
Min Ah melangkah ringan menuju tempat diadakannya Orkestra Musik Festival. Jemari mungil gadis itu digandeng oleh Eun Bi. Sebuah senandung lirih keluar dari bibir mungil Min Ah.
Di saat yang bersamaan, sebuah panggilan masuk ke ponsel Eun Bi. Dia menggeser tombol hijau ke atas untuk menerima telepon. Ia berbicara dengan Manajer Kim, sambil terus berjalan beriringan bersama Min Ah.
"Ya, halo ... Manajer." Eun Bi terus fokus dengan panggilannya, hingga tidak sadar tautan jemari Min Ah terlepas.
Setelah berbincang selama sepuluh menit, Eun Bi mengakhiri panggilan, dan memasukkan ponselnya ke dalam pouch. Sedetik kemudian, dia baru sadar jika Min Ah sudah tidak berada di sampingnya. Mata Eun Bi mulai mencari keberadaan Min Ah. Namun, lorong tempat ia berjalan begitu sunyi. Jantungnya berdetak lebih kencang, dan kepalanya berdenyut keras.
"Astaga, setengah jam lagi acara dimulai." Eun Bi melirik arloji yang melingkari tangannya.
Eun Bi mulai menyusuri kembali lorong yang tadi dilewati, berharap menemukan Min Ah di ujung jalan. Perempuan itu terus berteriak memanggil nama Min Ah, tetapi tak ada sahutan darinya. Dia terus berjalan, hingga mencapai pintu masuk gedung. Eun Bi juga bertanya kepada setiap orang yang ia temui, tetapi hasilnya nihil.
"Min Ah! Kamu di mana? Min Ah! Tolong, jangan bercanda!" Eun Bi mulai panik karena sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari gadis kecil itu.
Eun Bi yang tak tahu lagi harus berbuat apa, mencoba menghubungi Ye Joon. Ia berharap, sekarang Min Ah sudah bersama dengan lelaki itu.
"Halo, Ye Joon, Min Ah ... a-apa sudah berada di belakang orkestra pit?" Mata Eun Bi mulai mengembun.
" ... "
"Ti-tidak! Dia menghilang!"
" ... "
"A-aku juga tidak tahu! Tadi Aku sedang menerima telepon dari Manajer Kim, tapi setelah panggilan selesai, dia sudah tidak ada di sampingku!"
" ... "
"Aku ada di lorong menuju tempat acara." Eun Bi mematikan sambungan telepon, dan mulai berjalan mondar-mandir.
Air matanya mulai menetes, bibir Eun Bi pun gemetar, dan dia menggigit kuku jempol karena khawatir. Berbagai pikiran buruk hinggap dalam benaknya. Dia kembali masuk ke lorong dan terus meneriakkan nama Min Ah.
Tak lama kemudian, derap langkah menggema memenuhi lorong yang mulai sepi itu. Ye Joon berlari menghampiri Eun Bi. Dadanya naik turun ketika sampai di hadapan Eun Bi.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Ye Joon sambil berusaha mengatur napasnya.
"A-aku juga tidak tahu! Tiba-tiba saja Min Ah menghilang!" Mata Eun Bi kini berlinang air mata.
Ye Joon memeluk perempuan itu, sambil mengusap punggungnya perlahan. Dia berusaha menenangkan Eun Bi. Setelah tangis Eun Bi reda, Ye Joon menghubungi Manajer Kim.
"Halo, Manajer, bisa hubungi panitia untuk sedikit mengulur waktu?"
" ... "
"Min Ah, salah satu pianis Kita tiba-tiba menghilang," ucap Ye Joon sambil mengusap kasar wajahnya.
" ... "
"Aku ada di lorong pintu back stage."
" ... "
"Baik." Ye Joon mematikan ponsel, kemudian memasukkannya ke dalam saku celana.
"Maafkan Aku, karena sudah teledor," ucap Eun Bi sambil terus mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Sudahlah, ini bukan salahmu. Kita cari Min Ah sama-sama." Ye Joon kembali membawa Eun Bi ke dalam pelukannya.
Tak lama kemudian, Manajer Kim datang bersama seorang penjaga pantai dan seekor anjing Labrador.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Manajer Kim.
"Tadi, setelah Aku mematikan telepon dari Anda, baru sadar jika Min Ah sudah tidak ada di sampingku," ucap Eun Bi sambil kembali menangis sesenggukan.
"Bagaimana ini? Sepuluh menit lagi acara di mulai!" seru Manajer Kim panik.
