
Setelah semua orang pergi, Seung Min mengacak rambutnya frustrasi. Tekanan dari berbagai pihak membuat lelaki itu kesulitan bernapas. Dia ingin sekali menyerah, tetapi saat mengingat lagi perjuangan saat menjalankan stasiun TV, membuat semangatnya kembali bangkit.
Tak lama kemudian, Young Tae memasuki ruang rapat. Dia membacakan jadwal kerja Seung Min berikutnya. Begitu Young Tae selesai, Seung Min menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Siapa yang menyebarkan berita itu?" tanya Seung Min.
"Anonim, Presdir. Ahli IT sedang mencari lagi alamat IP yang tertera. Pemilik portal berita sudah menurunkan berita kemarin dari laman, tapi semua sudah terlanjur tersebar. Kita harus segera mengadakan konferensi pers," jelas Young Tae.
"Lakukan! Aku akan mengakui bahwa itu benar diriku dan Eun Mi."
"Tapi, Presdir ...."
Langkah Seung Min otomatis berhenti. Dia balik badan kemudian mendekati Young Tae. Lelaki itu menyipitkan mata, membuat Young Tae menundukkan kepala.
"Ma-maaf, Presdir."
"Bukankah Kamu tahu konsekuensinya jika mengatakan tidak?"
"Tahu, Presdir. Maaf." Young Tae langsung keluar dari ruangan Seung Min untuk mempersiapkan jadwal konferensi pers.
Baru lima menit Young Tae keluar, dia kembali masuk menemui Seung Min. Wajah lelaki itu terlihat panik. Dia mengangguk kemudian mulai berbicara.
"Maaf, Presdir. Beberapa perusahaan membatalkan kontrak pemasangan iklan." Young Tae terus menunduk dan tidak berani menatap Seung Min.
Mendengar kabar dari sekretarisnya, membuat darah Seung Min seakan mendidih. Dia mengeratkan rahang sampai terdengar suara gigi yang saling beradu. Otot disekitar matanya juga mulai timbul.
"Kuberi waktu sampai akhir pekan ini. Segera persiapkan konferensi pers!"
"Ba-baik, Presdir." Young Tae mengangguk, kemudian meninggalkan Seung min yang masih tercenung di meja kerjanya.
.
.
.
"Sejak kemarin Min Ah hanya mengurung diri di dalam kamarnya." Eun Bi sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
" ... "
"Iya, maaf, Bibi menyusahkanmu." Eun Mi mengela napas kasar dan bahunya merosot.
" ... "
Eun Mi langsung mematikan sambungan telepon saat pembicaraan berakhir. Dia menatap pintu kamar Min Ah yang masih tertutup rapat. Terdengar suara langkah kaki mendekati Eun Mi.
"Dia belum keluar?" Ye Joon ikut menatap pintu kamar Min Ah.
Eun Mi hanya menggeleng, napas yang ia hembuskan terdengar begitu berat. Dia paham betul saat ini Min Ah sangat kecewa dengan keputusan Manajer Kim. SHO adalah salah satu impian terbesar yang berhasil dicapai Min Ah. Namun, karena skandalnya dengan Seung Min terkuak, Min Ah juga terkena imbas.
"Wo Joon bilang, hari ini akan pulang," ucap Eun Mi.
"Semoga bocah ingusan itu bisa membuat Min Ah kembali bersemangat."
Begitu kalimat Ye Joon selesai, sebuah pukulan mendarat di lengan atasnya. Dia mengaduh sambil mengusap lengan. Ye Joon menoleh ke arah Eun Mi yang menatapnya tajam.
"Ba-baiklah, Aku tarik kembali ucapanku. Wo Joon bukanlah anak ingusan!"
.
.
.
Wo Joon menarik napas panjang sebelum memencet bel rumah Eun Mi. Dia mendaratkan jari telunjuknya di atas bel. Tak lama kemudian, Eun Mi keluar.
"Masuklah. Apa Kamu benar-benar datang sendirian?" tanya Eun Mi.
"Iya, Bibi. Ibu menitipkan beberapa oleh-oleh untukmu dan Min Ah." Ye Joon menyodorkan sebuah paper bag berwarna hijau muda.
"Terima kasih, ayo masuk!" Eun Mi meraih paper bag kemudian masuk.
Wo Joon mlangkah masuk mengikuti Eun Mi. Perlahan ia menaiki anak tangga. Jantung Wo Joon berdebar semakin kencang, seiring langkah kakinya yang semakin dekat dengan kamar Min Ah.
Eun Mi mengangkat tangannya dan megetuk pintu kamar Min Ah. Tak ada suara sahutan dari dalam kamar putri kecilnya itu. Eun Mi balik badan kemudian mengangkat bahunya.
"Coba, Kamu bicaralah." Eun Mi mundur satu langkah untuk memberi ruang kepada Wo Joon.
Wo Joon melangkah maju, kemudian mengetuk pintu. Namun, hasilnya sama. Min Ah tidak mau membukakan pintu. Perasaan Wo Joon semakin kacau. Atas persetujuan Eun Mi, Wo Joon mendobrak pintu kamar Min Ah.
Wo Joon mumdur tiga langkah, kemudian mulai mengambil ancang-ancang. Saat lengan atas Wo Joon hampir menyentuh pintu kamar, tiba-tiba Min Ah membukanya. Alhasil, tubuh remaja itu tersungkur di atas lantai.
"Astaga! Oppa!" Min Ah yang terkejut melebarkan pupil mata dan menutup bibirnya dengan telapak tangan.
Wo Joon segera bangun, kemudian membersihkan kaos dan celana jeans-nya. Min Ah langsung menghambur ke pelukan Wo Joon, dan menghirup dalam aroma tubuhnya.
"Oppa, aku sangat merindukanmu ...." Min Ah melepaskan pelukannya, dan menatap Wo Joon sendu.
"Aku juga merindukanmu. Apa Kamu baik-baik saja?" Wo Joon melepaskan pelukannya, dan membelai lembut rambut panjang Min Ah.
"Aku baik-baik saja." Min Ah tersenyum kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
"Benarkah? Tapi, kata Bibi Kamu mengurung diri di dalam kamar?" Wo Joon mengekor di belakang Min Ah kemudian duduk di atas ranjang
"Ti-tidak! Ish! Mama berdusta itu!" Min Ah menatap ibunya lalu menyipitkan mata.
Eun Mi memutar bola matanya. Dia heran dengan sikap Min Ah yang langsung ceria ketika Wo Joon datang. Akhirnya, dia memutuskan memberi waktu keduanya untuk berbincang, sementara Eun Mi menyiapkan makanan.
Tiga puluh menit kemudian, Eun Mi kembali ke kamar Min Ah. Sebuah senyum terulas di bibirnya menyaksikan Min Ah sedang bercanda dan tertawa bersama Wo Joon. Dia mengetuk pintu yang terbuka lebar, kemudian mengajak mereka makan.
"Wo Joon, Min Ah, Ayo makan dulu!"
Eun Mi balik badan dan melangkah menuruni anak tangga. Wo Joon dan Min Ah saling bergandengan tangan, mengekor di belakang Min Ah.
.
.
.
Bersambung ...
Siang semuanya ...
Sambil nunggu LIG update, mampir yuk ke karya salah satu author kece badai kita, kak Gupita dengan memberika like, komen, dan tap ya...