My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Pergi



"Eun Mi,mau camilan?" tanya Dinar sembari menyodorkan sebungkus makanan ringan.


"Ah, tidak, terima kasih," tolak Eun Mi halus.


Dinar merupakan teman satu apartemen, yang baru akan mulai bekerja di PSJ TV. Dia seorang gadis asal Indonesia. Ketika sedang fokus dengan blog pribadinya, Eun Mi sedikit terganggu dengan kehadiran Dinar.


"Kau, sedang mengetik?" tanya Dinar sambil melirik ke arah Eun Mi.


"Hm," jawab Eun Mi singkat sambil terus fokus dengan blog miliknya.


Eun Mi selalu menjawab seperlunya tanpa mau bertanya balik, karena kesal kepada Dinar yang selalu mengajak bicara. Namun, perasaan kesal itu seakan menguap ke udara ketika Dinar menawarinya untuk jalan-jalan.


"Mmmmm ... Eun Mi, Aku mau jalan-jalan keluar. Kau mau ikut?" tanya Dinar.


"Ke mana?" Kini mata Eun Mi beralih dari laptop.


"Entahlah, hehe. Aku belum begitu paham daerah sini, suntuk sekali seharian di rumah." Dinar menurunkan bahunya dan menghembuskan napas kasar.


"Baik kutemani. Aku ganti baju dan ambil ponsel dulu." Eun Mi mematikan laptopnya, kemudian masuk ke kamar.


Dinar terlihat begitu terkejut karena Eun Mi menanggapi ajakannya. Kata teman sekamarnya, Eun Mi adalah tipe orang yang sulit bergaul. Dia baru bisa akrab dengan seseorang setelah bertemu paling tidak tiga kali.


.


.


.


Tak lama, mereka sudah berada di jalanan Garosu-gil. Di sana terdapat banyak kafe dan juga toko-toko fashion yang berjejer. Di tengah keramaian daerah itu, lagi-lagi Eun Mi teringat Seung Min. Dia hanya diam dengan tatapan kosong. Saat Eun Mi tenggelam dalam pikirannya, Dinar mencoba membuka pembicaraan.


"Eun Mi, Kamu sudah lama bekerja di PSJ TV?" tanya Dinar.


"Belum lama, baru sekitar tiga tahun," jawab Eun Mi sembari terus melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalanan.


"Oya, Aku kemarin mendengar sekilas tentang pekerjaan ini." Kepala Dinar menunduk teringat percakapannya dengan Mirae, teman sekamarnya.


"Hmmm, jangan merasa terbebani. Jalani saja. Nanti juga terbiasa." Kini Eun Mi melihat ke arah Dinar yang terlihat lesu.


Tiba-tiba Eun Mi terbayang segar dan wanginya aroma Americano. Air liurnya mulai menetes, dengan semangat dia langsung berdiri dari bangku taman, yang sedari tadi didudukinya.


"Tunggu di sini, Aku mau beli es americano. Mau?" tanya Eun Mi.


"Bo-boleh." Mata Dinar melebar karena melihat Eun Mi yang tiba-tiba bersemangat.


Eun Mi langsung melangkahkan kaki menuju kedai kopi terdekat. Begitu memasuki kedai itu, dia meneguk air liurnya karena menghirup aroma kopi. Eun Mi memesan dua gelas es Americano. Begitu mendapatkan apa yang dia mau, gadis itu kembali lagi ke taman.


Saat kembali, Eun Mi melihat Dinar yang sedang memandang seseorang yang ada di seberang jalan. Akan tetapi, dia tidak begitu memedulikannya.


"Ini!" Eun Mi menyodorkan segelas americano dingin kepada Dinar.


"Ahhh, terima kasih," ucap Dinar sembaru meraih *am*ericano dari tangan Eun Mi.


Eun Mi menyedot Americano di tangannya yang terasa sangat nikmat. Dia kembali memperhatikan Dinar, yang seperti sedang mencari sesuatu di seberang jalan. Suasana hati Eun Mi merasa sedih, karena teringat betapa beratnya saat baru bekerja di stasiun televisi.


"Dinar, mungkin di awal akan menjadi hari yang berat saat bekerja di sana, tapi percayalah ... di tempat itu, sudah banyak impian tercapai," ucap Eun Mi.


Mendengar ucapan Eun Mi, Dinar menatap ke arah perempuan di sampingnya itu. Dia tersenyum lembut, dan berterima kasih kepadanya karena sudah memberikan semangat.


"Sebenarnya ... Aku ini lahir dan tumbuh di Indonesia." Mata Eun Mi menerawang, mengingat kepingan masa kecilnya.


"Benarkah?" Mata Dinar melebar, karena tak menyangka Eun Mi pernah tinggal di negaranya.


"Iya, tapi ceritanya panjang." Eun Mi mengangguk sambil tersenyum lebar.


.


.


.


