
“Eun Mi adalah kekasihku yang menghilang tujuh tahun lalu, dan ... Min Ah adalah ... putriku.”
“Kau berbohong kan, Seung Min? Katakan jika Kau sedang berbohong!” teriak Eun Bi sambil memukul dada Seung Min.
Perasaan sesak mengimpit dada Eun Bi. Dia tahu bahwa Seung Min tidak mencintainya. Akan tetapi, perempuan itu benar-benar tidak menyangka, ada orang lain yang mendapatkan banyak cinta dari Seung Min. Bahkan cinta yang Seung Min berikan memiliki buah yang sangat manis. Min Ah.
Di sisi lain, Seung Min merasa bersalah karena membuat perempuan di hadapannya itu menangis. Walau dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Eun Bi, tetap saja membuat perempuan menangis adalah sebuah dosa besar bagi Seung Min.
Seung Min hanya terdiam menerima setiap pukulan lemah yang menghujani dada bidangnya. Karena merasa bersalah akhirnya Seung Min memeluk Eun Bi. Ditepuknya perlahan punggung istrinya itu.
"Maaf, jika sudah membuatmu menangis. Tapi, Aku juga menderita selama ini."
"Kau kejam sekali, Seung Min."
Tangis Eun Bi masih belum berhenti. Kata maaf puluhan kali meluncur dari bibir Seung Min. Namun, semuanya tidak bisa membuat rasa sakit yang tertoreh di hati Eun Bi sembuh begitu saja.
.
.
.
Sejak hari itu, keceriaan Eun Bi hilang. Harapannya untuk bisa membuat Seung Min jatuh hati telah pupus. Sebisa mungkin Eun Bi menghindar dari Eun Mi dan Min Ah. Melihat mereka berdua seperti menyirami luka yang masih menganga dengan air garam. Eun Bi berharap lukanya bisa mengering dan sembuh seiring berjalannya waktu.
Setelah berhari-hari menghindar, akhirnya tanpa sengaja Eun Mi dan Eun Bi bertemu. Pagi itu Eun Mi mengantar Min Ah untuk berangkat ke Miami. Dari kejauhan dia melihat Eun Bi sedang duduk sendirian di dekat bus yang akan mengantar anggota orkestra ke bandara.
"Eun Bi," sapa Eun Mi saat sudah berada di hadapan Eun Bi.
Mendengar namanya dipanggil, Eun Bi mendongak. Perempuan itu tersenyum lesu. Matanya terlihat sayu dengan lingkaran hitam di sekelilingnya. Eun Mi menempelkan punggung tangannya di dahi Eun Bi.
"Apa Kau sakit?" tanya Eun Mi panik.
Eun Bi hanya menggeleng lemah. Badannya memang sedikit lemah karena beberapa hari ini kurang istirahat dan makan.
"A-apa sebaiknya Kamu tidak berangkat? Aku khawatir, sepertinya Kamu sedang tidak baik-baik saja," ucap Eun Mi.
Lagi-lagi Eun Bi hanya menggeleng, dia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun di hadapan Eun Mi.
"Sudah minum obat? Apa yang Kau rasakan sekarang? A-aku akan membelikanmu obat di apotek, tunggu sebentar." Eun Mi segera beranjak pergi.
"Tidak perlu, Aku hanya butuh sendirian sekarang. Sakitku kali ini tidak bisa disembuhkan dengan obat dari apotek mana pun," ucap Eun Bi.
Eun Mi melangkah mendekati Eun Bi. Dia mencoba menggenggam tangan Eun Bi, tapi ditepis kasar oleh Eun Bi.
"Aku ingin sendiri, pergilah!" seru Eun Bi. Matanya mulai mengembun, pucuk hidung Eun Bi juga mulai memerah, dan suara perempuan itu pun mulai bergetar.
"Ba-baiklah, Aku akan meminta Ye Joon untuk lebih memperhatikanmu. Aku permisi," ucap Eun Mi sambil membungkukkan sedikit badannya.
Setelah itu, Eun Mi menghampiri Min Ah dan Ye Joom yang sedang menunggu keberangkatan bus.
"Mama, sudah beli obat anti mabuk untukku?" tanya Min Ah.
"O, sudah. Kali ini tolong jangan buat paman kerepotan. Aigoo ... Mama benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi agar mabuk udaramu hilang," gerutu Eun Mi.
"Dia akan baik-baik saja, Kau jangan khawatir," ucap Ye Joon sambil tersenyum.
"Hem, Aku juga mau titip Eun Bi. Sepertinya dia sedang tidak enak badan. Tolong ajak dia mengobrol, ya? Bukannya dulu, kalian teman satu kelas."
