My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Cari Perkara



Langit malam terlihat begitu indah. Cahaya bintang berkelap-kelip layaknya lampu flip-flop pada pohon natal. Angin sepoi membelai rambut panjang Eun Mi, ketika sedang berjalan dari parkiran menuju sebuah toko dekorasi. Dia mengantar Min Ah untuk membeli beberapa backdrop untuk shooting kanal MyTube-nya.


Jemari keduanya saling bertautan saat memasuki toko. Eun Mi mengambil keranjang belanja, sedangkan Min Ah sudah berjalan menuju rak dengan deretan bermacam vas di atasnya. Min Ah begitu antusias malam itu. Dia berpindah dari rak satu ke rak lain dengan cepat layaknya kutu loncat.


Saat sedang memilih tirai dan beberapa ornamen lain untuk menghias studio, tanpa sengaja Eun Mi ditabrak oleh seseorang. Ketika menoleh, ternyata dia adalah Yesung.


"Maaf," ucap orang di depannya.


Suara bariton seorang laki-laki menyapa pendengaran Eun Mi. Dia mendongak untuk melihat wajah dari orang yang telah menabraknya.


"Ye-Yesung?" Mata Eun Mi terbelalak karena tidak menyangka bisa bertemu dengan lelaki itu di sana.


"Ah, halo. Sedang belanja apa?" tanya Yesung sambil melirik Min Ah yang sedang berdiri di samping Eun Mi.


"Ini, keperluan untuk membuat studio Min Ah. Dia berencana membuat kanal MyTube untuk menyalurkan hobi dan bakatnya.


"Hobi?" Yesung memiringkan kepala, dan alisnya saling bertautan satu sama lain.


"Dia berbakat dalam bermain piano. Namun, karena suatu hal dia harus keluar dari grup orkestra," jelas Eun Mi.


"Tunggu! Apa ini berhubungan dengan kejadian beberapa bulan lalu? Skandal tentang Presdir PSJ TV? Apa kalian orangnya?" cecar Yesung.


Melihat tingkah pria dewasa di depannya membuat Min Ah muak. Dia memutar bola mata sambil tersenyum miring. Gadis kecil itu melipat kedua lengan di depan dada.


"Paman, itu urusan pribadi kami! Anda cerewet sekali!" seru Min Ah.


"Ya?" Yesung menatap heran ke arah Min Ah. Dia tidak menyangka gadis sekecil Min Ah memiliki lidah yang begitu tajam.


"Ma-maafkan sikap Min Ah, Yesung! Kami pergi dulu! Semoga harimu menyenangkan!" Eun Mi membungkam mulut putrinya dengan telapak tangan. Min Ah yang tidak terima terus meronta. Eun Mi mengangguk kemudian menyeret putrinya menjauhi Yesung.


Setelah merasa cukup jauh dari jangkauan Yesung, Eun Mi melepaskan bekapan tangannya dari bibir Min Ah. Jemari lentik Eun Mi menyentil dahi lebar sang putri. Min Ah mengaduh sambil mengusap perlahan jidatnya untuk mengusir rasa sakit akibat ulah Eun Mi.


"Aigoo ... sungguh sopan sekali Anda wahai anak muda!" Eun Mi berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah sang putri.


"Kenapa, Ma? Apakah Anda keberatan?" tantang Min Ah.


"Mama tidak pernah mengajarkanmu bersikap seperti itu kepada orang yang lebih tua! Tolong jaga sikapmu!" Eun Mi menunjuk Min Ah dengan dagunya.


"Aku hanya sedang menyelamatkan Mama dari rasa tidak nyaman ketika bertemu dengan paman itu!" Min Ah mendengus kesal kemudian balik kanan. Dia mulai menyusuri koridor yang tercipta di antara rak-rak yang menjulang di samping kanan dan kiri.


"Dasar anak ini!" Eun Mi kembali mengekor di belakang Min Ah tanpa protes sedikit pun.


Sebenarnya apa yang dikatakan Min Ah memang benar. Dia sangat tidak nyaman ketika bertemu dengan Yesung. Selain hubungan masa lalu yang membuatnya tidak nyaman,Eun Mi ingin menghindari Yesung demi menghargai Ye Joon. Mereka sudah sepakat untuk menyerahkan semua acara pernikahan kepada Yesung. Misalkan lelaki itu meminta untuk bertemu, Ye Joon lah yang akan datang menemuinya.


***


"Jadi, masih bisakah Min Ah kembali ke grup ini?" Ye Joon tengah duduk di atas sofa di sebuah ruangan kerja bernuansa hitam putih milik Manajer Kim.


"Sebenarnya aku sangat berharap dia kembali ke grup ini. Tapi, masalahnya Min Ah sudah tidak berniat untuk kembali bergabung." Manajer Kim menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi.


"Aku akan coba membujuknya. Sayang sekali jika bakat Min Ah disia-siakan begitu saja."


"Baiklah. Segera hubungi aku jika Min Ah ingin kembali masuk ke dalam grup. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Manajer Kim tersenyum tipis, kemudian berjalan menghampiri Ye Joon.


"Baiklah. Aku pamit dulu, Hyung. Ada hal lain yang harus aku selesaikan." Ye Joon beranjak dari sofa kemudian menyalami Manajer Kim.


Ye Joon keluar dari ruangan itu. Beberapa karyawan dan juga anggota grup menunduk sopan kepadanya. Dia membalas mereka dengan senyum tipis dan anggukan kecil. Ye Joon meraih ponselnya karena ada sebuah panggilan masuk. Layar ponselnya berkedip dan menunjukkan deretan huruf yang membuatnya jengah.


"Sepertinya aku berubah pikiran!" ucap lelaki dari ujung telepon.


"Apa maksudmu!" Ye Joon menghentikan langkah. Urat sekitar matanya terlihat menonjol. Rahang Ye Joon pun mulai mengeras, ketika mendengar ucapan yang terlontar dari lawan bicara.


"Sudah? Sekarang giliranku bicara! Aku ...." Ye Joon mulai mengungkapkan setiap kekesalan yang ia pendam terhadap lawan bicara. Napasnya seakan hampir putus karena meluapkan semua kemarahan dan kekecewaannya. Setelah selesai, ia langsung mematikan sambungan telepon.


Langkah kaki Ye Joon yang beradu dengan lantai, terdengar seperti derap langkah prajurit yang hendak pergi berperang. Setelah sampai di parkiran, Ye Joon langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya kasar. Hati Ye Joon kembali terbakar karena mendapatkan pesan dari seseorang. Dia memukul roda kemudi, dan langsung melajukan mobil membelah jalanan Kota Seoul.


Bersambung ...