My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Hampir Saja!



Suara bel membangunkan Eun Mi pagi itu. Dia mulai menggeliat, kemudian turun dari ranjang. Kakinya terasa berat untuk sekedar melangkah keluar kamar.


"Astaga! Orang gila mana yang bertamu pagi-pagi buta!" gerutu Eun Mi sambil menguap.


Eun Mi mulai membuka pintu dan menuju pagar. Diintipnya si tamu misterius dari celah pintu gerbang. Di depan tampak punggung seorang laki-laki yang memakai kaos hitam polos dan celana training panjang.


"Siapa?" ucap Eun Mi sambil membuka sedikit pintu pagar.


Betapa terkejutnya Eun Mi ketika tubuh lelaki di hadapannya berbalik. Mata Eun Mi membulat dan bibirnya mengaga lebar.


"Seung Min! Astaga!" teriak Eun Mi sambil membanting pintu pagar, kemudian berlari ke dalam rumah.


Napasnya terengah-engah ketika sampai di kamar. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Eun Mi langsung menyambar benda pipih itu dan menjawab panggilan Seung Min.


"Ha-halo ...."


"Tidak sopan sekali terhadap tamu!" seru Seung Min dari ujung telepon.


"Ka-kamu yang tidak sopan! Untuk apa bertamu pagi-pagi buta!" protes Eun Mi.


"Aku ingin mengajakmu bersepeda, cepat keluar!"


"Ti-tidak mau!"


"Ya! Eun Mi, lihatlah perutmu pasca melahirkan! Sungguh tidak seksi!" goda Seung Min.


"Dasar!"


"Aku tunggu sepuluh menit! Jika tidak keluar, aku akan masuk dengan melompat pagar!"


"Hei! Seung Min ... Kau ...."


Sambungan ponsel terputus. Eun Mi mengacak-acak rambutnya karena kesal. Dia segera melemparkan ponselnya asal ke atas ranjang. Kemudian membuka lemari untuk mencari pakaian olah raga.


"Dasar kepala batu! Benar-benar menurun kepada Min Ah. Aigoo ... untung saja aku tidak tinggal bersama Seung Min! Menghadapi satu Min Ah saja membuatku pusing apa lagi jika ditambah Seung Min!"


Setelah mendapatkan setelan pakaian olah raga, Eun Mi masuk ke kamar mandi. Dia menatap cermin di wastafel. Mata Perempuan itu terbelalak ketika melihat pantulan dirinya yang terlihat kacau. Di sudut matanya terdapat kotoran mata sebesar upil gajah, air liur kering menghiasi pipi, dan rambut berantakan seperti rambut singa.


"Astaga! Penampakanku mengerikan sekali!"


Eun Mi bergegas mencuci muka, gosok gigi, kemudian menyisir rambutnya. Setelah selesai, dia memakai setelan olahraga merek Kakadas. Eun Mi keluar kamar mandi, dan memakai mekap tipis agar terlihat lebih segar.


Ponsel Eun Mi kembali berdering karena panggilan dari Seung Min. Perempuan itu memutar bola matanya kemudian menggeser tombol hijau ke atas.


"Beri aku waktu lima menit!"


Tanpa menunggu jawaban Seung Min, Eun Mi mematikan sambungan telepon. Kemudian, dia bergegas menemui Seung Min.


Di luar pagar, Seung Min sedang mondar-mandir menunggu Eun Mi keluar. Lelaki itu meminta Young Tae untuk mengirimkan dua sepeda ke rumah Eun Mi. Dia tahu betul jika perempuan itu bisa saja menolak ajakannya dengan alasan tidak memiliki sepeda.


"Kau memang cerdas Seung Min!" Seung Min tersenyum lebar membanggakan dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Eun Mi keluar dari rumah. Seung Min tak menyangka bahwa perempuan itu justru sudah siap dalam balutan pakaian olahraga.


"Dasar! Kurang kerjaan!" gerutu Eun Mi.


"Hei! Aku justru berniat baik! Pasti setelah tidak bersamaku, Kamu tidak pernah berolahraga!"


"I-itu ... karena aku ... karena aku hamil!" Eun Mi berteriak sambil berkacak.


"Cih, alasan." Seung Min melipat lengan di depan dada sambil tersenyum miring.


