My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Figur Karakter Untuk Min Ah



Ting ... tong ....


Mendengar suara bel, Seung Min melepaskan ciuman. Eun Mi mengatur napasnya yang hampir habis, kemudian merapikan rambut. Dia melangkah keluar untuk mengetahui siapa orang yang telah mengganggu aktivitas pemanasannya.


Tak lama kemudian, Eun Mi kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna hitam, benda itu dihiasi dengan pita berwarna emas.


"Kurir?" tanya Seung Min.


"O ... dress code dari Dinar dan Jihyuk." Eun Mi mulai membuka kotak hitam itu.


Begitu talinya terlepas, Eun Mi melongok ke dalam kotak itu. Di dalamnya berisi sebuah topi karakter di salah satu kartun anak-anak, Larva. Eun Mi mendapatkan kostum karakter Pink.


"Aku dapat ini! Ya ampun, Min Ah pasti menyukainya jika berada di rumah!" seru Eun Mi.


"Benarkah? Kalau Min Ah mau, Aku bisa mempertemukannya dengan si penulis cerita," ucap Seung Min.


"Nanti akan kubicarakan lagi dengan Min Ah, dia sangat suka dengan kartun satu ini."


"Dulu mereka membuat karakter Larva untuk menyaingi Game Angry Bird. Pernah juga diprediksi sebagai calon kartun yang gagal." Seung Min masih menatap topi yang dipegang Eun Mi.


"Benarkah?"


"Iya, rumah produksinya dulu hampir gulung tikar. Proyek kartun ini adalah harapan terakhir mereka." Seung Min tersenyum datar.


"Tuhan itu adil, bukankah akan selalu ada pelangi setelah badai?" Eun Mi tersenyum lembut.


"Benar," ucap Seung Min.


"Apa Presdir juga mendapat kostum seperti ini?" tanya Eun Mi.


Seung Min hanya tersenyum kecut. Dia teringat dengan kotak hitam yang sama dengan milik Eun Mi.


"Awas Kau Jihyuk! Aku akan membuatmu menyesal karena mengirimiku kostum bodoh itu!" batin Seung Min.



Pesta ulang tahun Jae Hyun diadakan di sebuah hotel mewah. Dekorasi bertema kartun Larva, memeriahkan ruangan yang bisa menampung lima ratus tamu undangan itu. Saat ini, mata semua orang yang ada di sana sedang memperhatikan salah satu tamu undangan.


Seung Min, sang CEO yang biasa terlihat berwibawa, kini seakan menjadi bahan candaan. Lelaki itu masuk ke ruangan menggunakan kaos oblong dengan gambar larva Yellow, celana jeans, dan topi bulu karakter si larva kuning.


Eun Mi yang berjalan di sampingnya, sampai terkentut-kentut menahan tawa. Dia berulang kali melirik Seung Min, dan berhasil membuat perutnya seakan digelitiki. Perempuan itu sampai mati-matian menahan tawa.


Seung Min berusaha mengabaikan seluruh tatapan undangan pesta. Dia tetap berjalan penuh percaya diri. Lelaki itu membusungkan dada, kepalanya sedikit mendongak, dan jemarinya mengepal menyembunyikan kekesalan kepada Jihyuk.


"Sialan! Aku akan buat perhitungan setelah ini!" batin Seung Min.


Setelah sosok Jihyuk, Dinar, dan Jae Hyun tampak, Eun Mi langsung bergegas menghampiri mereka. Ia memberikan pelukan kepada Jae Hyun, kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil sebagai hadiah ulang tahun.


"Selamat ulang tahun, Jae Hyun!" seru Eun Mi.


"Terima kasih, Bibi. Noona tidak ikut?" tanya Jae Hyun.


"Tidak, Min Ah sedang ada pertunjukan di Miami. Tapi dia berjanji akan berkunjung dan membawakanmu hadiah," ucap Eun Mi sambil mengusap lembut pipi Jae Hyun.


Mata anak pertama Dinar itu melebar dan berkilat. Sejak pertemuan pertamanya dengan Min Ah, Jae Hyun selalu ingin kembali bermain bersama. Akan tetapi, kesibukan Min Ah menjadi penghalang utama.


Di sisi lain, Seung Min terus menatap tajam ke arah Jihyuk. Kedua lelaki itu seakan sedang bertelepati, saling ejek dan mengancam.


Jihyuk menatap geli ke arah Seung Min, sesekali itu tersenyum konyol di balik telapak tangan. Sedangkan bibir Seung Min komat-kamit seakan berkata, 'Awas! Tunggu pembalasanku!'


