My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Mengunjungi Ibu Hamil



Siang itu Min Ah, Wo Joon, dan Eun Mi membelah jalanan Seoul menuju rumah Eun Bi. Sebelum itu, mereka mampir ke swalayan membeli beberapa bahan untuk membuat nasi goreng kimchi. Eun Mi memarkirkan mobilnya, dan berjalan masuk swalayan diikuti Min Ah dan Wo Joon.


"Wah, bukankah kita seperti suami istri, Oppa?" Min Ah bergelayut manja pada lengan Wo Joon.


Eun Mi sontak menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan sang putri. Dia balik badan kemudian menjewer telinga Min Ah.


"Apa tadi yang kamu ucapkan? Coba ulangi lagi!" Eun Mi bicara sambil mengeratkan gigi.


"A-ampun, Ma! Lepaskan!" Min Ah menarik lengan ibunya, berharap Eun Mi segera melepaskan jewerannya.


"Aigoo ... anak jaman sekarang dewasa sebelum waktunya!" Eun Mi melepaskan jemarinya dari teliinga Min Ah, kemudian melipat kedua lengannya di depan dada.


"Hiks ... sakit ...." Min Ah mengusap pelan telinganya yang serasa akan putus.


"Kau tahu? Saat seumuranmu, Mama suka bermain dengan teman sebaya! Bermain kelereng, layangan, atau pun sepak bola!" Eun Mi mengacungkan jari telunjuknya di depan muka Min Ah.


"Eh? Bukannya itu lebih aneh, Ma? Harusnya perempuan itu bermain rumah boneka atau masak-masakan!" seru Min Ah sambil berkacak pinggang.


Wo Joon hanya menggeleng keheranan melihat perdebatan dua perempuan beda usia itu. Akhirnya, Wo Joon mulai angkat bicara. Dia mendekati Eun Mi dan Min Ah.


"Sudah?" tanya Wo Joon.


"Belum!" teriak eun Mi dan Min Ah bersamaan.


Wo Joon mengerjap karena terkejut dengan kekompakan mereka. Begitu sadar dengan sikap kekanakannya, Eun Mi langsung tersenyum canggung.


"Hahaha ... maaf, a-ayo kita segera belanja dan berangkat ke rumah Bibi Eun Bi!" ajak Eun Mi.


Mereka mulai memilih bahan yang dibutuhkan, dan membayarnya di kasir. Setelah selesai belanja, Eun Mi kembali ke mobil dan melajukannya menuju rumah Eun Bi.


Sesampainya di rumah mewah Seung Min, Eun Bi memarkirkan mobilnya di halaman. Min Ah tetap tidak melepaskan lengannya dari Wo Joon. Hal itu membuat Eun Mi kembali memutar bola mata dan menggeleng keheranan.


"Min Ah, tolong jangan terus menempel seperti itu pada Wo Joon!" Eun Mi melipat kedua lengannya di depan dada.


"Memangnya kenapa, Ma? Oppa saja tidak protes, kenapa Mama cerewet sekali?" Min Ah semakin mengeratkan pelukan tangannya, dan kepalanya bersandar pada lengan Wo Joon.


"Wo Joon sebenarnya risih, tapi dia menahannya! Benar 'kan Wo Joon?" Mata Eun Mi melotot ke arah Wo Joon, sambil tersenyum lebar, dan mengeratkan giginya.


"Ah! Iya benar sekali kata ibumu, aku sedikit tidak nyaman. Lenganku seakan hampir putus menahan berat badanmu, aduh!" Tubuh Wo Joon miring ke samping seakan keberatan karena menahan Min Ah yang masih bergelayut manja.


Min Ah melirik Wo Joon lalu mengerucutkan bibirnya. "Jadi, maksud Oppa aku gendut?"


"Eh, kenapa jadi gendut?" Wo Joon mengusap tengkuk.


Min Ah langsung memasang mode merajuk. Dia menghentakkan kaki kirinya kuat-kuat, kemudian berjalan ke arah pintu sambil melipat lengan. Gadis itu memencet bel rumah. Tak lama kemudian, Eun Bi keluar menyapa.


"Min Ah! Bibi kangen sekali!" Eun Bi membungkuk untuk menyamakan tinggi dengan Min Ah, kemudian memeluknya.


"Hanya Bibi yang sayang padaku!" Bibir Min Ah melengkung ke bawah.