"Tapi ... aku tidak punya sepeda! Haha, sayang sekali! Sepertinya Kita batal hari ini, sampai jumpa lain waktu!" Eun Mi balik kanan dan masuk ke pekarangan.


Ketika Eun Mi hendak menutup pintu pagar, Seung Min mencegahnya. Lelaki itu tersenyum lebar, dan di saat bersamaan sebuah mobil pickup berhenti tepat di belakang Seung Min. Eun Mi melongo, dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menolak.


"Iya, turunkan sekarang."


Setelah menurunkan sepeda, Young Tae langsung pergi meninggalkan Eun Mi dan Seung Min.


"Ayo! Ah, aku mau mengajukan taruhan!"


"Tolong, jangan mulai lagi!" gerutu Eun Mi.


"Aigoo ... Kamu tidak akan rugi jika bisa menang!"


"Katakan apa yang bisa aku dapatkan jika menang."


"Aku akan berhenti mengganggumu!"


Mendengar penawaran Seung Min, mata Eun Mi langsung berkilat. Dia mulai menaiki sepedanya, dan ambil posisi untuk mengayuh. Seung Min mulai berhitung. Di hitungan ketiga, Eun Mi dan Seung Min mulai mengayuh sepeda.


Mereka melewati jalanan kompleks perumahan yang masih sepi. Setelah lima belas menit bersepeda, keringat Eun Mi mulai mengucur di balik kaos. Napasnya juga mulai habis. Setiap posisi Seung Min mulai sejajar, Eun Mi mempercepat kayuhannya.


Tinggal melewati lima rumah lagi, mereka sampai di titik awal, yaitu rumah Eun Mi. Saat hampir sampai, betapa paniknya Eun Mi karena mendapati rem sepedanya tidak berfungsi.


"To-tolong! Rem sepedaku blong!"


Mendengar teriakan Eun Mi, Seung Min mempercepat laju sepedanya. Begitu posisi mereka sejajar, lelaki itu meraih setang sepeda Eun Mi dan mengerem sepedanya untuk menahan laju sepeda kekasihnya. Namun, Seung Min terjatuh dari sepeda dan ikut terseret sepeda milik Eun Mi.


Seung Min mengerahkan seluruh kekuatan untuk menarik tubuh Eun Mi. Keduanya berguling tiga kali di atas aspal kemudian berhenti. Mereka langsung terduduk dan melihat ke arah sepeda yang masih melaju kencang.


BRAKKK!


Sepeda Eun Mi menabrak mobil yang melaju sa kencangnya. Sepeda itu berakhir dengan kondisi yang mengenaskan. Roda depannya sampai penyok tak berbentuk. Eun Mi menangis histeris karena terkejut dengan apa yang dia alami.


"Maaf, lain kali aku tidak akan memaksamu," ucap Seung Min sambil menepuk perlahan punggung Eun Mi.


Setelah Eun Mi sedikit tenang, Seung Min membawanya masuk ke rumah. Dia mengambilkan air putih untuk Eun Mi.


"Minumlah."


Eun Mi meraih botol air mineral yang disodorkan Seung Min dan meminum isinya hingga tandas.


"Maaf, aku tidak tahu jika semuanya berakhir seperti ini. Setelah ini aku berjanji untuk tidak mengganggumu," ucap Seung Min sambil menunduk.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku tadi. Jika tidak ...."


Eun Mi kembali teringat nasib tragis sepeda yang dikayuhnya. Dia sampai bergidik ngeri membayangkan jika sepeda itu adalah dirinya.


"Aku ... pulang sekarang, sekali lagi aku minta maaf ...." Seung Min berpamitan, kemudian beranjak dari kursi.


Hatinya dipenuhi penyesalan saat itu. Andaikan waktu bisa diputar, dia tidak akan mengajak Eun Mi bersepeda. Saat Seung Min hampir mencapai pintu, tiba-tiba Eun Min berlari ke arahnya.


"Seung Min!"


Langkah Seung Min berhenti, kemudian menoleh ke arah Eun Mi.


"Jangan merasa bersalah. Tetaplah temui aku jika kau menginginkannya. Anggap saja ini balasan karena Kamu sudah menolongku hari ini," ucap Eun Mi sambil tersenyum lebar.


Seung Min hanya mengangguk sambil tersenyum. Lelaki itu langsung keluar meninggalkan Eun Mi yang masih mematung.


.


.


.


Bersambung ...