
"Baik, Manajer, Saya sudah hampir sampai ...." Eun Bi sedang berbicara serius dengan Manajer Kim.
Sore itu, Min Ah terlambat berangkat ke gedung pertunjukan karena terlalu asyik bermain di pantai. Eun Bi terus mengingatkan gadis kecil itu, tetapi diabaikannya. Saat Eun Bi sibuk dengan panggilannya, Min Ah menangkap sosok karakter favoritnya. Si Pink Larva.
"Pink!" seru Min Ah.
Gadis kecil itu seakan terhipnotis, sehingga mengikuti orang dalam kostum karakter kesayangannya. Langkah Min Ah terus berlari mengikuti, Si Larva Merah Muda. Sampai akhirnya, langkah Min Ah berhenti di ujung lorong.
Min Ah menoleh ke kiri dan kanan, mencari sosok Pink. Akan tetapi, dia tidak menemukannya. Suara derit pintu tertangkap oleh Min Ah, yang ternyata berasal dari pintu gudang yang sedikit terbuka.
"Pink!" seru Min Ah.
Langkah kaki Min Ah terus mendekati ruangan itu. Jemari kecil Min Ah mulai mendorong pintu besi dingin di depanya. Setelah pintu terbuka, gadis kecil itu melongok ke dalam gudang.
"Pink!" Min Ah kembali memanggil karakter kesayangannya.
Kaki Min Ah mulai melangkah masuk ke gudang. Satu langkah, dua, tiga, dan di langkah ke empat, tiba-tiba seseorang menarik lengan Min Ah. Teriakan gadis itu tertahan, karena mulutnya dibungkam oleh tangan seseorang. Min Ah meronta dan mulai menangis.
"Ini Aku, diamlah!" bisik Wo Joon.
Mendengar suara Wo Joon, Min Ah berhenti memberontak. Kemudian Wo Joon melepaskan tangannya dari bibir Min Ah. Remaja itu mengusap air mata yang membasahi pipi Min Ah, dan kembali berbisik.
"Ada psikopat dengan kostum badut di luar!"
"Psikopat?" Mata Min Ah melebar.
"Lihatlah dari celah bawah pintu, dia masih di sana," ucap Wo Joon sambil terus berbisik.
Min Ah menunduk, kemudian mengintip dari celah pintu. Benar saja, di depan gudang ada seseorang dengan kostum Pink Larva sedang menyeret tongkat bisbol. Min Ah kembali terduduk dan menatap Wo Joon.
"Bagaimana ini? Sebentar lagi acara dimulai," bisik Min Ah.
"Kita tunggu sampai orang itu pergi." Wo Joon kini ikut duduk di samping Min Ah.
Setelah menunggu selama lima menit, suara langkah badut larva itu menjauh. Min Ah menghembuskan napas lega. Gadis kecil itu menoleh ke arah Wo Joon.
"Oppa, terima kasih." Sebuah senyum terukir di bibir Min Ah.
Melihat senyum manis Min Ah membuat jantung Wo Joon seakan berhenti berdetak. Sebuah perasaan asing mulai menyelusup ke dalam dadanya. Dia mulai mengamati wajah menggemaskan Min Ah.
"Oppa!" Min Ah melambaikan tangannya di depan wajah Wo Joon.
"Ehm, Kita harus segera keluar dari sini," ucap Wo Joon sambil mengusap tengkuknya.
Min Ah mengangguk kemudian berdiri, diikuti Wo Joon. Remaja itu meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Namun, ternyata terkunci dari luar.
"Sial!" umpat Wo Joon.
"Ke-kenapa, Oppa?" Min Ah menautkan alisnya.
"Pintunya dikunci dari luar!" seru Wo Joon.
"La-lalu bagaimana Kita keluar dari sini?"
Wo Joon terdiam, kemudian melangkah lebih dalam. Dia mencoba mencari jalan keluar lain, tetapi gudang itu hanya memiliki satu pintu. Terasa pengap karena tidak ada Ventilasi.
Min Ah mulai mengekor di belakang Wo Joon. Dia menarik ujung jas yang dipakai lelaki itu. Min Ah mulai bersin dan sesekali batuk karena menghirup debu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Wo Joon.
"Oppa, dadaku sesak!" ucap Min Ah sembari memegang dada.
"A-apa Kamu alergi debu?" Mata Wo Joon terbelalak.
