My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Momen Langka



Eun Mi berjalan menghampiri Ye Joon. Saat hendak duduk di samping Ye Joon, Eun Mi tersandung kaki meja. Tubuh perempuan itu terjungkal, dan mendarat mulus di atas dada bidang Ye Joon.


"Maaf ...." Eun Mi berusaha bangkit. Namun, lengan kekar Ye Joon menahan pinggang ramping Eun Mi.


"Bolehkah aku meminta hidangan penutup?"


"Ya?" Eun Mi menautkan alisnya karena tidak paham dengan maksud Ye Joon.


Ye Joon menarik tengkuk Eun Mi, sehingga wajah keduanya kini berdekatan. Hembusan napas Eun Mi menyapu permukaan kulit Ye Joon. Otak Eun Mi seakan membeku. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat itu.


"Aku selalu menyukai aroma tubuhmu. Bunga persik." Ye Joon tersenyum lembut kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Eun Mi.


Mata Eun Mi terbelalak. Dia terkejut tetapi enggan untuk menghindar. Ye Joon mulai menggigit perlahan bibir Eun Mi. Tanpa sadar Eun Mi membuka mulut untuk memberi akses. Ye Joon semakin brutal, begitu juga dengan Eun Mi. Ciuman keduanya semakin panas dan saling menuntut.


Napas keduanya saling bercampur. Mata mereka terpejam menikmati sentuhan satu sama lain. Sekarang ciuman Ye Joon turun ke leher putih milik Eun Mi, dan meninggalkan jejak merah keunguan di sana. Sebuah lenguhan lolos dari bibir Eun Mi. Hal itu membuat Ye Joon semakin bersemangat melancarkan aksinya. Namun, tiba-tiba melepaskan ciumannya.


Eun Mi menghirup oksigen dengan rakus untuk mengisi paru-paru. Kemudian dia bangkit dari atas tubuh Ye Joon. Lelaki itu sekarang duduk dengan wajah yang ia tenggelamkan dalam telapak tangannya. Eun Mi memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang merona.


"A-aku harus pulang sekarang!" Ye Joon sontak berdiri.


Eun Mi mendongak, menatap Ye Joon, kemudian berdiri. "Ba-baiklah. Aku antar sampai depan!"


"Tidak usah! Jika kamu mengantar lagi, aku malah enggan untuk segera pergi dari sini." Ye Joon mengusap tengkuk kemudian tersenyum miring.


Kepala Eun Mi tertunduk malu. Dia memilin ujung kaosnya, dan kembali mendongak saat Ye Joon mengulurkan tangan.


"Aku pulang dulu," pamit Ye Joon.


"I-iya, hati-hati di jalan." Eun Mi tersenyum k


sambil menyambut uluran tangan Ye Joon, menyalaminya sesaat, kemudian kembali melepaskannya.


Perempuan itu menatap punggung Ye Joon hingga menghilang di balik pintu. Setelah memastikan Ye Joon keluar, diam-diam Eun Mi mengintip di balik tirai jendela. Di luar rumah, Ye Joon melonjak kegirangan sembari meninju udara. Melihat tingkah laki-laki itu, Eun Mi terkekeh.


Sejujurnya, sebuah perasaan asing menelusup di hati Eun Mi. Orang-orang biasa menyebutnya cinta. Perempuan itu mulai melangkah masuk kedalam kamar. Dia merebahkan tubuh di atas ranjang. Sesaat kemudian sebuah senyum lebar terukir di bibir Eun Mi. Pipinya terasa panas, dan dadanya berdegup begitu kencang ketika teringat kejadian beberapa menit lalu.


Sebuah peristiwa langka juga terjadi di kediaman Seung Min dan Eun Bi. Pria itu sedang bersandar pada kepala ranjang. Tangan kanannya dipakai Eun Bi untuk alas kepala, sedangkan tangan kiri Seung Min mengusap lembut puncak kepalanya. Dia tersenyum kecut teringat kejadian beberapa jam yang lalu.


***


Hujan deras mengguyur kota Seoul. Tak terkecuali rumah Seung Min. Lelaki itu sedang menatap jalanan dari jendela kamarnya. Air hujan turun lebat hingga membatasi jarak pandang. Angin bertiup dengan kencang hingga pepohonan di pekarangan rumah bergoyang hebat. Suara petir menyambar langit malam itu.


Lamunan Seung Min terjeda karena suara ketukan pintu. Dia mendengus kesal dan melangkah menuju pintu. Ketika pintu terbuka, Eun Bi sudah berdiri di sana sambil membawa boneka beruang besar berwarna coklat.


