
Helaan napas berat keluar dari bibir Eun Mi. Hatinya sudah mulai tenang, dan dia memutuskan untuk menceritakan semuanya.
"Mama menolak permintaan Bibi Ye Jin untuk kembali ke butik."
"Kenapa, Ma?" Mata Min Ah melebar.
"Itu ... karena ...." Eun Mi menundukkan kepala.
"Karena apa, Ma?" tanya Min Ah.
"Karena Mama bisa bekerja di sana berkat campur tangan seseorang. Sejujurnya, Mama kecewa. Mereka menerima aku bekerja di butik bukan karena keahlianku, melainkan karena belas kasian." Bahu Eun Mi merosot.
"Kenapa Mama tidak membuka jasa mekap sendiri saja?"
"Aku berpikir akan lebih mudah jika bekerja sama dengan butik. Apa lagi butik Ye Jin merupakan butik ternama di Seoul, dengan begitu aku akan lebih mudah mencari pelanggan."
"Mama pernah menyimpan nomor ponsel mereka?"
"Ya?" Eun Mi mengerutkan dahi.
"Kalau Mama menyimpannya, kita bisa meminta testimoni dari mereka. Kita bisa jadikan itu untuk bahan promosi di jejaring sosial." Min Ah mencoba memberikan solusi kepada sang ibu.
"Hah ... baiklah. Mama akan mempertimbangkannya nanti. Untuk saat ini, aku ingin sedikit bersantai." Eun Mi beranjak dari sofa kemudian melangkah masuk ke kamarnya.
Suara bel kembali terdengar. Min Ah segera membuka pintu karena yakin kali ini Ye Joon yang datang. Senyumnya mengembang ketika mendapati Ye Joon sudah berdiri di depan pintu sambil membawa pesanannya.
"Paman memang yang terbaik!" Min Ah mengacungkan kedua jempolnya kemudian mengambil alih bungkusan dari tangan Ye Joon.
Keduanya masuk ke rumah, kemudian duduk di ruang tengah. Min Ah meletakkan bungkusan ke atas meja, kemudian melangkah ke dapur. Gadis kecil itu membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral dari dalamnya.
"Paman mau minum apa?" teriak Min Ah.
"Air putih saja!" timpal Ye Joon sambil menyalakan televisi.
Pintu kamar Eun Mi terbuka, perempuan itu mengenakan kaos oblong oversize dan celana jeans pendek. Ye Joon menoleh ke arahnya. Entah mengapa jantung Ye Joon berdetak lebih kencang. Pesona Eun Mi selalu berhasil membuat hatinya bergetar.
"Ya! Ye Joon!" teriak Eun Mi.
"Hm?"
"Kamu itu diajak bicara dari tadi malah melamun. Kenapa? Apa aku terlalu cantik hingga membuatmu terpesona?" Eun Mi mengibaskan rambut kemudian mengedipkan mata beulang kali.
Melihat tingkah ibu satu anak itu, Ye Joon terkekeh. Dia memang terpesona dengan kecantikan Eun Mi, tetapi lelaki itu terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Apa di rumah ini tidak ada cermin?" Ye Joon tersenyum miring.
Eun Mi mencembikkan bibir mendengar ucapan temannya itu. Min Ah yang baru kembali dari dapur ikut meledek sang ibu. Hal itu membuat Eun Mi semakin merajuk.
"Ini, Paman," ucap Min Ah sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Ye Joon meraih botol itu dan mengucapkan terima ksih. Min Ah terbelalak ketika melihat ada plaster luka melingkari buku-buku jari Ye Joon. Sontak gadis kecil itu meraih tangan sang paman dan mengusapnya perlahan.
"Tangan Paman, kenapa?" tanya Min Ah.
"Iya, kenapa?" Eun Mi ikut menimpali pertanyaan sang putri.
"Ah, ini hanya luka ringan. Kalian tidak perlu khawatir." Ye Joon tersenyum tipis.
"Ah, baiklah. Semoga lekas membaik," kata Eun Mi.
"Astaga! Aku melupakan jjangmyeon-ku!" seru Min Ah.
Tak terasa langit terang mulai berganti dengan gelap. Min Ah sudah terlelap dalam pangkuan Ye Joon. Lelaki itu beranjak dari sofa dan mulai menaiki satu per satu anak tangga. Eun Mi mengekor di belakangnya.
