My Seoul: Love Is Gone

My Seoul: Love Is Gone
Debut Min Ah Bersama Seoul Harmonic Orchestra



Perlahan Min Ah membuka mata, dia terduduk, kemudian mengusap matanya. Ketika ingatannya kembali mengenai kejadian 45 menit yang lalu, gadis kecil itu berteriak dan menangis histeris. Eun Bi memeluk Min Ah, sambil menepuk punggungnya.


"Sudah, semua baik-baik saja."


"A-aku takut, Bibi. Di sana gelap dan membuatku sesak! Aku hanya ingin menyapanya!" Tubuh Min Ah bergetar karena tangis yang tak kunjung reda.


"Apa perlu kita batalkan pertunjukan hari ini?" ucap Manajer Kim.


Mendengar ucapan Manajer Kim, membuat Min Ah menghentikan tangisnya. Dia melepaskan diri dari pelukan Eun Bi, kemudian mengusap air mata.


"Aku tidak mau! Ini debut pertamaku bersama grup!" seru Min Ah, kemudian berdiri dan mulai merapikan gaunnya.


"Ayo, Bibi! Kita harus segera naik panggung!" Mata Min Ah berkilat, seakan melupakan kejadian beberapa menit yang lalu.


Eun Bi menggandeng jari mungil Min Ah, kemudian mulai berjalan menuju panggung. Manajer Kim mengekor di belakangnya, sedangkan Ye Joon kembali ke kursi penonton.


Min Ah naik ke atas panggung, kemudian mendaratkan bokongnya pada kursi. Dia menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Gadis kecil itu melirik Wo Joon yang sudah memegang biola, lalu tersenyum penuh arti.


Tirai panggung mulai terbuka. Lampu sorot mulai menerangi sang konduktor. Lengannya mulai bergerak, diikuti alunan suara musik. Harmoni yang tercipta, dapat menyihir siapa pun yang mendengarnya.


Min Ah meresapi setiap nada yang tercipta oleh dentingan piano yang dimainkannya. Sesekali mata gadis itu terpejam, senyuman lembut terukir seiring simfoni yang tercipta.


Permainan musik mereka semua diakhiri oleh tepuk tangan meriah dari para penonton. Min Ah tersenyum puas, karena merasa debut pertamanya telah berhasil.


.


.


.


Setelah acara selesai, Eun Bi langsung mengajak Min Ah masuk ke kamar hotel. Dua perempuan beda usia itu membersihkan diri, kemudian bersantai di balkon kamar. Keduanya menikmati semilir angin malam sembari memandang langit Miami yang bertabur bintang.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Eun Bi.


"Bahagia, Aku sangat bahagia saat ini. Bagaimana dengan Bibi?" Min Ah memandang lekat perempuan cantik di hadapannya.


Eun Bi tersenyum lembut. Dia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, supaya tidak berantakan karena ulah sang angin.


"Kau tahu? Hari ini adalah salah satu hari terberat Bibi," ucap Eun Bi.


"Kenapa?"


"Masih belum merasa bersalah?" tanya Eun Bi sambil memencet lembut hidung Min Ah.


"Aduh! Sakit, Bibi!" gerutu Min Ah.


"Hari ini adalah hari pertamaku merasa sangat takut kehilangan." Mata Eun Bi menerawang jauh, menatap langit di atasnya.


"Wah! Berarti diriku sangat berarti untuk Bibi!" Min Ah tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.


"Ya, Kamu adalah salah seorang yang sangat berharga bagi Bibi." Eun Bi tersenyum lembut sambil mengusap pipi Min Ah.


"Bibi, masih memiliki papa?"


"Masih, kenapa, Sayang?" tanya Eun Bi.


"Bagaimana rasanya memiliki seorang papa?" Mata Min Ah berkilat menanti jawaban Eun Bi.


"Kamu akan selalu merasa nyaman ketika bersamanya. Tidak ada yang Kamu khawatirkan lagi asal bisa menggenggam tangannya," ucap Eun Bi.


"Tapi, Aku selama ini merasa nyaman dan tenang walaupun tidak memiliki papa. Apa itu artinya Aku tidak membutuhkannya?"


"Hei! Bagaimana bisa Kamu berpikiran seperti itu?" Eun Bi mengerutkan dahinya.


"Ya ... karena selama ini Aku merasa baik-baik saja tanpa sosok seorang papa," ucap Min Ah sambil mengangkat bahu.


"Dia pikir, bagaimana bisa dirinya hadir di dunia jika bukan karena papanya?" batin Eun Bi.


Di tempat lain, Ye Joon dan Wo Joon sedang saling melemparkan tatapan penuh permusuhan. Selesai acara, Ye Joon langsung mengajak remaja berusia 17 tahun itu berbicara.


