
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Usia kehamilan Eun Bi kini sudah menginjak delapan bulan. Hubungannya dengan Seung Min juga semakin membaik. Mereka sudah tidur dalam satu ranjang.
Pagi itu, Eun Bi dan Seung Min sedang menikmati sarapan sambil berdiskusi mengenai kamar putra mereka. Pembicaraan keduanya tak lepas dari selisih pendapat. Namun, semua berakhir dengan baik. Mereka memutuskan akan menyiapkan boks bayi karena ingin terus dekat dengan putranya.
"Baiklah, hari ini aku mengantarmu periksa."
"Benarkah?" Mata Eun Bi langsung berbinar, karena memiliki suami seorang CEO tidaklah selalu menyenangkan. Selama kehamilannya Seung Min baru menemani periksa sebanyak dua kali.
"Aku akan bersiap-siap dulu!" Eun Bi bangkit dari kursi, kemudian naik ke kamarnya.
Sembari menunggu istrinya siap-siap, Seung Min membereskan meja makan, dan mencuci piring. Ketika semuanya selesai, ponsel lelaki itu berdering. Dia meraih benda pipih itu. Di dalam layar, tertulis nama Young Tae.
"Ada apa?"
Percakapan keduanya terlihat begitu serius. Sesekali Seung Min mengusap wajahnya kasar. Otot lehernya menegang mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir sekretarisnya itu. Seung Min mengakhiri percakapannya sambil mendengus kesal. Melihat tingkah suaminya yang senewen, Eun Bi memeluk Seung Min dari belakang.
"Kenapa?" tanya Eun Bi.
Seung Min balik badan, kemudian memeluk erat sang istri. Sesaat kemudian, Seung Min melepaskan pelukan. Dia merangkum wajah Eun Bi dengan kedua telapak tangan.
"Aku minta maaf. Sepertinya hari ini aku tidak bisa mengantarmu lagi ke dokter." Seung Min mengusap lembut pipi Eun Bi dengan ujung jempolnya.
"Kenapa?" Sebuah rasa kecewa hinggap di hati Eun Bi.
"Ada beberapa masalah yang harus segera diselesaikan. Jika semuanya sudah teratasi, aku akan menyusulmu ke rumah sakit."
"Baiklah. Mau bagaimana lagi. Tapi janji ya, nanti menyusulku?" Eun Bi mengacungkan jari kelingkingnya.
Seung Min menautkan jari, kemudian tersenyum. "Nanti Paman Choi yang akan mengantar. Sekali lagi aku minta maaf," sesal Seung Min.
"Tidak apa-apa." Eun Bi tersenyum tipis, dan Seung Min mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala Eun Bi.
"Aku pergi dulu," pamit Seung Min, kemudian melangkah keluar rumah.
Eun Bi kembali lagi ke kamar karena lupa membawa ponsel. Setelah mengambil ponsel, dia kembali menuruni anak tangga. Eun Bi memegang erat railing untuk tumpuan. Perut buncitnya sedikit menghalangi pandangan saat menunduk. Sesekali Eun Bi berhenti untuk sekedar meregangkan otot punggung.
"Aduh, besok aku akan meminta Seung Min pindah saja di kamar bawah. Aku sudah tidak sanggup," gumam Eun Bi.
Ketika tinggal melewati lima anak tangga terakhir, tiba-tiba kaki Eun Bi tergelincir. Dia memekik membayangkan hal buruk yang akan terjadi. Mendengar teriakan sang majikan, Pak Choi segera masuk ke dalam rumah. Dia langsung berlari menghampiri Eun Bi yang masih berusaha menjaga keseimbangan tubuh.
Beruntungnya, Eun Bi dapat berpegangan kuat pada railing tangga. Pak Choi segera membantu tubuh majikannya berdiri. Napas Eun Bi tersengal, jantungnya berdegup kencang, dan ujung mata perempuan itu mulai basah.
"Terima kasih, Paman Choi." Eun Bi langsung duduk dengan kaki dan tangan gemetar.
"Nyonya, apa ada yang sakit? Bagaimana kalau kita langsung berangkat sekarang?" Pak Choi menundukkan kepala.
"I-iya. Kita berangkat sekarang saja." Eun Bi berdiri dibantu oleh Paman Choi.
Mereka berjalan beriringan. Pak Choi membukakan pintu untuk Eun Bi dan perempuan itu masuk ke dalamnya. Tak lama kemudian, Pak Choi melajukan mobil dan membelah jalanan Seoul.
.
.
.
"Ma, hari ini antar aku ke sekolah!" seru Min Ah.
