
Siang itu, Eun Mi membelah padatnya jalanan Seoul ditemani Min Ah. Dia berencana mendatangi Ye Jin untuk membicarakan pekerjaan selanjutnya. Saat sampai di butik Ye Jin, Eun Mi terkejut karena kedatangan salah seorang MUA populer.
Eun Mi berjalan ke arah mereka, kemudian mengangguk sopan. Dia menarik kursi dan mendudukinya. Ye Jin dan MUA itu saling tatap. Ketika Ye jin mengangguk, perempuan berambut pandek itu langsung berpamitan.
"Baiklah, kita bicarakan nanti."
"Aku akan menghubungimu lagi." Ye Jin berdiri kemudian menjabat tangannya.
Perempuan itu pergi meninggalkan mereka. Eun Mi dan Ye Jin menatapnya sampai punggung perempuan itu menghilang di balik pintu. Ye Jin kembali duduk.
"Apa kabar, Eun Mi?" tanya Ye Jin.
"Baik." Eun Mi tersenyum lembut sambil menegakkan posisi tubuhnya.
"Ah, mengenai kerja sama kita untuk event selanjutnya ... maaf. Kita tidak bisa meneruskannya." Ye Jin menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Kenapa?" Eun Mi mengerutkan keningnya.
"Kami tidak ingin reputasi butik ini ikut menurun karena skandalmu dengan Tuan Muda Park."
"Sedangkal itukah pemikiranmu?" Eun Mi membuang muka sambil tersenyum miring.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mau hal itu terjadi. Aku membangun butik ini penuh peluh dan air mata. Aku tidak mau semuanya hancur karena terkena imbas dari skandalmu." Ye Jin menautkan jemarinya.
"Baiklah jika itu menjadi keputusanmu. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk kerja sama selama ini." Eun Mi beranjak dari kursi kemudian membungkukkan badannya. Dia menggandeng jemari Min Ah dan pergi meninggalkan butik.
Ketika berada di dalam mobil, Eun Mi menundukkan kepalanya. Bahunya terasa berat. Min Ah menatap iba ke arah ibunya. Dia membuang napas kasar, Eun Mi menoleh ketika mendengar putrinya mendengus.
"Kenapa? Kamu sedang mengejek Mama?" Mata Eun Mi melotot.
"Aigoo ... tidak! Mama selalu saja berpikiran buruk?" Eun Mi melipat kedua lengannya ke depan dada sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana ini? Mama tidak memiliki pekerjaan sekarang. Bagaimana bisa aku menghidupi putri tercintaku?" Bibir Eun Mi melengkung ke bawah.
"Tabunganku masih sangat banyak! Tenanglah, Ma."
"Baiklah, Mama menumpang hidup padamu Tuan Putri!" Eun Mi menundukkan sedikit kepala dan meletakkan satu telapak tangannya di depan dada.
"Cih, bukankah biasanya juga seperti itu?" Min Ah tersenyum miring.
Eun Mi sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan pulang ke rumah.
.
.
.
Di kediaman Seung Min, ia sedang mondar-mandir memikirkan cara selain konferensi pers untuk menyelesaikan skandal. Namun, otaknya seakan buntu. Saat Seung Min masih sibuk dengan pikirannya, Eun Bi menghampiri.
"Kamu kenapa?" Eun Bi menautkan kedua alisnya.
"Apa pedulimu? Sana pergi!" Seung Min menggerakkan jemarinya di depan wajah untuk mengusir istrinya. Bukannya pergi, Eun Bi justru mendekati Seung Min.
"Mau bermain denganku?" tanya Eun Bi sambil mengerjapkan mata berulang kali.
Seung Min memindai tubuh istrinya, kemudian menggeleng cepat. Eun Bi seakan tahu kemana arah pikiran Seung Min. Dia memukul punggung suaminya.
"Ya! Eun Bi!" Seung Min melebarkan mata.
"Ke mana arah pikiran kotorku itu? Aku hanya ingin mengajakmu main musik bersama!" Eun Bi tersenyum miring.
"Oh," ucap Seung Min singkat.
Eun Bi menggandeng tangan Seung Min, dan berjalan menuju pojok ruangan. Di sana terdapat sebuah piano besar berwarna putih.