Setelah pulang dari Garosu-gil, Eun Mi merasakan hal aneh pada tubuhnya. Kepala perempuan itu terasa begitu berat dan dia merasa mual. Perut Eun Mi bergejolak hebat, karena tidak tahan, dia menuju toilet, dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Usai memuntahkan isi perut, Eun Mi membaringkan tubuhnya sejenak, dan memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba mata Eun Mi kembali terbuka lebar. Dia meraih kalender di atas nakas. Badan Eun Mi langsung terduduk, ketika tidak mendapati lingkaran merah dalam kalender bulan ini.


"Jangan-jangan ...." Mata Eun Mi terbelalak lebar, dan membekap mulutnya.


Sebuah dugaan buruk muncul dalam kepalanya. Eun Mi bergegas pergi ke apotek untuk membeli test pack. Begitu sampai apartemen, dia langsung mengecek apakah benar-benar hamil atau tidak. Jantungnya berdegup kencang saat menunggu hasilnya. Benda kecil itu menunjukkan dua garis merah. Eun Mi hamil!


.


.


.


Tak terkecuali Dinar, Eun Mi melihatnya sedang melenguh kesal di depan vending machine. Dia sedang mengambil beberapa minuman bersoda dari mesin itu.


"Dinar!" sapa Eun Mi dengan nada ceria dan mata berkilat.


"Oh, halo, Eun Mi," jawab Dinar sambil menundukkan kepala.


"Sini kubantu." Eun Mi tersenyum, lalu meraih separuh dari kaleng minuman yang ada di dekapan Dinar.


"Terima kasih, Eun Mi," ucap Dinar.


"Nanti ada waktu luang? Boleh Aku main ke kamarmu?" tanya Eun Mi.


"Eh, tentu boleh. Kebetulan Mirae hari ini tidak pulang ke apartemen."


"Oke. Aku hari ini pulang lebih awal, Aku tunggu di rumah ya. Fighting!"


.


.


.


Sambil menunggu kepulangan Dinar, Eun Mi mencoba memutar ulang drama favoritnya 'Endless Love'. Drama yang dibintangi oleh Song He Gyo itu selalu berhasil membuat air matanya bercucuran.


"Huuuaaaa ...," tangis Eun Mi pecah saat melihat adegan terakhir di drama itu.


BRAAAAAKKK!


Tiba-tiba Dinar membanting pintu kamarnya kasar. Tanpa babibu Dinar menyambar lengan Eun Mi lalu memeluk tubuhnya.


"K-kau ini kenapa, Din?" tanya Eun Mi keheranan.


"Eh?" Mata Dinar melebar.


"Lepaskan pelukanmu, Aku sangat tidak nyaman," ucap Eun Mi.


Sontak Dinar melepaskan pelukan, matanya melebar, dan alis gadis itu saling bertaut. Melihat ekspresi Dinar, tawa Eun Mi pecah.


"Ke-kenapa?" Dinar terbengong-bengong melihat Eun Mi yang sedang terbahak.


"Kamu yang kenapa!" Eun Mi kini memegang perutnya yang hampir kaku karena tertawa.


"Aku panik bodoh! Kau menangis sampai terdengar dari luar kamar!" Dinar menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka lebar.


"Demi Tuhan, Aku sedang menangisi drama ini." Eun Mi menunjukkan layar ponselnya kepada Dinar.


"Yaa Tuhan! Kukira Kamu kenapa! Sialan!"


Dinar mengimpit kepala Eun Mi di antara ketiaknya.


Mereka berpindah ke kamar Dinar, karena malam itu Mirae tidak kembali ke apartemen. Mereka mengobrol banyak hal, termasuk kenapa Eun Mi bisa lahir dan besar di Indonesia. Sampai hal receh seperti kebiasaan buruk para idol yang menjadi rahasia umum di kalangan MUA. Tanpa mereka sadari, hari hampir menjelang pagi.


"Astaga! Hampir pagi, pantas saja mataku seperti digelantungi King Kong!" ujar Dinar sambil menguap.


"Ya sudah, tidur sana. Aku akan kembali ke kamarku." Eun Mi beranjak dari ranjang, kemudian kembali ke kamarnya.


Ketika membuka pintu kamar, Eun Mi melihat Hana sudah terlelap. Bukannya tidur, gadis itu mengeluarkan beberapa lembar kertas. Dia menulis surat untuk ketiga temannya, dan surat pengunduran diri. Perlahan Eun Mi membuka lemari, mengeluarkan pakaian, dan memasukkannya itu ke dalam koper.


Sebuah keputusan yang berat, tapi Eun Mi harus pergi. Dia tidak mau Seung Min menanggung malu karena kehamilannya.


Selain itu, Eun Mi takut Tuan Park So Joon melenyapkan janin yang ia kandung jika mengetahuinya. Eun Mi keluar apartemen pagi-pagi buta.


Orang pertama yang Eun Mi temui adalah ketua timnya. Ia menyerahkan surat pengunduran diri kepada Han Suji. Setelah itu Eun Mi langsung menuju ke bandara, dan meninggalkan Seoul.


.


.


.


Bersambung ...