My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Pianis Cilik



Eun Mi yang panik, menyusuri seluruh ruangan di lantai satu. Mulai dari kamar mandi, area kolam renang, area gim, bahkan dapur sudah dia lalui, tapi hasilnya nol.


“Te Joon, bagaimana ini!” seru Eun Mi panik.


“Tenang. Min Ah tidak akan keluar dari rumah ini,” ucap Ye Joon menenangkan Eun Mi.


“Apa mungkin dia di ....“ Ye Joon memicingkan matanya.


Belum selesai dugaan Ye Joon, dari lantai dua terdengar dentingan piano. Dia dan Eun Mi saling menatap.


“Min Ah!” seru mereka bersamaan.


Keduanya langsung menaiki anak tangga untuk memastikan bahwa dentingan piano itu timbul karena ulah Min Ah. Saat sudah mencapai lantai atas, balita lucu itu sudah berdiri di depan piano dengan kursi sebagai pijakan. Eun Mi langsung berlari lalu meraih tubuh mungil putrinya. Di luar dugaan, Min Ah menangis sejadi-jadinya sambil terus menunjuk ke arah piano.


“Cup, Sayang. Min Ah mau main piano?” tanya Eun Mi sambil menimang putri kecilnya itu.


Air mata Min Ah bercucuran, ingus bening mulai keluar dari lubang hidungnya, dan puncak hidung bayi itu mulai memerah. Ye Joon mengambil alih tubuh mungil Min Ah lalu mengajaknya duduk di depan piano.


Ye Joon memangku balita itu, dan mulai menekan satu persatu tuts piano. Dia memainkan salah satu musik klasik ciptaan Ludwig Van Beethoven, Für Elise. Jika bayi lain akan mengantuk saat mendengar lagu ini, hal itu tidak berlaku untuk Min Ah.


Bayi yang belum genap dua tahun itu terlihat serius memperhatikan jemari Ye Joon yang sedang menari-nari di atas tuts piano. Sesekali Min Ah memandang wajah Ye Joon, kemudian tersenyum riang. Sejak hari itu, dia sering mengajak Min Ah bermain piano ketika sedang senggang.


Hari berganti, dan berlalu begitu cepat. Min Ah yang baru berumur tiga tahun mampu memainkan lagu 'Eine Kleine' karya Mozart.


“Eun Mi, putrimu calon pianis hebat. Sayang jika bakatnya tidak dikembangkan," ucap Ye Joo yang masih terpukau dengan permainan piano Min Ah spontan mengungkapkan apa yang dia pikirkan.


“Ye Joon, jujur Aku tidak paham mengenai musik dan segala ***** bengeknya, tapi Aku setuju denganmu, lalu apa yang harus kulakukan untuknya?” tanya Eun Mi.


“Cukup dukung Aku dan Min Ah. Aku yang akan memfasilitasi semuanya,” ucap Ye Joon mantap.


“Tapi nantinya Aku akan berhutang Budi padamu. Aku tidak mau," ucap Eun Mi sambil menunduk.


Ye Joon menyentil jidat Eun Mi sambil tersenyum, sehingga membuatnya mendongak lalu melayangkan tatapan tajam.


“Sakit!” Eun Mi mengusap bekas sentilan Ye Joon dengan telapak tangannya.


“Walau Aku hanya butuh dukungan, nantinya Aku akan meminta biaya les privat kepadamu. Ini tidaklah gratis!” kata Ye Joon.


“Tapi Aku tidak memiliki apa pun saat ini, bahkan tiap harinya Aku masih bergantung pada ajik,” ucap Eun Mi lesu.


“Tentu Kamu bisa membayarnya dengan hal lain,” ucap Ye Joon sambil menyunggingkan senyum yang terlihat licik.


Pikiran Eun Mi berkelana entah ke mana. Secara spontan dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Melihat kelakuan absurd Eun Mi membuat Ye Joon gemas, sehingga kembali menyentil jidat Eun Mi.


