My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Ajik



Satu tahun yang lalu ...


Sebuah godam besar memorak-porandakan kehidupan Eun Mi. Dia hamil di luar nikah, tetapi ragu untuk memberitahukan berita ini pada Seung Min. Eun Mi sadar diri, dan tak ingin mendapatkan cacian dari Tuan Park. Dia takut dituding sebagai benalu bagi kehidupan Seung Min.


Di sisi lain, merupakan hal yang keliru jika menyembunyikan kehamilannya dari Seung Min. Lelaki itu adalah ayah dari bayi yang sedang ia kandung. Namun, harga diri Eun Mi terlalu tinggi saat itu, sehingga dia memilih pergi.


“Tapi pergi ke mana?" Eun Mi terduduk di depan lemari yang masih terbuka lebar.


Eun Mi tidak memiliki seorang pun yang bisa memberi dukungan. Akan tetapi, sosok ayah yang sempat membuatnya frustrasi, kembali hadir dalam benak perempuan itu. Dia bergegas mengemasi barang di apartemen dan pergi meninggalkan Seoul.


Setelah melalui perjalanan berjam-jam di udara, Eun Mi sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai. Dia menghirup dalam-dalam udara Bali, dan menghembuskannya perlahan. Perempuan itu menarik kopernya keluar bandara, lalu membuka sebuah buku kecil dari tas selempang yang dipakai.


“Semoga ayah masih tinggal disini,” ucap Eun Mi sambil membaca ulang alamat yang tertulis.


Eun Mi memakai jasa taksi untuk mencapai rumah masa kecilnya. Ketika melewati sebuah taman budaya terkenal di Bali, ingatannya kembali ke masa lalu. Saat sang ayah libur, mereka akan menghabiskan akhir pekan di Garuda Wisnu Kencana. Akan tetapi, semuanya berubah karena Pak Wayan berubah menjadi sosok yang begitu kasar. Lelaki itu tiba-tiba sering merokok, mengkonsumsi alkohol, dan berakhir dengan sering memukuli ibunya.


Tak terasa taksi berwarna biru muda itu, sampai di sebuah rumah sederhana. Jantung Eun Mi berdebar kencang ketika turun dari taksi.


“Masih sama ...," gumam Eun Mi, kemudian mengambil napas dan menghembuskannya perlahan.


Rumah sederhana bercat putih itu, masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sedikit pun. Eun Mi menarik koper, lalu mendekati pagar rumah itu yang tidak dikunci. Hatinya berdebar semakin kencang saat sudah berada di depan pintu rumah sang ayah.


Tangan Eun Mi sedikit gemetar saat memencet bel. Satu menit, dua menit, dan di menit ketiga pintu terbuka. Perasaan lega menyeruak ke dalam hati Eun Mi.


"Ajik (ayah) ...." Eun Mi menatap lelaki di hadapannya sendu.


“Amy ...." Mata Pak Wayan melebar ketika mendapati putri kecilnya tiba-tiba datang berkunjung.


Kekesalan yang disimpan Eun Mi selama puluhan tahun, seketika sirna. Dia melihat sosok ayah yang dulu telah kembali. Namun, kini rambut Pak Wayan sudah mulai memutih, dan tertata rapi di balik udeng (ikat kepala khas Bali).


"Ma-masuk ... Ajik bawakan kopermu." Pak Wayan mengambil alih koper Eun Mi dari tangannya.


Eun Mi memasuki rumah yang sedikit banyak meninggalkan kenangan masa kecil. Pak Wayan menarik koper ke dalam kamar yang dulu ditempati Eun Mi, dan tak lama kembali menemui putrinya.


“Amy, mau minum apa?” tanya Pak Wayan.


“Air putih saja, Jik.” Eun Mi tersenyum lembut.


“Baiklah, Ajik ambilkan.” Pak Wayan berjalan ke arah dapur.


Ketika Pak Wayan berada di dapur, Eun Mi memperhatikan setiap sudut rumah. Semua masih sama seperti dulu. Di dinding ruang tamu, masih tergantung foto keluarga dengan figura kayu berwarna coklat tua. Tak lama kemudian Pak Wayan kembali dengan membawa air mineral dingin, dan meletakkannya di meja.


“Minum dulu, pasti kepanasan." Pak Wayan mendarat bokongnya di atas kursi.


“Terima kasih, Jik." Perlahan Eun Mi menengguk air mineral itu, untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


“Apa kabar?” tanya Pak Wayan.


“Baik. Ajik, apa kabar?" Wajah Pak Wayan yang bersahaja tersenyum.


“Ya ... beginilah. Setelah kalian kembali ke Korea, Ajik baru merasa menyesal." Kepala Pak Wayan tertunduk dalam, dan jemarinya saling bertaut.


Eun Mi terdiam, ia teringat seribu kebaikan ayahnya. "Jik, daripada sikap kasar Ajik dulu, masih lebih banyak kenangan baik yang tertanam dalam memoriku."


Wajah Pak Wayan berubah sendu. Dia menyesal pernah mengasari putri dan mantan istrinya. Hal itu karena Pak Wayan mengetahui bahwa Eun Mi bukanlah anak kandungnya.


“Kenapa sikap Ajik tiba-tiba berubah?” tanya Eun Mi.


“Apa ibumu tidak pernah menceritakan hal ini?" Pak Wayan menunduk lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar.


