
Suara klakson mobil bertalu-talu di jalanan kota Seoul. Seung Min berulang kali melirik arloji mahalnya. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Young Tae yang sedang fokus dengan jadwal kerja Seung Min, tiba-tiba menghentikan pekerjaannya.
Ponsel Young Tae berdering tanda panggilan masuk. Seung Min melirik sekretarisnya itu, kemudian kembali melihat jalanan yang masih macet.
"Angkat saja dulu," ucap Seung Min.
"Ba-baik, Presdir." Young Tae menggeser tombol hijau pada layar ponsel, dan mulai berbicara dengan seseorang di ujung telepon.
"Ada apa, Pak? Kenapa tumben jalanan macet?" tanya Seung Min.
"Sepertinya ada kecelakaan lalu lintas, Tuan," ucap sopir Seung Min.
Tak lama terdengar suara sirine ambulans yang membuat kendaraan lain menyingkir. Sopir Seung Min pun turut menepikan mobil memberi jalan. Di sisi lain, Young Tae mematung usai menerima telepon. Tangannya gemetar, dengan dada bergemuruh hebat, napas lelaki itu mulai tak beraturan.
"P-Presdir, ke-kecelakaan itu ... me-mereka adalah putri dan istriku!" Tangis Young Tae pecah.
Mata Seung Min melebar, dia tak bisa berkata-kata lagi. Lelaki itu mencoba menenangkan sekretaris kepercayaannya. Dia juga meminta sang sopir langsung menuju rumah sakit yang dituju ambulans.
Sesampainya di rumah sakit, Seung Min dan Young Tae langsung berlari menuju UGD. Tim medis tengah sibuk keluar masuk ruangan itu. Young Tae mondar-mandir dengan berbagai pikiran buruk.
"Tenanglah ... mereka Pasti baik-baik saja." Seung Min hanya bisa mengucapkan kaimat itu untuk menenangkan Young Tae.
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya salah seorang perawat menemui mereka. Perawat itu meminta persetujuan Young Tae, untuk melakukan tindakan operasi. Anak dan istrinya mengalami patah tulang lumayan parah. Jemari Young Tae gemetar hebat saat menandatangani surat pernyataan. Mata lelaki itu terus menumpahkan air mata. Dia tak kuasa membendung tangis.
.
.
.
Tatapan Young Tae kosong di hadapan foto kedua orang terkasihnya. Dia memakai setelan kemeja berwarna hitam dengan ban berwarna putih di lengannya. Lelaki itu sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi.
Seung Min terus mencoba untuk menghiburnya. Namun, tidak membuahkan hasil. Di sisi lain, Hana, Dinar, dan Eun Mi duduk di meja yang sama. Di atasnya tersaji Soju dan kue beras.
Mata ketiga wanita itu terlihat sembab dan kemerahan. Sisa tangis mereka tertahan di tenggorokan. Mereka mengingat setiap momen singkat kebersamaan dengan Mirae.
"Dia teman yang baik. Selalu mengingatkanku ketika sudah melampaui batas dalam berhubungan dengan pria hidung belang," ucap Hana sambil terus mengusap bulir air matanya yang turun.
"Kau benar, Mirae itu perempuan yang ceria. Kalian ingat bukan, bagaimana suasana kamar akan menjadi hangat dengan kehadirannya? Kita tertawa bersama berkat lelucon yang ia lemparkan." Eun Mi menunduk lesu mengingat setiap kebaikan Mirae.
"Dia adalah orang pertama yang beramah tamah ketika aku sampai di Seoul. Orang pertama yang mengajakku makan di kedai Bibi Nam. Orang sebaik Mirae, kenapa pergi secepat ini," ucap Dinar yang kembali menangis.
Eun Mi membawa Dinar ke dalam pelukannya. Air mata perempuan itu ikut menetes. Dadanya terasa sesak, seakan terisi air sampai kerongkongan. Kenangan mengenai Mirae kembali hinggap dalam ingatannya.
Caranya mengomeli Eun Mi ketika terlambat makan, memeluk dan memberi dukungan saat bersedih, dan menjadi tempat berkeluh kesah ketika Eun Mi lelah bekerja. Semua kebaikan itu selalu terpatri dalam ingatan dan tak akan pernah mati.
