
Young Tae memepercepat langkahnya menuju ruangan Seung Min. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai menggema, sepanjang koridor. Ketika sampai di depan pintu ruangan Seung Min, Young Tae mengetuknya kemudian masuk.
Begitu pintu terbuka, Young Tae melihat Seung Min sedang menatap sendu gumpalan awan di langit yang mulai berwarna jingga. Dia mulai melangkah mendekati meja kerja Seung Min. Lelaki itu menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, sebelum menyampaikan berita mengejutkan petang itu.
"Presdir, ada berita buruk," ucap Young Tae sambil menyodorkan sebuah tablet berukuran 10,5 inch kepada Seung Min.
Seung Min menoleh dan berjalan mendekat untuk meraih tablet itu. Di dalamnya, terpampang sebuah foto yang menampilkan Seung Min sedang duduk berdampingan dengan Eun Mi. Dia ingat betul, foto itu adalah hari dimana Eun Mi tiba-tiba menghilang. Usai menatap potret dirinya dengan Eun Mi, Seung Min mengalihkan pandangannya kepada Young Tae.
"Ada yang salah dengan foto itu?" tanya Seung Min dengan suara tenang.
"Fotonya tidak salah, Presdir, tapi hal ini akan menjadi masalah besar bagi stasiun TV." Young Tae menatap Seung Min dan mengambil kembali tabletnya.
Young Tae menggeser layar tablet, kemudian berdehem dan mulai membaca berita yang ia temukan sore itu.
"Park Seung Min, CEO dari sebuah stasiun televisi ternama, tertangkap kamera sedang bermesraan dengan seorang perempuan. Dia adalah mantan karyawannya, Lee Eun Mi. Beredar rumor, dari hasil hubungan gelap itu, mereka memiliki seorang putri bernama Lee Min Ah," tutur Young Tae kemudian menaikkan alis kanannya.
"Sial!" umpat Seung Min sambil menggebrak meja kerjanya.
"Saya akan mencoba menyelidiki siapa orang yang mengunggah berita ini, Presdir. Saya permisi." Young Tae menunduk, lalu keluar dari ruangan Seung Min.
"Berita sialan itu! Kenapa harus mengekspos nama Eun Mi dan Min Ah! Aku tidak peduli tentang reputasi stasiun televisi. Tapi jika mereka menyebut nama Eun Mi dan putriku, aku tidak akan melepaskan mereka!" Seung Min mengeratkan rahang, sehingga menampilkan urat lehernya yang hijau kebiruan.
.
.
.
Di waktu yang sama, Eun Bi juga dikejutkan dengan berita di sebuah portal berita online. Kabar itu menampilkan potret Seung Min sedang bersama dengan seorang perempuan, yang ia yakini adalah Eun Mi. Hati Eun Bi kembali tergoncang melihat berita tersebut.
Saat Eun Bi sudah mulai bersikap acuh mengenai hubungan Seung Min dan Eun Mi, justru pihak lain membongkar rahasia itu. Namun, kali ini yang ada dipikirannya adalah Eun Mi. Dia takut adiknya depresi setelah melihat berita tersebut.
Eun Bi mencoba menghubungi Eun Mi berulang kali, tetapi hasilnya nihil. Panggilannya sama sekali tidak dijawab oleh Eun Mi. Kemudian, Eun Bi mencoba menghubungi Ye Joon untuk memastikan keadaan adiknya.
"Halo, Ye Joon. Bagaimana keadaan Eun Mi sekarang?" tanya Eun Bi melalui sambungan telepon.
" ... "
"Sebisa mungkin jangan biarkan dia keluar sementara waktu."
" ... "
"Baiklah, terima kasih." Eun Bi mematikan sambungan telepon, lalu duduk di sofa.
Eun Bi sedikit lega mengetahui Eun Mi masih baik-baik saja. Dia takut hati dan jiwa Eun Mi tergoncang, mengingat saudarinya itu memiliki hati yang lemah. Eun Bi mengembuskan napas kasar kemudian meraih kunci mobil. Dia berniat untuk meminta salah seorang teman untuk melacak pelaku penyebaran foto tersebut.
.
.
.
Ye Joon yang melihat Eun Mi cemas, mencoba untuk menenangkannya. Terlebih lagi Eun Bi sudah berpesan untuk menjaga Eun Mi sampai berita itu mereda.
"Tenanglah, Kita akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Aku sudah menghubungi seorang teman untuk mengetahui pelaku penyebaran berita itu." Ye Joon menyadarkan tubuhnya pada dinding sembari melipat tangan di depan dada.
"Bagaimana bisa tenang? Coba posisikan dirimu menjadi Aku!" teriak Eun Mi.
"Ma, benar kata Paman Ye Joon. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja, dan kembali seperti semula dalam waktu singkat," ucap Min Ah.
Gadis kecil itu memang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ibunya saat menghadapi masalah. Min Ah justru bersikap lebih tenang saat menemui hambatan dalam hidup. Hal itu membuat Ye Joon sampai terheran-heran.
"Aku sudah menghubungi temanku. Dia bilang tiga puluh menit lagi akan mengetahui siapa pelakunya," ucap Ye Joon.
"Baiklah, semoga berita ini segera teratasi. Min Ah, ayo kita berangkat latihan. Pekan depan bukankah Kamu tampil di Kyoto?"
"Ah, biar Aku saja yang mengantar Min Ah." Ye Joon beranjak dari sofa, kemudian menggandeng tangan Min Ah.
"Ye Joon, Aku tidak bisa terus berada di dalam rumah. Aku ingin melihat Min Ah berlatih untuk sedikit meredakan stres," ucap Eun Mi.
"Baiklah, bersiap-siaplah. Aku akan menunggumu di mobil."
Eun Mi mulai melangkah menuju kamar, sedangkan Ye Joon dan Min Ah keluar rumah, dan menunggunya di mobil.
.
.
.
Bersambung...
Siang semuanyaa...
Terima kasih ya, masih setia dengan karya receh saya ini 🤗🤗🤗
Sambil nunggu LIG up, mampir yukk ke karya salah satu teman author Chika. Jangan lupa beri dukungan kepada Author dengan memberi Like dan komentar positif yaa ...
Sayang Kaliaaannnn 😘😘😘