"Eh?" Eun Bi melirik ke arah Eun Mi dan Wo Joon.


Eun Mi mengangguk cepat memberi isyarat agar kakaknya itu mengikuti drama merajuk Min Ah. Eun Mi mengangguk pelan, kemudian mengajak Min Ah masuk.


"Kasian sekali peri kecil Bibi. Baiklah, ayo masuk dulu! Mari kita beri mereka hukuman!"


Min Ah menggandeng tangan Eun Bi dan masuk ke rumah. Wo Joon dan Eun Mi mengekor di belakang mereka. Eun Mi mengambil alih kantong belanjaan yang dibawa Wo Joon. Dia langsung menuju dapur untuk menyiapkan nasi goreng.


Eun Mi membongkar kantong belanja. Dia mulai menyiapkan dan memotong bahan untuk membuat nasi goreng kimchi. Setelah semua bahan siap, Eun Mi memanaskan wajan untuk melelehkan mentega, dan menumis bawang bombai. Aroma harum dari bawang tercium oleh hidung Eun Bi.


Seulas senyum terbit di bibir Eun Mi. Dia terus memasukkan semua bahan ke dalam wajan. Setelah tiga puluh menit bergelut dengan peralatan dapur, Eun Mi menyelesaikan masakannya. Dia menata nasi goreng ke atas piring dengan pelengkap telur mata sapi dan taburan irisan nori.


Wo Joon membantu Eun Mi menghidangkannya di atas meja. Setelah semua selesai, mereka berempat duduk di kursi masing-masing. Mereka makan sambil sesekali mengobrol ringan.


Ketika kegiatan mengisi perut mereka hampir selesai, Seung Min datang. Dia berhenti dan menatap empat orang yang sedang menikmati makanan.


"Ehm, sepertinya seru sekali," kata Seung Min sambil berdehem.


Semua orang yang ada di meja makan, sontak menoleh ke arah Seung Min. Eun Bi tersenyum, kemudian berjalan mendekati suaminya.


"Ayo, ikut makan!" ajak Eun Bi.


"Baik." Seung Min berjalan beriringan dengan Eun Mi menuju meja makan.


Eun Bi mengambilkan satu porsi piring, dan menyajikannya untuk Seung Min. Lelaki itu mulai menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Mata Seung Min melebar, kemudian menatap ke arah Eun Mi.


"Buatanmu?" terka Seung Min.


"I-iya." Eun Mi melirik Eun Bi yang sudah duduk kembali di bangkunya.


Tiba-tiba suasana terasa begitu canggung. Mereka hanya diam sampai kegiatan makan selesai. Sampai akhirnya Min Ah melihat piano di sudut ruang keluarga.


"Boleh aku memainkan itu?" Min Ah menunjuk piano besar berwarna putih.


"Boleh. Pakai saja." Eun Bi tersenyum sambil membereskan piring bekas makan.


"Mau aku temani?" tanya Seung Min.


"Apa Paman bisa bermain piano juga?"


"Bisa." Seung Min mengangguk mantap.


Min Ah langsung berlari kecil menuju sudut ruangan. Seung Min mengekor di belakangnya, diikuti Wo Joon. Min Ah mendaratkan bokongnya ke atas kursi. Dia mulai menekan tuts piano. Tak lama kemudian, Seung Min duduk di samping Min Ah dan ikut bermain piano.


Wo Joon meraih biola dan menggesek senarnya untuk mengimbangi permainan Seung Min dan Min Ah. Eun Mi dan Eun Bi yang sudah selesai membereskan meja makan, menyusul mereka.


Tubuh Eun Mi bergoyang ke kanan dan kiri seiring alunan melodi yang mereka mainkan. Eun Bi memejamkan mata sambil tersenyum lembut.


"Mendengarkan musik, adalah salah satu cara untuk melupakan masalah," ucap Eun Bi.


"Walaupun aku tidak tahu banyak mengenai musik, tapi benar katamu. Alunan musik seperti ini bisa membuat hati kita sedikit lebih tenang." Eun Mi tersenyum tipis.


.


.


.


Bersambung...


Assalamualaikum teman-teman ... Apa kabar? Semoga tidak bosan ya dengan tulisanku yang alurnya terasa sangat lambat. Hihi ...


Sambil nunggu Love Is Gone update, mampir yuk ke karya salah satu teman author Chika. Judulnya Cinta Kecilnya Maz karya Yanktie Ino.