Dari kejauhan, Seung Min ikut berkumpul dengan mereka. Lelaki itu duduk bersila di samping Hana. Mata tiga perempuan yang sedang berkabung itu, kini menatap Seung Min.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Hana.
"Aku baru mengetahuinya ketika seorang polisi menelepon Young Tae. Yang paling menyedihkan adalah, Kamu berada tidak jauh dari lokasi kejadian." Seung Min mengusap kasar wajahnya mengingat kejadian yang menimpa keluarga kecil Young Tae.
"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana terpukulnya Young Tae. Dia kehilangan dua orang sekaligus." Mata Eun Mi berkaca-kaca ketika memposisikan diri sebagai Young Tae.
"Kau tahu? Dulu, saat baru menikah dengan Young Tae, Mirae mati-matian mengambil hati ibu mertuanya. Mereka bahkan hampir saja bercerai," ucap Hana.
"Iya, putri kecil mereka sangat cantik. Pipi gembul, bibir kecil itu, matanya bahkan sangat indah. Setiap aku mengunjungi Mirae dan putrinya, gadis kecil itu memanggilku dengan sebutan mama!" Hana yang sudah tidak kuat menahan tangis, kini mulai terisak.
Mereka menemani Young Tae di rumah duka sampai malam, dan terus menguatkan lelaki itu. Hanya Dinar yang pulang karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk tetap di sana.
.
.
.
Di hari ketiga, jenazah Mirae dan putrinya dikremasi. Pihak keluarga mengadakan upacara kecil yang dihadiri kerabat dekat saja. Hari itu Seung Min dan Eun Mi mengajak Min Ah. Gadis kecil itu berulang kali menangis karena melihat foto putri kecil Young Tae.
"Adik kecil ini lucu sekali, Ma! Kenapa Tuhan begitu cepat memanggilnya!" seru Min Ah di tengah isakannya.
"Tuhan punya rencana terbaik untuknya, ingat ...."
"Yang baik di mata Kita, belum tentu baik di mata Tuhan," ucap Eun Mi dan Min Ah bersamaan.
"Setelah ini, mau kemana?" tanya Eun Mi.
"Mau makan tteokbokki," ucap Min Ah sambil mengedipkan mata berulang kali.
"Baiklah, Papa tahu kedai dengan kue beras terenak!" seru Seung Min.
Dua perempuan di sampingnya sontak menatap aneh Seung Min. Dahi mereka berkerut dengan bibir mengerucut. Seung Min langsung tertawa canggung.
"Haha ... haha ... a-aku salah bicara. Maksudku Paman, bukan Papa." Seung Min berusaha mengoreksi ucapannya.
Min Ah masih menatap kesal ke arah Seung Min, sedangkan Eun Mi merapatkan bibirnya menahan tawa. Setelah berpamitan dengan Young Tae, Seung Min mengendarai mobilnya membelah jalanan Seoul.
Sepanjang perjalanan, Min Ah terus memicingkan mata sambil mengerucutkan bibir. Eun Mi berulang kali membujuk putrinya agar berhenti merajuk. Namun, gadis kecil itu tetap cemberut karena Seung Min menyebut dirinya sendiri dengan panggilan 'Papa'.
"Sudah sampai," ucap Seung Min kemudian memarkirkan mobil mewahnya di depan kedai.
Seung Min keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Eun Mi dan Min Ah. Sontak mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.
Seung Min mulai melangkah memasuki kedai. Eun Mi berjalan kaki sambil terus menunduk karena tidak suka menjadi pusat perhatian. Sedangkan Min Ah sudah tidak peduli lagi dengan semuanya, karena aroma kue beras sudah membuat air liurnya mengalir deras.
"Bibi, tteokbokki tiga porsi." Seung Min berbicara kepada perempuan paruh baya berbadan gempal.
"Baik," ucap perempuan itu.
Sambil menunggu pesanan, Seung Min berusaha membuka pembicaraan dengan putrinya. Dia ingin membangun bonding dengan sang putri.
.
.
.
Bersambung ...