My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Surat Ye Joon



Ye Jin kembali membuka lipatan kertas di atas piano. Ini adalah kali ketiganya gadis itu membuka surat terakhir dari sang kakak. Setiap kata yang ia baca, membuat hatinya seakan tertusuk sembilu. Gadis itu tetap bersikeras untuk membaca surat itu. Hanya selembar kertas itu yang bisa mengobati rasa rindunya kepada Ye Joon.


Air mata Ye Jin terus mengalir deras tanpa aba-aba. Dia mengeja setiap huruf yang ditulis dengan tinta berwarna hitam. Semua terasa seperti mimpi. Kenyataan ini sangat sulit ia terima.


***


Jangan Menangis ....


Maafkan aku karena belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Maaf, karena tidak bisa menepati janji untuk menggandeng tanganmu menuju altar suatu hari nanti. Aku takut ....


Seung Min sudah mengetahui semua permainanku selama ini. Aku baru menyadarinya. Aku mengkhianati dua orang yang dekat denganku di waktu yang bersamaan.


Ye Jin, berjanjilah satu hal untukku. Tetaplah kuat menjalani hidup. Sering-seringlah mengajak ayah berbicara. Mungkin dia tidak merespon apa yang kamu bicarakan. Akan tetapi, aku tahu bahwa ayah sangat menyesal atas perbuatannya di masa lalu.


Jangan boros! Aku sudah tidak bisa lagi memberimu uang jajan. Kelola butik yang kamu miliki dengan sepenuh hati. Mungkin pekerjaan itu belum bisa membuatmu kaya, seperti apa yang menjadi impianmu. Namun, percayalah ... setiap apa yang kita kerjakan dengan hati, pasti akan memberikan kebaikan untuk hidup kita.


Jangan menjadi pendendam sepertiku! Hapus kebencianmu dalam hati. Terlebih lagi mengenai Seung Min. Sebenarnya dia tidak tahu apapun mengenai hubungan ayah dengan ibunya. Kamu ingat? Dia sebenarnya juga kakak kita. Kita memiliki ayah yang sama. Terdengar rumit memang, tetapi itulah kenyataannya.


Aku sangat menyayangimu. Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan "Oppa" untuk terakhir kalinya? Tolong tersenyum mulai saat ini. Kau akan terlihat lebih manis jika banyak tersenyum.


Ye Joon


***


Usai membaca ulang surat itu, Ye Jin tersenyum miring. Tubuhnya bergetar hebat karena menahan tangis agar tidak pecah. Dia memukul dadanya berulang kali agar sesak yang mengimpitnya sedikit berkurang. Namun, pertahanannya seketika runtuh.


"Oppa! Aku tidak bisa sekuat yang kamu harapkan! Aku rapuh tanpamu! Bisakah kamu kembali ke sini, huh?" Ye Jin menangis tersedu-sedu. Tubuhnya merosot ke lantai karena tidak kuat lagi menopang beban kesedihan yang bersarang di dalam hati.


Di kediaman Tuan Lee, Seung Min sedang berdiri di pinggir jendela kamarnya. Dia menatap jalanan yang mulai basah karena tetesan air hujan. Daun-daun bergoyang cepat karena sentuhan dari tangisan langit itu. Semburat jingga menghiasi langit sore yang terlihat aneh. Berwarna jingga, tetapi awan menurunkan rintik air hujan.


Seung Min membalik badannya. Dia kembali meliriik secarik kertas yang ada di atas nakas samping ranjangnya. Tujuh hari sudah, benda itu tidak ia buka. Di luar lipatan kertas, tertulis deretan huruf yang menandakan bahwa surat itu tertuju untuknya.


Sebuah hembusan napas kasar keluar dari hidung Seung Min. Dia melangkah secara perlahan mendekati nakas. Tangan Seung Min mengalami tremor saat meraih kertas di hadapannya. Manik mata hitam pria itu bergerak, melihat deretan huruf yang tertoreh di dalamnya.


***


Apa kabar?


Jangan merasa terbebani dan merasa bersalah karena kepergianku. Kamu tidak salah. Justru akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah mempermainkan kehidupanmu. Maaf karena harus mengatakan semuanya melalui tulisan indahku ini. Masih bisa membacanya, 'kan?


Aku ingin memberitahumu sebuah fakta mencengangkan. Awalnya, aku juga tidak menyangkanya. Aku baru menetahui semua ini ketika pulang dari pemotretan foto keluarga saat SMA. Ayah dan ibu ribut besar. Ibuku menemukan pesan mesra dari ibumu.


Seung Min, sebenarnya kita ini saudara. Kita memiliki ayah yang sama. Mungkin hal inilah yang membuat Tuan Park begitu membencimu. Kamu bukalah siapa-siapa di keluarga itu. Coba tanyakan langsung kepadanya. Kenapa masih mempertahankan pernikahan rumit dengan ibumu. Aku titip Ye Jin dan ayah kita.


Hahaha ....


Rasanya aneh sekali saat menyebutkan kata 'ayah kita'. Keluargaku hancur setelah hari itu. Ibu kehilangan kewarasannya, dan berakhir dengan tragis. Dia mengakhiri hidup sama sepertiku. Ayah? Awalnya tidak tidak mempedulikan kami. Jahat sekali bukan?


Ayah sibuk mengejar ibumu. Dia bersikeras untuk tetap menjalani kehidupan dengannya. Akan tetapi, Tuan Park mennhalangi semuanya. Dia melarang ayah menemui ibumu. Ayah depresi berat sejak hari itu. Keluarga kami benar-benar hancur. Aku pindah ke pinggiran kota. Berhenti sekolah dan bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sampai suatu hari Chang Min menemuiku.


Chang Min menawarkan uang dalam jumlah yang besar, dia juga menghasutku untuk membalas sakit hati ibu dan ayah kepada ibumu. Secara tidak sadar, aku turut andil dalam membuat kehidupanmu kacau. Maaf.


Seung min, aku harap kamu bersedia memaafkanku. Maaf juga karena sudah memberikan beban baru di pundakmu dengan menitipkan adik dan ayah kita.


Ye Joon.


***


Setelah selesai membaca surat dari Ye joon, kertas yang ia pegang melayang-layang di udara, dan berakhir di atas lantai. Tubuh Seung Min merosot. Berbagai macam perasaan rumit kini memenuhi hatinya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Seung Min membutuhkan lebih banyak waktu lagi, untuk menerima semua kenyataan baru yang teramat menyakitkan ini.


"Aku bingung harus bersikap seperti apa sekarang ini!" Mata Seung Min memerah ujung matanya mulai basah. Hari itu ia menangis dalam pelukan senja.


Bersambung ....