"Hal apa?" Eun Mi menautkan kedua alisnya, matanya menatap Pak Wayan menuntut penjelasan.


"Amy ... sebenarnya, Kamu bukanlah putriku. Ajik mengetahuinya, ketika Kamu mengalami kecelakaan saat kecil." Mata pak Wayan menerawang, mengingat-ingat kejadian menyakitkan di masa lalunya itu.


Mata Eun Mi terbelalak, dengan jemari menangkup di depan dada, dunia perempuan itu seakan berputar. Satu lagi kenyataan pahit yang harus diterimanya.


“Bekas luka di dahimu, masih ingat karena apa?” Pak Wayan menunjuk dahi Eun Mi yang terdapat bekas jahitan.


Sontak Eun Mi teringat kejadian saat dia masih berusia enam tahun. Eun Mi merupakan gadis tomboi yang begitu aktif. Jika anak perempuan lain suka bermain masak-masakan, lain halnya dengan Eun Mi yang suka bermain bola bersama teman laki-laki.


"Lalu ... Aku ini putri siapa?" Kedua bahu Yubi merosot, seakan ada batu besar yang menimpa punggungnya.


"Ibumu bahkan hanya terdiam saat Aku mencecarnya. Hal itu yang membuatku begitu frustrasi." Pak Wayan menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi.


Hati Eun Mi seakan remuk setelah mengetahui ibunya menyimpan rahasia besar hingga akhir hayat. Perlahan air mata Eun Mi meleleh, dan isak tangis mulai keluar dari bibirnya.


"Itu masa lalu, sekarang Ajik menyesal dan mengaku salah. Ibumu ... apa kabar?" tanya Pak Wayan sambil tersenyum tipis.


"I-ibu ... sudah meninggal, tak lama setelah Kami kembali ke Seoul,” ucap Eun Mi sambil mengusap air matanya.


"Aku ikut berduka. Bagaimanapun juga, Aku pernah mencintainya." Perasaan sedih menjalar di hati Pak Wayan.


Suasana mendadak hening, Pak Wayan mencoba membuka percakapan lagi.


“Ngomong-ngomong, ada yang bisa Ajik bantu? Sepertinya Kamu butuh tempat tinggal? Jika memang begitu, tinggallah di sini selama yang Kamu mau.” Pak Wayan menawarkan tempat tinggal sebelum Eun Mi meminta.


“Tapi ... Aku takut nantinya akan membuat Ajik malu," ucap Eun Mi sambil menunduk, jemarinya memilin ujung kaos yang dipakai.


“Apa maksudmu?" tanya Pak Wayan.


"Apa Ajik mau tetap menerimaku jika mengetahui keadaanku yang sekarang?" Eun Mi mendongak, menatap ayahnya.


"Pasti!" seru Pak Wayan mantab.


"Janji?" Eun Mi mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Pak Wayan, dan tanpa ragu lelaki itu menautkan jari kelingkingnya.


Perasaan Eun Mi sedikit lega. Dia tak bisa menerka bagaimana ekspresi wajah Pak Wayan nanti. Usai melepaskan tautan jarinya, perlahan perempuan itu mulai berbicara.


"A-aku hamil di luar nikah.” Wajah Eun Mi menunduk. Dia takut melihat wajah ayahnya saat ini.


"Apa! Lalu siapa ayah dari bayimu?" Sontak Pak Wayan bangkit dari kursinya.


“I-itu ... dia ...."


"Tolong, jangan meniru sikap ibumu yang tidak mau terus terang!” Pak Wayan memalingkan wajahnya.


Eun Mi akhirnya memberanikan diri memandang wajah sang ayah. Dari samping, tampak jelas gurat kekecewaan pada muka Pak Wayan.


“Di-dia putra dari pemilik stasiun televisi ternama di Seoul,” ucap Eun Mi.


“Apa lelaki itu sudah tahu mengenai kehamilanmu?” Pak Wayan menatap tajam ke arah Eun Mi.


Eun Mi menunduk, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.


“Apa alasanmu tidak memberitahukan hal ini kepada bajingan itu?" cecar Pak Wayan.


"Jik, dia bukan bajingan!" seru Eun Mi sambil melemparkan tatapan tajam ke arah ayahnya.


“Lalu, lelaki yang tidak bisa menjaga orang yang dicintai namanya apa!” seru Pak Wayan sambil tersenyum miring.


“I-itu ...." Keberanian Eun Mi kembali menciut, dia kembali menunduk.


“Sudahlah ... Kita bicara lagi nanti, sekarang istirahatlah." Pak Wayan beranjak meninggalkan Eun Mi yang masih mematung di ruang tamu.


Walaupun Eun Mi bukan putrinya, dia merasakan kekecewaan yang begitu besar. Bagaimanapun juga, nama Pak Wayan tercantum pada akta kelahiran putrinya. Ni Wayan Amy Shivakari adalah nama Eun Mi saat lahir. Setelah kembali ke Korea, dia menggunakan marga dari nama ibunya.


Meskipun di awal pertemuan, Pak Wayan kecewa karena kehamilan Eun Mi, tapi lelaki itu bersikeras agar sang putri tetap tinggal di sana.


.


.


.


Bersambung ...


Tolong katakan jika alur maju mundur cantik saya membuat kalian kebingungan ya😂😂😂