Gadis kecil yang baru saja genap berumur delapan tahun itu sedang mematut dirinya di depan cermin. Min Ah terlihat cantik dalam balutan kemeja lengan panjang putih. Di bagian luar dilapisi oleh rompi berwarna ungu. Kerah kemeja Min Ah dihiasi dengan pita dengan motif garis ungu-putih. Rok pendek kotak-kotak menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Sudah siap belum?" Eun Mi melongok dari balik pintu.
Min Ah menggendong tas itu dan melangkah keluar kamar. Eun Mi menjinjing tas kecil berisi bekal makan untuk Min Ah. Mereka berjalan sambil bergandengan, kemudian masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Eun Mi dan Min Ah mengobrol ringan. Sesekali Min Ah melemparkan candaannya untuk sang ibu.
"Jadi, Nyonya Lee. Kapan Tuan Kim akan melamar Anda?" Min Ah mengepalkan tangan dengan botol minum di dalamnya. Setelah itu, Min Ah mengarahkan botol yang ia genggam kepada sang ibu.
"Sepertinya Nona Lee salah sasaran. Bukankah hal itu seharusnya ditanyakan pada orang yang bersangkutan saja?" Eun Mi tersenyum miring.
"Ah, Mama sungguh tidak asyik!" Min Ah mengerucutkan bibir.
"Baiklah, Mama akan menanyakan hal itu pada Paman Ye Joon. Setuju?" Eun Mi tersenyum lembut sembari melirik putri kecilnya.
"Setuju!" seru Min Ah.
Eun Mi dan Ye Joon sudah menjalin hubungan asmara sejak enam bulan yang lalu. Semuanya berawal dari ciuman panas keduanya saat hujan badai malam itu. Perasaan canggung menyelimuti keduanya selama berhari-hari. Sampai suatu malam Ye Joon tiba-tiba datang menemui Eun Mi.
***
Malam itu langit terlihat meriah karena kerlipan bintang. Bulan juga bergelayut manja tanpa rasa malu dalam pelukan sang mega. Seorang pria mondar-madir di depan pagar rumah Eun Mi. Dialah Kim Ye Joon.
Jantung Ye Joon berdegup sangat kencang. Dia meremas jemari karena rasa gugup yang berlebih. Lelaki itu juga menelan saliva berulang kali, berharap semua kegugupannya ikut tertelan.
Setelah mondar-mandir di sana hampir satu jam. Akhirnya Ye Joon memutuskan untuk menghubungi Eun Mi. Dia menyandarkan tubuhnya pada badan mobil, merogoh saku, dan mulai menghubungi Eun Mi. Jantung Ye Joon berdetak semakin kencang seiring nada tunggu panggilan yang terdengar.
"Halo," sapa Eun Mi dari ujung telepon.
"Apa kamu di rumah?"
"Tidak. Aku sedang menemui Seung Min. Ada apa?"
Mendengar nama Seung Min, hati Ye Joon terasa nyeri. Dia kembali ragu untuk menyatakan perasaan yang selama ini ia pendam. Lidahnya seakan kelu enggan untuk meneruskan pembicaraan.
"Halo, Ye Joon! Kamu masih di sana?" tanya Eun Mi.
"I-iya. Baiklah kalau begitu. Kupikir kamu ada di rumah." Ye Joon tersenyum kecut.
Ye Joon menjauhkan benda pipih itu dari telinga. Bahunya merosot, dan dia mengusap wajahnya kasar. Dia balik badan hingga dirinya terpantul dari badan mobil yang mengkilap.
"Dasar bodoh! Seharusnya kamu menghubungi Eun Mi terlebih dulu sebelum datang kemari! Lihatlah sekarang! Kamu berakhir menyedihkan, setelah berjalan mondar-mandir di sini selama satu jam. Hanya untuk mengatakan bahwa kamu menyukai Eun Mi!" gerutu Ye Joon sambil menunjuk pantulan dirinya pada badan mobil.
"Ye Joon ... kau ...." Suara Eun Mi masih keluar dari ponsel Ye Joon.
Mendengar suara Eun Mi masih tertangkap oleh telinganya, sontak Ye Joon melebarkan mata. Dia mengangkat ponsel dan semakin terkejut. Ternyata lelaki itu lupa belum mematikan sambungan telepon.
***
.
.
.
Bersambung...
Assalamualaikum...
Semoga suka yaa sama ceritanya. Sambil nunggu LIG update, yuk mampir ke salah satu teman author Chika. Ada karya kak Bubu, jangan lupa like dan tinggalkan komen yaa setelah baca. Sayang Kaliaaannnn.... 😘