
Usai mendapatkan kabar dari dokter, Seung Min langsung masuk ke ruang UGD menghampiri Eun Bi. Perempuan itu sudah sadar, dan sedang bersandar pada kepala brankar.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Seung Min.
"Masih sedikit pusing." Eun Bi tersenyum tipis.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu sedang mengandung?" Seung Min menatap tajam Eun Bi.
"Aku tidak tahu kalau sedang mengandung." Eun Bi menunduk sambil memilin ujung selimutnya.
"Bagaimana bisa tidak tahu? Perempuan kan ...." Seung Min memalingkan wajah, enggan melanjutkan kalimatnya karena malu.
"Jadwal haidku tidak teratur," kata Eun Bi.
"Baiklah. Cepatlah pulih. Kita bicarakan lagi nanti setelah pulang ke rumah. Aku pergi dulu."
"Seung Min!" teriak Eun Bi.
Seung Min menghentikan langkah, kemudian menoleh. "Ada apa?"
"Itu ... aku ...."
"Apa?"
"Aku ingin makan jeruk jeju. Tapi ...."
"Tapi?" Seung Min memiringkan kepala.
"Aku ingin makan langsung setelah dipetik dari pohonnya."
"Hah!" Mata Seung Min melebar.
"Boleh, ya?" Eun Bi mengedipkan mata berulang kali sambil menautkan jemarinya.
Seung Min menepuk dahi. Dia tak habis pikir dengan permintaan aneh istrinya. Bayangan melayani istri yang sedang mengidam hinggap di kepalanya. Seung Min kembali teringat bagaimana Young Tae mengeluh saat mendiang istrinya sedang mengalami fase itu.
"Baiklah, kita bicarakan lagi nanti. Aku pergi dulu." Seung Min keluar dan meninggalkan Eun Bi.
.
.
.
Keesokan harinya, Eun Bi sudah diperbolehkan pulang. Dia dijemput oleh ayahnya, karena Seung Min sedang ada rapat dengan beberapa perusahaan besar.
Hari itu langit terlihat begitu cerah. Gumpalan awan berjalan beriringan menemani perjalanan Eun Bi. Perempuan itu mengelus perutnya yang masih rata. Bayangan hadirnya sosok malaikat kecil membuat Eun Bi terus tersenyum bahagia.
"Eun Bi, bagaimana sikap Seung Min setelah mengetahui kehamilanmu?" tanya Tuan Lee.
"Sikap Seung Min sudah jauh lebih baik dariada sebelumnya, Yah." Eun Bi tersenyum lembut.
"Baguslah, segera beri tahu Ayah, jika dia kembali membuatmu menangis!" Tuan Lee mengacungkan jari telunjuknya untuk memperingatkan Eun Mi.
"Aigoo ... aku bukan anak kecil lagi, Yah." Eun Bi memutar bola matanya.
Tuan Lee merengkuh tubuh putrinya. Dia memeluk tubuh Eun Bi sambil mengelus rambutnya penuh cinta. Sesekali Tuan Lee mengecup puncak kepala Eun Bi.
"Bagiku, kamu tetaplah putri kecil yang terus membutuhkan perlindungan."
Hati Eun Bi menghangat mendengar ucapan sang ayah. Dia membalas pelukan Tuan Lee dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
"Terima kasih Ayah, aku mencintaimu." Eun Bi tersenyum.
Di kantor PSJ TV, Seung Min yang sudah menyelesaikan rapat sedang menyandarkan tubuhnya pada kursi. Young Tae mematikan proyektor, kemudian menghampiri Seung Min. Lelaki itu membuka tablet, kemudian membacakan jadwal Seung Min selanjutnya. Ucapan Young Tae berhenti ketika Seung Min meluncurkan sebuah pertanyaan.
"Apa wanita hamil boleh bepergian jauh?" tanya Seung Min.
"Ya? Bagaimana, Presdir?" tanya Young Tae untuk memastikan ia tidak salah dengar.
"Apa kamu tidak mendengarku?" Seung Min menatap tajam sekretarisnya itu.
"Ah, sebaiknya jangan bepergian jauh dulu, Presdir. Apa lagi saat trimester pertama," kata Young Tae, diikuti anggukan Seung min.
"Baiklah. Tapi bagaimana jika Eun Bi mengamuk karena keinginannya tidak kuturuti?" Seung Min mengusap dagu.
"A-apa Nyonya sedang mengandung?"
"Iya. Dia sedang menggandung enam minggu." Seung Min menunjukkan jari-jarinya ke arah Young Tae.
"Selamat, Presdir. Anda memang pejantan tangguh! Tidak diragukan lagi!" Young Tae mengacungkan dua jempol, diikuti tatapan tajam Seung Min.
Melihat tatapan membunuh Seung Min, Young Tae langsung menunduk dan mengucapkan permintaan maaf.
