
Cahaya matahari menembus jendela kamar berukuran sembilan meter persegi. Eun Mi membuka mata kemudian terduduk. Seingatnya semalam ia memilih tidur di sofa alih-alih membangunkan Ye Joon.
Tak lama pintu kamar terbuka. Min Ah sudah rapi dalam balutan terusan bermotif boneka beruang. Rambut lurusnya terurai dengan bando telinga beruang yang lucu.
“Ish, Mama, cepat bangun! Sore ini bukankah Kita akan menghadiri pesta penyambutan?!” ujar Min Ah sambil berkacak pinggang.
“Baik, Tuan Putri. Mama akan bersiap-siap. Tunggu di luar dulu,” ucap Eun Mi yang sambil meregangkan badan.
Lima belas menit kemudian, Eun Mi sudah menyusul putrinya di meja makan. Dinar menyiapkan roti isi untuk sarapan pagi ini.
“Ayo, makan dulu,” ucap Dinar.
Eun Mi mengangguk lalu mendaratkan bokongnya ke atas kursi. Mereka menikmati sarapan sambil bergurau dan tertawa bahagia.
.
.
.
Hari yang dinanti Min Ah akhirnya tiba. Gadis kecil itu menghadiri pesta dengan menggunakan gaun berbahan brokat di bagian atas dan bagian bawah terbuat dari tile. Rambut hitamnya ditata sederhana dengan poni rata di bagian depan.
Saat memasuki aula mewah itu, semua mata tertuju pada Min Ah. Bagaimana tidak? Dia merupakan anggota baru termuda di Seoul Harmonic Orchestra .
Beberapa mata menatap Min Ah kagum, dan sebagian lagi melayangkan tatapan penuh iri dengki. Bukankah sudah menjadi hal lumrah? Saat kita mencapai suatu kesuksesan akan ada dua kubu yang bertolak belakang. Mereka yang kagum serta termotivasi, dan juga mereka yang iri kemudian menjatuhkan.
Min Ah si gadis kecil yang selalu ceria itu mana pernah memikirkan pendapat orang lain. Walau kecerdasannya di atas rata-rata, yang dia tahu adalah dunia yang diciptakan untuk tempat bermainnya. Lain hal dengan Eun Mi, mama muda cantik itu selalu memikirkan tentang pendapat orang lain. Bukannya kenapa, dia takut menyakiti hati orang lain yang nantinya malah akan menjadi bumerang untuk dia dan Min Ah.
“Ma, Aku mau ke sana dulu, ya,” pamit Min Ah sembari menunjuk ke arah orkestra pit.
“O, tapi ditemani Paman Ye Joon.”
“Oke Mama,” ucap Min Ah sambil menggandeng tangan Ye Joon.
Di sisi lain tempat pesta itu berlangsung, seorang lelaki dengan setelan jas berwarna biru gelap sedang memperhatikan sekeliling. Seung Min mengedarkan pandangan meneliti wajah setiap perempuan yang memiliki postur badan seperti Eun Mi. Eun Bi yang melihat tingkah aneh suaminya tentu bertanya-tanya.
“Seung Min, apa ada hal yang mengganggumu?”
“Bukan urusanmu,” ucap Seung Min ketus.
“Cih, Aku bertanya baik-baik tapi selalu mendapatkan jawaban ketus darimu. Kau tahu? Aku sedih sekali,” ucap Eun Bi sambil berpura-pura menunjukkan ekspresi sedih.
Seung Min memutar bola matanya melihat kelakuan perempuan yang sudah dinikahinya selama tujuh tahun itu. Saat Eun Bi sibuk dengan tamu undangan lain, Seung Min berjalan membelah kerumunan. Matanya terpaku pada seorang perempuan dengan gaya rambut yang sangat mirip Eun Mi.
Perempuan itu memakai gaun berbahan brokat, rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja. Seung Min begitu yakin bahwa perempuan itu adalah Eun Mi. Kaki Seung Min mulai melangkah mendekati perempuan itu.