Aktivitas seluruh tamu undangan kini terhenti, dan mulai berfokus pada pembawa acara.


"Terima kasih sudah ikut hadir dan memeriahkan pesta ulang tahun, Nam Jae Hyun," ucap pembawa acara melalui pengeras suara.


Mata Eun Mi berkilat melihat mainan yang begitu disukai Min Ah. Dia bertekad harus memenangkan game untuk mendapatkannya.


"Karena jumlah tamu undangan sangat banyak, Tuan Rumah hanya menyediakan sepuluh kupon untuk orang yang berkesempatan memainkan game."


Dua laki-laki keluar dan membawa pulpen sejumlah tamu undangan. Pembawa acara meminta tamu maju untuk mengambil pulpen secara acak. Bagi yang mendapatkan pulpen tinta emas, berhak melanjutkan permainan.


"Bagi yang mendapatkan tinta emas, dimohon maju ke depan."


Senyum Eun Mi merekah, karena menjadi salah satu tamu yang beruntung. Dia melangkah ke depan penuh percaya diri. Lain halnya dengan Seung Min, yang melangkah malas karena sama sekali tidak berminat dengan hadiahnya.


"Jadi, Kita akan memainkan kursi musik ...." Pembawa acara mulai menjelaskan cara bermain kursi musik.


Setelah selesai, kesepuluh peserta mengitari sembilan kursi yang sudah disediakan. Tak lama musik mulai dimainkan. Para pemain berjalan mengelilingi kursi, dan mereka saling berebut ketika musik berhenti. Satu orang yang tidak mendapatkan kursi harus tereliminasi.


Permainan itu terus berulang, hingga akhirnya menyisakan Eun Mi dan Seung Min. Mata perempuan itu berkilat, dan menatap tajam ke arah Seung Min.


Seung Min yang awalnya tidak berniat menang, sekarang berubah pikiran karena mengetahui Eun Mi sangat menginginkan figur karakter itu. Dia memiliki sebuah rencana licik untuk menggoda Eun Mi. Sebuah seringai muncul di bibir Seung Min.


"Pertarungan sengit ini menyisakan Nyonya Lee dan Tuan Muda Park. Mari Kita lanjutkan permainan, musik!"


Kali ini musik berbunyi sedikit lebih cepat. Eun Mi terus berjalan mengitari kursi sambil menatap Seung Min waspada. Sampai akhirnya musik berhenti. Perasaan lega menguar di hati Eun Mi, karena berhasil duduk. Dia bersorak gembira, lain halnya para undangan yang hanya terheran-heran melihat tingkah Eun Mi.


"Maaf Nyonya Lee, Anda kalah!" seru Seung Min.


Eun Mi menoleh ke arah sumber suara. Ternyata dia sekarang bukan sedang duduk di atas kursi, melainkan di pangkuan Seung Min. Mata perempuan itu terbelalak, wajahnya pias karena malu. Seung Min tersenyum miring sambil menaik-turunkan alisnya.


Sontak Eun Mi berdiri, kemudian berlari dari area permainan karena malu bukan main. Dia duduk berjongkok di luar ruangan sambil merutuki sikapnya yang memalukan. Bersorak melakukan selebrasi, padahal bukan dia yang menang.


"Dasar bodoh!" Eun Mi mengepalkan tangannya dan memukuli kepala perlahan.


"Maafkan Mama, Min Ah, karena tidak bisa kubawa figur karakter idolamu!" Bahu Eun Mi merosot, kini pantatnya menempel di atas lantai.


Eun Mi menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Sampai akhirnya suara Seung Min membuatnya kembali mendongak.


"Ini!" Seung Min menyodorkan sebuah kotak berisi figur karakter Larva kepada Eun Mi.


"Untukku?"


"Bukan! Enak saja!"


Eun Mi memajukan bibir bawahnya dan menunduk. Seung Min kini ikut duduk berjongkok di depan perempuan itu.


"Hei! Ini untuk putriku! Tolong berikan pada Min Ah," kata Seung Min.


Tatapan Eun Mi kini kembali beralih kepada Seung Min. Dia tersenyum lebar, dan dengan cepat meraih kotak tersebut. Namun, Seung Min kembali menarik kotak itu.


"Ya! Seung Min!" teriak Eun Mi kesal.


"Tapi ... ini tidak gratis."


"Pamrih sekali dengan anak sendiri. Ayo katakan! Apa yang Kamu mau!" seru Eun Mi.


Sebuah senyum penuh arti terukir di bibir Seung Min. "Jadi, Kau harus ...."


.


.


.


Bersambung...