My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Rindu



“Seung Min ... Seung Min ...” Suara lembut Nyonya Park membawa pikiran Seung Min kembali ke badannya.


Mata Nyonya Park mulai menitikkan air mata. Seung Min mendekati ibunya, kemudian mengusap air mata sang ibu dengan ujung jemari.


“Ibu ... kenapa?” Seung Min membingkai wajah ibunya dengan kedua telapak tangan.


“Maafkan Ibu, Nak. Belum bisa menjadi Ibu yang terbaik untukmu.” Nyonya Park menatap sendu putranya.


"Stttt ... Ibu adalah ibu terbaik di dunia ini.” Seung Min memeluk Nyonya Park penuh kasih sayang.


“Ibu tahu, menikah tanpa cinta bisa menjadi neraka. Namun, bukankah tidak ada salahnya mencoba?” ucap Nyonya Park.


Seung Min tahu jelas bagaimana perasaan Nyonya Park saat ini. Ibu Seung Min dan ayahnya dulu juga dijodohkan. Hal itu membuat sang ayah sangat membenci ibunya. Jika bukan karena ketamakan Tuan Park untuk mendapatkan hak milik perusahaan, mungkin Seung Min tidak akan pernah lahir di dunia ini.


Tuan Park So Jin memperlakukan Seung Min seperti orang lain. Walau dia memberikan segalanya, Seung Min tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Tuan Park. Bahkan setelah menikahi Ibu Seung Min, dia juga menikahi kekasihnya. Dari pernikahan keduanya itu, Tuan Park memiliki seorang putra yang diberi nama Park Chang Min.


“Ibu, beri Aku waktu satu bulan untuk mencari seseorang. Jika tidak berhasil, Aku akan menikah dengan Eun Bi.” Pinta Seung Min


“Apakah kamu mencintai seseorang?” Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Nyonya Park.


Seung Min menunduk lesu. Dia mengambil oksigen dengan rakus, lalu menghembuskannya kasar. “Bukan hanya seorang Bu, tapi dua orang.”


“Seung Min! Apa maksudmu?” seru nyonya Park kebingungan.


“Aku memiliki seseorang yang sangat kucintai, dan darinya Aku juga memiliki anak.” Seung Min menatap sendu wajah ibunya.


“Apa? Seung Min ... Kau!” Mata Nyonya Park terbelalak, dia memegangi dada yang mendadak sesak.


“Maaf, Aku telah membuat Ibu kecewa, tapi inilah kenyataannya,” ucap Seung Min.


Tubuh Nyonya Park terhuyung, tetapi Seung Min dengan sigap menopang tubuh ibu yang sangat dicintainya itu.


“Ibu ... Ibu ... bangun!” Seung Min berulang kali menggoyangkan tubuh sang ibu, berharap kesadarannya kembali.


Begitu usahanya membangunkan sang ibu gagal, Seung Min langsung menggendong Nyonya Park keluar kantor. Young Tae yang berada di luar ikut panik.


“Apa yang terjadi Presdir?” tanya Young Tae sambil mengekor di belakang bosnya itu.


“Tolong segera panggil ambulans, Aku ingin ibu segera mendapat penanganan!”


“Baik!”


Young Tae segera menelepon pihak rumah sakit untuk mendapat ambulans secepat mungkin. Sementara Seung Min menuju ke basemen menggunakan lift VVIP agar karyawan lain tidak mengetahui kondisi ibunya.


Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di Seoul National University Hospital. Seung Min menyerahkan segalanya pada tim medis. Dia dan Young Tae menunggu dengan perasaan waswas. Seung Min menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangan, sedangkan Young Tae terlihat sibuk dengan beberapa panggilan dari kerabat dan kolega.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit, seorang dokter wanita menghampiri Seung Min. “Tuan, apakah Anda keluarga nyonya Park?”


“Iya. Bagaimana kondisi ibu saya?” tanya Seung Min.


“Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Nyonya Park diduga mengalami serangan jantung,” kata sang dokter.


“Kemungkinan setelah ini nyonya Park akan mengalami gejala stroke ringan. Tolong perhatikan kondisi Nyonya selama masa pemulihan.”


“Baik. Terima kasih.” Seung Min mengangguk.


Perempuan dengan snelli itu berlalu, diikuti oleh dua orang perawat yang membawa ibu Seung Min untuk dipindahkan ke bangsal.


.


.


.


“Presdir, Nona Eun Bi sedang menuju kemari,” ucap Young Tae sambil sedikit menundukkan kepala.


“Pastikan dia tidak membuat keributan.”


“Baik Presdir.” Young Tae keluar dari bangsal untuk melanjutkan beberapa tugasnya yang tertunda.


Suara ketukan pintu membuat Seung Min menoleh. Perlahan portal penghubung bangsal dan koridor rumah sakit itu terbuka. Terlihat sosok tinggi semampai Eun Bi memasuki ruangan. Gadis itu menghampiri Seung Min.


“Seung Min, apa yang terjadi?” Eun Bi menatap nanar ke arah Nyonya Park.