"Bagaimana bisa Min Ah bersamamu?" tanya Ye Joon sambil terus memicingkan mata.


"Dari tadi Aku sudah menjawabnya, bukan? Aku kebetulan lewat dan ikut terkunci di sana!" teriak Wo Joon.


"Kau berbohong!" Ye Joon mendorong pelan dada Wo Joon dengan ujung jarinya.


"Coba tanyakan pada Min Ah! Jika Paman tidak percaya padaku! Bawa anak ingusan itu kemari!" teriak Wo Joon.


Sebuah tinju berhasil mendarat di pipi Wo Joon. Wajah Ye Joon mulai memerah karena menahan amarah. Dadanya naik turun karena emosi yang bergemuruh di dalam dada.


"Aku akan menelepon Min Ah sekarang juga!"


Ye Joon meraih ponselnya, kemudian mulai menghubungi Eun Bi. Panggilannya diangkat saat deringan ketiga.


" ... "


"Di mana Min Ah?"


" ... "


"Temui Aku di tepi pantai, bawa Min Ah ke sini."


" ... "


"Aku tidak akan bisa tidur nyenyak, jika tidak segera mendengar langsung dari bibir Min Ah."


Ye Joon mematikan sambungan telepon, kemudian kembali menatap tajam Wo Joon yang sedang tertunduk. Sudut bibir remaja itu sedikit sobek dan mengeluarkan darah.


Tak lama kemudian, sosok yang mereka tunggu datang. Min Ah berlari ke arah Wo Joon. Gadis kecil itu memiringkan kepala, berusaha melihat wajah Wo Joon yang masih tertunduk. Mata Min Ah melebar, dan bibirnya mengaga melihat darah di sudut bibir Wo Joon.


"Oppa, Kamu kenapa?" Min Ah mencoba mengusap darah di bibir Wo Joon, tetapi dia menghindar.


Min Ah membalikkan badan, dan menatap tajam ke arah Ye Joon. Gadis kecil itu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa Paman, yang memukul Kak Wo Joon?" Suara Min Ah terdengar dingin di telinga Ye Joon.


"Dia pantas mendapatkannya," ucap Ye Joon tak kalah dingin.


"Apa maksud Paman?" Min Ah mendongakkan kepalanya sambil berkacak pinggang.


"Dia sudah membawamu masuk ke gudang itu! Kamu lupa? Hampir saja Kamu gagal debut karena Dia!" teriak Ye Joon sambil menunjuk Wo Joon.


"Astaga, Paman! Justru Kak Wo Joon yang ingin menolongku! Jadi, balasan seperti inikah yang pantas didapatkan olehnya?" Min Ah menautkan kedua alisnya.


Eun Bi yang menyaksikan perseteruan dua manusia di hadapannya hanya bisa melongo. Namun, dia mulai melangkah maju untuk menengahi adu mulut keduanya.


"Su-sudah, sebaiknya kita masuk. Udara sudah mulai dingin, bukankah besok kita juga akan kembali ke Seoul?" ucap Eun Bi sambil memegang bahu Min Ah.


Min Ah membuang muka, kemudian menghampiri Wo Joon. Gadis kecil itu jongkok, memiringkan kepala, kemudian mulai mengajak bicara Wo Joon.


"Oppa, ayo, obati dulu lukamu!" Min Ah berdiri, kemudian menarik lengan Wo Joon.


Ye Joon memicingkan mata, menatap kesal pada si kecil Min Ah. Lain halnya dengan Eun Bi yang tersenyum geli melihat tingkah manis gadis kecil itu. Mereka mulai melangkah masuk ke kamar hotel Eun Bi.


Sesampainya di dalam kamar, Min Ah langsung mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari tisu steril dan plester luka. Gadis kecil itu mengusap lembut bibir Wo Joon yang terluka, lalu menempelkan plester kecil berbentuk hati.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Min Ah.


Wo Joon menatap lembut Min Ah, lalu mengangguk pelan. Sebuah senyum terbit di bibir mungil Min Ah. Gadis itu berbalik arah, dan menatap tajam Ye Joon.


"Paman! Sekarang minta maaf pada Kak Wo Joon!" seru Min Ah.


"Tidak mau! Kecuali, memang Dia tidak bersalah!" teriak Ye Joon sambil menatap tajam ke arah Wo Joon.


"Dasar, kepala batu!" ucap Min Ah sambil menggelengkan kepalanya.


Bahu Eun Bi bergetar karena berusaha meredam tawanya agar tidak pecah. Mata Ye Joon melebar, dan bibirnya menganga karena ucapan Min Ah. Baru kali ini dia berdebat dengan gadis kecil itu.


"Baik, Paman, jadi begini ceritanya ...."


Mata Min Ah mulai menerawang, mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.


.


.


.


Bersambung ...