Eun Mi membukakan pintu kamar Min Ah, kemudian Ye Joon mulai masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuh mungil Min Ah dan kembali menghampiri Eun Mi yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku pulang dulu," pamit Ye Joon.
"Baiklah, ayo aku antar sampai depan." Eun Mi tersenyum lembut.
Keduanya berjalan beriringan. Ketika sampai di depan rumah, tiba-tiba hujan turun sangat deras sampai menimbulkan kabut. Hal itu membuat jalanan tak terlihat dengan jelas. Belum lagi angin bertiup sangat kencang dan petir yang berkilat di langit, menambah suasana malam itu terasa menakutkan.
"Ye Joon, sebaiknya kamu pulang setelah hujan reda. Ayo masuk!" Eun Mi menarik lengan Ye Joon.
Setelah keduanya masuk ke rumah, Eun Mi mengunci pintu. Mereka kembali duduk di ruang tengah. Cuaca yang dingin membuat Eun Mi teringat akan sedapnya ramyun.
"Mau makan ramyun?" tanya Eun Mi.
"Boleh. Sekalian seduhkan aku segelas teh." Ye Joon tersenyum lebar.
"Baiklah." Eun Mi melangkah ke dapur. Dia mengisi panci dengan air, meletakkannya ke atas kompor, dan mulai menyalakan api.
Sambil menunggu air mendidih, Eun Mi menyiapkan dua buah cangkir. Dia mengisi cangkir itu dengan gula dan memasukkan teh ke dalamnya. Tak lupa dia juga mengisinya dengan air panas dari dispenser.
Setelah teh siap, Eun Mi membawanya ke ruang tengah dan meletakkannya di atas meja. Ye Joon tersenyum tipis kemudian mengucapkan terima kasih.
Eun Mi kembali lagi ke dapurnya. Air dalam panci sudah mendidih. Dia memasukkan mi dan bumbu ke dalam panci dan merebusnya sebentar. Aroma ramyun mulai tercium dan memenuhi ruangan itu. Ye Joon menghampiri Eun Mi dan menawarkan bantuan.
"Sudah? Aku bantu bawakan!" Ye Joon mengangkat panci berisi ramyun dari atas kompor, dan membawanya ke ruang tengah.
Setelah mengambil sumpit, dua magkuk kecil, dan kimchi, Eun Mi menyusul Ye Joon ke ruang tengah. Mereka duduk di lantai beralaskan karpet. Sebelum menyantap ramyun, eun Mi menyalakan televisi. Sebuah acara reality show menemani acara makan malam mereka berdua.
Hanya dala waktu lima belas menit, panci tyang tadinya berisi ramyun, kini kosong. Eun Mi membereskan meja dan membawa panci serta peralatan makan kotor ke dapur. Ye Joon mengekor di belakangnya. Dia berniat membantu Eun Mi untuk mencuci alat makan dan panci tersebut.
"Biar aku saja yang mencucinya, kamu duduklah dengan tenang," ucap Eun Mi.
"Tidak mau!" Ye Joon mengerucutkan bibir.
Mendengar jawaban Ye Joon membuat Eun mi menyipitkan mata. Namun, Ye Joon mengabaikannya. Dia tetap bersikukuh untuk membantu Eun Mi. Setelah kegiatan cuci piring selesai, Ye Joon kembali ke ruang tengah.
"Mau camilan?" tanya Eun Mi.
"Tidak, aku masih kenyang." Ye Joon menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Eun Mi berjalan menghampiri Ye Joon. Saat hendak duduk di samping Ye Joon, Eun Mi tersandung kaki meja. Tubuh perempuan itu terjungkal, dan mendarat mulus di atas dada bidang Ye Joon.
"Maaf ...." Eun Mi berusaha bangkit. Namun, lengan kekar Ye Joon menahan pinggang ramping Eun Mi.
"Bolehkah aku meminta hidangan penutup?"
.
.
.
Hai ... apakabar semuanya? Terima kasih ya sudah membersamai LIG sampai sejauh ini. Aku bukanlah apa-apa tanpa kalian.
Sambil menunggu LIG update, mampir yuk, ke karya salah satu teman author.