“Bukan urusanmu! Diamlah!” seru Seung Min dengan suara sedingin salju.


Eun Bi hanya menghela napas, karena sudah terbiasa dengan sikap Seung Min yang dingin dan tidak bersahabat. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Dulu Seung Min merupakan salah seorang siswa terbaik di School of Performing Arts Seoul. Seung Min sebenarnya memiliki bakat di bidang seni. Namum, impiannya untuk menjadi seorang pianis pupus karena harus meneruskan kepemimpinan Tuan Park.


“Jika Kamu ada urusan lain, Aku bisa menjaga bibi sementara waktu.” Eun Bi memegang bahu Seung Min, namun ditepis kasar oleh lelaki itu.


Seung Min masih tidak merespons. Dia hanya terus memandang wajah pucat Nyonya Park sambil menggenggam tangannya. Ketika sebuah panggilan masuk, Seung Min mengangkat telepon itu secepat kilat.


“Halo, Presdir. Saya sudah mengetahui keberadaannya.” Sebuah kalimat ajaib meluncur dari bibir Young Tae.


Mata Seung Min terbelalak, dia menyimak setiap kata yang diucapkan Young Tae. Setelah sambungan telepon terputus, Seung Min bangkit dari kursinya lalu bergegas keluar. Eun Bi yang melihatnya hanya bengong tanpa bisa mencegah.


Dalam sekejap kini Seung Min sudah kembali lagi ke kantornya. Dia memandangi beberapa lembar foto di atas meja. Seorang bayi mungil sedang dalam dekapan ibunya. Ya ... Seung Min sedang memandangi potret Eun Mi bersama putrinya.


Tak tetasa air mata Seung Min menetes. Dia mengelus foto kedua orang yang sangat dirindukannya.


“Presdir, bagaimana rencana selanjutnya?” tanya Young Tae.


“Sementara ini, tetap awasi mereka. Tolong pastikan mereka baik-baik saja.” Mata Seung Min tak lepas dari foto yang berada dalam genggamannya.


“Baik Presdir.” Young Tae meninggalkan Seung Min yang sedang menikmati kerinduannya.


“Maaf, Aku baru bisa menemukan kalian. Pasti hari-hari kalian begitu berat,” ucap Seung Min lirih.


***


Di belahan bumi lain, seorang wanita berkulit putih sedang termenung menikmati hujan. Lamunannya terhenti karena suara tangisan bayi kecil. Ia menuju kamar berukuran empat meter persegi, tempat putri kecilnya biasa tidur. Eun Mi melangkah secepat mungkin untuk menenangkan putrinya.


“Halo, putri Ibu sudah bangun? Haus ya, Nak?” Eun Mi meraih tubuh mungil putrinya dari dalam boks.


Seakan mengerti ucapan sang ibu, bayi berusia enam bulan itu mengedipkan mata. Hidung dan pipinya merah karena menangis.


“Baiklah. Sini, minum dulu ....” Eun Mi memangku peri kecil itu dan mulai menyusuinya. Mata mereka beradu. Bayi mungil itu menatap ke arah ibunya sambil sesekali tersenyum.


“Tuhan sungguh tidak adil pada Ibu. Kenapa dilihat dari sisi mana pun, Kamu sangat mirip dengan ayahmu!” gerutu Yubi sambil membelai lembut pipi putrinya.


“Lihat, cucu kakek menggemaskan sekali. Amy, hari ini jadi ke acara pernikahan temanmu?” tanya seorang laki-laki berusia 60-an.


“Jadi, Ye Joon sedang di jalan. Sebentar lagi sampai kok.” Eun Mi melemparkan senyum manisnya pada sang ayah.


“Baiklah, jika Min Ah kenyang berikan padaku. Kau segera bersiap-siap, ya?” Ayah Eun Mi keluar kamar.


“Iya, terima kasih, Jik.”


Setelah Min Ah selesai menyusu, Eun Mi langsung memberikannya kepada sang ayah. Dia bergegas berganti pakaian. Perempuan itu mengenakan kebaya khas Bali, lengkap dengan rok batik span, dan selendang yang melilit di perut rampingnya. Tak lupa Eun Mi memakai mekap tipis pada wajahnya, serta menata rambut sesederhana mungkin


“Ye Joon sudah datang. Cepat keluar!” teriak Pak Wayan dari balik pintu.


“Baik, Jik!" Eun Mi keluar kamar, dan mengambil alih tubuh Min Ah dari Pak Wayan.


Sekarang Min Ah sudah berpindah tangan. Bayi cantik itu sedang sibuk menggigit jemari mungilnya. Tak elak air liur menghiasi area bibir Min Ah.


“Uhhh, gatal ya, gusinya? Mau tumbuh gigi?” ucap Eun Mi.


Mendengar ucapan Eun Mi, bayi menggemaskan itu tertawa. Melihat putrinya tumbuh sehat, ingatan Eun Mi kembali ke masa tersulitnya. Masa di mana, dia memilih menghindar, dan menyerah sebelum berjuang.


.


.


.


Bersambung...