Min Ah hanya terus terbatuk-batuk, sambil terus memegang dadanya. Wo Joon langsung merogoh saku untuk mengambil sapu tangannya. Kemudian, dia melepaskan pita yang menghiasi rambut Min Ah.
Wo Joon membuat masker darurat menggunakan dua benda tersebut, lalu memakaikannya pada Min Ah. Lelaki itu mencoba mengalihkan perhatian Min Ah, agar tidak panik. Dia terus mengajaknya bicara dan melakukan permainan kecil.
"Memangnya kenapa?" Wo Joon mengalihkan pandangan dari Min Ah.
"Aku hanya ingin tahu. Apakah menjadi anggota Seoul Harmonic juga impian Oppa?" Min Ah bertopang dagu sambil menatap Wo Joon.
"Ceritanya panjang, sebenarnya Aku sangat membenci musik. Bahkan rasa mual akan datang saat mendengarkan musik terlalu lama ...."
Wo Joon terus bercerita tanpa menatap Min Ah. Dia tersenyum kecut ketika membeberkan rahasia hidupnya. Wo Joon terpaksa mengikuti grup orkestra karena keinginan sang ibu. Dulu, ibu Wo Joon adalah salah satu pemain biola terkenal. Namun, karena suatu kejadian, Nyonya Nam tidak bisa bermain lagi.
Sikap keras Nyonya Nam meninggalkan trauma tersendiri untuk Wo Joon. Dirinya akan dikurung di dalam gudang selama berjam-jam saat menolak untuk berlatih. Sebenarnya saat ini Wo Joon tengah menahan rasa sesak karena trauma. Remaja itu tidak bisa terlalu lama di dalam tempat pengap dan gelap.
"Jadi ... begitu ceritanya ...," ucap Wo Joon diakhiri dengan gerakan kepalanya yang menoleh ke arah Min Ah.
Wo Joon tersenyum konyol ketika melihat Min Ah sudah tertidur pulas bersandar pada bahunya. Wajah gadis kecil itu terlihat tenang dan damai. Wo Joon membelai lembut rambut Min Ah.
"Lucunya ...."
Sedetik kemudian, dada Wo Joon terasa sesak. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahinya. Tubuhnya bergetar hebat. Remaja itu mulai melangkah menuju pintu gudang sambil menggendong Min Ah.
Langkah Wo Joon teramat berat dan mulai lemas. Beruntungnya ketika dia hampir menyerah, pintu gudang terbuka lebar. Eun Bi dan yang lain berhasil menemukannya.
***
"Jadi, begitu ceritanya, Paman!" seru Min Ah usai bercerita.
Ye Joon menelan ludahnya kasar. Rasa gengsi mendominasi hatinya. Dia enggan mengucapkan kata maaf kepada Wo Joon.
Melihat Ye Joon tidak segera meminta maaf, Min Ah merajuk. Dia memicingkan mata, melipat lengan di depan dada, dan mencebikkan bibirnya.
"Ye Joon," bisik Eun Bi sambil menyenggol lengan Ye Joon dengan lengannya.
"Ehm, ba-baiklah! Maaf!" ucap Ye Joon asal.
Melihat sikap Ye Joon yang asal-asalan, membuat Min Ah memutar bola matanya. Lagi-lagi Eun Bi menyenggol lengan Ye Joon.
"Astaga! Gadis batu ini benar-benar!" gerutu Ye Joon dalam hati.
Akhirnya Ye Joon mengubur egonya, kemudian mulai melangkah maju. Lelaki itu mengulurkan tangannya di depan wajah Wo Joon. Remaja itu menyambut uluran tangan Ye Joon.
"Maaf, karena sudah berprasangka buruk terhadapmu!" ucap Ye Joon.
Wo Joon awalnya hanya memandang jemari Ye Joon. Namun, Min Ah menarik lengannya dan memberi kode untuk menerima permintaan maaf Ye Joon. Akhirnya Wo Joon meraih jemari Ye Joon, kemudian mengangguk.
"Nah! Begitu!" Min Ah tersenyum puas.
Malam itu berakhir dengan damai. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
.
.
.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah terus mengikuti kisah LIG...
Sementara waktu update satu bab tiap hari yaa ...
Sambil nunggu LIG up, mampir yukk ke karya keren kakak Author ini.
Sayang Kaliaaannnn❤️❤️❤️