Ketika langkahnya semakin dekat, jantungnya berdetak begitu cepat. Rasa gugup kali ini mendominasi diri Seung Min. Jarak mereka sudah semakin dekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi Seung Min bisa bertemu dengan kekasihnya. Akan tetapi, semuanya buyar ketika sebuah panggilan masuk ke ponsel Seung Min.
“Ya, ada apa Ayah?”
“...”
“Apa tidak bisa nanti, Aku sedang menghadiri acara orkestra dengan Eun Bi.”
“...”
“O, baiklah.”
Mau tidak mau Seung Min harus meninggalkan acara pesta penyambutan. Chang Min, adik tirinya baru saja pulang dari Amerika dan ingin segera bertemu. Setelah memasukkan ponsel ke dalam saku, Seung Min mencoba mencari sosok yang tadi dia lihat. Namun, perempuan itu sudah tidak ada di tempat semula.
“Seung Min, ada apa?” tanya Eun Bi.
“Tidak ada apa-apa. Aku akan pulang, Kau mau ikut?” Mata Seung Min masih mencoba mengedarkan pandangannya.
“Kenapa?” tanya Eun Bi.
“Chang Min baru saja kembali dari New York. Dia ingin bertemu sekarang,” jawab Seung Min.
“Sayangnya Aku tidak bisa ikut. Aku akan menyusulmu begitu acara selesai.”
Setelah berpamitan Seung Min meninggalkan pesta itu. Dia sedikit lega karena mengetahui fakta bahwa Eun Mi benar-benar berada di Korea. Terlebih lagi putri kecilnya bermain di grup yang sama dengan Eun Bi. Peluang bertemu dua cinta pertamanya itu menjadi semakin besar.
Eun Bi masih mematung memperhatikan punggung pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Seung Min dari dulu sangat sulit didekati, bahkan sampai saat ini.
Kehidupan rumah tangganya memang seperti neraka. Bukan karena Seung Min melakukan KDRT. Akan tetapi, karena keduanya bersatu dalam ikatan pernikahan, tapi hati mereka sama sekali tidak pernah menyatu.
Ketika Eun Bi sedang asyik mengasihani dirinya sendiri, seseorang menabraknya tanpa sengaja. Perempuan itu panik ketika mengetahui minuman yang dikenakan Eun Bi kotor karena ulahnya yang ceroboh.
“Aduh, maafkan Saya Nyonya!” ujar Eun Mi.
“Ah, tidak apa.”
“Tapi gaun Anda jadi kotor, maafkan aku!” ucap Eun Mi sambil terus membungkukkan badan. Dia mencoba membersihkan noda minuman itu dengan tisu. Bukannya menjadi bersih, serpihan tisu justru membuat gaun Eun Bi semakin kotor.
Kesabaran Eun Bi mulai habis, dia mengeratkan giginya lalu menghentikan gerakan tangan Eun Mi.
“A-ku-bi-lang-ti-dak-a-pa,” ucap Eun Bi sambil mengeja setiap suku kata, berharap agar Eun Mi berhenti membersihkan gaunnya.
“Ah, baiklah. Aku minta maaf Nyonya.” Eun Mi kembali menunduk dan bahunya merosot.
Pandangan kedua perempuan dewasa itu kini beralih pada si kecil Min Ah.
“Min Ah, sudah?” tanya Eun Mi. Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Min Ah justru berbicara kepada Eun Bi.
“Apa Mama membuat Bibi marah?” tanya Min Ah.
“Ah, tidak,” ucap Eun Bi.
“Bohong! Bibi berbohong!” Min Ah menautkan kedua alisnya.
Eun Bi tersenyum melihat tingkah Min Ah. Kemudian dia berjongkok untuk mengimbangi tinggi badan Min Ah.
“Sedikit. Siapa namamu?” tanya Eun Bi.
“Min Ah. Lee Min Ah.”