“Ya! Soo Hyun!” teriak Eun Mi.


“Cih, apa yang ada dalam pikiranmu! Kamu itu bukan tipeku!” ejek Ye Joon sambil tersenyum miring.


“Benarkah?” Eun Mi menarik kerah kemeja Ye Joon lalu menatap kedua bola matanya.


Ye Joon bisa mencium aroma persik dari tubuh Eun Mi. Lelaki itu hampir saja lepas kendali jika Min Ah tidak merengek.


“Mama, minum ...." Min Ah merengek sambil menarik ujung rok ibunya.


Sebuah senyuman kemenangan terbit di bibir seksi Eun Mi. Perlahan dia melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja Ye Joon. Kemudian Eun Mi merengkuh tubuh Min Ah dan mengajaknya menuju ke dapur. Di sisi lain, Ye Joon melepaskan karbon dioksida yang dia tahan karena ulah Eun Mi beberapa menit lalu.


.


.


.


Berkat bimbingan Ye Joon dan usaha keras Min Ah, akhirnya gadis kecil itu berhasil meraih prestasi yang luar biasa. Piala dan piagam penghargaan berjejer rapi di lemari ruang tamu milik Pak Wayan.


Suatu hari Min Ah dan kakeknya sedang asyik melihat Youtube. Keasyikan Min Ah terusik oleh iklan yang menampilkan sebuah grup orkestra sedang membawakan lagu ‘The Final Countdown'. Gadis kecil itu begitu terpukau melihat pertunjukan dari grup tersebut.


Setelah iklan selesai, Min Ah menyusul ibunya yang sedang sibuk menyiapkan makan siang.


“Mama, ayo lihat ini!” seru Min Ah sambil berusaha menunjukkan ponselnya kepada sang ibu.


“Sebentar ya, Sayang. Mama sedang sedikit sibuk. Kita bicarakan nanti.”


Eun Mi yang masih fokus dengan masakannya tidak menggubris perkataan Min Ah. Bocah berusia enam tahun itu terus merengek dan bersikeras ingin menunjukkan apa yang dia lihat.


Puncaknya, Min Ah menuju meja makan lalu menarik taplak meja. Hal itu membuat seluruh peralatan makan berserakan di lantai.


Dari arah ruang tamu Pak Wayan menghampiri putri dan cucu kesayangannya.


“Ada apa ini?” tanya Pak Wayan panik.


“A-aku hanya ingin menunjukkan ini ke Mama, tapi Mama tidak menanggapi!” ujar Min Ah kesal.


“Mama sedang sibuk, tolong mengertilah Min Ah,” ucap Eun Mi datar.


Sejak kejadian itu, Min Ah sama sekali tidak keluar kamar. Akhirnya sebagai ibu yang baik, Eun Mi menurunkan egonya. Dia mengetuk pintu kamar Min Ah dan mencoba berbicara dari hati ke hati dengan putri kesayangannya itu.


“Min Ah, Mama minta maaf. Mari kita bicara,” bujuk Eun Mi.


Perlahan pintu kamar Min Ah terbuka. Mata gadis kecil itu mengintip dari balik pintu, tapi dia masih enggan untuk keluar kamar. Min Ah keluar dari persembunyiannya, setelah Ye Joon terlihat di balik punggung ibunya.


Tubuh mungil Min Ah berhambur ke dalam pelukan Ye Joon. Lengan kecilnya bergelayut manja di leher lelaki yang dia anggap sebagai ayah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berbicara di balkon sambil menikmati senja.


“Min Ah, Mama benar-benar minta maaf karena tadi pagi membentakmu.”


Min Ah masih tidak bergeming. Dia sama sekali tidak menggubris ucapan ibunya. Setelah mendengar helaan napas Eun Mi, barulah Min Ah angkat bicara.


