
Jemari Ye Joon bergetar hebat ketika kembali melihat gambar di dalam ponselnya. Seseorang berusaha menghasutnya dengan mengirimkan foto Eun Mi dan Yesung yang sedang berduaan di sebuah toko. Sayangnya, semua sudah terlambat ketika dia menyadari hal itu hanyalah umpan. Ye Joon meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai.
Semilir angin dingin terasa menusuk tulang. Jalanan Seoul yang semakin ramai seakan mengejek kesunyian hatinya saat ini. Ye Joon merasa tidak ada seorang pun yang peduli dengan perasaannya. Lelaki itu memasuki mobil dan melajukannya perlahan. Sebuah panggilan masuk. Ye Joon memasang earbuds kemudian menjawab telepon itu.
"Oppa, Tuan Muda Park ingin bertemu." Suara lembut Ye Jin menyapa pendengaran Ye Joon.
"Aku sedang ada di jalan. Apa dia datang ke rumah?" tanya Ye Joon.
"Iya. Baru saja sampai."
"Tunggu sepuluh menit lagi aku sampai!" Ye Joon langsung mempercepat laju mobil.
Tak lama kemudian Ye Joon sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah. Dia melangkah cepat dan membanting pintu kasar. Chang Min menoleh ke arahnya, sedangkan Ye Jin bangkit dari sofa.
"Ada masalah apa?" tanya Ye Joon dengan suara dingin.
Mendengar pertanyaan Ye Joon, Chang Min tersenyum miring, kemudian membuang muka. Chang Min beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri Ye Joon.
"Aku datang karena kamu tidak bisa dihubungi. Ah, aku juga sekaligus mengingatkan bahwa kamu harus terus melanjutkan permainan yang sudah kita mulai. Jika tidak, aku akan menghentikan dana untuk membiayai pengobatan ayahmu yang seperti mayat hidup itu!" Chang Min menepuk pelan pipi Ye Joon kemudian berjalan meninggalkannya yang masih mematung.
Jemari Ye Joon mengepal erat di samping tubuh. Rahangnya mengeras sehingga memperlihatkan urat di area leher. Dada lelaki itu naik turun menahan amarah yang bergejolak di dalam dada. Ye Jin mendekat. Dia meraih lengan Ye Joon kemudian mengajaknya duduk.
Ye Joon melangkah gontai mengikuti Ye Jin. Dia menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. Ye Jin melangkah ke arah dapur, kemudian membuka lemari pendingin. Jemari lentiknya meraih sebotol air mineral, dan kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui sang kakak.
"Oppa, minumlah." Ye Jin menyodorkan botol itu kepada Ye Joon.
Ye Joon meraih botol itu, kemudian meneguk isinya hingga tandas tak tersisa. Amarahnya seakan padam seiring guyuran air dingin yang membasahi kerongkongannya. Laki-laki itu menghela napas kasar.
"Aku harus bagaimana?" keluh Ye Joon.
Ye Jin menatap sang kakak dengan tatapan nanar. Dia duduk di samping Ye Joon, kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang kakak. Ye Joon mengusap lembut puncak kepala Ye Jin.
"Apa karma buruk kita sedang dimulai?"
Mendengar ucapan Ye Joon, membuat Ye Jin langsung bangkit dari pelukan sang kakak. Dia memicingkan mata kemudian mendengus kesal.
"Oppa, kita tidak sedang melakukan hal buruk. Kita hanya sedang memberikan pelajaran kepada orang yang pernah merampas hak kita di masa lalu! Apa Oppa melupakannya?" Suara Ye Jin mulai bergetar karena amarah dan kesedihan yang berkecamuk di dalam dada.
"Ibu Seung Min sudah merampas kebahagiaan kecil keluarga kita! Apa Oppa lupa saat ibu kehilangan akal dan menabrakkan tubuhnya pada truk yang melintas?" Ye Jin berusaha mengambil napas kemudian kembali lagi bicara.
"Lalu, ketika Ayah kembali hari itu. Apa Oppa tidak mengingatnya? Keadaan yang sama terulang. Tiba-tiba ayah depresi karena janji manis perempuan itu! Dia berjanji untuk hidup bersama Ayah dan meninggalkan keluarga Tuan Park, tapi dengan mudahnya dia mengingkarinya!" Ye Jin beranjak dari sofa kemudian meninggalkan Ye Joon yang masih membatu di ruang tamu.
Ye Joon tidak bisa menyanggah sedikit pun ucapan sang adik. Semua yang diungkapkan Ye Jin adalah fakta kelam keluarganya. Mengingat kembali bagaimana sang ayah tergila-gila pada ibu Seung Min, membuat tekadnya untuk menghancurkan Seung Min kembali mencuat.
Keesokan harinya Ye Joon kembali ke Rumah Sakit. Dia membawa satu buket bunga lili berwarna putih. Lelaki itu sesekali menghirup aroma yang keluar dari bunga itu. Sebelum memasuki bangsal tempat Eun Mi dirawat, Ye Joon menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.
Ye Joon mendorong pintu di depannya secara perlahan, kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Dia tersenyum lembut saat Eun Mi melihat ke arahnya.
"Pagi, Sayang." Ye Joon melangkah mendekati Eun Mi. Ketika sudah mendapatkan Eun Mi dalam jangkauan, lelaki itu menyerahkan buket yang ia bawa kepadanya. Eun Mi tersenyum lebar kemudian menghirup aroma menyegarkan dari bunga lili itu. Ye Joon menarik kursi kemudian mendudukinya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ye Joon.
"Belum bisa menggerakkannya." Eun Mi menatap ke arah kakinya yang tertutup selimut.
"Tidak apa-apa, nanti juga bisa digerakkan lagi." Ye Joon meraih jemari Eun Mi kemudian mengecupnya perlahan.
Keduanya terus berbincang sampai akhirnya terdengar deritan pintu. Ye Joon meraih posisi duduknya untuk melihat siapa yang datang. Seung Min melangkah masuk. Lelaki itu menatap Ye Joon dengan tatapan dingin. Dia meletakkan kantong kertas berisi makanan ke atas meja di sudut ruangan, kemudian menghampiri Ye Joon.
Tatapan Seung Min seakan menguliti Ye Joon. Dia melipat kedua lengannya di depan dada kemudian berkata, "Untuk apa kau kesini?"
Bersambung ...