
Suara deru mobil tertangkap oleh telinga Eun Mi pagi itu. Dia mengintip dari balik jendela. Sosok Ye Joon turun dari mobil, dan terlihat sedang merapikan rambut di depan kaca spion. Melihat tingkah sang kekasih, Eun Mi terkekeh.
"Dasar! Kamu itu selalu terlihat tampan!" bisik Eun Mi.
Ibu satu anak itu meraih tas yang sudah ia siapkan di atas meja rias, kemudian keluar dari kamar. Eun Mi menuruni satu per satu anak tangga sambil sedikit bersenandung. Bibi Jang sedang menggendong Yohan sambil memberi bayi kecil itu sebotol susu. Ye Joon yang melihat Eun Mi, langsung beranjak dari sofa.
"Aku pergi dulu, Bi. Titip Yohan, aku nanti akan menghubungi Seung Min untuk menjemput Min Ah." Eun Mi mencium pipi bulat Yohan yang sedang asyik menyedot botol susu.
"Baik, Nyonya Muda. Hati-hati di jalan."
Eun Mi tersenyum sekilas, kemudian menghampiri Ye Joo. dan menggandeng lengan lelaki itu. Keduanya melangkah keluar rumah dan masuk ke mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Eun Mi sambil memasang sabuk pengaman.
"Menemui salah seorang teman. Dia CEO Wedding Organizer. Kita bisa berkonsultasi dan menyewa jasanya untuk acara resepsi pernikahan," jelas Ye Joon.
Eun Mi hanya mengangguk berulang kali sambil tersenyum. Ye Joon mulai melajukan mobil untuk menemui teman yang ia maksud. Sepanjang perjalanan mereka sedikit berbincang mengenai konsep pernikahan idaman Eun Mi. Ye Joon tidak memiliki keinginan khusus. Baginya mewujudkan pernikahan impian Eun Mi sudah membuatnya senang.
Mobil Ye Joon berhenti di depan sebuah kedai kopi sederhana bergaya gothic. Dinding bangunan itu dicat dengan warna hitam pekat. Namun, saat Eun Mi membuka pintu kedai, matanya melebar. Interior kafe itu sangat kontras dengan tampilan bagian luar. Ruangan itu penuh warna pastel dengan beberapa ornamen unicorn.
"Bukankah konsep kafe ini unik?" tanya Ye Joon.
"Benar! Dari luar kafe ini terlihat sangat menyeramkan dan suram. Tapi semuanya benar-benar berbanding terbalik dengan isi yang ada di dalamnya. Terlihat ceria dan menyenangkan!" Eun Mi masih sibuk mengedarkan pandangan, mengagumi setiap sudut kedai itu.
"Ayo kita duduk di sana!" Ye Joon menunjuk sebuah meja yang dekat dengan jendela.
Ye Joon dan Eun Mi melangkah menuju meja tersebut. Ye Joon menarik kursi dan meminta Eun Mi duduk di atasnya. Perempuan itu tersenyum, kemudian mendaratkan bokongnya di atas bangku. Ye Joon kembali menarik kursi di samping Eun Mi dan mendudukinya.
Seorang pelayan perempuan menghampiri mereka dan menyodorkan daftar menu.Eun Mi dan Ye Joon meneliti deretan huruf yang tertera, kemudian menyebutkan pesanan mereka. Si pelayan mengangguk sopan kemudian beranjak pergi.
"Ah, itu dia datang!" seru Ye Joon ketika melihat ke arah pintu masuk. Eun Mi mengikuti arah pandang Ye Joon. Jantungnya seakan berhenti mengetahui siapa teman yang dimaksud Ye Joon.
Lelaki dengan pakaian kasual itu mendekat, kemudian mengerutkan dahi ketika melihat Eun Mi. Ia menunjuk Eun MI sambil berkata, "Lee Eun Mi?"
"Ye-Yesung ...."
"Apa kalian saling mengenal?" Ye Joon menatap Eun Mi dan Yesung secara bergantian.
"Oh, duduklah!" Ye Joon menunjuk bangku seberangnya dengan kelima jarinya, kemudian kembali duduk. Begitu juga dengan Eun Mi.
Yesung berjalan memutari meja, menarik kursi, kemudian mendudukinya. Pelayan kembali datang dan menyodorkan daftar menu kepada Yesung. Dia memesan secangkir Americano dan sepotong Red Velvet Cake. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu beranjak pergi.
"Jadi sudah menentukan konsep pernikahan nanti?" tanya Yesung.
"Eun Mi ingin resepsi pernikahan yang tidak dihadiri oleh banyak tamu. Jadi mungkin aku akan mengadakan resepsi di Pulau Jeju."
"Jeju, ya? Baiklah. Lalu untuk dekorasi atau semacamnya?" Yesung menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Nuansa putih. Aku ingin gate berhias bunga dan kain putih ditambah chandelier. Nuansa outdoor dengan tiupan angin sepoi-sepoi dan suasana akrab saat resepsi berlangsung." Mata Eun Mi menerawang, membayangkan konsep pernikahan impiannya yang sederhana.
Yesung tersenyum simpul. Baginya, Eun Mi tetaplah gadis polos seperti saat sekolah dulu. Perasaan nyeri tiba-tiba menghantam dadanya. Sebuah kesalahan yang sudah tidak bisa ia perbaiki, karena perempuan yang ada di hadapannya itu akan segera menikah.
"Ini pesanannya ...." Seorang pelayan membawakan semua pesanan mereka bertiga.
"Terima kasih." Eun Mi tersenyum lembut, diikuti anggukan si pelayan. Di kursi seberang, Yesung masih menatap lekat cinta pertamanya itu. Dia memalingkan wajah ketika sebuah deheman keluar dari bibir Ye Joon. Yesung menyesap kopinya kemudian mulai kembali berbicara.
"Sangat sederhana ya, konsep yang ingin kamu wujudkan? Kami bekerjasama dengan sebuah hotel bintang lima di sana. Aku rasa mereka memiliki venue outdoor yang cocok dengan konsep pernikahan kalian."
"Aku akan mengambilnya. Masalah biaya tidak perlu dikhawatirkan. Oya, sebagai catatan ... kami hanya akan mengundang seratus tamu. Jadi, kami harap hotel itu juga menyediakan pelayanan terbaik untuk tamu kami nantinya." Ye Joon tersenyum sekilas, kemudian menyandarkan tubuhnya pada badan kursi.
"Baiklah. Ada lagi?"
"Tidak. Kamu boleh pergi sekarang." Ye Joon melayangkan tatapan tidak suka ke arah Yesung. Tanpa ia sadari, rahangnya mengeras sehingga menimbulkan suara.
"Ya?" Yesung mengangkat alis karena bingung dengan perubahan sikap Ye Joon yang mendadak.
"Jika masih mau di sini, aku yang akan pergi!"
Bersambung ....
Mampir ke sini juga Yukkk... Karya lain Author yang sudah tamat.