potret sang putri dan juga Eun Mi. Akan tetapi, semangat Seung Min kembali padam. Amplop coklat itu ternyata berisi dua lembar foto, yang memperlihatkan Eun Mi dan putri kecilnya sedang bersama dengan seorang pria.
"Siapa dia?" tanya Seung Min kepada Young Tae.
"Lelaki itu adalah Kim Ye Joon. Dia seorang guru di salah satu sekolah musik terkenal di sana." Young Tae sedikit menunduk ketika menjawab pertanyaan Seung Min.
"Apa hubungannya dengan Eun Mi?" Jemari Seung Min mengepal, menahan emosi yang bergejolak di dalam dada.
"Lelaki itu adalah ...."
.
.
.
Bersambung...
Semoga suka dengan ceritanyaaa...
BTW hari ini Chika ada rekomendasi Novel karya author kece Kak Libra.
Temen-temen wajib mampir yaaa ...
Di jamin ceritanya oke!
Ini dia Novelnya ...