“Omo! Jadi, Kamu si pianis cilik yang sedang menjadi perbincangan hangat di grup chat kami?” ujar Eun Bi.
Wajah polos Min Ah menunjukkan ekspresi kebingungan. Kemudian Eun Bi mencoba menjelaskan apa yang sedang dia bicarakan.
“Ehm, jadi semua anggota orkestra akan masuk ke dalam grup chat di telekilo. Nah, akhir-akhir ini Kami sering membicarakan tentangmu. Karena kagum dengan bakatmu yang begitu luar biasa,” jelas Eun Bi.
“O ... begitu," ucap Min Ah sambil mengangguk-angguk.
Tak lama Ye Joon ikut bergabung dengan tiga perempuan beda usia itu. “Min Ah, ayo segera bersiap. Acara inti akan segera dimulai.”
“Ye Joon!" sapa Eun Bi.
“Ya, Apa kabar?” Ye Joon tersenyum canggung.
“Aku baik-baik saja, Kamu?” tanya Eun Bi.
“Aku juga baik-baik saja,”
“Apa dia istrimu?” tanya Eun Bi sambil melirik Eun Mi.
“BUKAN!” teriak Ye Joon dan Eun Mi bersamaan.
Eun Bi yang melihat sikap mereka hanya mengangguk penuh arti. Perbincangan mereka berlanjut sampai pembawa acara meminta para anggota baru naik ke podium. Tepuk tangan meriah mengiringi langkah Min Ah dan peserta lain. Setelahnya para peserta berkumpul, mereka mulai memainkan sebuah lagu soundtrack dari drama Korea terkenal puluhan tahun lalu. Reason.
Para tamu undangan begitu terpukau dengan pertunjukan dari anggota baru Seoul Harmonic Orchestra. Beberapa orang bahkan meneteskan air mata karena terbawa suasana. Begitu pertunjukan selesai seluruh hadirin memberi tepuk tangan yang begitu meriah.
.
.
.
“Bakat putrimu benar-benar luar biasa!” seru Eun Bi.
“Dia mulai tertarik dan belajar piano saat berumur satu tahun. Aku sendiri heran bagaimana bisa dia memiliki bakat luar biasa itu,” ucap Eun Mi sambil mengingat setiap momen ketika Min Ah belajar piano.
“Apa Kau tidak memiliki bakat di bidang ini?” tanya Eun Bi, Eun Mi hanya menggelengkan kepalanya.
“Ayahnya?” Eun Bi kembali bertanya.
“Cih, apalagi ayahnya. Dia itu pria kaku yang hanya bisa membuat orang lain jengkel!” gerutu Eun Mi.
Mendengar ucapan Eun Mi, Eun Bi langsung teringat pada Seung Min. Si tuan kanebo kering itu, selalu berhasil membuatnya jengkel dengan sikapnya yang dingin dan super kaku. Sebuah panggilan membuat Eun Bi keluar dari tempat itu.
"Aku angkat telepon dulu, permisi." Eun Bi berjalan menjauhi Eun Mi dan Ye Joon.
“Cantik sekali dia, Aku tak menyangka jika dia orang yang begitu ramah,” ucap Eun Mi.
“Dari dulu dia tidak berubah,” ujar Ye Joon.
“Wah, jangan-jangan kalian pacaran saat sekolah?” goda Eun Mi.
“T-tidak!” bantah Ye Joon.
“Hahaha, Kau terlihat gugup sekarang, Tuan! Aku sudah mengenalmu selama lebih dari tujuh tahun! Kau tidak bisa membohongiku!” seru Eun Mi.
“A-ayo kita cari Min Ah! Aduh, kemana bocah ini! Min Ah!” ucap Ye Joon mengalihkan pembicaraan.
Eun Mi mengekor di belakang Ye Joon sambil terus menggodanya. Mereka membelah keramaian pengunjung untuk menemukan sosok Min Ah. Sampai saat terdengar teriakan seorang perempuan.
“Arrrrgghhhhhh!!!”
.
.
.
Bersambung ...