“Ma, Aku ingin masuk ke Seoul Harmonic Orchestra,” ucap Min Ah sambil menatap tajam ke arah ibunya.


“Seoul apa?” tanya Eun Mi.


“Ck, Mama selalu begitu jika Aku membicarakan tentang Seoul!” Min Ah kembali merajuk.


“Bu-bukannya begitu Sayang, kali ini Mama benar-benar tidak tahu apa yang sedang Kamu bicarakan,” ucap Eun Mi membela diri.


Min Ah kembali merajuk. Dia merasa sang ibu tidak peduli dengan keinginannya kali ini. Akhirnya, Ye Joon menjadi jembatan penghubung dua perempuan beda usia itu.


“Seoul Harmonic Orchestra, salah satu orkestra terkenal di Seoul. Aku rasa Min Ah ingin menjadi salah satu anggota grup orkestra itu,” jelas Ye Joon.


Min Ah yang masih ada di pangkuan Ye Joon mendongak, kemudian mengacungkan jempol tangannya kepada lelaki itu.


“Paman memang yang terbaik!” seru Min Ah.


“Seoul, ya? ucap Eun Mi.


Sejujurnya Eun Mi tidak ingin kembali ke Seoul. Dia takut jika keberadaan Min Ah diketahui oleh Tuan Park Seo Jin. Namun, melihat tekat besar putrinya itu, Eun Mi tidak bisa berkutik.


“Baiklah, bagaimana cara masuk menjadi anggota grup itu?” tanya Eun Mi.


“Dengan jalur prestasi, tes langsung dan tes wawancara.” Soo Hyun menunjukkan jari-jarinya sambil menjelaskan beberapa cara memasuki grup orkestra tersebut.


Eun Mi memandang putrinya dengan sedikit tatapan ragu. Dia tidak yakin putrinya itu bisa masuk ke dalam grup itu. Bukan meragukan kemampuannya, melainkan karena umur putrinya yang masih sangat belia. Dia takut putrinya itu tidak diperbolehkan masuk dengan alasan masih di bawah umur.


“Tapi umur Min Ah?” tanya Eun Mi


“Ehm, itu ...." Ye Joon mengusap dagu dengan jemarinya.


“Aku akan menanyakannya kepada seorang teman. Dia pasti tahu mengenai hal ini,” sambungnya.


Eun Mi menghela napas, dia tidak kehabisan ide untuk mempersulit putrinya. Paling tidak mengulur waktu agar Min Ah tidak lolos seleksi tahun ini. Sebuah ide brilian muncul di kepala Eun Mi.


“Baiklah, Mama setuju. Tapi dengan satu syarat,” ucap Eun Mi sambil mengacungkan jari telunjuknya.


Min Ah menatap ibunya dengan antusias. Begitu juga dengan Ye Joon yang ikut tegang bersiap mendengarkan persyaratan dari Eun Mi.


“Jika tahun ini gagal, Kamu baru boleh mencoba lagi setelah berusia 18 tahun!” ujar Eun Mi.


Senyum manis Min Ah mengembang, dia langsung masuk ke dalam pelukan ibunya. Berulang kali gadis kecil itu menghujani Eun Mi dengan ciuman.


“Terima kasih, Mama. Aku mencintaimu banyak sekali!” ucap Min Ah.


Melihat kemesraan kedua ibu dan anak itu membuat hati Ye Joon menghangat. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu Min Ah menggapai impian.


Berbulan-bulan Min Ah terus berlatih, dan akhirnya hari penentuannya tiba. Walau sedikit gugup, dia berhasil memainkan lagu yang dijadikan syarat seleksi untuk masuk menjadi anggota Seoul Harmonic Orchestra.


Saat tes wawancara, para juri dibuat kaget saat mengetahui kemampuan bicara gadis kecil itu, dan Min Ah lolos dengan skor tertinggi. Dia berhasil masuk menjadi anggota grup orkestra tersebut.


***


Bersambung...