"Jadi, aku harus bagaimana ini?" Seung Min mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa permintaan nyonya susah sekali. Tapi, hati ibu hamil memang sangat sulit dimengerti. Belum hamil saja perempuan sukar dipahami. Apalagi ketika hamil? Kita akan semakin dibuat pusing dan serba salah!" Young Tae menggelengkan kepala, mengingat lagi mendiang istrinya sering merengek ketika hamil.
Seung Min mengangguk tanda setuju. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Young Tae.
"Presdir, bagaimana jika momen ini kita jadikan kesempatan untuk menutup skandal Anda dengan Nyonya Eun Mi?"
"Maksudmu?" Seung Min menautkan alisnya.
"Kita bisa mengumumkan kehamilan Nyonya Eun Bi, dan mengkonfirmasi bahwa Anda sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Nyonya Eun Mi."
"Lalu bagaimana fakta mengenai MinAh?"
Pembicaraan mereka berlanjut hingga menjelang sore. Setelah berunding dan berdebat cukup lama, Seung Min memutuskan untuk menghubungi Eun Mi.
"Halo, Eun Mi. Apakah besok lusa kamu sibuk?"
" ... "
"Ah, tidak. Aku akan mengadakan konferensi pers. Apa kamu bisa menghadirinya?"
" ... "
"Iya. Baiklah. Demi keamanan kalian, aku akan meminta sopirku menjemut."
" ... "
"Baiklah, terima kasih." Seung Min mematikan sambungan telepon.
.
.
.
"Siapa, Ma?" Min Ah meletakkan sendoknya setelah sang ibu menutup sambungan telepon.
"Ah, ayahmu. Besok lusa dia meminta kita untuk hadir dalam konferensi pers yang ia adakan." Eun Mi kembali duduk dan meraih sendok untuk menikmati kue coklat buatannya.
"O ...," ucap Min Ah singkat sambil mengangguk.
Tiba-tiba Eun Mi kembali meletakkan sendoknya. Tubuhnya sedikit condong ke arah Min Ah. "Ada kabar baik megenai Bibi Eun Bi."
"Apa, Ma?" Min Ah turut meletakkan sendoknya dan fokus menatap sang ibu.
"Bibi Eun Bi sedang mengandung!" Eun Mi tersenyum lebar.
"Benarkah?" Mata Min Ah melebar.
"Benar. Tadi pagi kakek mengabari Mama." Eun Mi tersenyum lebar dan kepalanya mengangguk.
"Bolehkah aku mengunjungi Bibi?" tanya Min Ah antusias.
"Tentu saja!"
"Hore!" Min Ah menngangkat kedua tangannya ke udara.
"Bagaimana kalau kita menelepon Bibi?" tanya Eun Mi.
Min Ah mengangguk. Eun Mi langsung meraih ponselnya dan mulai menghubungi Eun Bi. Dia juga menekan tombol handsfree agar Min Ah bisa ikut mengobrol.
"Halo, Eun Mi. Ada apa?" Suara Eun Bi menyapa telinga Eun Mi dan Min Ah.
"Aku mendapat kabar dari ayah kalau kamu hamil. Benarkah?"
"Iya." Suara Eun Bi terdengar ceria.
"Bibi, aku dan Mama besok mau datang berkunjung," sahut Min Ah.
"Wah, kemarilah, Sayang! Bibi sangat merindukan kalian!"
"Mau dibawakan apa?" tanya Eun Mi.
"Sebenarnya aku sedang menginginkan jeruk jeju. Tapi, permintaan susah biar Seung Min yang mengabulkan." Eun Bi terkekeh mengingat keinginan konyolnya yang tiba-tiba muncul.
"Susah? Bukannya jeruk jeju mudah ditemukan di swalayan?" Eun Mi menautkann kedua alisnya.
"Aku ingin makan jeruk yang baru dipetik dari pohonnya!"
"Astaga! kasihan sekali Seung Min!" Eun Mi terbahak mendengar permintaan saudarinya itu.
"Lalu, mau kubawakan apa?" tanya Eun Mi setelah tawanya reda.
"Aku ingin makan nasi goreng kimchi buatanmu!" Air liur Eun Bi hampir saja menetes karena membayangkan sedapnya nasi goreng buatan Eun Mi.
"Baiklah! Di rumahmu ada bahannya tidak? Jika tidak, aku akan sekalian membawanya."
"Tidak ada. Aku jarang sekali memasak."
"Baiklah. Sampai jumpa besok!" Eun Mi mematikan sambungan telepon dan melanjutkan aktivitas sorenya bersama Min Ah.
.
.
.
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti LIG sejauh ini...
Sayang kaliannn❤️❤️❤️
Sambil nunggu Chika Up lagi, Yukk mampir ke novel karya Mama Reni... Love Is Rain.
Rekomended buat kamu yang suka novel bertaburan bawang ...