"Apa Kamu memiliki benda yang biasa Min Ah pakai?" tanya penjaga pantai, sambil mendekati Eun Bi.
"Jika harus pergi ke hotel, akan memakan waktu lebih lama," ucap Ye Joon sambil mengusap dagunya.
"Lalu bagaimana? Aku bahkan tidak sadar ketika Min Ah melepaskan genggaman tangannya, maafkan aku." Eun Bi kembali menggigit kuku jempolnya.
"Nah, kemarikan tanganmu! Seharusnya aroma tubuh Min Ah masih menempel di sana." ucap si penjaga pantai.
Eun Bi menyodorkan tangan, kemudian penjaga pantai meminta si anjing Labrador mengendusnya. Tak lama kemudian, hewan setia itu berjalan menyusuri lorong sembari mengendus lantai. Mereka semua mengikuti dari belakang. Anjing itu terus melewati lorong, dan berhenti di sebuah ruangan bertuliskan gudang, kemudian menggonggong.
Ye Joon memutar tuas pintu, tapi sayangnya terkunci. Manajer Kim menghubungi pengelola gedung untuk membukakan ruangan tersebut. Setelah menunggu sepuluh menit, Tuan Hendry, salah seorang pengelola gedung akhirnya datang. Dia membuka pintu perlahan, ruangan itu terlihat gelap dan pengap.
"Min Ah!" teriak Eun Bi.
Ketika hendak memasuki ruangan, mereka mendengar suara langkah seseorang berjalan mendekat. Nam Wo Joon keluar dari ruangan itu, sembari menggendong Min Ah yang sudah terlelap. Mata gadis kecil itu terlihat basah karena menangis.
"Apa yang terjadi?" tanya Manajer Kim.
Wo Joon tidak menjawab, dia hanya terdiam dan tertunduk lesu. Ye Joon meraih tubuh Min Ah, kemudian menatap tajam ke arah Wo Joon.
"Dia bisa menjelaskannya nanti, yang terpenting Min Ah sudah ditemukan!"
Semua orang di ruangan itu mulai menjauh dari gudang, kecuali Wo Joon. Tubuhnya merosot lemas, bahu remaja itu bergetar hebat, dan air mata mulai bercucuran membasahi pipi. Dia juga sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja dialami. Namun, tatapan semua orang dewasa, seakan menuduh dirinya adalah penyebab Min Ah terkunci di gudang.
"Aku bahkan tidak tahu apa-apa," lirih Wo Joon.
.
.
.
Di sisi lain, Ye Joon dan Eun Bi sedang berusaha membangunkan Min Ah. Yee Joon memangku tubuh peri kecilnya itu, sedangkan Eun Bi menepuk lembut pelan pipi Min Ah. Lima menit kemudian, mata Min Ah terbuka.
Min Ah duduk, kemudian memandang Eun Bi dan Ye Joon secara bergantian. Tiba-tiba gadis kecil itu menangis histeris. Eun Bi memeluk tubuh Min Ah penuh kasih sayang.
"Tenanglah, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja," ucap Eun Bi sambil menepuk lembut punggung Min Ah.
"A-aku takut, Bibi! Di sana gelap dan pengap! Aku hanya ingin menyapanya!" ucap Min Ah sambil terus menangis.
"Sudah, yang penting sekarang Kamu baik-baik saja. Apa ada yang terluka?" tanya Ye Joon.
Min Ah melepaskan pelukannya, kemudian menggeleng. Jemari kecil gadis itu, mulai mengusap air mata yang jatuh.
"Apa perlu kita batalkan pertunjukan hari ini?" tanya Manajer Kim.
"Jangan!" teriak Min Ah, gadis kecil itu sontak berdiri.
"Kau yakin, Min Ah?" Eun Bi mengusap lembut puncak kepala Min Ah.
Min Ah mengangguk mantap, kemudian menggandeng tangan Eun Bi sambil berkata, "Ayo, Bibi. Ini debut pertamaku dengan grup orkestra. Aku tidak mau mengecewakan Manajer dan teman yang lain!"
Rasa takut yang dialami Min Ah seketika lenyap. Ia mulai melangkah bersama Eun Bi, dan memasuki ruang pertunjukan.
.
.
.
Bersambung ...
Assalamualaikum...
Sambil nunggu LIG update, mampir ke karya salah satu teman Author Yukkk ... Jangan lupa beri dukungan dengan memberi Like, Komen, dan tap Love yaaa 😘