"Ada apa?" Seung Min mengerutkan dahi.


"Aku tiba-tiba ingin makan kue beras." Bibir Eun Bi melengkung ke bawah dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Baiklah, aku akan memesankannya." Seung Min balik badan.


"Tidak Mau!" teriak Eun Bi.


Langkah Seung Min terhenti. Dia balik kanan, kemudian menatap tajam ke arah Eun Bi. Lelaki itu melipat lengannya di depan dada.


"Astaga! Kamu tidak lihat di luar sedang hujan badai, angin ribut, halilintar?" Seung Min menunjuk ke arah jendela dengan posisi tirai yang masih terbuka.


"Tapi, aku mau makan kue beras sekarang juga." Mata Eun Bi mulai berkaca-kaca.


Seakan ada batu besar yang menghalangi tengorokan Eun Bi. Dadanya juga terasa sesak. Dia ingin sekali menangis karena Seung Min membentaknya. Melihat ekspresi sang istri, Seung Min mengusap wajahnya kasar.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Katakan!" bentak Seung Min.


Mendengarkan ucapan kasar suaminya, Eun Bi menangis. Tubuh perempuan itu kini merosot sampai duduk di atas lantai. Dia membenamkan wajah pada perut boneka beruang.


"Eh? Kok malah nangis?" Mata Seung Min melebar. Lelaki itu mendekati Eun Bi kemudian menarik lengan atasnya agar mau berdiri.


Merasakan tarikan pada lengan atasnya, Eun Bi berontak. Dia mendongak memperlihatkan wajahnya yang sudah basah karena air mata.


"Aku hanya minta kue beras! Kenapa kamu membentakku? Apa aku salah?" Eun Bi berbicara di sela osak tangis.


"Aduh ... permintaanmu itu tidak salah! Tapi waktunya saja yang tidak tepat!" seru Seung Min.


"Pokoknya aku mau kue beras sekarang! Kamu bisa 'kan mengendarai mobil untuk membelikannya untukku!" teriak Eun Bi dalam tangis.


"Kemarilah! Kuperlihatkan situasinya sekarang ini! Aku menolak bukan tanpa alasan!" Seung Min menarik lengan Eun Bi dan mengajaknya ke arah jendela kamar.


"Lihat! Di luar sedang hujan badai!" Seung Min menunjuk ke arah luar sambil menatap tajam Eun Bi.


"Mana hujan badai yang kamu katakan?" ucap Eun Bi sambil mengusap air mata.


"Ya?" Seung Min menoleh ke arah jendela. "Ta-tapi tadi ...." Wajah Seung Min terlihat kebingunan karena hujan badai beberapa menit yang lalu sudah mulai reda. Hanya tersisa tetesan air kecil yang turun dari langit.


"Kamu mencoba membohongiku? Katakan saja kalau kamu malas menuruti keinginanku!" Eun Bi kembali merajuk. Bibirnya melengkung ke bawah dan mata perempuan itu kembali berkaca-kaca.


"Astaga! Baik! Diamlah! Aku akan membelikannya untukmu!" teriak Seung Min. Dia meraih kunci mobil di atas nakas, dan keluar untuk memenuhi keinginan Eun Bi.


Satu jam berlalu, Seung Min sudah kembali ke rumah dengan satu porsi kue beras dalam genggaman. Dia meneriakkan nama Eun Bi berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Seung Min naik ke lantai atas. Diketuknya pintu kamar Eun Bi, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan perempuan itu.


"Jangan-jangan ...." Mata Seung Min melebar. Dia bergegas menuju kamarnya.


Ketika membuka pintu kamar, sebuah pemandangan langka menyapa penglihatan Seung Min. Eun Bi sudah bergelung dalam selimut sambil memeluk boneka beruang coklat. Hal itu membuat hati Seung Min terasa damai.


Perlahan tapi pasti, Seung Min mendekati ranjang. Dia mencoba membangunkan Eun Bi dengan menggoyangkan lengannya beberapa kali. Namun, Eun Bi hanya menggeliat. Akhirnya, Seung Min memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di samping Eun Bi.


***


Bersambung ...


Hai semuaaaa....


Mampir yukk ke karya salah satu teman author Chika, Adam dan Hawa karya kak Lavinka. Jangan lupa tap ❤️ dan tinggalkan jejak dengan memberi Like dan komen yaaa setelah baca😘