Seung Min masih mematung. Dia enggan menyentuh kembali alat musik itu. Tak lama kemudian, Eun Bi menarik lengannya dan membuat Seung Min duduk di atas bangku.
"Apa Kamu lupa cara bermain piano?" tanya Eun Bi.
"Enak saja! Talentaku tidak bisa menghilang begitu saja!" Seung Min mulai menekan tuts piano untuk melenturkan jemarinya yang sedikit kaku.
Eun Bi meraih biolanya. Denting piano mulai terdengar, memenuhi ruang keluarga Seung Min. Alunan sendu biola Eun Bi mengiringi melodi yang dimainkan Seung Min. Jiwa mereka seakan menyatu dengan musik yang dimainkan.
Satu jam sudah Seung Min dan Eun Bi bermain bersama. Sebuah senyum lembut terbit di bibir Seung Min. Eun Bi meletakkan biola, kemudian beranjak pergi. Saat hampir menaiki anak tangga, Seung Min memanggilnya.
"Eun Bi!'' panggil Seung Min.
Eun Bi menghentikan langkah ketika namanya dipanggil. Dia balik badan dan menatap Seung Min penuh tanya. Seung Min berdiri, kemudian berjalan mendekati Eun Bi.
"Terima kasih," ucap Seung Min.
Mata Eun Bi melebar melihat sikap Seung Min yang melunak. Lelaki itu mengangkat tangannya, lalu membelai lembut rambut Eun Bi.
"Terima kasih, sudah mengajakku bermain musik bersama lagi." Seung Min tersenyum lembut.
Pipi Eun Bi memerah karena mendapat perlakuan lembut dari Seung Min. Dia mengangguk perlahan, kemudian langsung balik badan. Perempuan itu berlari kecil dan masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar, Eun Mi langsung melompat ke atas ranjang. Tubuhnya berguling ke kanan dan kiri secara berulang-ulang. Kaki Eun Mi juga tidak bisa diam. Berulang kali dia menendang udara.
"Aduh, Seung Min. Bisakah Kamu terus bersikap manis seperti ini?" Eun Bi tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat.
Keesokan harinya, Eun Bi merasa sangat bersemangat. Dia menyiapkan beraneka makanan untuk sarapan. Ketika hendak menata piring ke atas meja, tiba-tiba Eun Mi merasa kepalanya berputar. Dia kehilangan keseimbangan. Piring yang ada di tangannya terjatuh ke lantai.
Seung Min yang masih berada di dalam kamar terkejut saat mendengar suara benda jatuh. Dia langsung membuka pintu kamar, dan menuruni anak tangga. Mata lelaki itu melebar ketika mendapati Eun Bi sudah tergeletak di lantai. Dia merengkuh tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri.
"Eun Bi! Eun Bi! Kenapa? Bangunlah!" Seung Min menepuk perlahan pipi Eun Bi.
Seung Min langsung menggendong tubuh langsing Eun Bi. Sepanjang perjalanan, hatinya tidak tenang. Bibirnya komat-kamit mengucapkan doa agar Eun Bi baik-baik saja. Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, Seung Min sampai di Rumah Sakit Universitas Seoul.
Tim medis langsung menangani Eun Bi. Seung Min mondar-mandir di luar ruang UGD. Jantungnya berdegup kencang saat menanti hasil diagnosis dokter.
Tak lama kemudian, seorang perempuan dengan sneli dan stetoskop yang menggantung di leher menghampiri Seung Min. Sebuah senyum tersembunyi di balik masker, yang membungkus hidung dan mulutnya.
"Ba-bagaimana keadaan Eun Bi?" tanya Seng Min dengan nada panik.
"Selamat, Tuan Muda."
"Ya?" Seung Min mengerutkan dahi.
"Jangan khawatir. Nyonya Park hanya kelelahan karena efek awal kehamilan."
Mata Seung Min melebar mendengar ucapan dari sang dokter. Setelah menyampaikan hasil diagnosis, dokter itu pergi meninggalkan Seung Min yang masih mematung.
.
.
.
Bersambung ...
Semoga sukaa ceritanyaa...
BTW sambil nunggu LIG update, mampir yuk ke karya Chika yang sudah tamat. Judulnya Berbagi Cinta: Second Wife. Terima Kasih...