My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Konferensi Pers



Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Eun Bi meminta Eun Mi dan Min Ah menginap, sedangkan Wo Joon pulang karena besok harus kembali ke Amerika.


Eun Mi sedang menemani Eun Bi menonton acara favoritnya. Saat keduanya sedang asyik memperhatikan layar kaca, Seung Min menyusul. Dia duduk di bawah beralaskan karpet bulu. Seung Min berdehem untuk mendapat perhatian kakak beradik itu.


"Kenapa?" tanya Eun Bi.


"Boleh berdiskusi sebentar?" Seung Min menegakkan posisi duduknya.


"Katakan!" Eun Mi mematikan televisi kemudian menatap Seung Min dengan serius.


"Aku berencana mengadakan konferensi pers besok pagi."


"Lalu?" Eun Bi menggeser tubuhnya hingga menghadap Eun Mi.


"Aku akan mengumumkan kehamilanmu, dan mengatakan kepada publik bahwa aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Eun Mi." Seung min tersenyum datar.


"Bagaimana dengan Min Ah?" tanya Eun Bi.


"Aku juga masih bingung mengenai hal itu," kata Seung Min.


"Bilang saja bahwa aku hanyalah keponakan Paman!" Min Ah tiba-tiba turun dari kamar dan menghampiri mereka.


Sontak tiga orang dewasa itu menoleh ke arah Min Ah. Gadis kecil itu berjalan ke arah Seung Min dan duduk di pangkuannya.


"Aku tidak masalah jika harus disembunyikan dari publik. Mereka hanya percaya dengan apa yang dilihat dan didengar. Aku rasa mereka tidak akan mengulik lebih dalam lagi, jika kita sudah angkat bicara." Ucapan Min Ah membuat Seung Min, Eun Mi, dan Eun Bi melongo.


Pemikiran Min Ah memang terkadang sangat dewasa. Sangat jauh berbeda dengan anak seusianya. Akhirnya, perbincangan mereka berlanjut sampai menjelang pagi.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, Eun Mi, Seung Min, Eun Bi, dan Min Ah sudah duduk rapi di belakang meja dengan kain satin berwarna putih. Kilatan lampu flash menyala bergantian, memotret keempat orang itu. Suara pemburu berita terdengar seperti dengungan lebah.


Young Tae berjalan ke depan, kemudian meraih mikrofon. Dia mulai membuka acara tersebut. Semua wartawan terdiam ketika Young Tae berbicara. Puluhan pasang mata kini menatap ke arah mereka.


Eun Mi tiba-tiba terkena serangan panik, karena melihat tatapan para wartawan. Keringat dingin mengucur di balik blus yang ia pakai. Melihat ibunya yang terlihat cemas, Min Ah menggenggam jemari Eun Mi untuk menenangkannya. Sekarang giliran Seung Min mengangkat mikrofon dan mulai berbicara.


"Selamat pagi semua ... hari ini saya akan menjawab rasa penasaran kalian, mengenai foto yang tersebar luas di internet beberapa hari lalu." Seung Min mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Foto tersebut memang benar foto saya dengan Eun Mi."


Para wartawan mulai berbisik satu sama lain. Beberapa dari mereka berbicara dengan suara lirih secara bersamaan, sehingga terdengar seperti kepakan sayap lalat.


"Tapi ... itu adalah foto lama. Sekitar sembilan tahun silam. Saat itu, saya dan Eun Mi sedang menjalin sebuah hubungan yang sangat rumit." Mata Seung Min menerawang mengingat kisah di balik foto yang tersebar.


"Sebenarnya, ada sebuah kisah menyedihkan di balik foto tersebut, karena ... di hari itu, Eun Mi memutuskan untuk pergi meninggalkanku." Seung Min melirik Eun Mi dengan tatapan sendu.


Eun Mi menunduk. Dia ingat betul kejadian hari itu. Pertemuan terakhirnya dengan Seung Min, sebelum pulang ke Indonesia. Dia harus rela cintanya kandas karena status sosial yang terpaut jauh.


"Kenapa Nyonya Eun Mi meninggalkan Tuan Muda Park?" tanya seorang wartawan.