"Baiklah, nanti Aku akan coba berbicara dengannya."
"Ayo ... semuanya masuk! Kita akan segera berangkat!" seru manajer Kim.
"Cepat kalian bergegaslah," ucap Eun Mi sambil mencium puncak kepala Min Ah.
"Baik, Kami berangkat dulu," pamit Ye Joon sembari menggandeng tangan Min Ah.
"Dadah, Mama." Min Ah melambaikan tangan lalu mengikuti langkah Ye Joon.
.
.
.
Setelah melakukan perjalanan selama belasan jam, akhirnya Eun Bi beserta anggota Seoul Harmonic lainnya tiba di Miami. Min Ah dan Ye Joon mendapat kamar terpisah, hal itu membuat Min Ah merengek. Akhirnya, Ye Joon meminta Eun Bi untuk sekamar dengan Min Ah.
"Eun Bi, bisa minta tolong?"
"Bisa berbagi kamar dengan Min Ah?"
Eun Bi hanya terdiam, sebenarnya dia tidak sanggup jika harus bersama Min Ah sepanjang hari. Hal itu membuatnya teringat akan hubungan Seung Min dan Eun Mi.
"Bagaimana yaa ... A-aku tidak terbiasa tidur dengan orang asing," ucap Eun Bi.
"Orang asing? Kalian bahkan sangat akrab, bukan?"
"I-itu ...," ucap Eun Bi sembari melirik Min Ah yang berada agak jauh dari mereka.
"Aku melihat ada yang aneh, Eun Mi juga mengatakan hal yang sama. Dia merasa Kau selalu menghindarinya," kata Ye Joon.
Eun Bi hanya menunduk. Dia menarik napas panjang lalu membuangnya kasar.
"Kau tidak tahu, bagaimana rasanya mencintai seseorang secara sepihak. Ini sangat melelahkan dan menyakitkan. Terlebih lagi ketika mengetahui orang yang Kau cintai ternyata mencintai temannya sendiri," ucap Eun Bi lesu.
"Aku tahu bagaimana rasanya, semua usahamu untuk membuatnya melihat ke arahmu bahkan akan sia-sia," ucap Ye Joon dan pandangannya kini menerawang jauh.
"Jadi, apa teman yang Kau maksud adalah Eun Mi?" tebak Ye Joon.
Eun Bi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, lalu berdiri hendak meninggalkan Ye Joon.
"Menyerahlah, Kau akan lelah dan lebih sakit jika meneruskan semuanya," ucap Ye Joon.
Eun Bi tidak menggubris, dia tetap berjalan masuk ke hotel. Saat hampir mencapai lobi, suara menggemaskan Min Ah tertangkap oleh telinganya.
"Bibi!" teriak Min Ah.
Badan Eun Bi mematung. Rasanya jahat sekali jika terus menghindari Min Ah yang tidak tahu apa pun. Detik itu juga, Eun Bi memutuskan untuk bersikap seperti biasa.
Eun Bi menoleh, matanya menangkap Min Ah tengah berlari ke arahnya. Gadis kecil itu terlihat begitu lucu dalam balutan setelan bermotif bunga.
"Halo, apa kabar peri kecil?" tanya Min Ah.
"Aku benar-benar sedang tidak baik, Bibi."
"Eh, kenapa?"
"Mama akhir-akhir ini terlihat murung, apalagi sejak Bibi selalu menghindari kami," ucap Min Ah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Me-menghindari? Haha, Bibi tidak menghindari kalian. Bibi hanya sedikit sibuk mempersiapkan diri untuk acara besok," ucap Eun Bi.
"Bohong! Bibi tidak pandai berbohong, jadi jangan pernah berbohong!" seru Min Ah.
"Baiklah, Bibi minta maaf. Bibi ada sedikit masalah karena ...."
"Papa?"
Mata Eun Bi terbelalak. Dia tak menyangka gadis kecil di hadapannya itu bisa dengan cepat mengetahui apa yang ada di dalam pikirannya.
"Apa Bibi terkejut? Aku sudah tahu kalau paman adalah papaku," ucap Min Ah.
"La-lalu, a-apa Kau ingin papa kembali pada kalian?"
Jantung Eun Bi berdebar lebih cepat. Dia tidak tahu jawaban apa yang akan keluar dari gadis kecil di depannya itu.
"Papa ya? Sebenarnya ... Aku ingin ...."
.
.
.
Bersambung ...
Assalamualaikum semuaaaa...
Apa kabar? Sehat-sehat yaaa ...
Hari ini Chika mau merekomendasikan salah satu novel karya salah satu teman author, judulnya Mafia Story', Kembalinya Anak Tak Berguna. Jangan lupa mampir yaaa...
sayang kaliaaannnnn