Eun Mi mengambil mikrofon di hadapannya, kemudian mulai bicara. "Sebenarnya hati kami terpaut satu sama lain. Tapi aku merasa sangat sulit untuk bisa bersama Tuan Muda Park. Aku hanyalah seorang perempuan biasa. Status sosialku berada jauh di bawah Seung Min. Jadi, aku memilih untuk berhenti berjuang sebelum berperang."


Eun Bi hanya menunduk mendengar adiknya yang sedang berbicara. Hatinya terasa begitu nyeri dan air mata mulai berdesakan ingin keluar dari persembunyian. Ucapan Eun Mi terdengar sangat memilukan. Dia dapat merasakan bagaimana perasaan Eun Mi saat itu.


"Lalu bagaimana hubungan kalian saat ini?" tanya wartawan lain.


"Hubungan kami sangat baik. Sebuah takdir kembali mempertemukan kami. Min Ah, menjadi salah satu anggota dari grup orkestra yang sama dengan Eun Bi. Berawal dari sana kami menjalin hubungan baik." Eun Mi tersenyum lembut sambil menatap Eun Bi.


"Mengenai hal itu, aku ingin menjaga privasi. Yang jelas, ayah Min Ah adalah pria pemalu. Dia tidak mau namanya disebut dan menjadi konsumsi publik." Eun Mi tersenyum datar.


Seung Min menoleh ke arah Eun Mi. Sebuah perasaan bersalah menyeruak masuk ke dalam hati lelaki itu. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ingin sekali Seung Min mengatakan pada dunia bahwa Min Ah adalah putrinya. Akan tetapi, situasi saat ini tidak memungkinkan untuk mengungkapkan fakta tersebut.


"Di kesempatan kali ini, aku juga ingin mengumumkan bahwa istriku sedang mengandung. Setelah penantian selama tujuh tahun, akhirnya kami dipercaya untuk bisa memiliki keturunan." Seung Min tersenyum tipis sambil menautkan jemarinya dengan jari lentik Eun Bi.


"Wah! Selamat, Tuan!" seru semua orang yang berada dalam ruangan.


Tepuk tangan meriah menutup konferensi pers hari itu, Seung Min dan yang lain beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan. Mereka beristirahat sebentar sebelum pulang ke rumah masih-masing.


.


.


.


Di sebuah rumah mewah, seorang laki-laki sedang menatap tajam ke arah layar televisi. Rahangnya mengeras ketika melihat konferensi pers yang diadakan Seung Min sukses. Karena kesal, ia melemparkan gelas berisi anggur ke dinding. Suara pecahan gelas itu membuat pelayannya tergopoh-gopoh menghampiri.


"A-ada apa, Tuan?" tanya si pelayan sambil menunduk.


"Bikan urusanmu! Cepat pergi!" teriak lelaki itu.


"Ba-baik, Tuan." Si pelayan langsung beringsut meninggalkan laki-laki itu sendiri.


Lelaki dalam balutan bathrope itu, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia menyalakan ponsel dan mulai menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan!" Suara seorang lelaki lain menyapa pendengarannya.


"Kerjamu tidak becus! Masih ingin bekerja sama denganku ataau tidak?" Otot leher lelaki itu menegang.


"Ma-maaf, saya ada pekerjaan lain. Jadi tidak bisa mengawasi mereka akhir-akhir ini."


"Kita ubah rencana. Segera temui aku di Kafe X sekarang juga!"


"Baik, Tuan."


Lelaki itu mematikan sambungan telepon, dan melemparnya asal ke atas ranjang. Dia meninju tembok dihadapannya hingga meninggalkan luka pada buku-buku tangan. Rahang lelaki itu kembali mengeras dan dadanya naik turun menahan amarah.


"Tunggu saja, pembalasanku Seung Min!"


.


.


.


Bersambung ...


Doakan author sehat ya biar bisa double up seperti hari ini.😁


sambil menunggu episode selanjutnya tayang, mampir dulu yuk ke karya salah satu author kesayangan aku Kak Kisss.



Yukk berteman di Sosial media...


FB: Ika Kartika Rani


IG: @ikakartikarani